
“Maharnya adalah hanya 1 yaitu Maz melafalkan surat Ar-rohman dengan fasih, harus menghafalkannya tak boleh mencontek," lantang Fisha tanpa penawaran.
“Apa! Tak bisakah yang lainnya Sayang? Maz kan gak hafal, tak bisakah rumah, mobil, atau pesawat gitu ... pasti akan Maz beliin dah pasti," keluh Even yang kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang bingung itu meskipun tak ada yang gatal.
“Enggak, aku gak mau harta, pasti Maz akan bisa dong kalau harta, mauku hanya itu surat Ar-rohman pokoknya titik, kalau Maz gak mau ya sudah kita gak usah saja menikah," protes Fisha sambil memanyunkan bibirnya karena sedikit kecewa dengan protes Even.
“Baiklah! Beri Maz jangka waktu dalam sebulan, Maz akan menghafalkannya dan puasa tak akan menemuimu dulu agar fokus dalam penghafalan," pinta Even nadanya yang mulai gelisah dengan menggeser-geserkan kakinya.
“Aku beri waktu 2 minggu Maz." Fisha sengaja menguji Even dengan tertawa di dalam hatinya sambil menyodorkan tangannya dan menunjukkan dua jari yang digerakkan.
“Apa Sayang! Du-dua minggu? Sebentar sekali sih hmm, apa kamu kebelet sekali nikah sama Maz sampai dipercepat seperti itu?" Fisha hanya diam tak menjawab ucapan Even karena keputusannya tak bisa diganggu gugat lagi.
“Baiklah, baiklah Sayangku, iya deh 2 minggu gak apa-apa bismillah, demi kamu apapun Maz lakukan," pasrah Even dan mengalah dengan gundah di hatinya.
“Yang ikhlas Maz, jangan terpaksa, aku tau kamu bisa, bukannya kamu dulu katanya pernah mondok di pesantren?" pekik Fisha dengan entengnya.
“Iya Sayang, tapi ya gak hufadz juga aku, hanya mondok bukan berarti ahli ibadah juga hehe, ya sudahlah baik tuan putri, iya Maz menerimanya, ayo kita pergi dan makan saja yuuuk, Maz sudah sangat lapar!" Even mengajak Fisha dan menggandeng tangannya mengajak Fisha makan di area dekat sekitar situ dengan berjalan kaki saja.
Saat sudah di tempat makan Fisha mencolek Even dengan jari telunjuknya. Even menatapnya lalu Fisha membuka obrolannya yang dari tadi kelupaan itu.
“Oh ya Maz ... lalu apa hubungannya melamar dengan memakai baju putih begini seperti pengibar bendera? Kamu pakai peci juga seperti para alim ulama', tadi semuanya memandangi kita tau Maz, aku malu sekali," keluh Fisha yang sedari tadi penasaran sambil mengaduk minumannya yang sudah datang 5 menit yang lalu.
“Haha itu kata pak yai Maz dulu, kalau melamar memakai baju putih adalah afdhol dan malaikat menyukainya juga insyaAllah akan melancarkan niat baik kita dan ternyata bener kan kamu tak menolak Maz," ungkap Even yang serius sambil memakan kentang gorengnya.
“Apa bener seperti itu? Semoga saja lancar sampai hari H ya Maz." Even mengangguk lalu menadahkan tangannya dengan berdoa dan mengusapkan ke wajahnya dengan tulus. Fisha hanya mengikutinya dengan wajah yang berseri-seri.
“Tapi ... kenapa pas setelah seminar? Kenapa gak waktu malam pas kencan gitu dan gak dadakan seperti ini?” tanya Fisha lagi dengan semakin memajukan wajahnya di depan wajah Even. Membuat Even salah tingkah dan memalingkan mukanya sebentar.
__ADS_1
“Fishaaa mukanya jangan dekat-dekat! Kamu mau menggoda Maz? Dan membangkitkan nafsu birahi Maz?" Fisha mendengus kesal saat mendengar itu lalu dengan cepat menjauhkan mukanya.
“Begitu lebih baik, jadi kenapa Maz melakukan setelah seminar? Salah satunya di samping Maz gak sabar juga di samping itu Maz gak romantis," jawab Even dengan sangat masuk akal karena sejak awal Even sudah menjelaskannya.
------
Fisha menepuk jidatnya saat mendengar Even menjelaskan itu semuanya dengan senyuman kakunya.
“Haha baru tadi ya Maz mengucapkan tak romantis eh aku melupakannya hehe, maafkan!" Fisha mengatupkan tangannya. Even hanya menggeleng dan membuka tangan Fisha.
“Sudah ayo makan Sayang, itu sudah datang dimakan yuk biar gak dingin! Kan steak kalau dingin kan gak enak Sayang," perintah Even meraih makanannya lalu mengiris kecil-kecil dan menyuapi Fisha dengan penuh cinta.
