
*** Hotel Wirajaya***
Lusi sedang memasukkan semua baju dan peralatannya ke dalam koper yang dia punya, dia berencana akan pindah dari hotel Wirajaya ke hotel R.W.C atas saran dari Nico yang sudah menginap di sana mulai hari ini, Nico juga sudah memesankan satu kamar untuknya.
Lusi segera melangkah keluar kamar dan menuju ke lobby hotel untuk check out dari hotel Wirajaya, dia dengan cepat meninggalkan hotel wirajaya ingin menghindari bertemu dengan Ardian yang pasti akan mencarinya ke hotel, Lusi tidak ingin bertemu dan berbicara dengan Ardian untuk sementara waktu.
Lusi pergi dengan jemputan supir pribadi dari Nico, Lusi sangat berhati-hati keluar dari hotel Wirajaya karena dia tahu kalau Ardian maupun Bryan memiliki mata-mata untuk mengawasinya di dalam dan di luar hotel.
Lusi sudah curiga sejak pertama kali Bryan dan Ardian tahu nomer kamarnya di hotel tersebut, karena dia tidak pernah memberitahukan pada mereka berdua, dan mata Lusi yang sangat jeli selalu menangkap dan bisa melihat beberapa orang yang sama selalu mengawasinya, baik di dalam maupun di luar hotel yang menyamar menjadi tamu, pegawai hotel, dan pura-pura menjadi pengunjung dari tamu hotel.
Lusi tahu kalau dia di awasi dan itu juga alasan yang membuat Lusi setuju untuk pindah hotel, karena dia tidak suka untuk di awasi merasa tidak ada kebebasan, Lusi tetap bertahan karena ingin tahu sampai kapan mereka mengawasi Lusi, tetapi sepertinya mereka masih tetap betah mengawasinya.
Dengan membayar jasa service room yang menyamar di bagian loundry, Lusi meminta bantuan untuk menyelipkan koper dan barang bawaannya ke dalam bak troly cucian kotor yang sering datang ke kamarnya mengambil pakaian kotornya, Lusi meminta karyawan yang menyamar tersebut untuk membawakan kopernya sampai di depan lobby.
Lusi akan mengambil kopernya dan langsung dengan cepat masuk ke dalam mobil jemputan dari Nico, dia ingin mengelabui sedikit semua mata-mata yang mengawasinya dan itu tidak seratus persen berhasil, sebab sebuah mobil sedang mengikutinya.
Supir Nico yang memang seorang yang ahli sekaligus bodyguard Nico pun tahu, kalau mobil yang dia kendarai di ikuti oleh sebuah mobil dari mulai keluar hotel sampai di jalan raya.
"nona sepertinya kita di ikuti." ucap sang supir memberitahukan seraya melirik dari kaca spion samping kanan dan kirinya.
Lusi melihat ke arah belakang, dan benar ada sebuah mobil sedan hitam yang mengikuti mereka.
"biarkan saja selama mereka tidak melakukan kekerasan dan menyakiti kita." balas Lusi duduk dengan tenang.
"tapi kalau kita biarkan, mereka akan tahu kemana tujuan kita nona."
"tidak apa-apa, aku ada alasan untuk itu, selama mereka tidak berniat buruk biarkan saja mereka tahu kemana kita akan pergi."
"baik nona."balas sang supir yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sampai masuk kawasan hotel R.W.C.
Mobil yang mengikuti Lusi masih mengikutinya, tetapi hanya sampai parkiran depan hotel khusus untuk parkir mobil pengunjung hotel.
Sebelum Lusi keluar dari mobil, sang supir menyerahkan kartu member VIP warna gold milik hotel R.W.C, Lusi yang bingung lalu bertanya pada sang supir.
"kartu ini?" tanya singkat Lusi mengerutkan keningnya menatap pada sang supir.
__ADS_1
"maaf nona, terima ini dengan cepat dan tuan Nico yang akan menjelaskannya, nona hanya perlu memperlihatkan kartu ini pada karyawan hotel dan mereka akan menerima dengan baik dan tidak akan banyak tanya kepada anda." penjelasan dari sang supir.
Lusi hanya mengangguk pasrah dan mengerti maksud dari sang supir, Lusi keluar dari mobil setelah sang supir membukakan pintu mobil untuknya.
Saat Lusi ingin masuk ke dalam lobby hotel R.W.C, dia mendekati seorang security yang berdiri di depan pintu lobby bersama karyawan hotel yang menyambut tamu hotel, dan berbisik sesuatu padanya.
"maaf pak, saya bisa minta bantuan anda?" tanya Lusi pada security tersebut.
"tentu saja, ada yang bisa saya bantu nona?" balas dan tanya balik sang security.
