
***Mansion Tempat Lusi Tinggal***
…Ruang Kerja…
Ayah Lusi masuk ke dalam ruang kerja yang ada di dalam mansion tersebut, dia segera menghubungi Nico ingin meminta bantuannya.
"hallo tuan !!" sapa Nico dari seberang telpon.
"hallo Nico, apa kau tahu apa yang terjadi pada putriku?" tanya ayah Lusi.
"tidak tuan, maafkan kami. Kami tidak bisa menjaga nona Lusi dengan baik, dan kemarin kami kehilangan dia." jawab jujur Nico tidak ingin berbohong.
"Rania Kiandra telah menjebak putriku, wanita itu sudah memberikan obat perangsang di minuman Lusi."
"maafkan kami tuan, kami lalai menjalankan tugas."
"Lusi mendapatkan pertolongan dari Ardian Adhitama, suaminya. Jadi saat ini Lusi baik-baik saja, Rania Kiandra ingin menjebak Lusi bersama Bryan Aldevaro, ingin merusak nama baik Lusi di mata keluarga Adhitama, tetapi dia telah gagal, dan kali ini dia berusaha mengadu domba Lusi dengan mamanya Ardian." ungkap ayah Lusi sedikit menceritakan, apa yang Lusi ceritakan tadi padanya?
"sekarang apa yang anda ingin kami lakukan selanjutnya tuan?"
"aku ingin kau segera mencari tahu akan perusahaan yang Keluarga Kiandra punya, aku ingin kau mengambil alih perusahaan keluarga itu, karena aku sudah muak dengan teka teki ini, bertindaklah cepat sebelum putri dan cucuku yang menjadi sasaran mereka." ungkap ayah Lusi memberikan perintah mutlaknya.
"baik tuan, akan kami laksanakan." balas Nico menerima perintah.
"Semuanya harus cepat terungkap, dan perketat lagi penjagaan dalam mengawasi putri dan cucuku."
"baik tuan."
"satu lagi Nico, bila semuanya harus terungkap, lakukanlah. Aku melihat putriku kini jauh lebih kuat dan tangguh, apa lagi sekarang dia memiliki suami yang akan selalu mendukungnya, dan kau tahu sendiri siapa Ardian Adhitama. Aku percaya padanya, kalau dia tidak akan mengkhianati putri ku."
"baik tuan saya mengerti, saya dan tuan Erick akan melakukan semuanya dengan segera dan sebaik mungkin." ungkap Nico siap menerima perintah dari sang atasan.
"terima kasih Nico, kau dan tuan Erick selalu ada di saat aku membutuhkan kalian."
"tidak tuan…jangan berterima kasih, itu sudah kewajiban dan tugas saya untuk setia pada tuan. Seharusnya saya yang berterima kasih pada anda tuan, karena telah menyelamatkan saya dan mama saya. Bila saja tuan tidak datang saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya dan mama dulu." ungkap Nico mengenang masa lalunya.
"itu karena takdir hidup yang sudah mempertemukan kita Nico, dan aku sudah menganggap mu seperti putra ku sendiri. Aku bangga dan senang melihat perkembangan mu selama ini. Tanpa bantuanmu dan tuan Erick, aku dan keluargaku tidak akan bisa hidup setenang dan senyaman selama ini. Dan kau sudah berani rela mengorbankan diri untuk menjadi perisai ku selama ini dari para musuh-musuh ku." balas ayah Lusi dengan senyum yang tidak dapat di lihat oleh Nico.
"terima kasih tuan, anda selalu baik pada saya."
"baiklah Nico, kerjakan semua dengan cepat, semua yang ingin menghalangi rencana kita hancurkan semua. Sudah waktunya kemunculan dari Presdir Faresta Group ke publik. Dan saat itu terjadi, kita akan membuat semua para musuh bergerak untuk mendekat, sudah tidak ada gunanya lagi untuk bersembunyi. Kita harus menjadi kuat dan menghadapi semuanya, aku tidak ingin menghindari mereka lagi."
"baik tuan, kami akan melaksanakan perintah anda." ungkap Nico senang dengan keputusan dari tuannya.
"selamat sore Nico."
"selamat sore tuan."
Sambungan telepon pun terputus.
