
Even pun berlari dengan kencang dan menghampiri Fisha dengan menghalangi kepala Fisha.
Dan dor ...
Satu peluru pun melesat di lengan belakang Even yang melindungi kepala Fisha, Even sedikit mendesis nyeri sambil masih melindungi Fisha dengan kekuatannya yang masih ada, Even lalu melirik dan sedikit menoleh ke belakang, dan dirasa belum aman masih ada seseorang yang mengintai Fisha, Even pun memeluk Fisha dengan kencang dan menjatuhkannya hingga jatuh tersungkur bersama dengan berpelukan.
Fisha menatap Even dengan kebingungannya, ia tak tau kalau Even tertembak. ”Hey ada apa? Ayo berdiri! Kenapa kau mesum sekali memelukku sambil tiduran? Ayo bangun!” perintah Fisha sambil menatap Even yang berusaha menahan sakitnya.
”Ven? Kenapa? Suara apa tadi? Apa suara tembak?” Fisha yang melihat lengan baju Even basah dan berlubang ia kaget dan mencurigainya.
”Diamlah!” suara lirih Even dengan menatap Fisha dengan sedikit senyumannya lalu memejamkan matanya.
”A-apa ka-kamu yang tertembak?” Even tak menjawabnya karena ia sudah tak sadarkan diri. Fisha semakin cemas hingga terbata-bata, ia memanggil-manggil Alby dengan lirih dan bergetar karena tak ada kekuatan yang tersisa dan ketakutan di hatinya, juga berat badan Even yang kekar menindihnya, sehingga suaranya tak jelas dan tak didengar oleh Alby.
Tapi Alby yang melihat Fisha menatapnya ia tersenyum, dikira Alby kakaknya so sweet sekali di saat seperti ini berpelukan sambil tiduran, apa itu pendekatan namanya, begitu ada di pikiran Alby yang tak tau itu.
lalu Alby menoleh ke arah semua sahabatnya yang diam membeku juga, karena masih terkaget suara tembakan tadi. ”Kalian gak apa-apa?” tanya Alby kepada semuanya, mereka mengangguk sambil melongo.
Tumben kakak pendiem, biasanya cerewet sekali? Ada sesuatu yang tak beres sepertinya. Batin Alby lalu menatap ke arah Even dan berjalan menghampirinya sambil berceloteh.
“Kak, suara tembakan dari mana tadi?” ujar Alby kepada Even dengan santainya, namun hening tiada jawaban.
”Kak? Kamu baik-baik saja kan? Fish, Fisha?” Fisha yang dipanggil Alby ia mengangguk dan menunjuk arah Even, kode tolong tapi Alby masih tak mengerti.
Ares yang menatap Fisha mengerti ia mengangguk dengan sedih.
”Al, tapi i-itu kakakmu dia yang tertembaaaak!” teriak Ares sambil menunjuk ke arah Even.
”Apaaaa!” Alby berlari menghampiri kakaknya dengan syok.
Fisha sedikit lega karena Ares tau maksud kodenya itu, tapi ia semakin gemetaran tubuhnya di bawah tubuh Even, darah juga mengalir deras hingga ke tubuhnya. ia lalu menatap Even yang sudah memejamkan mata dengan sedikit wajah yang memucat, dikira Fisha Even hanya merenungi kemesumannya saja tadi. Lalu Fisha menggoyangkan badan Even dengan air mata yang lolos di pipinya.
”Ven, ba-bangunlah!” pekik Fisha dengan sesenggukan.
”Albyyy cepaaat!” Akhirnya suara Fisha pun keluar dengan kencang dari tadi yang tertahankan, Alby yang mendengar suara Fisha kencang ia pun merengkuh kakaknya, sedangkan Fisha masih mematung di atas tanah dan terlentang karena ia masih syok atas kejadian itu, lalu ia duduk dengan bantuan Ares.
-------
Fisha dan semuanya memang tak mengerti, karena semua terjadi begitu cepat, dan tadi juga Even menjauh dari mereka saat menerima telvon, jadi tak ada yang mencurigai apapun, hanya Even saja yang mengetahuinya.
”Kakaaak bertahanlah ...! Heyyy, siapa yang berani macam-macam ...! Sialan kaliaaaan!” bentak Alby dengan sekuat tenaga dan memeluk kakaknya sambil menangis.
__ADS_1
”Al, sepertinya tadi ada yang mengintai kita, kakakmu jadi korbannya karena itu,” jelas Alby sambil melihat bahu Even.
”Siapa?"
"Aku tak tau mereka sudah kabur, ayo cepat! bawa kak Even ke RS terdekat biar tak mengalami hal tragis." Fisha yang mendengar Ares mengucapkan hal tragis ia ingat kejadian hari di mana nasib buruknya, ia menangis tersedu-sedu dengan kencang, sedangkan Sasa mencubit lengan Ares.
Eh aku keceplosan, dasar Ares kamu bodoh! Batin Ares, lalu ia membungkam mulutnya.
“Ven ... maafkan aku ... semua ini salahku? Hiks, hiks, hiks ... aku pembawa sial huaha ... hiks ...." Sesil dan Sasa mendekat ke arah fisha dan membantunya berdiri lalu memeluknya.
