Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 23 Masuk Rumah Sakit.


__ADS_3

*****Rumah Sakit Sinar Mulia*****


Gavin membukakan pintu belakang mobil di mana Ardian dan Lusi berada, saat Gavin ingin membantu mengangkat dan menggendong Lusi di cegah oleh Ardian. Ardian keluar dari mobil dan segera mengangkat dan menggendong Lusi sendiri, Gavin hanya bisa membantu menuntun tuannya ke ruang UGD rumah sakit sinar mulia dan memanggil dokter jaga.


Setelah Ardian meletakkan Lusi pada ranjang UGD rumah sakit, dokter dengan segera memeriksa denyut nadi dan dada Lusi, sedangkan perawat dengan cepat memasangkan selang oksigen kepada Lusi yang terlihat kesusahan bernafas.


dokter dan perawat masih bekerja memeriksa dan merawat Lusi, sedangkan Ardian dan Gavin hanya diam berdiri menyaksikan di belakang mereka.


"Ardian apa yang terjadi ?" tanya dokter Rio yang datang, karena memang dia sudah di hubungi oleh Gavin atas perintah Ardian sewaktu di jalan menuju ke rumah sakit.


"dia terserang alergi karena makan udang." jawab apa adanya Ardian dengan wajah sedikit cemas, dokter Rio yang melihat ekspresi wajah Ardian pun mengerutkan alisnya heran, 'seorang Ardian bisa memasang wajah cemas kepada seorang wanita asing yang baru dikenalnya.'


"kenapa seperti itu?" tanya dokter Rio seraya melihat ke arah Lusi yang masih dalam perawatan dokter jaga.


"apa dia tidak tahu dirinya alergi dengan makanan seafood ?" tanya dokter Rio lagi


"entahlah...aku hanya menyuruhnya makan udang dan dia memakannya."jawab Ardian apa adanya, Ardian pun heran mengapa Lusi mau makan udang kalau memang dia alergi terhadap makanan seafood, 'trik apa lagi ini yang di mainkan oleh wanita ini ?' itu pertanyaan di dalam hatinya.


dokter Rio juga merasa heran dengan penjelasan Ardian, tanpa berpikir panjang lagi dokter Rio mengambil alih perawatan Lusi, dengan cepat memberikan tindakan dan pengobatan yang terbaik untuk Lusi, dia tidak mau akan kena semprot lagi dari sepupunya yang dingin dan datar Ardian Adhitama.


karena rumah sakit tempat dokter Rio bekerja sekaligus menjadi direktur adalah rumah sakit milik keluarga Ardian Adhitama.


Setengah jam Lusi dalam perawatan dokter Rio untuk menstabilkan nafasnya yang sesak, sedangkan Ardian menunggu di ruangan dokter Rio sekaligus menjadi ruangan Direktur rumah sakit Sinar Mulia.


dokter Rio datang menemui Ardian yang berada di ruangannya untuk memberitahukan kalau kondisi Lusi stabil dan sudah di pindahkan ke kamar VIP khusus untuk keluarga Adhitama.


Ardian dan dokter Rio berjalan menuju ke kamar Lusi di rawat, untuk beberapa hari Lusi akan di rawat di rumah sakit sampai kondisi alerginya berkurang dan luka di lengannya membaik karena di sekitar luka juga timbul bercak-bercak merah karena alergi.


......................


*Kamar VIP Rumah Sakit Sinar Mulia*


Ardian memandang wajah Lusi yang masih terlihat pucat dan terdapat bercak merah di sebagian wajahnya, matanya masih terpejam karena dokter Rio memberikan Lusi obat tidur agar Lusi bisa tertidur agar tidak menggaruk kulitnya yang merah dan gatal.


.

__ADS_1


Di hidung dan mulutnya masih terpasang masker pernafasan oksigen karena nafasnya masih sesak walau tidak separah tadi. Ardian dan asisten Gavin memutuskan untuk tinggal dan tidur di kamar perawatan Lusi, untuk memantau dan menjaga keadaan Lusi, Ardian hanya merasa bersalah karena ulahnya untuk mengetes Lusi sehingga Lusi jadi begini.


Ardian tertidur sambil duduk di samping ranjang Lusi, kepalanya di rebahkan di atas kasur ranjang pasien tepat di samping badan Lusi yang masih tertidur, sedangkan asisten Gavin tidur di sofa yang ada di dalam ruangan.


......................


Pukul 5 pagi Lusi sadar dari tidurnya karena merasa ingin buang air kecil, dia memandang ke sekeliling ruangan dan tahu ini kamar di rumah sakit karena ada alat-alat rumah sakit.


Saat tangan kanannya ingin bergerak membuka masker oksigen nya, tidak sengaja menyentuh sesuatu yaitu rambut Ardian, Lusi menoleh ingin melihat apa yang dia sentuh ? Lusi melihat Ardian masih tertidur sambil duduk di samping ranjang pasien dan kepalanya masih di rebahkan di atas kasur ranjang pasien Lusi.


Lusi dengan pelan melepaskan masker yang dia pakai dan meletakkan masker tersebut di atas bantal kepalanya. Lusi berusaha bangun dan meraih botol infus yang tergantung karena sudah tidak bisa menahan buang air kecilnya, tanpa memperdulikan Ardian dia berusaha bangun dan ingin turun dari ranjang, tapi belum sempat dia menggerakkan kakinya turun Ardian terbangun karena merasakan guncangan pelan dari ranjang pasien, Ardian melihat Lusi yang sedang berusaha menggerakkan kakinya turun.


"kau sudah bangun ? mau kemana ?" tanya Ardian pada Lusi seraya bangun dari duduknya.


"saya mau ke kamar mandi." jawab pelan Lusi .