“Eh ... gak usah Maz, aku bisa makan sendiri, lagian milikku ada malah kamu suapin dengan milikmu, bisa-bisa nanti milikku gak habis dong," keluh Fisha menolak Even dengan cepat.
“Enggak apa-apa, nanti kalau aku kurang bisa minta kamu Sayang, kamu kalau kurang juga boleh nambah, apa bener hanya steak saja? Mau Maz pesanin lainnya?" tanya Even yang masih sesekali menyuapi Fisha dan memakan sendiri.
“Hus gak boleh ngomong gitu, Maz gak membedakan kasta, lagian kamu adalah calon istri Maz jadi kita derajatnya sama nanti, jadi jangan bicara seperti itu lagi ya, iya deh kapan-kapan kita makan di pinggir jalan." Even menyetujuinya dengan tersenyum.
“Beneran? Apa Maz gak apa-apa? Apa lidah Maz gak gatal makan di pinggir jalan?" ejek Fisha dengan tawa renyahnya.
“Yeee ngece nie, enak saja gatal, Maz kan manusia apapun Maz makan asal halal, kamu ini! Sekali lagi membedakan kasta Maz buang ke laut," ancam Even sambil mengarahkan kamera ke arah Fisha lalu memotretnya karena wajah Fisha yang lucu itu yang kesel bercampur merona.
“Maz ... jelek tau? Kenapa memotretku hmmm, mana sini aku hapus!" Fisha berdiri lalu berusaha merebut handphone yang dipegang Even, namun Even dengan cepat memasukkan ke dalam kantongnya.
“Maz sini kok! Siniin handphone-nya." Fisha menyodorkan tangannya dengan menggerakkan jarinya. Even tak memperdulikannya.
“Enggak mau, ini buat simpanan di handphone Maz, saat puasa untuk bertemu denganmu nanti aku akan sesekali melirik foto ini," ungkap Even bermaksud seperti itu.
__ADS_1
“Yeee sama dengan bohong, nanti kamu akan gagal Maz dan kamu akan melihat fotoku terus menerus," keluh Fisha yang takut Even gagal untuk hafalannya.
“Enggak dong, Maz malah akan semakin semangat kalau melihat foto ini, kamu gak usah khawatir, serahkan saja semuanya pada Maz, beres!" Even menggampangkan dengan menjentikkan jarinya tanda kecil.
“Hih sombongnya, jangan sombong dulu Maz hmmm haha, ya sudah terserah Maz saja, aku sudah selesai makannya, Maz gimana?" tanya Fisha melihat makanan Even yang masih ada.
“Maz juga kenyang, ayo kita ke hotel! Ini sudah hampir maghrib lho, apa kita sholat saja di masjid Amirul Mukminin?" tawar Even yang sudah berdiri dan berniat membayar makanannya ke arah kasir.
“Eh ide bagus Maz, keren! Aku bisa melihat keindahan malam di sana seperti apa, aku dari dulu tau masjid itu hanya di google sja, nyatanya sekarang aku melihatnya langsung aku sangat senang, makasih Maz telah mengajakku ke sini, aku beruntung ikut Maz ke sini," ucap Fisha dengan mata yang berbinar-binar. Ia menopang dagunya dengan satu tangan yang dikepalkan.
“Haha gitu kemarin mau menolaknya haha untung aku kekeh mengajak kamu," ledek Even sambil berjalan menuju kasir dan meninggalkan Fisha yang masih duduk dengan menikmati esnya.
“ayo sudah selesai!" Even meraih tangan Fisha saat ia sudah selesai membayarnya.
“Baiklah terimakasih atas semuanya Maz, cincinnya juga sangat cantik, aku menyukainya," puji Fisha dengan bangganya sambil memamerkan jemarinya yang di isi dengan cincin itu dengan diangkatnya berulangkali.
“Kembali kasih, sayangku hanya untukmu," balas Even sangat cepet.
“Dasar! Semakin pintar gombalnya," protes Fisha. Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.
Terimakasih Maz, aku sangat bahagia dengan cintamu. Makasih untukmu juga Awan, berkat doamu dan matamu ini aku bisa melihat indahnya dunia dan kamu menetesi cintamu kembali melalui perantara Even. Iya kan? Terimakasih. Batin Fisha. Ia tersenyum dengan mengayun-ayunkan tangannya yang digenggam oleh Even itu. Ia sangatlah bahagia.
-----
Note :
Aku sangat senang menulis bab ini, semoga kalian juga terhibur dengan Otor receh ini plus abal-abal ini haha. 😋
__ADS_1
Jangan lupa like-nya wahai pembaca yang budiman, gratis kok. ❤ dukungannya selalu lopyupolepell.