Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 19 Rasa Penasaran Yang Melanda.


__ADS_3

*****mansion Ardian Adhitama*****


Lusi duduk anggun tapi angkuh di sofa ruang tengah mansion Ardian Adhitama, di susul oleh Ardian yang juga duduk di sofa berhadapan dengannya, Lusi memalingkan pandangannya ke arah lain, dia masih kesal melihat wajah Ardian yang dingin, datar dan sok kuasa seenaknya mentang-mentang dia kaya raya.


Sedangkan Ardian dengan pandangan tajamnya yang dingin dan datar melihat Lusi yang memalingkan wajahnya tak mau memandang ke arahnya, dia yakin pasti Lusi masih kesal padanya karena memaksakan kehendaknya agar Lusi tetap tinggal di Mensionnya istirahat untuk beberapa hari kedepan.


Ardian pun merasa sangat terpaksa membiarkan Lusi untuk tinggal di mansion nya agar bisa mencaritahu tentang siapa sebenarnya Lusi ? mengapa wajahnya begitu mirip dengan wajah sang istri Lidya ? kalaupun Lusi adalah Lidya tapi kenapa dia tidak mengenalnya ? mengenal suaminya sendiri ?


Banyak pertanyaan yang ada di dalam benak dan kepala Ardian, dia harus mendapatkan jawabannya bagaimana pun caranya ? sampai semua pertanyaannya terjawab dia tidak akan melepaskan Lusi dari pengawasannya dimanapun Lusi berada, tak akan pernah dia melepaskan Lusi sampai semuanya jelas.


Tanpa sengaja dia melihat ada setetes darah mengalir dari punggung tangan kiri Lusi, dimana bekas suntikkan infus tadi siang terpasang, dengan segera dia memanggil perawat yang berdiri tidak jauh dari ruang tengah untuk mengobati dan membersihkan darah dari punggung tangan kiri Lusi.


Lusi hanya diam tak bergerak sedikitpun sampai selesai perawat mengobatinya. Lusi teringat kalau dia belum mandi sore ini dan dia tidak membawa baju ganti, dan merasa aneh ?! kenapa tidak besok pagi saja dia kembali kesini untuk bekerja, dan mengapa pula dia harus benar-benar setuju untuk tinggal dan istirahat di sini, di hotel lebih nyaman untuk dia beristirahat.


"tuan Ardian, saya ada usul baik untuk anda ?" kata Lusi memandang ke arah Lusi yang di balas oleh Ardian dengan pandangan tajamnya.


"usul apa ?" tanya Ardian tegas.


"biarkan saya pulang sore ini, saya istirahat di hotel saja, dan besok pagi saya akan datang untuk bekerja lagi kesini, bagaiman?" usul Lusi yang mendapat tatapan tajam dan dingin, membuat orang yang melihatnya akan bergidik ngeri, tapi tidak dengan Lusi yang tidak sama sekali takut akan tatapan tajam dan dingin Ardian.


"kamu tidak mendengar dan memahami yang tadi saya ucapkan ?"


"tapi tuan, tidak enak kalau saya harus tinggal dan bermalam di mansionmu tuan, apa kata orang yang melihat, saya tidak mau di cap wanita gampangan, yang dengan mudahnya bermalam di rumah seorang laki-laki apalagi orang sukses seperti anda."jelas Lusi panjang lebar dan berharap Ardian bisa mengerti dengan apa yang dia maksudkan.


"tidak ada orang lain yang tahu selain orang-orang ku, dan ku pastikan semua orangku akan tutup mulut dan tidak akan membocorkan kalau kau tinggal bermalam di mansion ku." jawab Ardian santai dengan duduk bersandar di sandaran sofa.


"tapi tuan, aku butuh barang-barang pribadiku dan semuanya ada di kamar hotel tempatku tinggal." Lusi tidak habis akal.


"barang pribadi seperti apa maksudmu?"


"saya perlu pakaian dan semua kebutuhan saya sebagai wanita." kata Lusi pelan, dia merasa kesal karena Ardian tidak peka sama sekali.

__ADS_1


"asisten Gavin dan pelayan akan mengurus semuanya, kau hanya cukup diam istirahat, kau mengerti ?" kata Ardian memajukan tubuhnya dan belum sempat Lusi menjawab Ardian sudah berkata lagi.


"tidak ada bantahan lagi, pelayan antar nona Lusi ke kamar tamu, dan pastikan dia mendapatkan apa yang dia perlukan !!" perintah nya kepada pelayan wanita yang berdiri di dekat ruang tengah, setelah mengatakan itu dia bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar pribadi nya, yang tadi Lusi tempati di lantai dua.


