Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Bercengkerama


__ADS_3

Fisha menatap tajam ke arah Even lalu menginjak kakinya dengan kencang.


“Tuh rasain!” ucap Fisha masih menginjak kaki Even, lalu dirasa puas ia melepaskan injakan kakinya sambil tersenyum puas.


“Aw, kamu kenapa sih? Katanya kangen sama aku?” tanya Even dengan percaya dirinya sambil mendesis nyeri karena injakan Fisha yang sangat keras, ia lalu membungkuk memegangi kakinya dan mengusap-usapnya agar nyerinya sedikit berkurang.


“Apa! Rindu apaan! Ngarang! Aku ke sini mau tanya, kenapa kamu pindah ke sini dan nongol jadi dosen? Padahal bukannya kantor kamu banyak?” sewot Fisha dengan berkacak pinggang.


“Lho emang salah ya berbagi ilmu, lagian aku juga gak sengaja berada di UM sini,” balas Even dengan tenangnya dibumbui senyuman manisnya.


“Gak sengaja? Gak sengaja bagaimana? Alasan! Kamu ke sini karena merindukanku kan? Juga tak bisa jauh dariku kan?” goda Fisha dengan menunjuk-nunjuk ke arah Even sambil tersenyum mengejek.


Ihh dia juga tak kalah narsisnya sama aku, tapi sejujurnya emang omongannya bener sih, aku juga ingin melindunginya dari ular betina itu, aku khawatir dia belum mati karena jasadnya hilang dan belum ditemukan, apa hanyut ke sungai atau di makan binatang buas aku tak tau, yang ada hanya mobilnya saja, kenapa kemarin gak aku cek lagi sih, bodohnya aku. Batin Even, ia menatap Fisha namun pandangannya kosong karena memikirkan itu semua.


Fisha pun menjentikkan jarinya ke arah Even. “Hey malah melamun!” protes Fisha, Even lalu tersadar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menghampiri Fisha dan mengusap puncak kepala Fisha yang berhijab itu.


“Iya terserah kamu saja dah! Kamu juga gak bisa jauh dariku kan?" Even balik menggoda Fisha sambil masih mengusap puncak kepala Fisha, namun Fisha menepisnya dan cuek, dia tak menjawab godaan Even, ia malah memalingkan wajahnya karena ia menahan wajah yang sedikit memerah karena malu ada sedikit kebenaran dari perkataan Even.


“Hayo ngaku ... dasar gengsinya selangit,” lanjut Even mendekat ke arah Fisha dan ia meraih kepala Fisha lalu menolehkan wajah Fisha ke arahnya.


“Apa? Kenapa? Kamu aneh sekali, lepaskan tanganmu!” perintah Fisha dengan sinisnya.


“Sebentar saja, aku ingin memandangimu sebentar,” goda Even lagi, membuat muka Fisha semakin memerah.


“Eh kenapa muka kamu seperti itu? Apa kepanasan?” ejek Even dengan menahan tawanya, Fisha dengan cepat menepis tangan Even dan ia yang kehilangan keseimbangannya akan terjatuh, tapi dengan sigap Even menangkapnya, hingga yang terjadi mereka saling memandangi lama.


--------

__ADS_1


Lalu ada kecoa datang, Even terkaget dan ia juga kehilangan keseimbangnya, Even yang juga masih menumpu Fisha mereka langsung jatuh terjerembah sambil berpelukan dengan posisi Even berada di atas Fisha.


Hmmm kenapa ini dadaku, apa aku akan meledak? Lagian apa-apaan sih dia selalu cari kesempatan, tiga kali ini posisi selalu begini, apa dia sesenang itu denganku? Batin Fisha, ia tersenyum sambil terus memandangi Even, iya terlupa untuk memberontak karena terbuai pandangan Even.


Haha aku semakin yakin kalau ini cinta, dengan seiring berjalannya waktu aku pasti akan bisa mendapatkannya, sepertinya Fisha sudah mulai membuka hatinya untukku, eh ... tapi sejak kapan aku jatuh cinta? Perasaan dulu aku jatuh cinta biasa saja, ini kenapa kalau aku jauh dengannya barang semenit saja rasanya seperti terbakar, hmmmm. batin Even, lalu ia mengelus-elus pipi Fisha, Fisha yang tersadar lalu memberontak kasar.


“Hey kamu mau ngapain? Dasar mesum, mencari kesempatan dari kesempitan!” bentak Fisha sambil mendorong badan Even, namun tak bisa bergeser sedikit pun.