”Sudah gak ada yang salah, kamu sahabat kita selamanya, emang semua hanya cobaan, gak ada pembawa sial dan lainnya, kita berkorban tulus karena persahabatan kita tulus," kata Sesil sambil mengelus-elus pundak Fisha yang sesenggukan.
”Iya Fisha Sayangku, jangan menyalahkan diri sendiri! Itu tak ....” Sasa menimpali tapi tak meneruskan kalimatnya dikarenakan Fisha menyelanya.
”Ta-tapi Even ... hiks, hiks, aku takut dia meninggalkanku ...," sela Fisha dengan nada yang bergetar sambil masih menangis.
”Udah kakak gak apa-apa, ayo dibawa ke RS saja cepat!” Alby menenangkan, mereka semua mengangguk dan mengikuti Alby yang menggendong kakaknya dengan terengah-engah sambil berjalan menuju ke jalan raya untuk mencari taxi karena gak mungkin memakai mobilnya yang rusak itu.
”Kakak berat juga ternyata hmmm,” ucap Alby lirih sambil terus berjalan.
Even yang mendengar semuanya karena tak pingsan sepenuhnya ia tersenyum atas ucapan Fisha tadi, tapi ia enggan untuk membuka matanya dari tadi karena sedikit lemah dan kesakitan, tapi dirasa Even Alby yang gak kuat menggendongnya karena berat badannya yang lebih kekar dari adiknya ia pun membuka matanya.
”Kakaaaaak!” Even yang mendengar Alby berteriak dengan geramnya ia tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu Alby menurunkan kakaknya dari gendongannya dengan kencang.
”Dasar! Sakit tau ...?” desis Even, namun Alby tak peduli ia meninggalkan Even bersama semua sahabatnya karena ia merasa dibohongi.
Fisha mendekat dan menatap Even tajam. ”Oh jadi kamu pingsan membohongi kita? Hah!” Fisha berkacak pinggang dan melototkan kedua matanya.
”Tidak, aku emang tadi pingsan sebentar terus lemes jadi belum membuka mata, kalau gak percaya ya sudah aku pergi ke RS sendiri saja,” keluh Even dengan berjalan sambil memegangi lengannya dengan darah bercucuran, ia pura-pura merajuk, Fisha yang melihat itu ia tak tega lalu berlari menghampiri Even.
”Sebentar, tunggu!” Fisha menghentikan Even dengan meraih pergelangan tangannya. Even berhenti dan menatap Fisha.
”Kenapa?” namun Fisha tak menjawabnya ia lalu merobek hijabnya dan mengikat robekan hijabnya di lengan Even yang tertembak itu. Even yang melihatnya ia tersenyum.
”Sudah, ayo cepat! Itu hanya untuk mengurangi darah yang mengalir, nanti bisa habis darah kamu bagaimana? Ayo!” Fisha menyodorkan bahunya ke arah Even, Even menerimanya sambil berterimakasih.
”Jadi maksud kamu yang tadi gak mau aku meninggalkanmu itu apa benar?” tanya Even dengan melirik ke arah Fisha.
“Sudah diamlah! Semua itu karena aku merasa berhutang budi padamu,” keluh Fisha dengan gengsinya.
“Itu sudah ada taxi, Alby sudah mendapatnya.” Fisha dengan salah tingkahnya ia mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
Hemmm aku kira udah ada sedikit benih cinta di hatinya haha GR sekali aku, tapi aku kenapa mengharapkan itu? Apa aku benar-benar jatuh cinta sama temen Alby? Sepertinya begitu. Batin Even, ia lalu masuk ke dalam taxi, Fisha berusaha menutup pintu Even, tapi Even manarik tangan Fisha dengan cepat.
“Di sini saja!" Fisha menurut dan mengangguk lalu masuk dan duduk di samping Even, sedangkan semuannya berada di taxi satunya di belakangnya.
Kenapa semua orang yang dekat denganku selalu mengalami hal tragis? Apa aku pembawa sial? Apa aku harus meninggalkan mereka semua dan menjauhi mereka? Ternyata Even berkorban demi aku, coba tidak aku pasti tewas seketika tadi, ya Allah aku takut sekali. Batin Fisha sambil menatap ke Even.
”Apa sakit sekali?” tanya Fisha sambil mengelus-elus bahu Even.
“Tidak! Hanya di bahu gak apa-apa, coba di dada bisa-bisa aku ma ....” Fisha membungkam mulut Even sehingga Even tak bisa meneruskan kata-katanya.
”Diamlah! Aku gak mau mendengarnya.” Fisha menitikkan air matanya, Even menyesal sudah berkata seperti itu, ia lalu mengusap air mata di pipi Fisha.
“Fisha ... aku ...”
-------
Note :
Penasaran? Penasaran? Penasaran? Haha ditunggu saja😝
Jangan lupa like\\\-nya ya hmmm ... terima kasih!
Tiada daya dan upaya tanpa dukungan dari kalian semua ...
LVK❤
__ADS_1