Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Diantar Pulang


__ADS_3

Alby mengikuti Fisha di belakang dan mengantarkan Fisha ke depan rumahnya.


“Hey udah biar diantar kakak saja, kamu naik apa?” tanya Alby ingin melancarkan aksinya.


“Aku bawa ontel kok, tuh di luar gerbang kamu!” tunjuk Fisha ke arah ontelnya.


“Kenapa gak kamu bawa masuk aja? Nanti kalau ada yang bawa gimana?” Alby sedikit meninggikan suaranya sambil melirik ke kakaknya, berniat menggoda kakaknya, namun kakaknya tak meresponnya membuat Alby geram dibuatnya.


“Gak lucu! Ontel butut aja siapa yang mau haha,”


Anak ini unik juga ya dan sederhana sekali. Batin Even dengan menatap penuh ke Fisha.


“Udah! Dianter kakak aja! Nanti ontelnya aku yang bawa buat jogging!” perintah Alby, sambil mendekat ke arah kakaknya dan menarik tangan kakaknya lalu mendorong ke arah Fisha hingga Fisha kehilangan keseimbangannya karena tubuh Even yang begitu kekar, tapi dengan sigap Even menangkapnya dan menopang dengan kedua tangannya. Mereka pun saling berpandangan lama dan Even sedikit menyunggingkan senyumannya.


Aduh gila dah temen Alby kalau dari deket cakep juga ya, dan kenapa jantungku berdetak dengan cepat, aku kan gak punya sakit jantung. Apa jangan-jangan ... wah gawat! Batin Even, ia sedikit salah tingkah, lalu menarik tangan Fisha agar cepet berdiri dan tidak terjerembah. Alby yang melihat kakaknya salah tingkah ia tersenyum.


Fisha menatap tajam Alby dan memakinya dengan kencang. ”Kamu ini yaaa! Kampret sekali hais!” Fisha meninggikan suaranya dan memukul lengan Alby, Alby tersenyum tanpa rasa berdosa.


”Udah sana pulang! Ditungguin ibu lho ... cepat ...!” usir Alby dengan mengibaskan kedua tangannya.


“Kak cepat! Sana antar Fisha!” perintah Alby memandangi kakaknya.


”Eh ... kok kakak? Apa harus kakak?” balas Even seraya menunjuk dirinya sendiri. Alby mengangguk dengan mengedipkan matanya merayu kakaknya, sedangkan Even pun pasrah dan terpaksa mengiyakannya.


”Hey, gak usah ... aku bisa pulang sendiri Al!” tolak Fisha dengan memelas. Namun Alby tak memperdulikannya, ia mendorong Fisha dan kakaknya keluar pintu dan Alby buru-buru menutup pintunya.


“Ta-tapi Al ... aku ....” Belum selesai Fisha meneruskannya Alby menutup pintunya dengan cepat dan tertawa senang di balik pintunya.


”Dasar anak nakaaaal! Suka sekali kamu memaksa, kampret!” maki Even dengan kencang sambil menggedor-gedor pintunya dan mencoba menarik handle pintunya, namun Alby tak memperdulikannya, justru itu rencana dia agar pendekatan antara kakak dan sahabatnya berjalan dengan mulus, ia malah meninggalkan ruang tamu dan berlari ke kamarnya dengan ketawa terbahak-bahak.


”Iya tuh, dasar Alby kampreeeet!” Fisha menimpali dengan menendang pintunya, ia lalu menggosok betisnya karena merasa sakit menendang pintunya tadi dengan kencang, Even yang melihatnya hanya tersenyum tipis dan sedikit khawatir.


”Sakit?”


”Enggak biasa aja.” Fisha membelakangi Even seraya beralasan karena gengsi dong kalau jujur akan hal itu kepada Even.

__ADS_1


Even lalu menepuk bahu Fisha, Fisha pun menoleh. ”Ayo aku antar!” tawar Evan dengan menggandeng tangan Fisha dengan lembut, Fisha melihat ke arah tangannya dan menatap Even dengan tajam, mengkode agar Even melepaskannya, dan ia berniat memberontak namun Even dengan gesit semakin mempererat genggaman tangannya dan tersenyum manis sehingga Fisha heran dengan tingkah laku Even.


Aduh, dia kenapa sih ... sekarang semakin berubah lembut ...? Gak seperti awal bertemu yang kaku seperti tiang listrik itu, itu juga kenapa senyumnya seperti gula, aduh kalau seperti itu mirip Awan senyumnya. Bisa-bisa aku diabetes melihat senyumnya terus menerus, hmmmm gawat dah. Batin Fisha, ia menoleh sedikit ke arah Even dan membalas senyuman Even. Even yang senyumnya terbalaskan ia merasa sangat senang.