"ayo aku bantu."


"tidak usah tuan, saya bisa sendiri." Jawab Lusi cepat karena malu kalau di bantu oleh Ardian apalagi dia laki-laki yang tidak ada hubungan dengannya.


"tidak tuan saya bisa sendiri." jawab Lusi.


"kau memang keras kepala." kata Ardian yang memasang wajah datarnya,sedangkan Lusi dengan pelan turun dari ranjangnya.


Lusi berdiri dan berusaha untuk melangkah, tapi apa daya belum selangkah badannya sudah oleng dan ingin jatuh ke depan, dengan cepat Ardian memegang pinggangnya dari belakang, tanpa basa basi lagi Ardian mengangkat dan menggendong tubuh Lusi ala bridal, Lusi yang ingin berontak cuma sia-sia saja.


"bergerak lagi ku jatuhkan kau sekarang juga." kata Ardian menggertak dengan pura-pura akan menjatuhkan badan Lusi yang ada di gendongannya.


Lusi yang di ancam ingin di jatuhkan merasa takut dan repleks tangan kanannya meremas pundak Ardian, tatapan mata merekapun bertemu dan sejenak saling memandang, karena merasa risih dan malu Lusi mengalihkan pandangannya.


"bisa cepat ke kamar mandinya ?" tanya Lusi memecah ke heningan mereka.


Tanpa bicara Ardian menggendong Lusi masuk kekamar mandi, dengan pelan dia menurunkan dan mendudukkan Lusi di atas closed yang masih tertutup, segera dia keluar dari kamar mandi.


......................

__ADS_1


Dengan hati-hati Lusi keluar dari kamar mandi setelah selesai menuntaskan keinginannya buang air kecil dan membasuh wajahnya, karena terlihat masih ada tetesan air yang belum di lap, dengan berpegangan di tembok dia berjalan pelan, Ardian dan Gavin yang sudah bangun duduk di sofa melihat ke arah Lusi yang berjalan pelan tapi pasti sampai juga di ranjang pasien.


Lusi duduk di ranjang lalu mengatur nafasnya yang sedikit tersengal seperti selesai lari marathon, Lusi naik ke atas ranjang dengan susah payah karena nafasnya yang masih sesak, saat akan menggantung botol infus dia merasa kepalanya pusing dan hampir jatuh, untungnya dia berpegangan pada sisi janjang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Ardian dan Gavin yang melihat Lusi ingin jatuh bangun dari duduk mereka, tapi Ardian langsung berlari ke arah Lusi, tanpa bicara apapun Ardian mengambil botol infus yang Lusi pegang lalu menggantungkannya.


"tidurlah...! jangan keras kepala kalau ada yang ingin membantumu."perintah Ardian, karena sesak dan pusing mulai membuat dirinya tidak nyaman lusi hanya diam tidak menjawab atau melawan apa yang di katakan oleh Ardian.


Lusi merebahkan diri tanpa melawan apapun, Ardian membantu Lusi memasang masker oksigen yang tadi di lepaskanya dan juga menyelimuti tubuh Lusi agar tidurnya nyaman.


Beberapa menit kemudian terdengar suara nafas Lusi yang mulai teratur kembali tertidur lelap, karena mungkin masih dalam pengaruh obat tidur dan terlalu lelah sehingga tubuhnya cepat tertidur lelap, Ardian yang melihat wajah Lusi yang masih basahpun mengambilkan tisu dan melap wajah Lusi sampai kering.


Ardian terus memandang wajah yang mirip dengan wajah sang istri Lidya, saat memandang wajah Lusi dia sangat merasa rindu pada istrinya dan dia merasakan dirinya sangat menyedihkan karena berharap dengan harapan yang mustahil dan tidak akan terwujud.


Dalam hati dia merasa sangat kecewa, marah dan sedih, bercampur aduk yang ada di dalam hatinya, selesai menghela nafas dia pun keluar dari kamar perawatan Lusi tanpa bicara apapun lagi dan di susul oleh asisten Gavin.


"Gavin suruh Rio menyediakan seorang perawat untuk menjaga Lusi dan kita kembali ke mansion agar tidak terlambat ke kantor." perintah Ardian yang berjalan menuju ke dalam lift.


"baik siap tuan." jawab Gavin mengerti dan segera menghubungi dokter Rio untuk memberitahukan keinginan tuannya.


Mereka kembali ke mension tanpa ada yang mengeluarkan suara, di dalam mobil Ardian duduk diam membisu dengan pandang mata mengarah keluar jendela.


Di dalam hati Ardian merasa tidak rela ada wanita yang meniru istrinya, tapi di sisi lain dia merasa tidak tega menyakiti Lusi dengan apa yang dia lihat terjadi pada Lusi saat ini, dia merasa apa yang dia lakukan terhadap Lusi akibat ulahnya tadi malam, sama halnya seperti melukai dan menyakiti istrinya sendiri, karena apa yang di alami oleh Lusi juga pernah di alami oleh istrinya.


Ardian benar-benar galau harus bagaimana untuk bertindak ? apa dia biarkan saja Lusi yang meniru istrinya ? atau dia harus menghindari Lusi ? atau dia buat Lusi menderita agar pergi dari hidupnya karena berani mengusik dengan meniru istrinya ? Ardian benar-benar bingung dengan hatinya sendiri.


Dia hanya akan menunggu hasil dari tes DNA, agar tahu jawaban dari semua pertanyaannya ? baru di sana dia akan menentukan pilihan untuk memperlakukan Lusi seperti apa? sebelum tes DNA keluar hasilnya dia hanya akan membuat Lusi selalu dalam pengawasannya, itu janji Ardian Adhitama pada dirinya sendiri.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya.....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2