
Even pun membereskan barang-barang Fisha. Mereka sudah pulang dari rumah sakit dan berada di hotel saat ini. Fisha ikut membantu membereskannya namun Even melarangnya.
“Sayang, gak usah Sayang, kamu istirahat saja dulu ya, masih sekitar satu jam lagi pesawatnya, kamu bisa tidur setengah jam Sayang, nanti Maz bangunin," seru Even. Ia tersenyum saat menoleh ke arah istrinya yang berjalan semakin mendekat.
“Tapi Maz, aku ingin membantu kamu," balas Fisha. Namun dengan cepat Even mencium bibir Fisha saat ia sudah berada di depan Even.
“Gak boleh membantah! Kamu dengar kan tadi pesan dokter Sayang, harus banyak istirahat," ucap Even dengan penuh kasih sayang. Ia mendekap Fisha lalu menggiring Fisha menuju ke ranjangnya.
“Emang aku kenapa Maz, kok kayak penyakitan saja, aku kan sehat Maz," keluh Fisha yang menaruh curiga kepada Even. Karena Even sangat beda dengan biasanya. Ia lebih kehati-hatian extra.
“Gak apa-apa Sayang, aku mau kamu sehat terus bersama anak kita," ujar Even sambil mengusap-usap perut Fisha yang masih rata itu. Even lalu menunduk dan mencium perut Fisha dengan penuh kegemasan.
“Sayang ini Daddy, kamu bisa mendengar Daddy kan? Sehat-sehat ya Sayang di dalam perut Mommy," seru Even berbicara kepada perut Fisha. Fisha tersenyum sambil mengusap puncak kepala Even.
“Oh jadi Daddy dan Mommy ya Maz?" Even tersenyum dan mengangguk.
“Kamu suka?" Even mendongakkan kepalanya lalu berdiri kembali dan memeluk Fisha dengan erat.
“Ya Maz aku sangat suka, terimakasih Maz, kamu sangat baik sama aku, aku cinta sama kamu Maz." Even tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan mencium bibir Fisha yang mungil dan merah itu.
Mereka saling terbuai asmara. Hingga ciuman semakin memanas. Even mendorong Fisha dan menidurkannya di atas ranjang. Ia pun melakukan ciumannya dengan menindih Fisha dan menumpu badannya semdiri dengan kedua tangannya, karena takut Fisha tertindih oleh badan kekarnya. Fisha sudah tak terkontrol dan semakin menghembuskan nafasnya hingga memburu tak beraturan, karena menginginkan hal lebih.
Even lalu menghentikan aksinya dengan nafas yang ngos-ngosan dan memandangi Fisha terus menerus.
“Ada apa Maz? Kenapa berhenti? Bukannya Maz biasanya sangat suka dengan semuanya?" goda Fisha yang sudah menyingkap semua bajunya. Fisha menaikkan kedua alisnya dengan menggigit bibirnya dengan gemas. Sedangkan Even hanya gusar dan mengusap wajahnya dengan kasar.
“Sayang, gak usah ya ditahan dulu, nanti saja kalau sudah agak besar kandungannya gak apa-apa, sekarang masih kecil takut saja terjadi apa-apa," elak Even yang tak menceritakan sama Fisha. Ia terpaksa merahasiakannya takut Fisha syok dan mengganggu kehamilannya.
“Bukannya aku baca-baca di buku boleh ya Maz meskipun hamil yang penting dengan pelan-pelan saja, gak apa-apa kok katanya," protes Fisha. Ia rasanya semakin menggebu dan ingin terus berhubungan, mungkin itu hormon kehamilannya, yang ingin terus menerus melakukannya.
Gimana ya Fisha ngotot terus lagi, aku kan ingin melindunginya juga calon anak kami, aku harus extra hati-hati, jangan sampai keceplosan. Batin Even. Even lalu mendudukkan dirinya dan membantu Fisha untuk bersandar di dinding ranjangnya.
“Haha hayo kenapa sekarang kamu Sayang yang menggebu, apa bawaan hormon?" Even mengalihkan pembicaraan dengan menggoda Fisha, agar Fisha tak ngambek karena itu. Fisha yang tadi mau memanyunkan bibirnya. Ia pun malu mendengar godaan Even.
“Haha ya sudah deh aku istirahat dulu kalau gitu Maz, Maz beresin ya tolong, jangan ada yang tertinggal, maafkan aku gak bantuin Maz," ucap Fisha yang sudah mulai membaringkan dirinya.
