
“Maz? Kamu! Membohongiku?" geram Fisha saat melihat semua orang yang berpakaian bebas, sedangkan dirinya memakai baju putih bersama dengan Even saja.
“Haha surprise Sayangku," balas Even dengan entengnya, membuat Fisha mencubit bahunya dengan kencang.
“Aw sakit Sayang ..." rengek Even berniat bergelayut manja namun Fisha menghindarinya.
“Apa! Surprise apaan kayak gini, kita bagaikan pengibar bendera tau Maz kalau kayak gini hmmm," keluh Fisha dengan memanyunkan bibirnya karena kesal. Even hanya tertawa lirih karena seminar sudah dimulai.
Semua saling menatap pasangan itu karena bajunya beda sendiri, dengan saling menahan tawanya. Fisha ingin bangkit dadi duduknya namun Even mencegahnya dengan menahan tangannya. Fisha menoleh sambil menatap Even dengan tajamnya.
“Maz lepaskan! Aku mau pergi saja, jengkel sama kamu," geram Fisha berusaha melepaskan cengkeraman Even namun tak bisa karena ia yang mungil itu.
“Tetap di sini, itu dilihat orang malu tau, nanti saja marahnya, aku janji akan diam saja asal kamu ada di sini, oke!" Even mengangkat jarinya membentuk ok. Fisha mengangguk pelan lalu duduk kembali.
Mereka mendengarkan seminar dengan seksama sambil sesekali saling melirik tapi hanya diam saja sesuai perjanjian dengan Even tadi.
Sejam kemudian seminar pun telah selesai. Fisha lalu dengan cepat berdiri dan berusaha meninggalkan Even karena rasanya masih sebal bercampur malu. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
“Hey mau ke mana Sayang? Ayo bersama aku saja, aku ajak ke suatu tempat," ajak Even meraih tangan Fisha dengan cepat lalu berjalan dengan menggandengnya.
“Eh mau ke mana Maz?" tanya Fisha yang sangat penasaran itu. Fisha memandangi Even yang mengenggam tangannya itu.
“Udah ikut saja, sedikit surprise, mungkin Maz bukan orang yang so sweet tapi cintaku sangat dalam," ungkap Even sangat serius mengucapkan hal itu. Membuat Fisha mengharu biru karena Even, ia memukul pelan bahu Even dengan sentuhan lembut.
“Haha udah jangan menangis, Maz ingin kamu bahagia kok menangis, jelek tau?" ledek Even dengan suara sumbangnya karena disertai dengan tawanya.
“Nangis terharu tau, tangisan bahagia," protes Fisha. Ia mengusap-usap air matanya dengan kasar.
__ADS_1
Even terus menggandeng Fisha dan sampailah mereka di masjid Makassar yang megah itu, yang banyak digandrungi banyak orang karena sangat indah nan molek itu.
Masjid terapung pertama yang dimiliki Indonesia. Masjid dengan nama Masjid Amirul Mukminin ini berlokasi di pesisir Pantai Losari yang sangat terkenal sebagai tempat wisata di Makassar.
Masjid ini terdiri dari tiga lantai, selain berfungsi sebagai sarana ibadah, juga akan menjadi tempat wisata. Satu lantai, yakni di bawah kubahnya, bisa ditempati warga melakukan reakreasi khususnya melihat sunset Pantai Losari yang kini masih menempati deretan sunset terindah di Indonesia. Juga pada malam hari sangatlah cantik.
-------
Fisha dan Even saat ini berada di depan masjid itu pada sore hari pukul setengah 5 sore. Fisha yang sebelumnya tak pernah ke Makassar ia melongo karena takjub melihat kemegahan masjid itu.
“Eh sumpah gila banget masjid ini Maz, bisa selfie kan di sini, selfie dulu yuk, aku akan pamer kepada semuanya nanti hehe," ucap Fisha bangga dan terkekeh sambil merogoh handphone yang ada di kantongnya. Lalu Fisha berselfie bersama Even dengan gaya yang bermacam-macam.
“Haha ada-ada Sayang, malam hari malah cantik sekali Sayang, ya sudah nie mau berkeliling dulu atau gimana?" tanya Even disertai dengan helaan nafas yang panjang mengatur dadanya yang bergemuruh.
