
Satu tahun kemudian.
Fisha sekarang sudah menginjak semester 5, ia selalu membantu Even menyelesaikan tugasnya karena ia masih tetap menjadi asisten dosennya Even, sesekali mereka mengerjakan tugas kuliah bersama, mengoreksi tugas mahasiswa-mahasiswinya. Dan sekarang pun Fisha bersama Even berada di apartemennya Even.
Even bangkit dan berdiri, berjalan menghampiri pintu dan ingin menutup pintu apartemennya yang terbuka sedari tadi namun Fisha melarangnya dengan tegas.
“Maz ... gak usah ditutup!" perintah Fisha yang masih sibuk membolak-balikkan buku tugasnya dengan serius.
“Kenapa? Kamu takut ya? Emang mau aku apain? Takut amat haha," goda Even dengan tawanya lalu ia berbalik dan menuding Fisha dengan jari telunjuknya namun Fisha yang masih sibuk itu ia tak menjawab godaan Even.
“Aku itu cinta denganmu karena Allah, Sayaaang ... jadi ... gak bakalan aku menodaimu terlebih dulu sebelum tiba waktunya nanti, paling-paling menodai mataku karena selalu menatap keindahan ciptaan-Nya itu yang gak bisa aku pungkiri, sama pelukan saat kamu bersedih aku tak bisa menghindarinya karena spontan hehe, maafkan!" terang Even meminta maaf disertai candaannya.
“Yeee sama aja dengan bohong hmmmm, gombalnya itu hingga menusuk tulangku haha, kamu ini ... pokok semuanya namanya zina kalau yang namanya pacaran," protes Fisha dengan tawa renyahnya, ia menatap Even saat Even berucap seperti itu.
“Iya juga sih haha tulang apa? Lucu sekali kamu Sayang, pokok yang penting aku gak menyentuh yang tidak-tidak, insyaAllah aku akan selalu menjagamu dan menjaga diriku, lagian kita juga gak ada tuh kata pacaran," jelas Even dengan senyumannya dan mengedipkan matanya dibarengi dengan menjulurkan lidahnya. Fisha yang ditatap seperti itu ia langsung memalingkan mukannya dengan mencebikkan bibiknya sehingga membuat Even terkekeh.
“Jadi gimana nie? Apa ditutup pintunya?" tanya Even lagi yang sedari tadi masih ada di dekat pintu dengan memegangi handle pintunya. Fisha menjawabnya dengan gelengan kepalanya cepat.
“Ya sudah kalau gitu," lanjut Even dengan mendorong handle pintunya, jadilah ia menutup pintunya lalu melangkahkan kakinya ke arah Fisha. Ia pun duduk di samping Fisha dan meraih tugas yang masih berserakan itu.
“Apa ada kesulitan?" ujar Even yang ikut membolak-balikkan tugasnya sambil sesekali menatap ke arah tugasnya dan menatap Fisha dengan bergantian.
Fisha lalu menatap Even dengan dibumbui senyuman yang sangat manis membuat Even yang meliriknya dengan tak sengaja ia langsung memegangi dadanya yang bergemuruh itu.
__ADS_1
“Tidak Maz, hanya saja aku sedikit mengantuk," keluh Fisha dengan disertai dengan uapannya, ia dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Oh ... ya sudah Sayang tidur sana!"
“Nanggung Maz, sedikit lagi," tolak Fisha dengan lembutnya.
“Kalau sudah sangat mengantuk tidur aja ya gak apa-apa, biar Maz saja yang ngerjain!"
“Oh ya ini gaji kamu Sayang." Even menyodorkan amplop yang dirogohnya dari kantong sakunya, ia sudah menyiapkannya sedari tadi. Fisha menerimanya dengan sumringahnya lalu ia membukanya dan mengintip amplopnya sedikit dan membelalakkan matanya karena terkejut.
“Lho? Kok banyak amat Maz? Bukannya gajiku gak segini banyaknya? Ini mah gaji seimbang dengan pegawai kantoran Maz?" usul Fisha karena tak terima, ia menyodorkan amplopnya kembali berusaha mengembalikannya namun Even menolaknya.
“Gak apa-apa Sayang, ini seimbang dengan kerja keras kamu, terima ya anggap saja ini rezeki, tabung saja, atau kalau gak mau kasih saja ke orang yang membutuhkan," jelas Even menggelengkan kepalanya agar Fisha tak mengembalikannya.