Semua rahasia yang berusaha di sembunyikan selama ini, lambat laun pasti akan terungkap juga. Tanpa ada yang menyadari semuanya sudah terhubung akan takdir hidup mereka masing-masing.
......................
…Supermarket…
…Lusi Arsinta…
__ADS_1
Hari ini semua kekesalan ku hilang begitu saja, dengan kebersamaan ku bersama si kembar Nathan dan Nathalia. Kami terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia.
Aku melihat jelas kebahagia di wajah Ardian yang saat ini mendorong troli keranjang belanjaan kami, sedangkan aku menggandeng tangan Nathan dan Nathalia. Kami saat ini sedang berbelanja bersama untuk keperluan rumah yang di perintahkan oleh ibu.
Aku tersenyum melihat canda tawa Ardian dan si kembar, yang terus berebut memasukkan semua apa yang mereka inginkan? ke dalam keranjang. Aku sangat senang melihat anak-anak ku sehat dan pintar, dengan pengasuhan dan kasih sayang serta perhatian yang di berikan oleh Ardian, di saat aku tidak ada. Ada rasa sesal dan sakit dalam hatiku ketika membayangkan telah melewatkan tumbuh kembang kedua anak ku.
Mimik wajahku berubah murung akan bayangan yang ada di pikiran ku saat ini, dan itu tidak luput dari pandangan mata Ardian.
"ada apa sayang?" tanya Ardian yang sudah berdiri di dekat ku.
Aku melihat pada Ardian, dia menatapku khawatir.
"aku tidak apa-apa, apa kalian sudah selesai?" jawab Lusi dan balik bertanya.
"katakan padaku ada apa? aku melihat perubahan mimik wajah mu?" ungkap Ardian dengan menggenggam tangan ku lembut.
Aku menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"aku tidak apa-apa Ardian, aku hanya lelah. Ayo kita pulang aku butuh istirahat." balas ku dengan tenang.
"Ardian…?" ungkapnya dengan tatapan tajam ke arah ku. Dan aku tahu kalau aku sudah salah memanggil nama akrab yang sudah kami sepakati bersama.
"jangan mulai lagi." balasku dengan malas.
"ayolah kita sudah sepakat sayang. "
"baiklah-baik, papa…" ucapku mengalah, aku tidak ada niat untuk berdebat panggilan nama dengan Ardian saat ini.
"jadi apa bisa kamu katakan? apa yang membuat mu terlihat sedih sayang?"
"sudah aku katakan, aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah papa."
"baiklah, ayo kita pulang. Apa semua pesanan ibu sudah kamu dapat kan sayang?"
"sudah." jawab ku singkat.
"baiklah anak-anak mari kita pulang sekarang. Mama sudah lelah dan butuh istirahat." ungkap Ardian mendekati Natha dan Nathalia.
Nathan dan Nathalia melihat ke arahku dengan tatapan khawatir mereka.
"apa mama sakit?" tanya Nathalia dengan wajah khawatirnya. Dia mendekatiku dan menggenggam tangan ku.
Aku merendahkan tubuhku untuk mensejajarkan tinggi kami. "tidak sayang, mama tidak sakit. Mama hanya lelah dan butuh istirahat sebentar, supaya bisa bermain bersama kalian nanti di rumah Oma." jawab ku agar Nathalia tidak terlihat khawatir.
"baiklah mama ayo kita pulang !! " ajak Nathalia menarik tanganku.
Ardian mendorong troli keranjang belanjaan kami, sedangkan aku berjalan menggandeng tangan Nathan dan Nathalia. Kami menuju ke kasir dan segera pulang.
Di dalam perjalanan pulang ke mansion, rasa sedihku hilang karena canda tawa dari si kembar, yang sangat ampuh menjadi obat kesedihanku saat ini. Tanpa terasa kami sudah sampai di mansion, tempatku dan kedua orang tuaku tinggal untuk sementara waktu.
Dengan riang gembira ayah dan ibu yang sudah sangat rindu pada si kembar, menyambut kami dengan bahagia. Si kembar juga merasa senang ada dalam gendongan Oma dan opanya.
Aku menuju ke dalam kamar yang sudah di sediakan, untuk beristirahat sejenak, sedangkan Ardian masih ikut bermain dengan si kembar, ayah dan ibuku. Aku menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tanpa aku sadari saat aku berada di dalam ruang ganti, ternyata Ardian sudah duduk manis pada sofa yang ada di dalam kamarku saat ini.
"apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku yang terkejut akan keberadaan Ardian di dalam kamar.
__ADS_1
"kamu…? lagi-lagi kamu lupa sayang?" jawab Ardian melihat mesra dan melangkah mendekatiku.
Aku bukan lupa, hanya saja aku belum terbiasa akan panggilan akrab kami berdua. Tapi sepertinya Ardian tidak suka akan hal ini, aku harus cepat bertindak sebelum Ardian melakukan hal-hal yang tidak aku inginkan, walaupun itu wajar bagi kami berdua sebagai pasangan suami-istri.
"baiklah maafkan aku…aku bukan lupa, hanya saja aku belum terbiasa." ungkapku melangkah mundur karena Ardian terus maju mendekati ku.
"ayolah sayang, kamu harus membiasakannya." ucap Ardian terus melangkah maju dengan senyum yang mencurigakan.
"iya tentu saja papa…tapi apa bisa papa keluar dari kamar ini, aku ingin istirahat sebentar, nanti kita sambung lagi." balasku dengan terus melangkah mundur, tapi sialnya aku jatuh terduduk di atas ranjang.
Ardian dengan langkah cepat nya mendekati ku, dia sudah berada tepat di hadapanku, kedua tangannya mengapit tubuhku yang terduduk di atas ranjang. Wajah kami sangat dekat saat ini, dan tatapan mata kami bertemu.
"a…apa yang ingin kamu lakukan?" tanyaku terbata-bata, denagn mencondongkan tubuhku kebelakang, agar wajah kami sedikit menjauh.
"tidak ada, aku tidak melakukan apapun?" balasnya dengan senyum manisnya.
"kalau begitu menjauhlah dariku." ungkapku ingin mendorong dada Ardian.
Tapi bukannya tubuh Ardian yang aku dorong, malah tubuhku yang di peluk Ardian.
"aku mencintaimu sayang." ungkapnya di samping telinga ku, membuatku diam membeku.
Dapat aku rasakan hembusan nafasnya, pada daun telingaku.
"Ardian…" panggil ku yang langsung terputus akan ucapan Ardian.
"apa sesulit itu, kamu untuk terbiasa memanggil dengan sebutan sayangmu padaku?"
"tidak Ar…papa." ucapku untuk mengalah.
Ardian mengeratkan pelukannya padaku, seakan takut kehilanganku.
"aku bahagia kita bisa bersama, aku lebih bahagia bila kamu bisa kembali lagi seperti dulu sayang, bisa mencintai ku dengan cinta yang sangat besar dan tulus untuk ku."
Aku hanya bisa diam dan mendengar ucapan Ardian, yang masih setia memelukku erat.
"aku sungguh sangat-sangat mencintaimu sayang, aku merindukanmu. Jangan pernah pergi meninggalkan ku lagi." ungkapnya.
Perlahan Ardian melepaskan pelukannya, Ardian duduk dengan menekuk kedua kakinya di lantai, agar tinggi kami bisa sejajar. Pandangan mata Ardian yang penuh akan binar cinta, dapat aku lihat dengan jelas. Sorot mata Ardian tidak ada kebohongan akan perasaan hatinya saat ini.
Ardian menggenggam kedua tangan ku, mencium kedua tanganku secara bergantian.
"aku tidak akan berhenti untuk berharap cintamu sayang, aku akan selalu menunggu sampai kamu bisa mencintai ku lagi seperti dulu." ungkap Ardian, yang membuat hatiku seakan menghangat akan kata-katanya.
Aku tidak bisa membalas apapun perkataan cinta Ardian? hatiku masih bimbang untuk membuat keputusan. Saat ini aku hanya merasakan rasa nyaman bersama dengan Ardian, sama seperti rasa nyamanku saat bersama Ryan.
Aku hanya berharap kepada Tuhan, agar memberikanku kekuatan untuk menjalani takdir dan hidup ku saat ini, tanpa harus menyakiti siapapun? semoga semuanya berjalan seperti semestinya, dan kebahagiaan akan aku dapatkan bersama dengan orang-orang yang aku sayangi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1
"