Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 89 Kegilaan Rania VS Kedekatan Lusi Dan Ardian


__ADS_3

***Rania Kiandra***


Semua yang ada di dalam kamar hancur dan tidak ada yang berbentuk dengan utuh di sana, Rania mengamuk dan berteriak histeris dengan sesekali menangis sedih, dia sakit hati dan marah dengan apa yang di lihatnya saat berada di mansion Ardian Adhitama.


Adegan keluarga kecil yang berkumpul membujuk si kembar yang sedang menangis karena minta tidur bersama Lusi, yang mereka anggap sebagai mama mereka, Rania sakit hati melihat kebersamaan dan kebahagiaan mereka.


"bukan seperti itu yang aku mau, seharusnya aku yang ada di tengah-tengah kalian, bukan wanita itu…aaaahhhh brengsek kalian…aaaaaaa……!" teriak histeris Rania dengan membanting pas photo dirinya bersama Ardian dan si kembar yang ada di tangannya, yang di lihat dan di ajaknya bicara.


"seharusnya aku yang kalian sayangi, seharusnya aku yang bersama kalian, hanya aku yang pantas dan bukan wanita jalang itu…aaaa…huhuhu…" teriak Rania dengan di selingi dengan tangisannya.


Rania menggila, depresinya kambuh lagi dengan amarah dan rasa sakit hati yang tidak bisa dia tahan, benar-benar dia sudah menjadi gila.


Sedangkan semua yang ada di luar kamar yang mendengar saat Rania berteriak histeris, membanting barang dan menangis, tidak ada yang berani untuk mendekat apa lagi menasehati Rania sama sekali.


Mereka hanya bisa diam dari pada akan menjadi bahan amukkan dari sang ratu yang tidak terkendali, karena sikap dan sifatnya yang seperti ini tidak ada yang bisa menenangkannya.


Obsesi Rania pada Ardian Adhitama terlalu besar, segala cara sudah di lakukan Rania untuk mendapatkan cinta dan perhatian Ardian, tetapi satupun tidak ada yang berhasil. Ardian sedikitpun tidak melihat padanya, Rania seolah orang asing bagi Ardian bahkan seakan tidak pernah ada di dalam kehidupan Ardian.


Kembali terdengar teriakkan histeris Rania dan ancaman Rania pada seseorang yang menghalangi jalannya.


"akan aku singkirkan wanita jalang itu, akan aku bunuh wanita itu, dia tidak pantas untukmu Ardian, hanya aku yang pantas…hanya aku Rania Kiandra…!!" ucap Rania dengan teriakkan di setiap kata-kata ancamannya.


Dalam hati Rania saat ini hanya ada pembalasan pada Lusi, yang sudah berani ada di tengah-tengah usaha Rania untuk mendekati dan mendapatkan Ardian, Rania bertekad untuk menyingkirkan dan membunuh Lusi dengan cara apapun, Lusi harus mati agar tidak ada lagi penghalang baginya.


"Ardian hanya milikku, hanya untukku, tidak ada yang boleh merebutnya dariku, siapapun dia akan aku bunuh, dia harus mati…mati…tidak ada lagi di dunia ini, agar hanya aku wanita satu-satunya yang akan mendampingi Ardian, hanya aku yang pantas menjadi nyonya Ardian Adhitama.…hahahaha…" ucapan gila Rania di sela-sela teriakan, tangis dan tawanya di dalam kamar.


Rania dengan segera merogoh laci meja riasnya, dan mengambil botol obat plastik yang ada di dalam laci, dia segera meminum obat depresinya, dia merasa tidak boleh kalah, dia harus menang dan dia butuh untuk kuat sebelum menghadapi semua yang dia anggap sebagai musuh dan penghalang olehnya.


......................


***Lusi Dan Ardian***


Dua hari sudah Lusi, Ardian dan si kembar tidur di mansion teman dari kedua orang tua Lusi, tetapi sayang pemilik mansion sedang berada di luar negeri sehingga, Lusi dan Ardian tidak bisa bertemu dan mengucapkan rasa terima kasih, karena telah di beri tempat untuk menginap yang nyaman dan mewah.


Semua fasilitas di mansion tersebut sangatlah mewah, serba canggih dan tidak kalah dengan istana kerajaan atau istana para bangsawan.


Kedua orang tua Lusi berencana untuk tinggal sementara waktu di mansion tersebut atas permintaan dari pemilik mansion, Lusi pun mempercayainya dan akan ikut pindah ke mansion sampai urusannya dengan perusahaan Wirajaya Group selesai, dan presdir Maria menyetujui surat pengunduran diri nya yang tertunda.

__ADS_1


Lusi masih bekerja untuk sementara waktu di Wirajaya Group, dengan di antar jemput oleh Ardian yang terus memaksanya dengan bantuan bujuk rayu dari ibu Lusi, dengan hati yang terpaksa Lusi pun setuju karena dia juga tidak tahu jalan di kota itu, bila memakai jasa taksi online cukup menguras isi dompet, itu dalam pikiran Lusi.


Seperti pagi ini, Ardian sengaja datang pagi-pagi ke mansion untuk menjemput Lusi agar bisa masuk kerja bersama-sama, tanpa di temani oleh Gavin asisten pribadi yang paling setia padanya, karena Ardian ingin memiliki waktu berdua dengan Lusi yang sudah jelas adalah istrinya, perlahan Ardian ingin mendekati lusi dan mendapatkan hatinya.


