
Sampailah mereka di rumah kebanggaan mereka, meskipun rumahnya begitu sederhana tapi unik dengan bernuansa taman bermacam-macam bunga menghiasi setiap sudut depan rumah dan rerumputan yang dirawat penuh kasih sayang dengan extra cinta dan hati-hati oleh Farsi.
Farsi meskipun cowok dia sangat suka dengan tanaman, sedangkan Fisha dia biasa saja hanya rajin melaksakan ritual emak-emaknya.
Mereka menghilangkan penat dengan duduk di kursi masing-masing, berselonjoran dan saling memijat kaki masing-masing karena sedikit capek.
Fisha, ibu dan Farsi di hari libur memang selalu pulang kampung mengunjungi kakek dan neneknya, begitulah tradisi aturan hidup kesehariannya yang diciptakan ayahnya agar disiplin dan menjadi anak-anak yang baik.
Al-hasil didikan ayah membawa dampak terbaik dan berhasil, mereka menjadi anak yang terbaik dan bisa di bilang seminggu sekali mereka pulang kampung. Tapi mereka tidak menginap hanya bermain sehari saja untuk melepas kerinduan kepada kakek neneknya, kadang Farsi sebelum menjelang hari libur pun kalau pengen main ke sana juga pergi ke rumah Kakek Neneknya sendiri setelah usai sekolah.
“Mbak, siapa tadi cowok yang ikut belajar bela diri? Apa jangan, jangan--” belum sempat Farsi menyelesaikan kalimatnya Fisha sudah menatap tajam ke arah Farsi dan manaruh jari telunjuk ke mulutnya serta menggelengkan kepala tanda diam jangan banyak bicara begitu yang dimaksud.
Farsi yang ditatap menahan tawa dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan.
Ibu pun menoleh kepada Fisha dengan tatapan menyelidik, yang artinya Fisha harus menjelaskan apa yang dimaksud adiknya, Fisha yang ditatap hanya cengengesan.
Ihh kampret bocil satu ini, pengen tak lempar ke kandang buaya biar dimakan dan dicabik habis, mulutnya mulutnya mulutnya, itu lho ihhh apa kurang makan bangku sekolahan, perasaan udah habis banyak bangku yang dimakan, tapi otak dan mulutnya tetap gak dikondisikan, apes apes banget aku, oke fix iya aku harus acting secantik mungkin ke ibu dengan wajah seceriah mungkin dan menggoda agar tidak ketahuan. Batin Fisha, dia melamun hingga dahi berkerut.
“Hey malah bengong,” ujar ibu sambil melambaikan tangan ke depan muka Fisha untuk menghilangkan kesadarannya.
“Hehehe bukan siapa-siapa Bu, hanya teman, itu tetangga kakek yang baru itu ternyata teman kelasku. Lalu tadi dia diajak kakek latihan juga karena kebetulan lewat depan rumah dan merhatikan kita latihan hehe,” jawab Fisha cengengesan dan melirik ke Farsi dengan tatapan tajam, yang ditatap dia masih menahan tawa.
Sedangkan ibu geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya yang kadang akur kadang enggak.
“Teman apa teman ...,” ucap Ibu menggoda Fisha.
“Ihh teman bu ihhh, Fisha gak akan macam-macam Bu, perjalanan masih panjaaang seperti kereta apiiiii yang berjalan bertahun-tahun lamanya,” ucap Fisha lebay lalu berdiri beranjak pergi dengan wajah memerah menahan malu.
__ADS_1
“Bu, Fisha masuk kamar dulu bersih-bersih badan terus ke bawah lagi, “ soalnya nanti kata Sesil sama Sasa main ke rumah Bu,” lanjutnya melirik ibu dan tersenyum, ibu mengangguk lalu Fisha masuk kamar.
“Farsi juga pamit ya Bu, mau istirahat agak ngantuk.” Farsi menimpali sambil menguap dan menutup mulutnya, ibu pun mengangguk dan Farsi berdiri lalu berjalan dan menghilang dari pandangan Ibu karna sudah masuk kamar.
Anak-anak ternyata udah gede ya pasti mereka tau apa itu cinta, apalagi Fisha kayaknya dia jatuh cinta dech glagatnya mencurigakan, gak apa-apa yang penting tau mana yang baik, ayah pun berpesan begitu, beliau pulang nanti katanya pas Fisha wisudah, alhamdulillah. Batin Ibu sambil tersenyum.
------------------------------------
Angin sepoy-sepoy berhembus kencang tandanya Hari sudah menjelang sore. Sore ini katanya trio cabai mau berkumpul di rumah Fisha mereka pengen main dan menggosip pedas seperti biasa, kalau tak menggosip rasanya hidupnya tak bermakna itulah prinsip trio cabai.