“Bangun, Even ... bangun ...! Lagian perasaan kamu suka sekali begini, tiga kali ini kamu mencari kesempatan begini, pertama dulu pas di sawah, kedua pas tembakan, dan sekarang ini, mau berapa kali hah?” jelas Fisha dengan menggerakkan jari-jarinya lalu menunjukkan angka 3. Even bangkit lalu Fisha dibantunya berdiri, mereka langsung bertatapan kembali.


“Haha oh ya kamu hafal sekali ya, berarti kejadian itu sangat berharga buatmu, aku aja lupa.” Even pura-pura melupakannya agar dia menang dan melihat sebenarnya hati Fisha.


“Iya jelas ingat aku masih muda ingatanku tajam, kalau kamu udah tua jadinya maklum sangat pikun!” ejek Fisha dengan tertawa terbahak-bahak.


“Sembarangan! Oh ya jangan panggil aku Even dong, emang aku adik kamu?” protes Even lagi dengan memelas dan memonyongkan bibirnya, merayu Fisha.


“Lalu? Mau dipanggil abang? Kakak? Biar sama seperti Alby, lagian ya kamu kok protes ini melulu, suka-suka aku lah mau panggil om juga terserah," ketus Fisha dengan menopang dagu dengan kedua tangannya, membuatnya semakin mempesona, Even yang melihatnya rasanya ia ingin memilikinya seutuhnya, ia melongo dan tak berkedip.


“Terimakasih.” Even lalu tersadar saat Fisha mengucap kata itu.


“Eh GR, panggil saja aku Maz, bisa kan? Keren juga,” usul Even dengan tersenyum menggoda.


“Apa! Maz? Bukannya emas mahal? Aku aja takut karena aku gak punya emas,” ujar Fisha ia duduk di kursi yang ada di gudang itu.


“Pokoknya kamu harus manggil aku Maz, kalau gak mau ya sudah aku akan menghilang dari kehidupanmu,” ancam Even dengan sangat tegas.


“Hmmm kamu memaksa sekali.”

__ADS_1


“Iya Maz ... Maz jelek buruk rupa, Maz kingkong dah,” ucap Fisha dengan nada malasnya dicampur dengan ejekannya.


“Hahaha kamu ini lucu sekali, aku sungguh ....” Even tak menerusnya omongannya karena dirasa waktunya belum tepat, ia pun membungkam mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


“Kamu sungguh apa? Aku penasaran, apa kok!” Fisha menatap Even dengan penasaran, yang dirasa Even membisu Fisha pun mendekatinya dengan jarak beberapa senti, lalu Fisha memegang muka Even dan menatapnya dalam-dalam. Fisha yang seperti itu membuat Even semakin terpesona dan jantungnya berdetak dengan sangat kencang.


“Hey jawab! Astaga ... kenapa jantungmu kencang sekali?” lanjut Fisha dengan menggodanya.


“Hey lepaskan! Kamu ini apa-apaan!” Even menepis tangan Fisha lalu menundukkan pandangannya.


“Oh ya, ayo kita keluar nanti di kira maksiat kalau ada yang melihat, lagian maz kan mau masuk kelas lagi ditunggu anak-anak,” pamit Even dengan melihat jam di tangannya, ia beralasan begitu agar Fisha tidak memojokkannya terus dan ia mengalihkan pembicaraannya agar Fisha melupakan masalah jantungnya yang berdetak.


“Kenapa? Haha kamu mau menghindar dan mengalihkan pembicaraan? Dasar akal bulusmu itu.


”Ya sudah baiklah ayo Maz,” ucap Fisha dengan genitnya lalu ia tertawa terbahak-bahak.


Mereka pun keluar bersamaan karena dirasa sepi, Even di luar masih sesekali menggoda Fisha, lalu merangkul Fisha dengan cepat, Fisha yang tak bisa meloloskan dirinya dari rangkulan Even ia pun terkikik geli.


“Lepas! Nanti ada yang lihat!” Even pun patuh lalu melepaskannya, dan yang terjadi seseorang dari kejauhan ia melihat dengan muka yang memerah karena merasa cemburu.


“Hmmm aku punya saingan baru, bukankah dia dosen baru?”


-------


Note :


Selamat membaca, selamat hari minggu, 😍

__ADS_1


Jangan lupa like-nya❤.


Kalau suka bonus vote ya, komen juga bersifat membangun😘


__ADS_2