
Fisha berteriak kencang hingga ketakutannya mencapai tingkat di ubun-ubunnya, ia sambil memejamkan matanya dan mengkomat-kamitkan bibirnya berdoa di dalam hati. Ia merasakan kereta semakin lama semakin mendekat, hingga yang terjadi kereta pun melintasinya, menabrak hingga menindasnya dan ia pun hancur berkeping-keping. Fisha lalu terpisah dari jasadnya.
Ia pun melihat jasadnya hancur berserakan terhimpit oleh kereta dengan injakan yang keras seperti gergaji itu, ia bergetar dan meraung-raung, menangisi tubuhnya yang terpisah bersama dengannya, ia histeris meratapi semuanya. Matanya terlepas dari tempatnya dan terlempar jauh. Cairan merahnya bercecetar di mana-mana, otaknya pun menciprati kereta hingga baunya menyengat di hidung para penumpang, rasanya ia sangat kesakitan melihati jasadnya terobek-robek hingga menjadi bagian yang sangat kecil. Ia merasakan nyeri sekujur tubuhnya dan mati rasa.
Fisha yang kebingungan ia berlari menuju jasadnya yang sudah berceceran ke sana ke mari, tangan dan kaki sudah terpisah dari utara menuju ke selatan, hingga timur menuju ke barat. Ia menangis sejadi-jadinya.
“Bagaimana ini Tuhaaan! Bagaimana caranya aku bisa menyatukan jasadku ini, aku bingung karena dengan ini bisa-bisa aku akan gentayangan selamanya dan tak bisa menuju akhirat surga-Mu," ucap Fisha sambil menyentuh jasad tangannya yang sudah terlepas dan ia tak bisa meraihnya karena ia sudah tak berhak oleh jasadnya.
Fisha lalu melemas tak berdaya, ia duduk terpaku masih memandangi jasadnya yang kocar-kacir. Ia lalu memangku kedua tangannya beserta lututnya, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam lututnya dengan ketakutannya, berharap semua ini hanyalah fatamorgana, lalu ia mendengar Asult yang berteriak menangisi kepergiannya.
“Ini semua gara-gara kau! Aku sungguh membencimu, aku akan menghantuimu selamanya!" teriak Fisha sambil menunjuk Asult dengan geramnya namun ia yang sudah menjadi hantu membuat Asult tak bisa mendengarnya.
Fisha membelalakkan matanya saat melihat Asult juga berada di tengah rel kereta api dengan mata yang tertutupi kain. Asult berusaha bunuh diri menyusul Fisha sesuai janjinya waktu itu. Ia menangis histeris sambil terduduk dan memeluk kaki Fisha yang sedari tadi dipegangnya.
“Fishaaa aku akan menyusulmu!" teriak Asult dengan kencangnya.
“Heeey kau sedang apa? Kau benar-benar psikopat gila! Minggir aku gak mau melihat kamu mati, aku ingin balas dendam dengan hal yang tragis, kamu jagan mati! Jangaaaaan!" teriak Fisha sambil tangannya menutupi telinga dan memejamkan matanya sekejap.
Ia menyaksikan sendiri kereta melintasi Asult hingga ia pun bernasib yang sama seperti Fisha. Fisha semakin bergetar tubuhnya hingga melongo melihat Asult yang nyawanya hanya kurang beberapa menit itu, ia masih sempat tersenyum sambil melambaikan tangan melihati roh Fisha yang menatapnya tajam.
__ADS_1
“Fishaaa, kita jumpa kembali haha," ucap Asult yang terakhir kalinya yang masih terpental oleh kereta lalu dengan cepat kereta meremukkannya hingga ia seperti bubur yang berceceran, ususnya terlempar dengan tubuhnya, hingga yang terjadi roh Fisha menadahinya dengan tak disengaja. Ia semakin ketakutan dan membuang usus itu.
“Apa-apaan ini? Maz Even ... kamu di mana? Aku sangat takut! Hiks, kenapa seram sekali hidupku, kenapa aku terjebak di dunia yang gak jelas ini, lantas aku bingung harus ke mana? Apakah aku sudah mati atau gimana? Kalau sudah mana Awan kenapa dia tak menjemputku," celoteh Fisha dengan sendirinya berjalan tanpa arah.