"apa siang ini kau ada waktu?" tanya Ardian memecah keheningan di dalam mobil.


"ada apa?" tanya Lusi melihat pada Ardian.


"apa anak-anak tidak bicara padamu?" tanya Ardian dengan sekilas melihat pada Lusi, karena dia juga harus fokus untuk mengemudikan mobilnya.


"tidak…memangnya ada apa?"


"hari ini ada pertunjukkan di sekolah anak-anak, tetapi acaranya sebelum makan siang, dan pada undangan di harapkan kedua orang tua bisa hadir, apa kau bisa ikut bersama kami?"


Lusi nampak berpikir, dia tidak mudah untuk minta izin pada direktur Radhika, apa alasannya untuk minta izin?


"aku tidak bisa dengan mudah minta izin keluar kantor, maafkan aku…katakan pada anak-anak aku tidak bisa hadir." ungkap Lusi dengan berat hati, yang juga membuat kecewa Ardian karena tidak bisa datang bersama Lusi.


"berhenti bekerja di sana, bekerjalah denganku." ucap Ardian ingin mencoba peluang untuk bisa terus dekat dengan Lusi.


"itu mau mu aku bekerja denganmu ! apa kau pikir aku mau bekerja dengan mu?" balas Lusi menatap tajam Ardian.


"apa kau tidak mau bekerja dengan ku? perusahaan ku lebih besar dari perusahaan Wirajaya Group."


"kau pikir kalau perusahaan besar bisa membuat seseorang nyaman bekerja di sana?"


"kau bukannya tidak nyaman bekerja di perusahaan besar milikku, kau hanya tidak nyaman berada dekat denganku." ungkap Ardian apa yang di rasakannya? dan itu sangat tepat sasaran.


Ardian tahu kalau Lusi belum sepenuhnya menerima kenyataan kalau Ardian adalah suaminya yang masih sah, Ardian tahu hati Lusi masih marah akan sikapnya selama ini yang selalu memberikan Lusi masalah, dan Ardian menyesal pernah berbuat kasar pada Lusi.


"kalau kau sudah tahu, masih juga kau mendekatiku." ungkap Lusi dengan memalingkan wajahnya ke arah keluar jendela mobil.


"bagaimana juga kau masih istri ku yang sah, dan aku berhak atas dirimu." ungkap Ardian sekedar ingin mengingatkan Lusi.


"kau selalu saja suka untuk memaksakan kehendakmu, tanpa berpikir apa perasaan orang yang kau paksa suka atau tidak."


"aku berhak karena aku adalah suamimu."

__ADS_1


"kita sudah lama berpisah, itu berarti kita sudah tidak ada hubungan suami istri lagi."


"kita tidak pernah menanda tangani surat cerai apapun, jadi walaupun kita berpisah cukup lama kita tetap suami istri." ucap Ardian sedikit kesal karena tidak suka mendengar perkataan Lusi yang menyatakan bahwa 'mereka tidak ada hubungan suami istri karena sudah lama berpisah.'


"kalau begitu kita cerai…!" ungkap Lusi yang membuat Ardian tiba-tiba menghentikan mobilnya yang membuat Lusi terkejut.


Sedikit lagi kepala Lusi terpentur kaca depan mobil kalau tidak sigap Ardian dengan cepat menghalangi badan Lusi dengan lengan kirinya.


"aaaaa…" teriak Lusi terkejut karena Ardian mendadak mengerem mobil yang dia kemudikan.


"apa kau sudah gila, kau ingin membunuhku…?" tanya Lusi kesal melihat tajam Ardian dan menghempaskan lengan kiri Ardian yang ada tepat di depan dadanya.


Belum sempat Ardian menjawab, suara klakson mobil yang ada di belakang mobil mereka mengejutkan mereka, Ardian dengan segera menepikan mobilnya.


"maafkan aku…apa kau baik-baik saja." ucap dan tanya Ardian melihat khawatir pada Lusi.


"kau sudah gila, kalau kau tidak bisa mengemudikan mobil dengan baik, biar aku saja." balas Lusi kesal dengan hati yang berdebar karena benar-benar terkejut.


"maafkan aku…aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya tidak suka kau ucapkan kata cerai, karena sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu." balas Ardian dengan tatapan lembutnya, Ardian tidak ingin marah menguasainya.


"kau memang egois, kau tidak memikirkan perasaan ku, kau hanya mementingkan perasaan mu saja."


"maafkan aku…walaupun kau bilang aku egois, sampai kapanpun kau tetap akan menjadi istriku, sampai kapanpun kita tidak akan ada kata cerai."


"tidak akan menang berdebat denganmu, kita lihat saja sampai kapan kau akan bertahan." tantang Lusi pada Ardian.


"aku akan tetap bertahan menunggumu, aku bisa selama 5 tahun lebih menunggumu saat kau menghilang, apalagi sekarang menunggumu di saat kau nyata ada di hadapanku." ungkap Ardian menerima tantangan Lusi sekaligus mengungkapkan perasaan hatinya.


Lusi tidak menjawab balasan dan bualan dari Ardian, dia memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela, sedangkan Ardian tersenyum senang bisa mengungkapkan perasaan hatinya, dan ini untuk pertama kalinya setelah tahu kalau mereka adalah suami istri, mereka banyak bicara walau dengan perdebatan itu sudah cukup bagi Ardian untuk saling mengenal lagi.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2