
*****Ruang Meeting Perusahaan Wirajaya Group*****
Selesai beramah tamah dan menikmati hidangan kecil di ruang transit, merekapun berjalan keluar menuju ruang Meeting yang ada di lantai 2.
Sekretaris Dewi dan asisten Ari sudah lebih dulu sampai di ruang Meeting atas perintah Presdir Maria, guna mengecek ulang persiapan yang sudah di lakukan oleh sekretaris Lusi di ruang Meeting.
Mereka tidak ingin ada kesalahan yang akan membuat perusahaan malu, karena yang mereka hadapi adalah dua perusahaan besar dan sudah sukses di beberapa negara besar, suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan salah satu perusahaan tersebut, apalagi jika kedua nya setuju untuk bekerjasama lebih bagus lagi bagi perusahaan Wirajaya group.
Lusi yang sedari tadi menunggu di ruang meeting sendirian dengan perasaan gelisah, merasa lega melihat sekretaris Dewi dan asisten Ari datang lebih dulu, Lusi yang merasa badannya mulai tidak nyaman karena luka di lengan kanan nya takut melakukan suatu kesalahan yang akan buat perusahaan Wirajaya group malu dan mengalami kerugian, mengingat mereka akan bekerjasama dengan dua perusahaan besar dan ternama.
"Lusi kamu baik-baik aja ?" tanya mbak Dewi berbisik.
Mereka sudah selesai melakukan pengecekan ulang dan tidak ada kekurangan apapun.
"aku baik-baik aja kok mbak !" jawab Lusi berbisik.
"Wajahmu terlihat kurang baik Lusi."
"aku benar ngak apa-apa mbak...!" jawabnya dengan tersenyum manis yang terlihat oleh asisten Ari.
Walaupun Lusi sudah membubuhi sedikit bedak dan lipstik di wajahnya dia masih terlihat pucat tapi tetap cantik.
Di saat Lusi tersenyum menanggapi pertanyaan Dewi, pintu ruang meeting pun terbuka, mereka masuk dan di persilahkan duduk ditempat yang sudah di peruntukkan untuk mereka masing-masing.
Meja meeting berbentuk oval memanjang, dimana disana tersedia 10 kursi untuk di duduki oleh semua yang ikut dalam rapat ini, ketiga Presdir dan Direktur Radhika duduk berdampingan dengan asisten pribadinya masing-masing.
Begitu mereka sudah duduk di tempat masing-masing, seperti yang sudah di perintahkan oleh Presdir Maria tadi pagi, kedua sekretaris itu pun berjalan mendekati meja membawa semua materi dan berkas yang akan dibagikan dan di pelajari oleh semuanya, yang akan di presentasikan langsung oleh Direktur Radhika.
__ADS_1
Kedua sekretaris itupun mendekat dan berdiri di belakang Presdir Maria, yang membuat orang di sana memandang mereka berdua, khususnya 3 orang pria di sana terkejut saat melihat sekretaris Lusi, yaitu Presdir Ardian, Presdir Bryan dan asisten Gavin.
"Lusi....!!!" panggilan seseorang membuat pandangan mata Lusi mengarah pada orang yang sudah menyebut namanya.
"Ryan..." gumam pelan Lusi yang terkejut melihat Ryan yang dia kenal setahun yang lalu, yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, sekarang ada dihadapannya, yang tidak lain adalah Presdir Bryan Aldevaro.
Dulu sewaktu mengenal Ryan yang tidak lain adalah Bryan, Lusi tidak mengetahui sama sekali nama lengkap dan pekerjaan Ryan. Mereka menjadi sepasang kekasih tanpa harus memaksakan pasangan untuk menceritakan pribadi masing-masing, itu semua kemauan dari Lusi karena dia belum memastikan hatinya untuk Ryan.
Lusi yang masih terkejut karena melihat Ryan atau Bryan ada di ruang meeting pun hanya bisa berdiri diam tak bergerak, Bryan yang sangat senang melihat dan menemukan Lusi si pujaan hati yang sangat di rindukannya pun tidak sadar berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Lusi.
Dengan langkah yang cepat Bryan mendekati Lusi dan langsung memeluknya karena sangat merindukan wanita yang sangat dia cintai.
Lusi sangat terkejut atas pelukan Ryan padanya, dia sedikit meringis karena merasakan tekanan pada luka di lengannya, sedangkan semua yang ada di sana ikut berdiri menyaksikan tingkah laku seorang Presdir Bryan Aldevaro pada seorang sekretaris.