“Gak apa-apa Sayang, kayak siapa saja." Even mencium kening Fisha. Ia lalu bangkit berdiri dan membereskan semua kembali. Fisha memejamkan matanya lalu tertidur dengan pulasnya.
Even tersenyum lalu meloloskan air matanya karena terharu terhadap kehidupan cintanya, yang selalu ada aja cobaannya.
...*************...
Satu jam kemudian. Even dan Fisha sudah berada di bandara. Mereka saling merengkuh dengan berjalan pelan. Sesekali Even memaki orang yang dengan terburu-buru dan menabrak istrinya, meskipun tak disengajanya. Ia sangat melindungi istrinya itu. Fisha hanya diam dan menggelengkan kepalanya karena keheranan.
__ADS_1
“Maz, kok gitu amat sih, mereka gak salah, gak sengaja Maz, biarkan saja, jangan berlebihan," ucap Fisha. Even hanya mendengarkannya dengan sesekali mengangguk saja.
Mereka lalu masuk ke dalam pesawat dengan tertibnya. Saat pesawat sudah terbang. Fisha mengistirahatkan dirinya di pundak Even. Even tersenyum dan mereka tidur dengan saling bergandengan tangan dan menggenggam erat.
Beberapa jam kemudian mereka pun sampai di kota Malang dan berada di apartemen Even. Fisha yang kebingungan harus tinggal di mana, ia hanya menatap Even dengan penuh tanda tanya.
“Ada apa Sayang?" tanya Even sambil menarik kedua koper dengan bergantian dan memasukkannya ke dalam apartemennya dengan satu tangannya lagi merengkuh Fisha.
“Aku tidur di mana Maz? Apa aku kamu antar ke kosku saja, di sana juga masih setengah tahun lagi masa berlakunya," ujar Fisha yang melupakan statusnya.
“Hey, hey, ya sama Maz, di apartemen ini, nanti Maz yang ambil bajumu Sayang tenang saja, kamu lupa ya kamu kan istri Maz," balas Even. Ia mencubit pipi Fisha dengan gemasnya. Fisha hanya menepuk jidatnya dengan terkekeh.
“Haha aku lupa Maz hehe, kan sebelumnya aku single, sekarang punya suami juga mau jadi calon Ibu hehe, besok kita kunjungi Ibu, ayah, dan mama, papa ya Maz." Fisha berjalan lalu membaringkan tubuhnya di shofa.
“Iya Sayang gampang, mereka dekat dengan apartemen Maz, hanya beberapa langkah saja, maunya Maz di samping Maz tadi apartemennya, tapi sudah penuh semua jadi kita mencar deh tak bersampingan, mereka pasti kaget kalau ternyata kita sudah pulang juga membawa kabar gembira," jelas Even dengan senyuman yang mengembang.
Fisha yang tiba-tiba pening kepalanya ia memijat pelipis keningnya dengan eluh yang berjatuhan dan wajah yang memucat. Ia lalu mendudukkan dirinya dan perutnya terasa teraduk-aduk.
Fisha lalu bangkit dan berjalan cepat menuju wastefel dengan memuntahkan semuanya. Ia hanya memuntahkan cairan kuning dengan mual yang tiada hentinya. Even dengan cepat berlari dan mendekati Fisha. Ia memijat tengkuk leher Fisha dengan sangat khawatir.
“Kamu kenapa Sayang? Apa Maz perlu panggil dokter?" tawar Even. Fisha hanya menggeleng, lalu tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan. Fisha pun terkulai lemah dan tak sadarkan diri. Beruntung Even memapahnya karena ia berada di belakangnya. Ia lalu menggendong Fisha dan membaringkannya di ranjang.
“Sayang, kamu kenapa? Kamu tadi tak apa-apa, kenapa sekarang sakit begini dan demam? Apa bawaan hamil ya? Maafkan Maz yang menghamilimu dengan secepat ini dan membuat kamu kerepotan Sayang," ucap Even dengan menepuk-nepuk pipi Fisha. Ia ciumi seluruh wajah Fisha sambil mengusap-usapinya.
Beberapa menit kemudian dokter pun datang. Ia memeriksa Fisha secara detailnya. Lalu setelah selesai Even pun bertanya.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Even dengan terburu-buru, karena sangat khawatir.
“Dia hanya kecapekan Pak, jaga istrinya dengan baik-baik ya, biarkan dia istirahat dengan cukup, dan oh ya sepertinya istri Bapak hamil kembar, nanti untuk kejelasannya kita lakukan USG di rumah sakit," ungkap dokter. Even tersenyum sumringah lalu mengucapkan terimakasih dan memeluk dokter, karena ia sangat bersyukur dan sangat bahagia rasanya.
