
Fajar menyingsing, waktu menunjukkan pukul 04.30 alarm pun berbunyi dengan suara khas ayam jago seperti biasanya yang nyaring, ditambah dengan menyebut nama yang dibangunkan sehingga mengagetkan Fisha selalu.
“Euh mengagetkan saja, eh ... tapi kenapa aku masih sering kaget ya, padahal udah setiap hari begitu, ini benar-benar mantap manjur beneran alarmku, siapa dulu dong ... Fisha gitu lho yang buat,” menepuk dadanya sendiri menyombongkan dirinya, ia langsung bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi membersihkan diri dengan berwudhu lalu sholat shubuh.
Setelah sholat dia pun mengaji Al-qur'an sebentar, lalu dia beranjak berdiri dan mengerjakan ritual emak-emaknya seperti biasa, berkutat dengan panci, spatula, wajan, piring dan lain-lain, dia melakukan dengan senang wajahnya sumringah, ibu pun datang menghampirinya di dapur.
“Eh putri Ibu, seneng bener, rajin bener lebih awal dari ibu, tumben? Ada apa? Apa dapat hadiah besar? Atau mau kencan? Niat merayu ibu?” tanya ibu panjang lebar dengan tatapan mata menyipit mencurigai anaknya itu.
“Haha gak apa Bu, Ibu ini ih ... jangan suudzon, lagian aku bahagia, Ibu seharusnya seneng dong, dari pada aku sedih hayooo ...,” jawab Fisha dengan tersenyum dan berkutat memotong sayuran dan ikan kecil-kecil, sedangan ibu menyiapkan penggorengan dengan masih sesekali menatap anaknya dengan penuh curiga.
“Ibu ini, kenapa tatapannya seperti mau membunuhku sih ... serem tau Bu ... hih,” Fisha memeluk dirinya dengan kedua tangannya mendekap bahunya pura-pura takut agar tidak kentara yang ada maunya itu.
“Haha kamu jangan pura-pura Sayang, ibu tau, kamu kan anak ibu, kamu gak pandai berbohong tau Sayang ...,” ejek ibu dengan tertawa penuh.
Ihh kenapa masih kentara sekali sih, padahal aku sudah rapi menutupinya, apa emang aku benar-benar gak pandai berbohong ya, memalukan sekali, kalau aku artis gak bisa acting dong aku, nol besar... Hmmm tapi tak apa, Tuhan sayang sekali dengan orang sepertiku yang baik gak pernah bohong kan haha, iya kan aku harus pede dong, iya kan Ya Allah. Batin Fisha.
“Hey malah melamun sayang ... udah ayo segera itu nanti kamu kepotong tangannya haha.” Ejek ibu dengan mengusap kasar wajah Fisha, beliau lalu berpamitan ke kamar mandi untuk panggilan air. Fisha pun mengiyakannya, mereka pasangan yang klop soal bahasa aliennya sungguh luar binasa sekali, sama seperti Sesil dan Sasa itu.
Fisha pun menyelesaikan memotongnya lalu beralih menggoreng ikannya, dia memasak simpel hari ini, ikan emas digoreng kering, sayur sop tak lupa sambal ikan terinya, tempe dan tahu pun tak pernah tertinggal olehnya, karena dia begitu suka bahkan sering dicemil olehnya setelah selesai menggoreng, dia suka mencicipi, dan jangan ditanya kalau goreng tempe tahu kalau tinggal sedikit jelas diincipi dia terus. Setelah menyelesaikan semuanya, ibu juga keluar dari pertapaan panggilan air tadi, Fisha pun membawa makanan ke ruang makan.
Ibu pun memanggil ayah Johan dan Farsi, waktu menunjukkan pukul 7, mereka pun makan dengan tenang masing-masing, sesekali mereka saling melirik dan tersenyum, Fisha pun demikian dia melirik dengan misterius, ayah pun membuka suaranya.
“Kenapa anak Ayah? Apa ada yang mau dibicarakan?” ucap ayah dengan menatap penuh anaknya agar Fisha segera bicara, setelah mereka semua menyelesaikan sarapannya, Fisha pun mengangguk dan tersenyum.
Apa gak apa nie aku bilang, nanti kalau ayah murka gimana, aku sungguh takut dipulangkan ke kutub utara. Batin Fisha.
“Emm itu Yah, anu itu ...,” ucap Fisha terbata karena ragu.