Khususnya Presdir Ardian yang terkejut melihat Lusi yang benar-benar memiliki wajah yang sangat mirip dengan sang istri yang 5 tahun lalu telah meninggal karena di bunuh dan mayatnya di buang ke laut, mereka sangat mirip tanpa ada perbedaan bagai pinang dibelah dua, belum selesai dari keterkejutan nya, dia sudah di kejutkan oleh perilaku Bryan yang mengenal Lusi dan memeluk wanita itu di hadapan semua orang.
Saat Bryan mempererat pelukkan nya Lusi tidak tahan akan sakit pada luka di lengan kanannya, diapun meringis kuat karena merasakan sakit yang teramat sakit.
"aauuww...!!"Lusi meringis dan mendorong keras dada Bryan dengan tangan kirinya agar Bryan melepaskan pelukkan nya.
Begitu Bryan melepas pelukannya, Lusi dengan segera memegang dan menekan lengan kanannya yang terluka dengan tangan kiri karena merasakan sakit yang luar biasa, Lusi menundukkan kepalanya untuk menekan rasa sakit dan air matanya yang akan keluar, sedangkan tangan kanannya yang sakit masih memeluk berkas dan materi yang akan di bagikanpun menggenggam keras kertas-kertas tersebut karena menahan sakit yang menjalar, Bryan yang melihat Lusi meringis pun bertanya.
"Lusi kamu kenapa ? " tanya Bryan yang tidak dapat jawaban dari Lusi, tiba-tiba Bryan teringat akan satu hal kalau Lusi sangat merasa ketakutan bila dirinya di peluk, itu yang ada di dalam pikiran Bryan saat ini, bahwa Lusi sedang meringis karena ketakutan dan bukan meringis karena kesakitan.
Lain halnya dengan sekertaris Dewi, Presdir Ardian dan asisten Gavin yang tahu akan luka di lengan kanan Lusi pun mengerti, kalau Lusi saat ini kesakitan karena luka tersebut mendapatkan tekanan dari pelukan erat Bryan tadi.
"maaf kan aku Lusi, maaf...karena sangat merindukanmu aku tanpa sadar memelukmu, maafkan aku..."kata Bryan dengan nada menyesal.
__ADS_1
"tidak apa-apa...!" jawab Lusi pelan karena lemas akibat rasa sakit di lukanya.
"maaf Presdir Bryan, anda mengenal sekretaris Lusi ?" tanya Presdir Maria.
"oiya...dia...."belum selesai Bryan menjawab pertanyaan dari Presdir Maria, Lusi dengan cepat memotong untuk menjawabnya.
"kami teman dekat yang lama tidak bertemu, Presdir Maria." jawab Lusi yang memaksakan bibirnya untuk tersenyum di sela-sela keterkejutan dan sakitnya.
Lusi memandang ke arah Bryan dengan tatapan memohon dengan senyum getir nya agar Bryan ikut kedalam permainan nya yang mengaku 'teman dekat yang lama tidak bertemu', Bryan yang mengerti pun mengiyakan ucapan dari Lusi.
"benar Presdir Maria, Lusi adalah teman dekat saya yang lama tidak bertemu." jawabnya mengulang jawaban Lusi dengan senyum manisnya memandang ke arah Presdir Maria dan Lusi, sedangkan dari sorot mata Bryan menyiratkan kerinduan yang amat sangat.
"dan saya sangat senang bisa bertemu dengan Lusi disini, terima kasih Presdir Maria karena undangan dari anda sehingga saya bisa bertemu dengannya." kata Bryan menatap lembut wajah Lusi. Lusi hanya tersenyum tipis untuk menanggapi tatapan dan kata-kata Bryan.
"saya ikut senang bila anda senang karena bertemu teman lama di perusahaan kami."
Semua hanya memandang ke arah Lusi dan Bryan yang saling memandang, tidak dengan Ardian yang sangat kesal memandang dua insan yang sedang melepas rindu, Ardian pun masih mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih karena perasaan yang kesal akan pemandangan di depannya, apalagi mendengar kata-kata 'teman dekat yang lama tidak bertemu'.
Tapi Ardian berusaha menahannya, karena tidak ada alasan dia untuk kesal apalagi marah, dia datang ke perusahaan ini untuk tujuan melihat dan memastikan wajah Lusi yang mirip dengan wajah sang istri dan semua itu benar, asisten Gavin yang tahu tuannya sedang kesal hanya bisa diam memperhatikan perilaku tuannya tanpa bicara.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.