Dokter pun mengiyakannya dan pergi meninggalkan Even yang sedang menatapi istrinya itu.
“Terimakasih Sayang, Maz janji akan menjagamu dengan baik, kamu nanti pasti akan sangat kualahan karena hamil kembar."
...****************...
Beberapa jam kemudian. Fajar menyingsing. Fisha yang sudah terbangun ia membangunkan Even dengan penuh ciuman di wajah Even. Even pun bangun dengan rasa syukurnya karena mendapat ciuman dari istrinya, lalu mereka bangkit dan mandi bersama. Setelah itu mereka melakukan sholat shubuh berjama'ah.
Lalu mereka saling menyimak dalam hal mengaji Al-qur'annya. Even memperhatikan Fisha saat membaca bacaannya dengan merdu, saat Fisha belum selesai menyelesaikannya perut Fisha pun berbunyi keroncongan.
“Sepertinya kamu dan anak kita laper, ayo makan Sayang, bibik sudah mempersiapkannya tadi," ajak Even. Fisha lalu menyudahi mengajinya. Ia menaruh Al-qur'an ke tempat semula, lalu mereka berjalan ke ruangan makan dengan saling merengkuh romantis.
“Maz, sejak kapan ada Bibik?" tanya Fisha, saat melihat pembantu mondar-mandir di depannya.
__ADS_1
“Sejak aku mengucapkan akad nikah, lalu aku mencari pembantu agar kamu tak kecapekan Sayang," jawab Even disertai dengan kecupannya di dahinya
”Hmmm terimakasih terus Sayang."
“Ya sudah ayo makan." Even lalu menarik kursinya dan membantu Fisha agar Fisha duduk dengan tenang. Fisha hanya tersenyum. Mereka pun menikmati makanannya sambil saling canda dan tawa dengan manisnya. Even sangat bahagia. Ia pun menyuapi Fisha sesekali dan mengusap bibir Fisha yang penuh belepotan.
Setelah mereka selesai menikmati sarapannya. Even pun mengundang kedua orang tua masing-masing dan para sahabat Fisha untuk ke apartemennya, karena ia tak mau Fisha kecapekan, jadi Even ingin memanjakan Fisha penuh.
Mereka yang mendengar Even dan Fisha sudah pulang tanpa memberitahu. Mereka sangat syok dan saling menggerutu kesal.
Saat mereka sudah sampai di depan apartemen Even. Alby memencet tombol bel apartemen dengan tak sabarnya.
“Kalian ini! Gak sabar sekali sih," gerutu Even saat sudah membukakan pintunya.
“Kami kesal sama kamu, habisnya pulang gak kabar-kabar," balas Sesil mewakili semuanya yang datang beberengan.
“Masuk dulu, aku jelasin kenapa aku mendadak pulang." Dengan cepat Even menjelaskan dengan detail. Mereka membelalakkan matanya karena terkejut dan saling mengembangkan senyumannya.
“Akhirnya gol juga dan jadi, tajam juga ternyata senjatamu Ven," ledek papa Marko dengan menahan tawanya.
“Papa! Sembarangan! Banyak anak kecil di sini, jangan aneh-aneh!" peringat Even.
“Haha, kami tau keles! Kami bukan anak kecil!" ucap semua sahabat Fisha dengan suara yang menggelikan. Membuat Fisha tersipu malu.
“Selamat ya Fisha Sayang," ujar mereka dengan bergantian. Fisha mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Mereka lalu saling bercanda dan bercengkerama kembali, sambil sekali-sekali mengusap-usap perut Fisha yang masih belum kentara dengan sangat bahagia. Lalu saat sudah sore para sahabat saling berpamitan karena mau masuk kuliah.
Sedangkan para orang tua, mereka diusir Even agar mereka tak mengganggu Even menjahili Fisha. Aslinya mereka masih ingin berlama-lama bahkan menginap. Namun Even menolaknya dengan sangat tegasnya. Membuat para orang tua mau tidak mau mereka pun akhirnya pergi pulang ke apartemen masing-masing.
Note :
Hai-hai, Otor baru balik lagi ya hehe maafkan, ada sesuatu hal penting yang tak bisa membagi waktu hehe.
Ini part terbanyak, jangan lupa like-nya wahai pembaca yang budiman.
InsyaAllah kurang episode 1 lagi ya terus end deh, terimakasih selalu ikutin cinta Fisha yang penuh dengan liku-liku.
Salam manis dari Otor, juga Fisha dan Even.❤❤❤
__ADS_1