
*****Mansion Ardian Adhitama*****
Dengan hati-hati Ardian meletakan tubuh Lusi di atas kasur di dalam kamar tidur pribadinya, dengan segera dia memerintahkan pelayan wanita untuk mengganti pakaian yang di gunakan oleh Lusi, sebab pakaian Lusi basah kerena keringatnya.
Awalnya pelayan wanita itu sangat terkejut saat melihat Lusi, karena dia mengira melihat hantu dari nyonya mudanya yang sudah meninggal, tapi dengan cepat Ardian memberitahukan kalau wajah Lusi hanya mirip dengan wajah sang istri, dan apa yang pelayan itu lihat adalah manusia bukan hantu.
Ardian dan asisten Gavin keluar dari kamar sementara pelayan sedang menggantikan pakaian Lusi.
Pelayan yang bingung harus menggantikan bajunya dengan baju apa? akhirnya memilih baju tidur terusan milik dari sang nyonya mudanya yang sudah meninggal, yang memang masih tersimpan rapi di dalam lemari, pelayan itu terkejut dengan ukuran bajunya karena itu sangat pas di badan Lusi.
Pelayan itu memilih baju tidur terusan dengan model lengan pendek yang longgar atas perintah tuannya karena ada luka di lengan kanannya, dia melihat kalau luka itu mengeluarkan darah sebab terlihat dari perban putih yang basah karena darah, dia hanya mengelap sisa darah kering yang mengalir melalui sela-sela perbannya, setelah bersih dan menyelimuti tubuh Lusi, pelayan itupun memberitahukan kepada tuannya.
Ardian yang melihat Lusi masih belum sadar dan mengenakan baju tidur milik sang istri pun seakan melihat Lusi adalah benar-benar istrinya.
"kenapa kau pakai kan pakaian milik istriku?"tanya Ardian marah karena melihat Lusi memakai baju tidur milik sang istri, seakan Lusi adalah istrinya yang sedang tertidur.
"maaf tuan, disni tidak ada baju perempuan lagi selain milik nyonya muda."jawab takut pelayan itu.
"bajumu kan bisa dia pakai, kenapa tidak kamu pinjamkan bajumu saja ?"
"baik tuan saya akan menggantinya."jawab pelayan itu mengerti dan tidak ingin kena marah lagi oleh tuannya.
Begitu pelayan itu akan keluar kamar, Ardian bertanya lagi.
"mau kemana kamu ?"
"mau ke kamar saya mengambil baju, tuan."
"tidak usah biar kan saja, untuk kali ini aku maafkan kesalahanmu, sekarang kamu boleh pergi, tunggu dokter Rio datang dan segera antar kesini, kamu mengerti ?" kata Ardian setelah menghela nafas berat dengan berkacak pinggang.
"baik tuan."jawab singkat pelayan tersebut dan keluar dari kamar tuannya, dalam hati dia berkata 'kenapa tuan sangat marah ? suruh aku ganti bajunya, tapi dia ngk kasih tahu mau pakai baju siapa? sedangkan disana tidak ada baju perempuan selain baju milik nyonya muda, dan baru aku mau ganti pakai bajuku, ehh.. malah dia billang biarkan saja, orang kaya mah gitu seenaknya ?' gumamnya dalam hati.
'tapi kok bisa ya wanita itu wajahnya mirip banget sama wajahnya nyonya muda, kayak pinang di belah 2, apa jangan-jangan itu kembarannya nyonya muda ya ??' gumamnya yang berdiri di depan pintu mansion untuk menunggu kedatangan dokter Rio.
'tapikan nyonya cuma punya kakak perempuan satu, dan mereka tidak mirip sama sekali, aahhh masa bodoh lah, urusan tuan...' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian datang dokter Rio yang di sambut langsung oleh pelayan mansion yang telah menunggunya di depan pintu, mereka langsung menuju kamar pribadi tuan Ardian.
"selamat siang ! siapa yang sakit ?" sapa dan tanya dokter Rio, karena setahu dia kalau Ardian tidak tinggal lagi di mansion ini.
"cepat periksa wanita itu !!"perintah dan tunjuk tuan Ardian ke arah kasur, dimana ada Lusi sedang berbaring tak sadarkan diri.
dokter Rio melangkah mendekati wanita tersebut, dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang sedang berbaring di atas kasur.
"Lidya..."gumamnya dan menatap ke arah Ardian.
"cepat periksa, nanti aku jelaskan." jawabnya dengan nada datar dan wajah dinginnya, yang membuat dokter Rio bergidik ngeri.
Dengan segera dia memeriksa Lusi, dari tensi, suhu tubuh, dan luka di bagian lengan kanannya, segera dia menuliskan sebuah resep untuk segera di tebus, karena ada peradangan di lukanya, sehingga dia meriang dan suhu tubuhnya panas.