Meskipun mereka berhijab, tapi siapa yang bisa sangat alim dan manusia mana yang tak punya dosa sama sekali, mereka netral semuanya bisa dilakukannya dan taat beribadah, hanya satu yang gak bisa dihilangkan dari mereka yaitu mulutnya itu diam sedikit saja rasanya bagaikan sungai yang kering kerontang.
Mereka terbiasa berkumpul seminggu sekali, tapi rumahnya bergilir random kadang suka-suka mereka, sekarang di rumah Fisha, minggu depan di rumah Sasa, depannya lagi di rumah Sesil, begitulah persahabatan mereka yang kental semanis kecap bangau.
Dan tibalah mereka dari kejauhan dengan wajah penuh senyuman dan makna. Fisha yang menunggu di depan gerbang rumahnya pun berdiri dan membalas senyuman mereka.
“Assalamu'alaikum Fisha?” Sapa mereka bersamaan.
Mereka pun mengiyakan masuk dan berniat salaman dengan ibu dulu, ibu yang di duduk di kursi depan tv pun menengok dan tersenyum.
“Assalamu'alaikum Bu,” sapa mereka mendekati ibu dan mencium punggung tangan Ibu.
“Wa'alaikumsalam Nak, apa kabar kalian semua? Makan yuuuk Ibu sudah selesai masak,” ucap ibu seraya mengusap pucuk kepala Sasa dan Sesil bergantian.
“Alhamdulillah kita baik, Bu,” jawab Sesil dengan tersenyum.
“Iya Bu Alhamdulillah, makasih Bu kita udah kenyang dan udah makan tadi sebelum ke sini.” Sasa menimpali.
__ADS_1
“Ibu apa kabar juga? Dan Farsi?” tanya Sesil dengan wajah serius.
“Alhamdulillah semuanya baik Nak, yaudah kalau gak mau makan kalian mengobrol aja, Ibu mau bersih-bersih di belakang,” ucap ibu berdiri dan beranjak pergi. Mereka pun mengiyakannya.
“Ayo Sa Sil kita ke taman aja ya udaranya sejuk banget,” ucap Fisha dan berjalan mendahului mereka, sedangkan mereka membuntuti Fisha ke taman. Mereka pun sampai di taman yang hijau sejuk dan rindang, enak dipandang mata.
“Hey Sa Sil aku punya berita mengejutkan sekali,” lanjutnya dengan tatapan yang serius.
“Apa? Apa, Fisha Aureliastra cantik sepanjang masa sahabatku kesayanganku,” jawab Sesil dengan mengedipkan mata dan tersenyum menggoda.
Sedangkan Sasa ketawa dengan ucap Sesil yang lebay, tapi dia membenarkan ucapanya dengan tatapan serius setelahnya.
“Ihh lebaynya haha,” ucap Fisha dengan ketawa terbahak-bahak, sedangkan kedua sahabatnya memasang telinganya mendekat rapat ke arah Fisha dan tatapan serius.
“Dengerin yaaa, tadi aku pas di rumah kakek dan ternyata kalian tau Awan ternyata rumahnya samping rumah kakek dan rumahnya bagus bernuansa eropa gitu, lalu kita latihan bareng karena dia melihatku latihan sampai tak berkedip, kakek pun melihatnya jadi ya diajak lah sama kakek,” ucap Fisha memutar kedua bola matanya pasang wajah sok imut.
“Apa!!!” jawab kedua sahabatnya bersamaan karena terkejut. “Beneran Fish? Ihh enak dong jadi kencan dalam dunia persilatan namanya dan semangat energinya muncul karena cinta,” ucap Sesil dengan menggerakkan kedua alisnya menggoda sahabatnya Fisha.
“Enak apaan, aku rasanya ingin masuk karung beras nenek kemarin karena malu, sangat maluuuu ... rasanya kalian tau jantungku kayak petir menggelegar yang siap membunuhku, kenapa cinta menyakitkan sekali,” jawab Fisha menggerutu kesal dengan polosnya.
Sasa Sesil geleng-geleng kepala karena kepolosan Fisha, mereka memukul bahu Fisha dan ketawa, mereka tidak tau pasti cinta itu apa karena pada dasarnya mereka belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
“Fish, aku tadi pas ke indomaret siang, lihat Awan dia ...?”
Dia apa hayooo penasaran ya? haha ikutin terus kakak-kakak kesayangan ....
--------------
__ADS_1
Note:
Makasih sudah mampir dan menunggu karya recehku, klik like, komen kritik dan saran, bantu vote ya kakak-kakak dukung aku agar semangat, terimakasih ... lophyupolepel, salam jauh dariku sahabat dumay. 🙏😍😘❤💋