"tolong awasi pengunjung mobil sedan hitam yang baru datang dengan nomer plat mobilnya 2332 itu ya pak, saya merasa di ikuti oleh mobil itu mulai saya keluar dari hotel Wirajaya sampai ke sini."
"maaf nona, saya bisa saja membantu anda, tetapi apa anda yakin anda di ikuti?"
"tentu pak...ini tanda pengenal saya." ucap Lusi yang segera memperlihatkan kartu member VIP berwarna gold yang dia pegang.
Sang security dan karyawan penyambut tamu itu pun melihat ke arah kartu member yang Lusi pegang, mereka segera menyambut Lusi dengan ramah dan baik karena Lusi termasuk tamu VIP hotel.
"ingat ya pak...di awasi saja..kalau memang mereka mencurigakan, kalian bisa bertindak, saya belum tahu mereka berniat jahat atau baik, atau hanya kebetulan saja ingin ke hotel ini."
"baik nona, akan kami awasi, selamat datang dan silahkan masuk nona." sambut sang security dan karyawan penyambut tamu secara bergantian.
Sang supir membawakan koper dan peralatan Lusi yang dia bawa, mereka langsung menuju ke kamar Nico agar kalau ada mata-mata yang mengikuti mereka akan mengira kalau kamar Nico adalah kamar Lusi.
Kamar Lusi bersebelahan dengan kamar Nico, saat di rasa aman barulah koper dan peralatan Lusi di pindahkan ke kamarnya.
Sekarang Lusi sudah berada di dalam kamar Nico dan di sambut langsung oleh Nico sendiri.
"selamat datang Lusi." sambut Nico ramah seraya memeluk sayang sang adik angkat.
"hai kak Nico." balas Lusi senang dengan membalas pelukkan Nico.
"apa kabarmu, ayo duduk dulu...kau pasti lelah." ajak Nico dan mereka pun duduk di sofa ruang tamu yang ada di dalam kamar hotel.
"aku baik kak Nico, kakak apa kabar?"
__ADS_1
"aku baik, seperti yang kau lihat sendiri."
"Oya kemana tuan Erick, kata kakak dia juga ikut datang?"
"dia sedang ada urusan sebentar, mungkin malam baru kembali."
"aku sudah tidak sabar ingin latihan dan olahraga bersamanya lagi, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya."
"ooo....ayo lah Lusi mengapa kau selalu suka latihan dan olahraga keras bersamanya."
"karena itu menyenangkan kak, dan aku suka apalagi kalau belajar menembak darinya." ucap Lusi senang karena berkat ajaran beladiri dan latihan menembak dari tuan Erick Lusi bisa menjaga dan mempertahankan dirinya.
"apa kau yakin dengan belajar menembak kau juga bisa menembak seseorang nantinya."
"itu tergantung kak, kalau sasarannya orang jahat ya ku tembak dan kalau sasarannya orang yang masih bisa di maafkan ya tidak aku tembak."
"hahahaha... Lusi Lusi...kau pikir ada orang jahat yang bisa di maafkan?" tanya Nico sembari tertawa karena perkataan Lusi.
"intinya aku tidak mau menembak dan sampai membunuh orang yang tidak bersalah, aku akan berani menembak dan membunuh orang yang aku anggap bersalah dan jahat."
"nah itu baru benar...kau harus yakin bila berhadapan dengan orang jahat seklipun dia adalah temanmu dulunya, intinya kau akan ada di dua pilihan saja, yaitu kau di tembak atau menembak, membunuh atau di bunuh, kau mengerti?"
"iya aku mengerti, toh selama ini belum pernah aku menemukan pilihan itu?" balas Lusi acuh yang duduk bersandar pada sandaran sofa.
Nico hanya geleng-geleng kepala bila sudah berbicara dengan Lusi mengenai tembak menembak yang bisa berakibat bunuh membunuh, Lusi suka belajar menembak tapi kalau di tanya soal berani menembak seseorang? Lusi akan menjawab dengan keraguan karena dia belum pernah sekali pun menembak seseorang, hanya menembak tepat sasaran latihan saja.
Lusi ahli menembak bila saat latihan menembak dia selalu tepat sasaran, dan Erick yang memang penembak jitu mengakui ke ahlian Lusi yang cepat dan tepat saat menembak, tetapi Erick masih ragu akan hati Lusi yang lembut dan baik hati, apakah bisa Lusi menembak seseorang walaupun seseorang itu adalah penjahat.
Hanya Lusi yang tahu? dan itu akan terjadi bila Lusi ada pada dua pilihan membunuh atau di bunuh, menembak atau di tembak, Erick hanya yakin bila Lusi pasti akan menjadi penembak jitu nantinya, hanya perlu keyakinan Lusi berani membunuh atau tidak?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.