“Baiklah, terimakasih ya Maz ... aku terima ya ... besok-besok jangan banyak-banyak ya, kalau terus begini aku mengundurkan diri lagi," gertak Fisha dengan pura-pura memanyunkan bibirnya.
“Iya Maz hanya bercanda tau Sayang ... oh ya lusa Maz mau ke Makassar ada acara seminar antar dosen ayo ikut!" ajak Even dengan berwajah penuh harap agar Fisha ikut.
“Makassar? Tapi Maz Fisha kan kuliah? Itu juga dosennya Pak kholid mata kuliah perpajakan killer lagi orangnya," balas Fisha dengan mencontohkan seluruh badan yang gemetaran karena takut kepada dosennya. Membuat Even menyentil keningnya karena akting Fisha yang jago itu.
“Pokoknya wajib ikut, kamu kan asistenku Sayang ... lagian kan semua dosen ikut Sayang ... libur dong jadinya, kamu ini gimana," cicit Even dengan berceloteh sambil melirik Fisha yang mengkomat-kamitkan bibirnya karena rasa sakit keningnya yang disentil Even itu.
“Kenapa apa sakit?" lanjut Even dengan perhatiannya dan semakin mendekat ke arah Fisha. Namun Fisha hanya membalasnya dengan melipat kedua tangannya. Even dengan cepat merangkul Fisha sambil mencolek-colek pipi Fisha.
__ADS_1
“Iya, iya Maz aku ikut, lepaskan! Kamu tau? Begini juga dosa belum muhrim haha," canda Fisha lalu Even dengan cepat melepaskan pelukannya dan menjauhi Fisha.
“Haha iya sudah sana pulang Sayang! Aku gak mau semakin menjadi kalau kamu terlalu lama bersamaku, aku berusaha menjaga gemuruhnya ini, aku ingin segera memiliku seutuhnya tau," ungkap Even dengan membelakanginya Fisha, Fisha yang mendengar itu dan dibelakangi Even ia tersenyum dan menahan tawanya, di samping itu ia juga terharu karena Even ndak seperti lelaki hidung belang lainnya yang pamer kemesraan diumbar di muka umum dengan romantisnya padahal belum muhrim. Ia menatap punggung Even dengan berkaca-kaca lalu air mata menetes dengan sendirinya dan ia usapnya dengan cepat agar Even tak tau itu.
“Jadi? Maz mengusirku?" kata Fisha dengan nada sendunya, ia berpura-pura sedih dan ingin melihat reaksi Even bagaimana.
“Eh bukan Sayang? Aku hanya menjaga Sayang? Aduh gimana ini kamu marah ya? Maafkan!" Even dengan cepat membalikkan badannya lalu ia yang merasa menyesal membuat Fisha marah ia mengatupkan kedua tangannya dan ia melirik yang ternyata Fisha memegangi perutnya karena menahan tawanya.
“Jadi? Kamu membohongi Maz, ihhh menyebalkan! Sudah sana pulang terus beristirahat!" perintah Even dengan tegasnya.
“Jangan lupa dipersiapkan semuanya ya, lusa kita berangkat, di sana kita 3 hari, nanti masalah kuliah dosen selanjutnya tenang Maz yang akan mengizinkannya," terang Even dengan membereskan tugasnya yang sudah selesai itu. Fisha pun mengangguk dan ia juga membereskan tugas yang berserakan karena ia juga sudah selesai semua tugasnya.
“Baiklah aku pulang ya Maz ... asalamu'alaikum ..." pamit Fisha dengan bangkit berdiri lalu bersalaman kepada Even, ia tersenyum lalu melambaikan tangannya.
“Ia hati-hati Sayangku ... wa'alaikumsalam." Even yang ikut berdiri ia pun berjalan membuntuti Fisha mengantarkannya untuk keluar apartemen dan membalas lambaian Fisha dengan senyum manisnya. Ia masih menatap Fisha yang berjalan semakin menjauh. Even pun membatin.
Besok di Makassar akan banyak kejutan Sayang, tunggu dan lihat saja! Semoga akan membuatmu menyukainya dan terkejut.
--------
Note :
Otor kemarin sibuk jadi baru up sekarang.
__ADS_1
Dan juga pembacanya lumayan namun like dan komen pelit sekali, membuat Otor jadi malas karena semua pelit padahal like kan gratis hmmm 🙄
Yang gak pelit like dan menghargai Otor terimakasih semoga Allah membalasnya.❤🙏