
Beberapa jam kemudian, Awan pun sampai di bandara Jogja Adisutjipto, ia pun mengerjap lalu turun dari pesawat sambil menguap, ia pun duduk di bangku menunggu supirnya menjemputnya, ia berniat minta dijemput saja karena merasa mengantuk agar aman, kalau naik taksi takutnya akan sangat merepotkan dan dibangunkan supirnya juga ia merasa terganggu, tapi kalau supir sendiri meskipun sudah nyenyak kan bisa tidur di dalam mobil lama walaupun di halaman parkiran rumah saja jelas aman.
Ia pun melihat jam menunjukkan pukul 6, ia pun menengok ke kanan dan ke kiri ingin segera sholat, namun dia tak menemukannya dikarenakan dia kan pendatang baru, dia pun bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, mumpung supirnya belum datang, Awan pun lalu menjalankan ibadahnya, supirnya pun sudah sampai, dia celingak-celinguk mencari Awan.
“Aden di mana ya? Masak udah pulang? Aduh bisa berabe kalau tuan marah, aden Awan hilang, padahal aku baru telat 5 menit,” ucap supirnya dengan panik.
“Oh mungkin aden lagi sholat, kan kebiasaannya begitu dia, rajin ibadahnya,” lanjutnya.
Pak supir pun menunggu Awan di kursi panjang dengan menyilangkan kedua kakinya sambil memainkan ponselnya, Awan pun selesai lalu ia mendekat dan menepuk pundak supirnya.
“Ayo Pak!” ajak Awan dengan lirih dan berjalan terseok-seok sambil memunggungi tasnya.
“Aden kenapa? Sakit?” tanya supirnya dengan memegangi kening Awan mengecek suhu tubuhnya.
“Aku tak apa Pak, aku hanya sangat lelah dan mengantuk, ayo Pak cepat ya Pak jalannya!” perintah Awan, supir pun mengiyakannya, beliau memapah Awan takutnya ia jatuh tersungkur dikarnakan terlihat sangat letih dan tak bersemangat untuk berjalan. Awan pun menerima bantuan supirnya.
“Mau Bapak gendong?” tawar pak supir dengan halus dan tersenyum.
“Enggak lah Pak, aku cowok juga udah dewasa masak digendong,” pak supir pun terkekeh mendengar jawaban Awan.
Mereka pun masuk ke dalam mobilnya, lalu pak supir menjalankan mobilnya, Awan pun bersandar lalu memejamkan matanya, ia pun langsung tertidur pulas.
“Aden, apa aden mau makan dulu ....” Awan tak menyahuti membuat pak supir mengernyitkan dahinya, ia pun melirik ke arah Awan dalam kaca spion depan.
“Oh, tertidur, pantes tiada jawaban, kasihan Aden kelihatannya capek sekali dia, tidurnya pulas begitu, demi cinta apapun dilakukannya, sungguh aku sungguh tersentuh dengan kesungguhan den Awan, sungguh beruntung yang mendapatkan hati aden,” ungkap pak supir.
Ia pun melajukan mobilnya dengan pelan-pelan agar tak cepet sampai dan Awan bisa lega tidurnya, dan sedikit membuatnya fresh.
setengah jam kemudian Awan pun sampai di halaman rumahnya, pak supir berniat membangunkan Awan namun tak ada jawaban, Awan tertidur seperti kebo, dia tetap tak beranjak malah semakin pulas, pak supir jadi tak tega membangunkannya, ia pun masuk dan melapor kepada kedua orang tua Awan, mereka hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, lalu menuju ke Awan.
“Emang dasar ya, bucin akut Anakmu tuh Pa,” ucap mama dengan tersenyum.
“Emang bukan Anakmu juga?” balas papa.
“Bukan, kalau yang jelek itu Anakmu, kalau yang baik itu menurun dari Mama,” sangkal mama membuat papa terkekeh.
__ADS_1
“Iya dech terserah Mama dah,” pasrah papa, mama pun tertawa terbahak-bahak atas papa yang tak bisa berkutik.
Mereka pun mencoba membangunkan Awan tapi nihil, ia terlalu meresapi tidurnya, papa mama pun menggelengkan kepala dan ketawa karena Awan dibangunkan tak beranjak malah dia mengigau parah.
“Kenapa Ney? Kangen ya sama aku kok pegang-pegang aku, bukannya tadi udah ketemu, kita? Hmmm,” ucapnya mengigau setengah sadar.