Lusi yang tidak bisa lagi melawan ataupun mencari alasan hanya bisa diam mengikuti apa yang di inginkan oleh ke egoisan sang pengeran bisnis yang penuh kuasa Presdir Ardian Adhitama.


Lusi mengikuti si pelayan yang di perintahkan oleh tuannya untuk melayaninya, Lusi masuk ke kamar tamu di lantai dua yang tidak jauh dari kamar pribadi Ardian, yang lumayan besar di bandingkan kamar hotel ataupun kamar tidurnya di rumah orang tuanya, kamar yang mempunyai fasilitas lengkap dan interior yang mewah, sangat nyaman untuk di tempati.


"dia memang benar-benar orang kaya raya, kamar tamu saja seluas ini, kalah di bandingkan kamarku dirumah ataupun kamar hotel yang aku tempati sekarang."gumamnya duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar.


"maaf nona, pakaian dan keperluan anda sebentar lagi datang."kata pelayan itu, dia terus memandang wajah Lusi dengan heran.


"siapa namamu?"


"nama saya Sita nona."


"hai sita salam kenal, aku Lusi." kataku mengulurkan tanganku untuk berkenalan.


"salam kenal juga nona..." jawab sita ragu-ragu untuk menyambut uluran tangan Lusi, Lusi yang melihat ada ke anehan pada sitapun bertanya.


"tidak nona, tidak ada."jawab sita geleng-geleng kepala.


"sepertinya ada sesuatu yang ingin kau tahu ? dan kau sembunyikan ?"


"mmmm....itu nona...." katanya ragu-ragu.


"ada apa katakan saja ?"


"benar anda bernama Lusi nona...??"


"benar namaku Lusi Arsinta, memang kenapa dengan namaku ?"tanyaku penasaran.

__ADS_1


"ini untuk ke dua kalinya ada orang yang meragukan namaku."jawabku lagi.


"tidak nona maaf kalau saya lancang." kata sita yang sedikit takut, akupun menjadi penasaran dan mengingat perkataan Direktur Salim yang juga meragukan namaku, dan mengaku pernah melihatku bersama Presdir Ardian Adhitama, dalam hati aku berkata 'lebih baik aku gunakan kesempatan ini untuk mencari tahu tentang wanita yang katanya mirip dengan ku seperti yang di katakan oleh Direktur Salim.'


"apakah kau pernah melihat wajah wanita yang mirip denganku ?" tanyaku selidik, yang malah membuat sita terkejut.


"maaf nona saya tidak tahu."katanya gugup, akupun bertambah curiga dan memicingkan mataku memandangnya.


"katakan saja tidak apa-apa aku bisa jaga rahasia."kataku tersenyum tipis untuk membuat sita percaya agar dia mau mengatakan sesuatu.


"maaf nona saya tidak berani, ada yang lebih berhak untuk mengatakannya."katanya yang membuatku bertambah curiga bahwa benar ada wanita yang memiliki wajah mirip denganku.


"oke aku mengerti, aku tahu harus bertanya pada siapa ?" tanyaku dan dugaan terakhirku adalah hanya Ardian Adhitama yang bisa menjawab pertanyaanku ini, akupun menganggukkan kepala tanda mengerti dan tidak ingin membuat sita dalam masalah akibat rasa penasaranku.


"ok baik kapan pakaian dan keperluanku datang, aku sudah sangat gerah ingin mandi."


"sebentar saya coba cek di luar dulu nona, dan satu pesan dari dokter kalau luka anda tidak boleh terkena air dulu, jadi kalau anda ingin mandi saya bisa membantu anda."


"aku mengerti dan tidak usah, aku bisa mandi sendiri tanpa harus membuat basah lukaku."


"baik nona nanti saya akan bawakan pakaian dan keperluan anda kesini, silahkan anda bisa mandi dulu, di dalam sudah ada handuk kimono untuk anda pakai sementara pakaian anda belum datang, saya permisi dulu nona." kata sita sopan dan keluar dari kamar.


"baiklah lebih baik aku mandi dulu, sudah gerah dan sangat lengket badanku." kata Lusi berlalu masuk ke dalam kamar mandi yang juga luas dan mewah.


Dengan hati-hati dan segera Lusi melakukan rutinitas mandinya, dia ingin segera bertemu dengan Ardian untuk menanyakan hal ini, agar rasa penasarannya terjawab.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2