Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 127 Sebuah Keajaiban.


__ADS_3

***Rumah Sakit***


Dokter tersenyum atas pertanyaan dan kekhawatiran yang di tunjukkan oleh Ardian dan Bryan. Beberapa alat yang terpasang di tubuh Lusi bisa lepas, karena Lusi sudah tidak memerlukannya lagi.


"Nyonya Lusi, sudah normal kembali. Kondisinya stabil dan sudah lolos dari masa komanya. Alat-alat ini tidak di perlukan lagi, kita hanya menunggu waktunya nyonya Lusi untuk siuman kembali dengan sendirinya." Ucap sang dokter memberikan kabar yang selalu ingin mereka dengar.


Kabar itu tentu saja membuat Ardian dan Bryan senang sekaligus lega. Lusi sudah membaik, hanya menunggu kapan ia akan siuman kembali. Masa komanya telah terlewati, menunggu sebentar lagi tidak masalah bagi kedua pria yang sama-sama mencintai Lusi dengan tulus.


Beberapa saat kemudian, terdengar lenguhan dari mulut Lusi yang sedikit terbuka. Mereka dengan cepat melihat ke arah Lusi, pergerakkan pada matanya yang tertutup dapat mereka lihat dengan jelas. Ini adalah perubahan baik yang mereka tunggu-tunggu beberapa hari ini.


"Lusi…sayang…!" Ucap Ardian dengan lembut sembari menggenggam hangat telapak tangan Lusi yang terasa hangat pada tangannya, tidak seperti sebelumnya yang terasa dingin.


Belum ada reaksi selanjutnya, mereka masih sabar menunggu. Lalu mata Lusi yang tertutup terbuka secara perlahan. Ardian dan Bryan tersenyum bahagia serta haru melihat Lusi siuman kembali saat ini.


"Sayang." Panggil lembut Ardian.


Lusi mendengar jelas panggil Ardian pada namanya. Lusi mengerjap-ngerjapkan matanya melihat ke arah Ardian, raut wajah datarnya dengan pandangan mata yang masih kosong melihat intens Ardian. Lusi terdiam lalu beralih melihat ke sekelilingnya, dia dapat melihat itu adalah ruang perawatan dan terakhir melihat seorang dokter dan Bryan berdiri di belakang Ardian.


Lusi kini dapat mengingat semua yang terjadi pada dirinya, dia tidak sadarkan diri setelah menangis sedih ketika melihat dua pria paruh baya yang sangat ia kenal baik. Beberapa ingatan lalu berputar di dalam kepalanya.


Lusi mendapatkan jelas beberapa ingatan di masa lalunya, beberapa ingatan dari sang kakak yang sudah meninggal. Ini sangat aneh menurut Lusi, namun itu yang nyata ada pada ingatannya. Bagaimana ini? dia dapat mengingat jelas semuanya sekarang, bahkan sebelum sebuah kecelakaan yang terjadi padanya. Atas rencana seseorang yang menginginkan kematiannya.


Kepalan kuat kedua tangannya menahan rasa marah yang timbul di dalam hatinya, air mata begitu saja keluar kembali pada ujung mata Lusi. Ardian mengerutkan keningnya melihat dan dapat merasakan remasan kuat pada tangannya yang menggenggam tangan Lusi. Dapat dia rasakan sesuatu telah terjadi dan sedang di rasakan serta di pendam oleh Lusi.


"Sayang, ada apa?" Tanya Ardian karena merasakan kepalan kuat tangan Lusi pada tangannya. Lusi mendengar panggilan Ardian kembali. Tentu saja dia sekarang dapat mengenali siapa Ardian sebenarnya? Lusi mengingat segalanya sekarang.


Mengingat siapa dia sebelum kecelakaan? Mengingat siapa dia setelah kecelakaan? Dan mengingat siapa dia sekarang? Mengingat jelas siapa Ardian? yang merupakan suami sahnya. Mengingat siapa Bryan? kekasih yang pernah ada di hatinya saat dirinya tidak mengingat apapun setelah kecelakaan?