“Kenapa? Itu anu apa? Yang jelas Sayang? Mau izin ya untuk keluar?” tebak ayah dan Fisha pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
“Ayah kok bisa tau sih? Apa kelihatan ya?” lontar Fisha dengan cengengesan dan menutup muka karena malu.
“Sudah Ibu bilang kan? Kamu gak pandai berbohong bahkan menyembunyikan sesuatu.” Ibu menyahuti membuat wajah Fisha semakin memerah.
“Udah dech Ayah, Ibu, makasih ya kalau dibolehin, sayang kalian unch unch,” Fisha mencium pipi ayah dan ibunya, membuat mereka tertawa.
“Gitu ya kalau ada maunya ....” Kompak Farsi, ibu dan ayah dengan kencang, membuat Fisha manyun dan melototkan matanya ke arah Farsi.
“Hey, apa kamu Mbak, kan bukan aku saja yang mengejek haha, ibu ayah juga tuh pelototin,” Farsi bangkit berdiri dan mejulurkan lidahnya ke arah Fisha, membuat Fisha geram, lalu Farsi berpamitan segera untuk ke sekolah takut telat.
“Assalamu'alaikum, bye Mbak jelek ... bucin akut bye ...,” goda Farsi, membuat Fisha melempar sandal rumahannya, Farsi pun berlari dan ketawa.
Fisha pun membereskan peralatan sesudah makan tadi, dan membersihkan semua sisa makanannya dibawa ke dapur, ayah pun menghentikan aktifitas Fisha.
“Sayang, ada syaratnya, tapi dia harus izin ayah dan dulu oke.” Ayah mengacungkan jari jempolnya tanda sip, Fisha tersenyum.
“Haha suruh cepat datang, Ayah tunggu!” perintah Ayah, Fisha langsung mengambil handphone-nya di kamarnya dan mencari nama Awan lalu menekan tombol hijaunya.
Tut, tut, tut .... (Suara terhubung).
“Assalamualaikum halo Hon? Hey, cepat datang ke mari-nya, Ayah mau berangkat ini nanti terlambat kerjanya. Cepat ...!” ucap Fisha buru-buru.
“Haha aku udah di jalan Ney tenang, bentar lagi sampai 5 menit.” Balas Awan dengan tenang.
“Oke.”
Tut, tut, tut ... Fisha mematikan telvonnya.
-----------
__ADS_1
5 menit pun berlalu ....
Tong, tong, toooong,,, telolet, teloleeeeet ....
Ayah pun menoleh ke arah ibu, ibu pun menoleh ke arah Fisha, lalu mereka tertawa bersama gara-gara suara itu.
Idih dasar itu pasti Awan, udah aku bilang disuruh ganti nada klaksonnya masih saja gitu, apa belum sempat haha, anak kecil dasar! Tapi lucu juga sih haha.” Batin Fisha.
“Bu, itu suara klakson siapa jelek begitu,” tanya ayah dengan menatap ibu sambil tersenyum dan berlalu mengintip di jendela.
“Siapa lagi kalau bukan sang pangeran kodoknya putri Ayah.” Balas ibu dengan melirik Fisha, yang dilirik tidak merasa dia lalu berjalan dan membuka pintunya, ibu ayah menggelengkan kepala dan mengikuti Fisha, Awan pun tersenyum kepada semuanya.
“Assalamu'alaikum ... Bu, Yah, Fish ....” Awan bersalaman dan menyapa semuanya dengan ramah.
“Wa'alaikumsalam, masuk Nak,” balas Ayah dengan menuntun Awan agar masuk, ibu dan Fisha mengikutinya. Mereka lalu duduk bersama.
“Emm kedatangan saya ke mari untuk meminta izin mengajak Fisha jalan, Yah, Bu ... besok Awan sudah harus berangkat ke Jogja.” Izin Awan dengan hati yang berdebar takut tak diizini.
Ayah dan ibu pun tersenyum dan mengizini, dengan syarat gak boleh pulang malam-malam, Awan dan Fisha pun tersenyum dan mengiyakan. Lalu ayah pun berpamitan berangkat kerja. Fisha pun bersiap-siap sedangkan Awan menunggu ditemani Ibu.
-------
Note:
Semangatku menggebu ini up-nya ...
Dukungannya yang kenceng dong ... 🙄🙏😘
Terimakasih kakak-kakak kesayangan yang selalu mendukung saya, barokallahu untuk kalian.❤
__ADS_1