
Saat Even tidur dengan nyenyaknya sambil memeluk Fisha, handphone-nya pun berbunyi, ia mendengus kesal sambil menggerutu lalu meraih handphone-nya yang berada di atas meja dengan malasnya sambil masih memejamkan matanya.
Ia lalu membuka matanya dengan sesekali mengerjap lalu melirik siapa yang menelepon dan mengganggu tidurnya saat ini.
“Jonatan? Ada apa dia?" Even bertanya-tanya. Ia pun bangkit dari tidurnya dan menuju balkon hotel untuk menjauhi Fisha, agar Fisha tak mendengarnya.
Even lalu dengan cepat menggeser tombol hijau saat sudah berada di balkon.
“Jon? Ada apa?" tanya Even dengan lirih saat terdengar suara berisik disebrang teleponnya.
“Itu Bos, akhirnya aku tau siapa dalang itu, ini aku sekarang bersama dia," balas Jonatan dengan semangatnya sambil sesekali menggerutukkan giginya dengan nada yang ngos-ngosan.
“Siapa? Kamu di mana sekarang? Kok kamu ngos-ngosan gitu, kenapa?" ujar Even penasaran sambil ia sesekali mendengar teriakan kesakitan seseorang. Jonatan yang agak sibuk ia tak menjawab Even ia malah memukuli dalang yang menyebabkan Fisha hampir nyaris waktu itu.
“Jon? Halo Jon!" teriak Even dan ia hanya mendengar suara erangan kesakitan seseorang. Ia tak mendengar jawaban Jonatan.
“Ampuuun! Lepaskan akuuu!" Suara seseorang itu yang tak lain adalah Asult. Ia dipukuli Jonatan beserta anak buahnya, agar Asult menyerah dan mengakui bersama siapa saja ia melakukan kejahatan itu, namun yang ada Asult hanya diam membisu. Hingga membuat Jonatan semakin kesal dibuatnya.
“Jonatan! Jawab aku!" bentak Even dengan kerasnya. Ia sangat kesal karena Jonatan tak memperdulikannya.
“Haha iya Bos, maafkan! Aku baru menyiksa orang ini!" Jonatan terkekeh saat mendengar bentakan Even. Ia yang masih sibuk terus memukuli Asult jadi tak mendengar Even berucap. Ia menelepon sambil tangannya gatal apabila tidak menghajar seseorang.
“Jadi dari tadi berteriak itu adalah orang sialan itu? Tapi sepertinya aku mengenali suaranya, apa dia tinggi, gak seberapa tampan dan matanya sipit?" tanya Even lagi dengan menebaknya, karena ia menduga kalau itu adalah Asult.
“Eh iya Bos, dari mana Bos tau?" Belum sempat Even menjawab. Jonatan langsung bertanya kepada Asult dengan kasarnya.
“Hey kau! Siapa namamu!" sentak Jonatan sambil menarik rambut Asult. Asult hanya merintih kesakitan sambil menyebutkan namanya dengan terbata dan tidak jelas.
“Asult?" ucap Even singkat dengan nada yang semakin dingin. Lalu Jonatan yang tak dengar suara Asult ia menendang dengan kencang, dan terjawablah sudah, terdengar suara Asult untuk kedua kalinya dengan keras.
“Kurang ajar! Aku akan membunuhmu!" teriak Even. Jonatan hanya tersenyum geli mendengar ancaman bosnya yang semakin berani itu.
__ADS_1
“Jon ... urus dia! Siksa dia sampai dia mengaku siapa lagi dalang di balik semua ini, usut sampai ke akar, aku gak mau ada jelmaan Bella lainnya yang menyakiti Fisha kembali!" perintah Even. Ia marah serta menendang semua yang ada di balkon itu. Fisha yang mendengarnya ia dengan cepat membuka matanya lalu mencari keberadaan Even. Ia tersenyum saat melihat Even berada di balkon. Namun ia terkejut saat melihat semuanya berantakan, dengan vas bunga dan bunga yang berserakan di mana-mana.
“Baiklah Bos!" Jonatan lalu mengakhiri panggilannya. Even yang penuh dengan emosi ia dengan gelisah memutar handphone-nya dan seolah-olah ingin membantingnya, namun saat ia mau membanting handphone-nya Fisha sudah berada di belakang Even dengan berdehem kencang.
-------
Even terbujur kaku saat mendengar deheman itu. Ia mengatur nafasnya lalu memalingkan badannya dengan pelan. Ia lalu menatap Fisha dengan perubahan wajah yang serasa tak ada apa-apa, dengan senyuman menawannya. Even dengan cepat mendekati Fisha dengan sedikit takut kalau Fisha mendengar ia berbicara dengan Jonatan tadi.
“Eh ... kamu bangun Sayang? Apa Maz berisik ya hehe, maafkan Maz ya ... ayo kita balik ke kamar, di sini dingin," ajak Even dengan cepat, berusaha mengalihkan semuanya dari Fisha. Ia mendekap Fisha dengan erat lalu mengusap-usap bahunya untuk memberikan kehangatan.
“Maz? Kamu bisa menjelaskan itu semua?" tuding Fisha ke arah sesuatu yang berantakan itu. Even hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.
“Terus tadi mau membanting ponsel Maz kan? Itu kenapa? Ayo banting sekarang!" perintah Fisha dengan menahan tawanya. Even hanya gusar, yang ia lakukan hanya cengengesan.
“Jawab! Kok malah cengengesan, kalau gak mau jawab gak akan aku kasih jatah lagi besok-besok." Fisha dengan gencarnya menggoda Even. Even kelabakan, mau tak mau ia harus mencari jawaban yang tepat dan tak menimbulkan curiga. Even pun menemukan ide dengan mencari-cari alasan.