Saat ia berjalan pelan Even datang dan berteriak kencang. Ia berlari dengan kencang meraih kepala Fisha yang ia lihatnya, lalu ia ciumi seluruh wajah Fisha dengan cintanya.
“Sayang, heyyy kamu tak mungkin meninggalkanku kan? Apa aku terlambat? Ini bohong kan? Jon tampar aku Jon ... tampar aku kalau ini adalah mimpi, tidak mungkin! Fishaaa," teriak Even dengan histerisnya. Ia memeluk kepala Fisha dengan erat sambil menangis sesenggukan. Fisha yang melihat itu ia kembali dan mendekat ke arah Even sambil memandangi, ia ingin memeluk Even namun ia tak bisa.
“Sayang ... bilang aku semua ini hanya mimpi, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa se tragis ini cinta kita! Aku benar-benar bodoh tak bisa melindungimu, lantas aku harus bagaimana sekarang? Apa aku sanggup hidup tanpamu? Aaaa tidaaak! Aku tak mau itu, aku sangat mencintaimu, kembalilah! Hiks." Even memeluk Fisha kembali, lalu ia meratapi semua rel yang ada di situ, ia melihat semua jasad Fisha yang berceceran.
Ia dengan seluruh tubuh yang bergetar ia kumpulkan ceceran itu dengan cepat lalu berusaha menyambungkannya kembali. Fisha hanya menangis saat melihat usaha Even itu, ia menggelengkan kepala tak terima.
“Maz sudah, ikhlaskan aku, mungkin kita tak berjodoh, yakinlah aku sangat mencintaimu, terimakasih cintamu terlalu dalam juga untukku, kamu melakukan itu aku tak akan hidup lagi, hentikan! Itu malah menyakitimu, yang harus kamu lakukan adalah menguburku!" celoteh Fisha yang hanya dia dan Tuhannya saja yang mendengarnya.
“Apa! A-Asult? Jadi ... apa penyebab semua ini adalah dia? Kurang ajar! Dia begitu kejam hingga Fishaku seperti itu, enak saja, dia sudah gila berusaha menyatu kepada Fisha di akhirat, dia gila benar-benar gila, Tuhaaan maukah kau juga mengambil nyawaku? Aku sungguh tak sanggup hiks, hiks, haaaaaa." Even duduk terjerembah lalu dengan frustasunya ia meremas rambutnya hingga beracak tak beraturan.
Jonatan hanya mengusap punggung Even berusaha menenangkannya namun yang ada ia semakin histeris.
“Jon, bisakah kau membunuhku? Ayo bunuh aku ayo, habiskan semua peluru di dadaku cepat!" perintah Even sambil meraih tangan Jonatan dengan duduk bersimpuh lalu mengayunkan tangan Jonatan, ia lalu merogoh senapan yang ada di kantong bajunya dan memberikan kepada Jonatan.
__ADS_1
“Ini Jon, cepat Jon!" sodor Even ke arah Jonatan, lalu Jonatan menerima senapan itu dengan memicingkan matanya yang membulat sempurna.
Jonatan berpura-pura mengayunkan senapannya lalu dengan cepat ia melemparkannya jauh. Even menatapnya dengan wajah yang kunyu dan mata yang sayu karena kebanyakan menangis.
“Jon! Bunuh aku! Kenapa kau malah membuang senapannya hah! Aku sudah tak mau hidup lagi, sudah tak penting aku di dunia ini tanpa adanya Fisha," ujar Even menatap kosong ke sembarang arah.
“Maz, jangan kau melakukan hal yang bodoh! Aku tak meridhoimu!" larang Fisha dengan kerasnya. Ia berusaha mendekap Even berulangkali dan menyentuhnya namun tetap tak bisa, membuat Fisha hanya mendengus kesal.
“Bos, jangan gila! Wanita masih banyak di luaran sama!" sentak Jonatan dan Even menamparnya.
“Berani-beraninya kau!" Even berucap sambil berlari dan menabrakkan dirinya ke kereta yang melintas dengan cepat.
“Tidaaaaak," teriak Fisha dengan kencangnya.
-------
Note :
Ihhh serem sekali nulis ini merinding rasanya 😂, sekali-sekali biar terenyuh wkwk, mau tamat berapa nie? Haha batas max 150 yaaaa.
__ADS_1
Jangan main tebak-tebakan ditunggu saja haha, salam manis Otor receh remahan debu wkkw. ❤
Like-nya jangan lupa. 💋