
Fajar menyingsing, di pagi yang dingin bersama embun membasahi dunia ini.
Alarm pun berbunyi seperti biasa dengan nada khas ayam jago dan panggilan kesayangan ayam jago ke Fisha, yang membuat jiwa berguncang akibat kencangnya suara, hingga menghunus jantung, mengharu memekikkan telinga.
Gadis manis terbangun, dia melaksakan sholat shubuh, lalu melanjutkan ritual perempongan ala emak-emak seperti biasa, bantu ibu masak dengan spatula dan entongnya, lalu beberes sampai kinclong tak tersisa, rajin sekali dia sampai lantai pun bisa buat cermin dan lalat yang hinggap pasti akan terpeleset dan tersungkur.
Dia bersiap-siap untuk masuk sekolah, dia semangat karna besok hari libur, dia berniat mengunjungi kakek dan neneknya besok, ya gadis itu siapa lagi kalau bukan Fisha, dengan pakaian sederhana dan siap memacu ke sekolah dengan mengendarai ontelnya bersama sahabatnya, siapa lagi kalau bukan trio percabaian Sasa.
“Hai Gaes, ayo cuss!” ucap Fisha seraya tersenyum manis mengalahkan paginya mentari.
“Eh eh, ayo! Ada apa gerangan kenapa mukanya cerah sekali kayak habis dapet THR gede nie, bagi dong!” seru sasa sambil menatap penuh selidik dan menadahkan tangannya, tanda minta yang dikira THR tadi.
“Hey THR apaan! Aneh-aneh aja, yang ada dalam pikiranmu sesajen aja, makanan uang itulah sajenmu,” ujar Fisha sambil menepis tadahan tangan Sasa dengan ketawa. Sasa mendengus kesal dengan memutar bola matanya.
Mereka mengayuh ontel dengan cepat dan diam di tempat dengan keheningan agar sampai di sekolah dengan cepat, karna rasanya hari ini lagi males ngobrol di jalanan.
Sampailah mereka memarkir ontel dan berpapasan dengan Sesil juga memarkir ontelnya.
“Halo, Sil, eh bareng nie, tumben, ada halilintar apa pagi ini kok kita bisa kebetulan bareng, apa malaikat tadi membisikkan kata rayuannya ke kamu agar sampai bareng kita?” ucap Fisha sambil ketawa dan berlalu pergi dan melambaikan tangan.
“Eh tungguin! Kampret bener main tinggal-tinggal!” dengus Sesil dengan berlari mengejar Fisha. Fisha pun semakin berlari kencang dan ketawa.
“Hey, iya ini emak Fisha main tinggal anak-anaknya aja, nanti kita ngambek beliin lolipop lho ya.” Sesil menimpali dan menyusul mereka dan mereka pun berhasil menyusul Fisha dan bareng kembali. Mereka pun mengobrol dan bercanda.
“Eh iya Fish, tadi malaikat gini lho, hey Sesil, ayo cepat-cepat emakmu Fisha udah berangkat, biar sehati dan disayang Fisha gitu,” ujar Sesil mengajak bercanda dengan menggandeng Fisha dan Sesil. Mereka lalu ketawa bersama.
______________________
Sampailah di pintu kebangsaan murid-murid kelas dengan suara derap langkah murid-murid yang mencoba masuk, trio cabai tertawa dan berebutan pintu, siapa yang cepat masuk dia menang.
Ya begitulah mereka seperti anak tanpa dosa dan merengek tanpa perduli di belakangnya sudah antri panjang kayak antrian sembako, mereka semua pengen masuk, tapi nihil, akibat ulah trio cabai semuanya kesal dan menggerutu, tapi mana berani mereka mengutarakan, salah-salah, bisa-bisa nanti trio cabai memaki dan mengkuliahi mereka dengan jurus percabaian berlevel yang tanpa batas pedesnya.
__ADS_1
Fisha gerah dan mereka tetap berebut, akhirnya dia yang menang masuk duluan. Tapi keseimbangannya goyah dia terperanjat hampir terperosok tubuhnya, gara-gara berebut saling dorong tadi, hingga dia ditangkap oleh sang penguasa hati, sang pemasuk fikiran dan mimpi, sang dewa rindu...
Fisha tak berkedip, dia menikmati dan memandang Awan, Awan pun demikian, dia tersenyum cerah dengan bergemuruh di dadanya kencang bagaikan kuda yang berpacu, bergesekan dengan sepatu.
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, suara jantungku. Batin awan
Aigo, dia kalau dari dekat tampan juga, senyumnya yang ku bilang mesum membuat mataku silau, rasanya dulu aku mual males, tapi sekarang dewi cinta membalasku dengan membalikkan hatiku, apa dia juga memiliki perasaan sama sepertiku? batin Fisha sambil tetap memandangi Awan, mereka bertelepati ria dalam hati dan saling bertatap. Hingga master percabaian berlevel semuanya berdehem.