Lusi tidak tahu bagaimana keajaiban ini bisa terjadi? Dia hanya bisa bersyukur bisa mengingat semuanya sekarang, dia juga bersyukur bisa mengingat sedikit kenangan sang kakak kembar selama dirinya masih hidup. Ini sungguh keajaiban yang tidak pernah Lusi bayangkan sebelumnya. Dia sungguh beruntung dan bersyukur akan hal itu.


'Terima kasih Tuhan. Terima kasih kak Lusi.' Gumamnya di dalam hatinya merasa bersyukur.


Lusi kembali melihat ke arah Ardian, suami yang sangat ia rindukan selama ini. Rindu yang menyiksa hatinya yang terasa kosong. Kini hati kosong yang dapat dia isi kembali dengan sebuah cinta yang di berikan oleh Ardian dan di satukan kembali oleh rasa cintanya yang besar untuk Ardian.


Lusipun mengingat Bryan yang hadir juga di antara mereka. Dia merasa bersalah pada pria yang pernah mengisi hatinya untuk sesaat. Bryan pria yang baik dan pantas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik darinya, serta kebahagiaan dan cinta yang tulus dari wanita lain. Lusi yakin Bryan bisa mendapatkan itu dari wanita yang kelak menjadi takdirnya di masa depan, itu yang Lusi yakini. Karena inilah takdir dari hidup mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ryan…!" Panggil Lusi melihat ke arah Bryan.


Ardian terdiam kaku karena Lusi lebih mengenali Bryan untuk pertama kalinya di saat dirinya siuman kembali. Lusi hanya merasa bersalah pada Bryan dan ingin mengatakan sesuatu padanya, sebagai rasa penyesalannya pada pria baik yang pernah mengisi hari harinya. Tidak ada niat yang lainnya.


"Iya Lusi." Jawab Bryan sedikit serba salah, karena dia tahu Ardian ada di sana. Tepat di hadapan Lusi dan masih menggenggam erat tangan Lusi, namun Lusi malah memanggilnya terlebih dahulu, ada apa ini?


"Maafkan aku." Ucapnya dengan tulus. Ardian dan Bryan hanya masih diam.


Bryan melihat sekilas ke arah punggung Ardian yang ada di hadapannya, lalu beralih melihat ke arah Lusi kembali yang masih melihat ke arahnya.


"Maafkan aku dan terima kasih untuk hari hari yang pernah kita lalui bersama." Ucap Lusi masih dengan suara yang lemah. Namun genggaman kuat pada tangannya dan tangan Ardian, dapat Ardian rasakan.


Ardian melihat ke arah genggaman tangan Lusi yang kuat pada genggaman tangan mereka. Ardian dapat merasakan Lusi memberikan sebuah kekuatan dan meminta sebuah dukungan darinya. Ardian melihat ke arah Lusi yang masih melihat ke arah Bryan, lalu melihat ke arahnya.


Ardian diam terpaku akan tatapan mata Lusi yang penuh akan sorot cinta hangat untuknya. Tatapan mata yang sangat dia rindukan selama ini dari istrinya. Senyum Ardian terbit begitu saja, dia kini yakin Lusi sudah kembali. Istrinya sudah kembali, dia harus yakin dan percaya itu.


Bryan juga dapat melihat sorot mata Lusi yang penuh akan cinta saat melihat ke arah Ardian, dia kini semakin yakin, jika cinta Lusi hanya untuk Ardian. Dia sudah kalah, bahkan sebelum hari ini terjadi. Sebelum cahaya cinta pada mata Lusi yang dia lihat saat ini, tidak pernah ada untuknya. Bryan hanya bisa tersenyum sedih untuk kekalahannya dalam meraih cinta. Itulah takdir dan hidupnya sekarang.


"Ryan…!" Panggil Lusi kembali melihat ke arah Bryan.


"Maukah kamu memaafkan aku?" Tanya Lusi tulus dengan sorot mata yang memohon jawaban pasti dari Bryan.


Bryan tersenyum setulus mungkin, dan menjawab. "Tentu saja, kita ini teman bukan. Teman harus saling memaafkan dan saling mendukung. Iya kan Ardian."Balas Bryan dengan senyum yang tulus dari hatinya, sembari menepuk lembut pundak kanan Ardian yang ada di hadapannya.


