
***Mansion Ardian Adhitama***
Ardian dan asisten Gavin berada di dalam ruang kerja pribadi Ardian di mansionnya, Ardian menatap photo Lusi saat berphoto bersama dengannya dan si kembar yang ada di dalam ponselnya, Ardian tersenyum getir memandang photo tersebut.
"Gavin apa kau sudah menemukan di mana dia sekarang?" tanya Ardian pada asisten pribadinya Gavin.
Ardian mendapatkan kabar kalau kemarin sore Lusi sudah tidak tinggal lagi di hotel Wirajaya, dan salah satu anak buah yang mengawasi Lusi disana melihat Lusi pergi menaiki mobil sedan mewah, salah satu anak buah yang berjaga di luar hotel Wirajaya mendapat kabar dari teman yang melihat Lusi keluar, dan memerintahkan untuk membuntuti Lusi dari belakang sampai ke tempat tujuan yaitu hotel R.W.C.
Anak buah Ardian melihat Lusi memasuki hotel R.W.C dan berusaha mengejar nya dengan berpura-pura untuk menginap di sana, tapi sayangnya mereka kehilangan jejak Lusi karena mereka di hadang oleh security dan karyawan penyambut tamu di depan lobby hotel.
Agar tidak membuat curiga pihak hotel dan dengan mudah mengawasi Lusi, mereka pun dengan terpaksa ikut cek in di dalam hotel tersebut, salah satu dari mereka menuju kamar yang mereka pesan dan satunya lagi menunggu di lobby hotel sambari mengawasi bila Lusi keluar dari hotel, tetapi Lusi tidak ada keluar sampai pagi tiba.
Saat pagi baru mereka melihat Lusi keluar dari lift yang ada di lobby, segera salah satu anak buah Ardian pun mengikuti kemana Lusi pergi tanpa di sadari oleh Lusi.
"sudah tuan...nona Lusi sekarang menginap di hotel R.W.C tetapi maaf sampai sekarang kami belum bisa tahu di kamar mana? saya sudah membayar salah satu karyawan front office hotel untuk membantu mencari tahu Lusi menginap di kamar berapa? tapi mereka tidak ada menemukan nama tamu atas nama Lusi Arsinta tuan." jawab Gavin yang membuat Ardian seketika menatap tajam Gavin.
"bagaimana caramu dan anak buahmu bekerja Gavin? menemukan seorang wanita pun kau tidak bisa." ucapnya dengan tatapan mata tajam dan dingin yang membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.
Tetapi tidak dengan Gavin yang sudah terbiasa melihat tatapan mata tajam dan dingin Ardian padanya, bukan berarti Gavin tidak takut atau berani dengan tuannya, hanya saja dia harus berusaha mengerti keadaan tuannya.
"maaf tuan kami masih berusaha, tetapi saya juga mendapat info dari salah satu anak buah saya yang melihat saat nona Lusi akan masuk ke dalam lobby, nona Lusi sempat berbicara dengan security dan karyawan penyambut tamu di depan lobby, dan mereka mendapatkan info kalau nona Lusi adalah salah satu pemegang kartu member VIP berwarna gold milik hotel R.W.C tuan." ungkap Gavin memberitahukan apa yang dia tahu dari anak buahnya kepada tuannya.
"salah satu pemegang kartu member VIP berwarna gold milik hotel R.C.W?" tanya ulang Ardian seraya mengerutkan keningnya.
"iya tuan..nona Lusi adalah salah satu tamu VIP hotel, dan sayangnya semua tamu yang menggunakan kartu membernya tidak ada atas nama nona Lusi Arsinta tuan."
__ADS_1
"apa kau yakin gavin? apa kau yakin karyawan yang kau bayar berkata jujur?" tanya Ardian memicingkan matanya dengan tetap menatap tajam dan dingin ke arah Gavin.
"yakin tuan." jawab tegas dan yakin Gavin pada tuannya.
Ardian mengalihkan pandangannya kembali ke photo keluarga bersama Lusi di ponsel yang di pegangnya.
"ini sangat mencurigakan gavin? apa kau yakin dengan info itu?" tanya Ardian lagi.
"iya tuan" jawab yakin Gavin seraya menganggukkan kepalanya.