“Ayo cuss ...,” ulang Even dengan mendahului Fisha, lalu menuju garasi mobilnya dengan berlari kecil dan merogoh kunci mobil di sakunya, siap untuk mengeluarkan mobilnya, sedangkan Fisha membuntuti Even dengan berjalan pelan saja.


“Jalan kaki saja deh kan deket! Sepedaku tak bawa saja, gak usah Alby nanti malah merepotkan, masak deket aja bawa mobil hehe,” usul Fisha dengan terkekeh sambil mendekati Even dengan wajah yang memerah karena sedikit salah tingkah.


”Yakin?” balas Even singkat, Fisha mengangguk dengan cepat.


“Dibilang aku pulang sendiri saja dech, Ven. Oke aku pulang sendiri ya?”


”Enggak sama aku saja, banyak orang jahat! Gimana kalau aku bonceng saja kamu dengan sepeda ontel itu?” Even berjalan dengan cepat menuju arah gerbang dan membukanya lalu menuntun ontelnya dan naik sedel siap mengendarainya. Fisha yang mengikutinya mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala dibuatnya.


Apa?! Beneran ini? Apa aku gak salah? Seorang Even horang kaya mau mengayuh sepeda? Apa gak salah? Kok seperti di film-film india begitu, uhhh sok romantis hmmm. Terus alasan apa tadi penjahat apaan hmmm mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi aku juga kasihan menolaknya terus, yaudah gak apa-apa dah. Batin Fisha sambil menatap sepeda yang sudah di naikin Even.


------


Even menoleh dan menepuk-nepuk boncengan sepeda Fisha dengan tersenyum supaya Fisha segera naik.


”Aw ... sakit tau?” Mengelus-elus keningnya yang habis disentil Even.


”Haha sorry! Lagian kamu ini mikirnya gitu amat, aku orang baik-baik, wajah tampan begini masak orang jahat!


”Hais percaya diri sekali ....”


”Ayo cepet! Kalau lama aku berubah pikiran dan akan aku tinggalkan kamu ...! Mau?” Ancam Even dengan tersenyum licik, dan ternyata ancamannya berhasil, Fisha dengan malas naik di boncengan sepedanya.


Even tersenyum senang karena ancamannya berhasil.


“Sudah siap?”


”Yes. Ayo!” Even pun mulai mengendarai sepedanya dengan pelan seraya bersiul-siul kecil, lalu ada polisi tidur di depannya ia dengan sengaja melewatinya dengan keras sambil menahan senyumnya, Fisha yang tak siap ia kaget seraya keningnya terbentur pundak Even dan ia menggerutu.


”Hey pelan-pelan dasar! Kamu mau membunuhku ya?!” teriak Fisha, dan Even menahan senyumnya seraya pura-pura tak mendengarnya.

__ADS_1


”Kamu bilang apa?!”


“Dasar tuli!” Fisha terus menggerutui Even dengan segala macam hinaannya, tapi Even tak peduli ia semakin menggodanya, akhirnya Even mengendarai sepedanya dengan agak cepat dan bernyanyi-nyanyi lirih.


”Eveeen jangan kencang-kencang ... aku takut tau?” Fisha memejamkan matanya lalu dengan tak sengaja ia memeluk Even, Even yang merasa dipeluk ia tersenyum senang dan semakin mengendarai dengan cepat.


“Kamu ini ya ... tuli apa?! Kalau begini terus ya udah aku loncat saja biar sekalian jatuh!” ancam Fisha dengan menarik-narik baju Even dan berpura-pura merajuk padahal ia tersenyum.


”Haha iya dah aku pelan!” Even mengendarai pelan karena ancaman Fisha yang super itu, dan berhasil mengelabui Even, Fisha lalu melepaskan pelukannya.


Haha tuh kan kalau begini ya sudah gak ada pelukan lagi sial! Eh tapi apa aku gila? Kenapa aku senang sekali dipeluk dia, Dasar! Benar-benar teman Alby ini super sekali, masak seorang Even secepat ini jatuh cinta? Tak boleh, mungkin ini hanya guncangan sedikit saja di hati, nanti dengan berjalannya waktu hilang sendirinya, iya pasti itu. Batin Even.


”Di mana rumahmu?” tanya Even dengan menengok sedikit ke Fisha lalu beralih ke jalan kembali.


”Itu rumahku warna merah!” tunjuk Fisha, lalu Even mengarahkan sepedanya ke sana, dan sampailah mereka di rumah Fisha.


Lalu Even pamit pulang dengan membawa sepedanya kembali, katanya nanti akan dibalikin dengan mengajak Alby kembali, gak mungkin kan kalau Even pulang jalan kaki.


---------


Note :



Aku kembali kakak\-kakak kesayangan hehe, maaf baru up biasa \*weekend\*.



Salam sayang dan jauh dari Otor💋



Jangan lupa likenya oke sayangku yang baik hati ... ❤


 

__ADS_1


 


__ADS_2