Ardian menatap Lusi yang juga sekilas melihat ke arahnya. Ardian lalu menoleh ke arah samping berharap Bryan tahu maksud dirinya.


"Tentu saja. Kita semua teman yang harus saling memaafkan dan mendukung satu sama lainnya." Balas Ardian ingin yang terbaik untuk mendukung harapan Lusi dan Bryan.


Lusi tersenyum lega mendengar ucapan dan dukungan Ardian saat ini. Ada kelegaan di dalam hatinya, Lusi bisa tenang menjalani hidup barunya tersebut. Tanpa bayang-bayang rasa tidak nyaman dan bersalah pada dua pria yang mencintainya dengan tulus.


"Terima kasih untuk kalian berdua, karena sudah hadir di hidupku." Ucap Lusi tulus dari dalam hatinya.


Ardian dan Bryan kembali melihat ke arah Lusi. Ada air mata kebahagiaan yang ia keluarkan dari pelupuk matanya, Lusi tersenyum bahagia serta haru akan takdir baiknya karena bisa mengenal dua pria baik dan tulus kepadanya.


Sejenak suasana ruangan tersebut menjadi hening akan kebahagiaan serta rasa haru diantara mereka bertiga.

__ADS_1


"Maaf tuan, nyonya. Jika saya mengganggu, bisakah saya memeriksa keadaan nyonya Lusi sejenak." Ungkap sang dokter yang masih ada di dalam ruang perawatan Lusi. Sekaligus memecah keheningan yang sejenak terjadi di antara mereka bertiga.


"Silahkan dokter." Balas Ardian segera bangkit dari duduknya, memberikan tempat untuk sang dokter. Ardian berdiri sejajar bersama Bryan.


Dokter segera melakukan pemeriksaan yang seharusnya dia lakukan. Mereka kini dapat lega dan tenang, karena kondisi Lusi sudah lebih jauh membaik dari sebelumnya. Dokter pamit pergi setelah selesai melakukan pemeriksaannya.


Bryan yang tidak ingin menjadi pengganggu di antara Lusi dan Ardian. Sadar diri dan ingin pergi dari tempat itu, dia harus cepat menata kembali hatinya yang sudah terlanjur patah.


"Lusi, Ardian. Aku harus kembali ke kantor, lain kali aku akan datang lagi untuk menjenguk. Jika itu di perbolehkan." Ungkap Bryan tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara mereka bertiga.


"Tentu saja boleh, datanglah jika kau mau." Balas Ardian tulus dengan senyum di wajahnya.


"Terima kasih, kau mau mengerti dan tidak membuat semuanya menjadi sulit." Ucap Ardian kembali, sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bryan.


"Tentu, sudah seharusnya itu aku lakukan." Balas Bryan tersenyum tipis, namun jujur di dalam hatinya masih ada kesedihan akan kehilangan wanita yang ia cintai dengan setulus hati. Dia harus kuat dan menjalani kembali hidupnya.


Bryan menyambut jabatan tangan Ardian, lalu melihat ke arah Lusi sembari melepaskan jabatan tangan mereka.


"Sampai jumpa lagi, Lusi." Ucap Bryan yang terdengar kaku saat memanggil nama Lusi. Sebab biasanya dia hanya menggunakan panggilan sayang pada Lusi.


Namun panggilan itu harus dia hilangkan dari sekarang. Panggilan nama Lusi adalah panggilan yang harus dia biasakan mulai saat ini.


"Sampai jumpa lagi, Ryan." Balas Lusi tersenyum tulus pada Bryan.


Bryan diam, dia masih terpesona akan senyum manis yang selalu membuat hatinya bergetar dan bahagia. Senyum yang bukanlah miliknya lagi, sungguh miris nasib Bryan saat ini. Bryan tidak ingin terlalu lama terbuai, dia pun menatap Ardian sejenak lalu membalik tubuhnya berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Kini hanya tinggal Ardian dan Lusi berdua saja di dalam kamar perawatan itu. Ardian menatap hangat penuh cinta wajah Lusi yang masih terlihat pucat namun tetap cantik. Ardian bersyukur masih ada keajaiban untuk mereka berdua. Semuanya akan mereka jalani dari awal kembali, dalam meraih kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka di masa depan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2