“Nay, Ney apaan? Dasar anak nakal, di mana pun kau berada yang ada di pikiranmu hanya gadis itu saja, heran Papa, belajar yang rajin dulu!” Tuk tuk, ucap Ayah sambil mengetuk mobilnya, sambil berceramah, membuat Awan mengerjap dan cengengesan.
”Hehe eh Papa, assalamu'alaikum Pa, Ma, di mana ini?” Awan bertanya dengan sok polosnya pura-pura mengelabui papa mamanya, ia pun turun dan mengecup tangan kedua orang tuanya.
“Di hutan!” sahut beliau bersamaan, membuat pak supir terkekeh lalu pak supir mengangguk dan berpamitan ke belakang.
“Haha iya Awan salah, gak tau kenapa tidurku bisa kayak kebo gitu, Awan mau naik ke kamar dulu ya Pa, Ma, mau mandi terus tidur kembali,” izin Awan sambil terseok-seok berjalan mendahului orang tuanya.
“Hey, gak mau makan dulu?” Tawar mama dengan berteriak karena Awan sudah sampai di atas.
“Nanti saja Ma, jawabnya.
---------
“Lho, aku dari tadi lupa gak ngasih kabar Fisha, waduh gara-gara tidurku kayak kebo tadi, bisa-bisa dia khawatir setengah mati sama aku,” ucapnya lalu segera menyelesaikan mandinya, ia pun keluar dengan memakai handuk setengah badannya dan berganti pakaian.
Dan benar dugaan Awan, di sisi lain Fisha bolak balik mengecek handphone-nya untuk melihat apakah ada notif masuk atau ndak, dia menggeram kesal dan mengumpat karena tak didapatinya apapun di ponselnya.
Kemana nie anak, apa belum sampai? Gak mungkin, seharusnya sejam yang lalu udah sampai, apa kecelakaan? Aduh seremnya semoga tidak, apa pingsan? Karena kecapekan, aduh, aku benar-benar khawatir, awas ya nanti kalau tega gak chat aku lipat-lipat dia menjadi kecil dan tipiiiis. Batin Fisha.
Ia ingin mengechat duluan tapi takutnya Awan merasa terganggu, ia terlalu gengsi untuk memulai duluan, akhirnya setelah sekian lama ia beradu argumen dan bertanya-tanya dalam hatinya, ia pun memutus urat malunya dan mengechat Awan duluan.
📤 Assalamu'alaikum ... hey, Hon, udah sampai belum? Teganya kau tak memberikan aku kabar.😮
Tak dibaca dan tak dibalas, membuat Fisha geram, ia pun membanting ponselnya dengan kasar di atas kasur, karena sangat khawatir lalu mengambil kembali dan mengechat kembali.
📤 Oh aku ganggu nie, yaudah dech maaf, wassalamu'alaikum. 🖐
Awan yang sudah selesai ia pun duduk di ranjangnya lalu mengecek chat yang ada di ponselnya, ia pun tersenyum.
__ADS_1
“Ihh Sayangku chat ternyata, sejak kapan dia jadi melow begini, biasanya cuek dan gak pernah duluan haha, aku senang sekali, aku mau menelvonnya.
Awan pun bersandar dan berselonjoran lalu memencet tombol hijau, ia melakukan VC.
“Hai Sayang?” Awan melambaikan tangan.
“Wa'alaikumsalam,” balas Fisha dengan melambai tangan juga.
“Haha iya Assalamu'alaikum, maaf baru kasih kabar, aku dari tadi tertidur,” sesal Awan.
“Oh maaf ya kamu jelas capek kan ya,” ucap Fisha dengan sedih dan menunduk.
“Ndak Sayangku, apapun aku lakukan demi ci ....”
Tut, tut, tut (telepon video terputus)
“Lho kenapa ini, Awan, Hon, haloooo.”
-------------
Note :
Makasih bagi yang menyukai cerita Fisha dan Awan.
makasih yang sudah menyempatkan baca ... ❤
Kasih semangat aku terus ya kakak-kakak kesayangan ... 💋
Like, vote dan komen,
Senam jempolnya yuuuk agar tidak kaku,
Tiada daya dan upaya tanpa dukungan dari kalan kakak-kakak kesayangan ...
Lophyupolepel😘
__ADS_1