“Ahem hem hem heeeemmm,” serempak mereka menyapa dengan berdehem. Ares, Alby, Sesil dan Sasa.
“Aigo, pemandangan macam apa nie, bentar lagi ada yang jadian nie?” ucap Alby dengan menggosok hidungnya yang tidak gatal.
“Iya nie traktiran-traktiran! Sesajen untuk kita.” Sasa menimpali dengan menahan senyumnya. Fisha yang merasa kesindir mencoba berdiri dengan tegap dan dibantu awan dengan mengulurkan tangannya. Dengan saling canggung dan salah tingkah mereka berdua.
“Ish ish ish, udah dech semuanya ayo duduk!” ucap Alby, lalu Fisha mengiyakannya dan berlalu pergi bersama trio cewek, dengan menahan malu sampai wajahnya merah dibuatnya dan duduk di bangkunya. Awan melirik dan tersenyum.
“Aduh... Ternyata aku makin cinta dibuatnya, dia sungguh menggemaskan, apa aku tembak aja ntar. Oke ntar aku coba,” bisik Awan ke Alby dan Ares, sambil mengepal melayangkan tangan tanda semangat diri sendiri. Alby dan Ares yang melihat menepis tangan Awan dan ketawa.
“Iya tanda orang jatuh cinta itu gila.” Ares menimpali dengan ketawa.
“Diam kalian!” bentak Awan dengan suara lirih menahan malu. Fisha melirik dengan senyumannya membuat awan terpukau.
Bel pun berbunyi tanda masuk, mereka mendengarkan pelajaran dengan serius, 1 jam, 2 jam berlalu, hingga tiba waktunya istirahat.
Alby, Ares mengajak Awan keluar, tapi Awan dengan males tidak menerima ajakan mereka malah dia menopang dagu di atas bangku dengan melirikkan bola matanya mengintai Fisha.
“Ohh aku tau kamu mau nungguin Fisha ya? Apa mau nembak?” tebak Alby dengan berbisik ke telinga Awan. Awan pun berjingkat tanda kaget dan menatap Alby.
“Apa? Kenapa menatapku seperti itu, pinter kan aku menebak, aku kan sakti, biasanya aku pertapa terus dalam kamar mandi tiap malam dan menggosok akik, akikku banyak.” Alby bercanda serta tertawa, sedangkan Ares memukul kepala Alby yang dirasa konyol gak masuk akal.
“Bagaimana? Apa gak apa-apa?” tanya Awan dengan wajah yang serius dan misterius, tapi Alby tau karena dia master cinta, dia emang gak pernah pacaran yang dikata dia merepotkan menurutnya, tapi dia tau apa cinta menurut pengalaman curhatan dari teman-temannya, jadi dia paham maksud ucapan Awan, sedangkan Ares mengernyitkan dahi tanda kurang paham. Dia mana tau tentang cinta, dia miris sekali dangkalnya seperti Fisha yang polos.
__ADS_1
“Iya lanjutkan! Aku akan mengajak siluman dan shampo ke kantin, ayo Res,” ucap Alby menarik Ares agar mengikutinya, Ares pun bingung, dia bengong masih tidak bisa mencerna dengan baik, tapi dia mengikuti Ares menghampiri Sesil dan Sasa.
“Hey, ayo siluman shampo, ayo ke kantin,” ucap Alby mengajak dengan mengejek sambil menahan tawa. Sesil dan Sasa mendesah dengan menatap tajam Alby.
“Udah ayo cepat kita tinggalkan Fisha, Awan mau menembak, ayo cepat! Jangan boleh Fisha ikut kita oke,” bisik Alby seraya mengangkat jari jempol dan telunjuknya dengan membentuk ok. Mereka mengangguk dan beranjak dengan cepat.
Fisha ingin ikut dia berdiri, tapi Awan menggenggam dan menarik tangannya, mereka saling bertatap dan berdesir angin sejuk dalam hatinya. Cukup lama mereka bertatap, mengutarakan isi hati lewat bola mata yang indah dan tersenyum.
Akhirnya....
“Fisha, mungkin aku bukan yang terbaik, mungkin aku bukan cowok romantis, mungkin aku bukan apa-apa di matamu, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik,” ucapnya dengan masih menggenggam tangannya.
“Fisha, maukah kamu jadi pacarku? aku mencintamu sejak pandangan pertama,” ucap Awan dengan berjongkok, bersilah, berlulut dengan menarik tangan Fisha yang ada di genggamannya dari tadi dan menciumnya.”
*
*
*
Apakah Fisha menerimanya? Cie, cie yang dag dig dug duar hatinya, dua sejoli... 💋
Yuuuk lanjutkan baca ceritanya kakak-kakak sayangku agar tidak penasaran...
-----------
Note :
Like, komen kritik dan saran, yang berkenan berikan vote yaaa,,, 😍
Terus dukung aku ya kak penulis receh, salam manis dariku semoga suka, ikuti alur ceritanya... Lopyupolepel semua.... ❤
__ADS_1