“Eh itu Sayang, Maz pusing sekali dan sangat frustasi memikirkan pekerjaan yang terbengkalai, tadi Jonatan yang menginformasikan, jadi Maz kesel gitu hehe, jadilah berantakan seperti itu." Fisha mengangguk dan percaya dengan omongan Even itu, ia lalu dengan cepat memeluk Even dan menenangkannya. Even dengan cepat membalas pelukan Fisha.
Dengan cepat Even lalu melepaskannya. Fisha memukul Even dengan kencangnya. “Kamu ini! Mau membunuhku ya? Ka-" Fisha tak meneruskan kata-katanya karena Even dengan cepat membungkam bibir Fisha dengan ciumannya. Semakin lama ciuman semakin memanas, hingga saling ******* dan mengabsen semua yang ada di bibir Fisha, dengan lembut Even menggigit bibir Fisha sambil saling menjulurkan lidahnya hingga bertukar saliva.
Saat Even ingin menyentuh dan meremas gunung kembar Fisha, dengan cepat Fisha tersadar dan menepis tangannya.
“Eh ... kenapa Sayang? Ayo masuk dan kita lanjutkan! Lagi enak nih," rayu Even dengan suara dibikin sendu dan wajah yang memelas. Fisha hanya ketawa menanggapinya lalu berlalu pergi meninggalkan Even yang semakin lama semakin memelas.
“Sayaaang! Aku ditinggal nih? Jahatnya!" Even merajuk, ia tak beranjak. Malah ia mendudukkan tubuhnya sambil menselonjorkan kakinya dengan tangan yang bersedekap. Fisha menatapnya hanya dengan tawa renyahnya.
“Hey Maz, udah! Jangan kayak anak kecil! Nanti lagi dah kalau aku gak capek haha, kamu lupa ya kita belum sholat isya' tau? Lagian tadi sudah lho, apa gak bosan?" tanya Fisha. Ia mondar-mandir menyiapkan baju yang akan dipakai setelah selesai menunaikan sholat.
“Enggak, aku seharian gak akan capek!" jawab Even dengan ganasnya.
“Kamu benar-benar gila! Ya sudah aku mau mandi dulu, mau mandi junub tau? Kamu juga belum! Kita kotor!" Fisha berjalan menuju kamar mandi. Even yang tau itu dengan cepat ia pun mengikuti Fisha lalu berada di sampingnya dengan senyumannya.
__ADS_1
“Eh kamu kenapa? Mau ngapain? Senyum gak jelas, sana! Fisha mau mandi!" usir Fisha dengan mendorong Even.
Even hanya tersenyum lalu dengan cepat menarik Fisha dan masuk ke dalam kamar mandi bersama. Mereka lalu mandi bersama sambil menggosok badan dengan bergantian, saling canda tawa, dan akhirnya Even tergoda dengan tubuh Fisha yang menggiurkan dan bagaikan candu selalu menurutnya.
Ia tanpa meminta persetujuan dari Fisha dengan cepat ******* seluruh tubuh Fisha dengan gemasnya. Fisha yang jengkel awalnya menolak, namun ia juga yang sudah terbiasa dengan tingkah laku Even. Akhirnya ia menerimanya dan tak melawannya. Dengan desahan dan pekikan keduanya di dalam kamar mandi membuat mereka mandi lama dan ketawa bersama dengan penyatuan yang lembut.
Akhirnya dengan cepat mereka mandi kembali dengan sibuk berdoa masing-masing lalu dengan cepat saling menyelesaikannya. Fisha dengan cepat berwudlu lalu mengambil handuknya dan meninggalkan Even, takut ia dijamah kembali dengan ronde yang berulangkali.
“Haha, buru-buru amat!" tawa Even saat melihat Fisha yang menghindarinya dengan cepat. Even lalu berwudlu untuk menunaikan sholat berjama'ah.
“Sudah gak usah bawel! Kan emang Maz ganas, menyeramkan!"
“Tapi kamu suka kan? Kalau sudah dilakukan berkali-kali gak akan sakit, sudah terbiasa, guamu hanya cocok untuk tongkatku, serasi sekali." Fisha hanya melirik Even. Ia dengan cepat memakai mukenahnya.
Beberapa menit kemudian, sholat pun selesai. Mereka berdoa lalu dengan cepat Fisha meraih tangan Even dan menciumnya dengan lembut.
“Terimakasih Maz, atas cinta yang Maz berikan, aku sangat bersyukur Maz mencintaiku, karena aku bagaikan bumi dan Maz adalah langitnya," keluh Fisha dengan mata yang nanar. Even dengan cepat mencium kening Fisha dengan rasa syukurnya.
“Sama-sama Sayang, terimakasih kamu juga mencintai Maz yang tak sempurna ini, kita saling melengkapi Sayang, jangan bicara begitu lagi," balas Even lalu mengecup kedua Fisha dengan bergantian. Fisha terharu lalu menitikkan air mata bahagia.
Awan, terimakasih! Aku akan selalu mengingatmu, aku sekarang bahagia, kamu juga bahagia kan melihatku bahagia sekarang di atas sana? Aku mengenal Maz Even atas takdir-Nya dan karena pengorbananmu, terimakasih. Batin Fisha lalu ia memeluk Even dengan tangisan yang terisak. Even pun membalas pelukan Fisha dengan usapan yang lembut.
-----
Note :
Terimakasih selalu mengikuti, jangan lupa like-nya. ❤❤❤
Sekitar 3 eps lagi end kemungkinan. Semoga pas ya hehe dan gak gantung. 🙏
__ADS_1
Kemarin Otor sibuk jadi baru up.🙏💋