Asisten Gavin yang tahu harus apa ? sebelum tuannya memerintahkan, dengan sendirinya dia mengambil resep dari dokter Rio, sedangkan Ardian hanya diam berdiri memandang ke arah Lusi yang belum juga sadar.
"kenapa dia belum sadar ?" tanya Ardian datar dan dingin.
"dia mengalami peradangan pada lukanya, yang menyebabkan meriang dan suhu badannya panas, aku takutnya luka sayatan nya terkena pisau yang agak sedikit berkarat, aku sudah meresepkan obat antibiotik dan vitamin dan aku juga akan membuka ulang jahitannya karena harus membersihkan luka yang mulai bernanah." jelas dokter Rio, dokter Rio sepupu Ardian yang seumuran dengannya, dia adalah anak dari adik mamanya, dokter Rio sangat mengenal bagaimana seorang Ardian Adhitama.
"dengan terpaksa aku harus membedahnya disini dan merawatnya disini, karena aku tahu pasti kamu tidak akan membawanya ke rumah sakit."
"lakukan tes DNA padanya dan anak-anak kembar ku."
"jadi dia siapa kalau bukan Lidya...?"
"dia bernama Lusi Arsinta berasal dari kota Surabaya, dan aku tidak tahu dia Lidya atau bukan, karena sudah 5 tahun sejak kejadian itu..!"
"terus untuk apa kau melakukan tes DNA, apalagi tanpa sepengetahuan dia, ini melanggar kode etik ke dokteran ku."
"masalah itu aku yang akan mengurusnya, aku akan membujuknya untuk melakukan tes DNA, agar semua tak ada masalah bagimu, sekarang lakukan saja dulu seperti yang aku minta."
"aaahhhh....baiklah, aku akan melakukan tes DNA itu, tapi hasilnya akan aku keluarkan bila dia sudah mau menandatangani berkas persetujuan, bagaimana ? deal..?" katanya sambil menghela nafasnya.
"deal lakukan segera, ku pastikan kau tidak akan mendapatkan masalah, nanti asisten Gavin yang akan membawakan sampel dari anak-anak ku."
__ADS_1
"kita melakukan tes dari rambut saja, dan hasilnya 10 sampai 14 hari."
"bisa kau percepatan ?"
"aku akan usahakan secepat mungkin, bs seminggu lebih."
"oke."
"permisi tuan ini semua yang anda perlukan." kata asisten Gavin datang membawa semua yang di perlukan oleh dokter Rio.
dokter Rio dengan segera mengobati Lusi, dari memasang cairan infus, menyuntikkan obat cairan antibiotik, dan dengan cepat membuka dan membersihkan luka lengan Lusi, setelah itu dokter Rio kembali menjahit luka yang sudah bersih lalu menutupnya dengan kasa perban bersih.
"setelah dia sadar, beritahukan padanya kalau lukanya tidak boleh terkena air dulu dan pastikan lukanya tidak terkena benturan, aku akan mengirim satu perawat untuk mengecek dan memberikannya obat suntikan serta vitamin yang akan ku resepkan."
"baik...! jangan sampai orang lain tahu tentang ini semua."katanya dingin.
dokter Rio hanya menganggukkan kepala, setelah dia mengambil sedikit rambut Lusi untuk melakukan tes DNA, dia segera pergi dari mansion.
Di dalam kamar hanya ada Lusi yang belum sadar dan Ardian yang terus memandang wajah pucat Lusi, dia duduk di samping Lusi.
"siapa dirimu ? mengapa wajahmu begitu mirip dengan Lidyaku ? bila kau adalah Lidya mengapa kau tidak mengenaliku ?" gumam Ardian pelan dan tanpa sadar punggung tangannya mengelus pelan pipi putih Lusi.
Begitu Ardian sadar dengan apa yang dia lakukan, dia segera menarik tangannya dan berdiri dari duduknya.
"ku pastikan, sebelum aku mendapatkan semua jawaban dari semua pertanyaan ku, aku tidak akan pernah melepaskanmu, dan ku pastikan juga bila sampai kau bukanlah Lidya ataupun tidak ada hubungan darah dengan Lidya, kau akan merasakan pelajaran dariku karena sudah berani memiliki wajah yang sama dengan Lidya." ancamnya dan berjanji dengan suara pelan pada dirinya sendiri.
Ardian sangat tidak rela ada yang berani meniru sang istri, semua akan terbukti saat tes DNA sudah keluar hasilnya, selama menunggu hasilnya dia tidak akan pernah melepaskan Lusi dan akan tetap mengawasi semua gerak geriknya.
Ardian keluar dari kamar itu dan menuju ruang kerja pribadinya, setelah memberikan pesan kepada asisten Gavin bahwa nanti ada seorang perawat yang akan datang untuk mengurus dan menjaga Lusi sampai dia sadar.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya...
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....
Jangan lupa vote dan like nya.