"aku curiga ada seseorang yang berkuasa yang memiliki kartu member VIP berwarna gold yang membantu Lusi, apakah itu Bryan Aldevaro?"
"mungkin saja tuan...karena tuan Bryan Aldevaro adalah salah satu pemegang kartu member VIP berwarna gold milik hotel R.W.C tuan."
"baiklah kau pesankan aku kamar dengan menggunakan kartu member VIP berwarna gold di hotel R.W.C, aku ingin tahu apa yang ingin di lakukannya dan siapa yang membantunya ingin bersembunyi dariku? kalaupun itu adalah Bryan Aldevaro aku akan membuat perhitungan dengannya." ucap Ardian menatap tajam photo Lusi di dalam ponselnya dan mengepalkan sebelah tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih menahan amarahnya.
"dan kau siapkan semua keperluanku, sekarang juga aku akan tinggal dan menginap di hotel R.W.C, kau mengerti Gavin?" tanya tegas Ardian yang masih Memandang photo Lusi.
"mengerti tuan, semua akan saya siapkan." jawab tegas Gavin dan segera berlalu dari ruang kerja tuannya.
"kau hanya milik ku sayang...tidak ada yang boleh memiliki mu dan merebutmu dariku." ucapnya seraya membelai photo Lusi yang ada di dalam ponselnya.
Ardian hanya bisa mengecup sayang photo Lusi dan berharap Lusi yang ternyata adalah Lidya istrinya yang masih hidup kembali lagi padanya, dan apapun akan Ardian lakukan untuk mendapatkan Lusi kembali ke sisi dan pelukkannya lagi.
......................
__ADS_1
Pagi yang cerah dan hari ini adalah acara pertemuan penanda tanganan kontrak kerjasama Wirajaya Group, Adhitama Group dan Aldevaro Group.
Lusi dan Zia sudah bersiap dengan setelan jas hitam dan celana panjang kerja yang semalam di berikan oleh tuan Erick padanya dan Zia, Zia membantu Lusi untuk menyimpan pistol rakitan, pisau tembak dan belati kecil di dalam setelan jas yang di rakit atau di buat khusus oleh anak buah tuan Erick yang tak lain adalah anggota mafia King Dragon.
Setelah Lusi sarapan di dalam kamar, dia segera pergi ke kantor Wirajaya Group untuk berkumpul dulu di sana, mendengarkan arahan dari direktur Radhika, setelah itu baru mereka akan berangkat bersama ke hotel R.W.C di mana acara pertemuan itu di laksanakan.
Arahan dari direktur Radhika cepat, padat, dan jelas tidak memakan waktu lama mereka pun bersama-sama menuju ke tempat acara.
Sesampainya mereka di aula hotel R.W.C mereka segera melaksanakan tugas masing-masing, mereka harus menyelesaikan dan memastikan persiapan selesai sebelum jam acara yang di tentukan.
Jam sudah menunjukkan pada waktunya tamu undangan akan segera datang ke dalam aula hotel, tamu undangan ada yang dari luar hotel dan ada juga yang dari dalam hotel.
Lusi, Dewi dan beberapa karyawan hotel yang bertugas menyambut tamu undangan yang hadir, dengan sigap dan tersenyum ramah mereka menyambut para tamu undangan satu per satu.
Tiba saat dua pemeran utama nya datang yaitu tuan Ardian Adhitama dan tuan Bryan Aldevaro, mereka di sambut langsung oleh direktur Radhika dan di arahkan ke meja jamuan paling depan.
Ardian dan Bryan sempat melirik sekilas Lusi yang sedang menyambut tamu undangan dan Lusi seolah-olah tidak tahu akan ke hadiran mereka berdua, Lusi berusaha untuk tidak melihat Ardian maupun Bryan yang melirik sekilas padanya.
Lusi harus terus berusaha sebisa mungkin menghindar dari dua laki laki yang membuat hatinya berada dalam dua pilihan hidup, yang mungkin akan menjadi takdirnya atau tidak di masa depan, saat ini Lusi belum siap untuk menghadapi mereka berdua, Lusi masih membutuhkan waktu dan berpikir agar pilihan yang dia tentukan tidak salah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.