“Terserah Maz saja, apa bener malam hari cantik? Kalau gitu kita di sini sampai malam ya," pinta Fisha dengan menyengir kuda.
“Hmmm oh ya, katanya mau kasih aku surprise? Apaan aku penasaran." Fisha menatap Even dengan sangat serius lalu Even balik menatap Fisha dan mereka saling berhadapan. Even meraih kedua tangan Fisha dan menggenggamnya erat. Ia mengumpulkan keberaniannya dengan berdehem dahulu. Fisha hanya tersenyum karena Even dirasa lucu, tapi Fisha hanya diam saja dan membiarkan Even mengungkapkan sesuatu itu.
“Sayang, mungkin aku tak romantis seperti baginda nabi kepada para istrinya, mungkin aku tak se-oke seperti para remaja lainnya yang pandai mengurai kata cinta, aku hanyalah Even pemuda yang sederhana dengan banyak cinta untukmu." Even menghela nafas panjang mengatur nafasnya kembali agar ucapannya lancar. Ia menatap Fisha dengan eluh yang berjatuhan dan tangan yang berkeringat dingin.
“Eh kamu tak apa-apa Maz? Apa sakit? Kok panas dingin gini sih ..." cicit Fisha dengan menahan tawanya.
“Fisha, diam dulu! Maz belum selesai!" Fisha lalu diam, membungkam mulutnya dengan rapat sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Dan maukah kamu menerima Maz dengan banyak kekurangannya ini? Dan maukah kamu menikah dengan Maz?" Even berucap dengan melepaskan tangan Fisha lalu meraih kotak yang ada di sakunya, menyodorkan ke arah Fisha dengan membukanya. Fisha terkejut dengan membelalakkan matanya karena melihat itu. Ia tersenyum disertai menangis.
“Apa Maz? Apa bener? Apa aku tidak mimpi? Tapi aku kan masih kuliah Maz," keluh Fisha menopang dagu dengan kedua tangannya dan mengedipkan matanya. Lalu Even meraih tangannya lagi dan memakaikan cincin di jari manis Fisha.
“Cantik," ucap Even singkat menatap jari manis Fisha dan mengangkatnya ke udara. Fisha hanya tersipu malu dan membiarkan Even melakukan itu.
“Gimana dengan kuliahku Maz?" tanya ulang Fisha.
“Gak apa-apa Sayang, emang kenapa? Apa kamu menolak Maz dan tak mau menikah dengan Maz?" tanya Even, suaranya sangat pilu karena ia sudah negatif pikirannya takut Fisha menolaknya.
“Eh enggak Maz aku hanya tanya saja, berarti gak apa-apa ya Maz sanggup membina rumah tangga bersama orang yang masih kuliah, biasanya sangat berat Maz, pokok aku gak mau sampai kuliahku terputus karena sudah nikah," pesan Fisha agar Even sadar diri dan mengabulkan ucapannya.
“Iya Sayang, gak akan kuliah kamu terbengkalai, lagian kamu juga sudah semester 5, kan sebentar lagi, hanya kurang 1 tahun setengah kuliahnya," jelas Even dengan senyum sumringahnya karena ia sangat lega bisa mengungkapkannya.
“Jadi? Maz diterima?" Fisha mengangguk cepat. Even lalu mencubit pipinya dengan gemas.
“Terimakasih Sayangku, aku akan melamarmu saat pulang dari Makassar ini," lanjut Even. Ia ingin memeluk Fisha namun Fisha menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri menolak Even secara halus.
“Sama-sama, bolehkah aku menyebutkan maharku agar Maz bersiap-siap?" ujar Fisha dengan senyuman yang mengembang sedari tadi.
“Boleh, apapun yang kamu minta Maz akan mengabulkannya, apa itu Sayang ....” Even balik bertanya.
“Maharnya adalah ...."
--------
Note :
__ADS_1
Jangan lupa like-nya terimakasih. Sayang kalian yang selalu berbaik hati like menghargai Otor. ❤
Oh ya yang mencari Pangeran Gayung Dan Putri Tidur ada di ******* ya aku pindahkan di sana hehe, bisa mampir kalau berkenan. Nama pena Otor tetep sama Uvieyy. 😍🤗🙏