Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Serius


__ADS_3

Sampailah mereka di rumah sakit, Even dengan cepat menggendong Fisha yang sedari tadi merintih dan memanggil namanya terus menerus. Dengan kepanikannya Even menggenggam tangan Fisha dan menyalurkan kekuatannya agar Fisha tenang. Namun tetap saja Fisha hanya gelisah tak menentu.


“Sayang aku selalu di sini, bertahanlah," ucap Even sambil berjalan dengan cepat lalu memanggil suster yang ada di sana.


“Sus, Suster! Tolongin!" pinta Even dengan berteriak lalu suster pun menghampiri dengan membawa brankarnya, setelah itu Even menidurkan Fisha di atas brankar itu. Dokter lalu dengan cepat membawa Fisha ke ruangan UGD untuk diperiksa karena demamnya terlalu tinggi.


Even yang menunggu di luar ia mondar-mandir dengan gelisah menunggu pemeriksaan Fisha. Ia sambil mengotak-atik ponselnya untuk mencari informasi penting.


“Jon, kamu harus mencari informasi tentang orang ini, aku curiga dia yang melakukannya!" perintah Even dengan mendekat ke arah Jonatan sambil menyodorkan ponselnya yang terdapat foto Asult di sosial media instagram. Jonatan lalu memperhatikan foto itu dan mengamatinya agar dia hafal ciri-cirinya.


“Baiklah Bos, kalau gitu aku pergi dulu, aku sudah tau nama instagramnya juga jadi sudah hafal," pamit Jonatan dengan wajah datarnya.


“Baiklah kamu bisa diandalkan, jangan mengecewakanku!" Jonatan mengangguk lalu menyodorkan jari jempolnya tanda siap. Ia pun pergi dengan langkah yang dipercepat.


Even lalu mendudukkan dirinya di kursi tunggu karena rasanya ia sangat letih. Ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya dengan menggeram karena lama.


“Lama sekali sih pemeriksaannya, aku sungguh tak sabar dan merindukan kekasihku itu, semoga dia tak apa-apa," ujar Even yang sangat khawatir. Ia lalu menundukkan kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


Beberapa menit kemudian dokter pun selesai memeriksa dan keluar dari UGD, Even dengan cepat menghampiri dokter disertai helaan nafas panjangnya.


“Dokter, bagaimana keadaan Fisha? Dia baik-baik saja kan?" tanya Even. Ia menatap dokter dengan guratan di wajahnya. Dokter hanya menggeleng pelan lalu menjelaskan semuanya.


“Fisha agak buruk, dia trauma berat juga disertai tifus, kalau dia tak sadarkan diri lebih dari 3 hari bisa-bisa dia koma dan semakin memburuk," jelas dokter dengan mengusap-usap eluhnya yang berjatuhan.

__ADS_1


“Apa Dok? Separah itu? Jadi aku harus bisa membangunkannya dengan secepat mungkin?" balas Even dengan syoknya, ia memegangi dada yang rasanya sakit mendengar semua itu. Ia akhirnya melongo dan duduk bersimpuh.


“Sabar ya Even, berdoa saja agar Fisha membaik, bukannya dia juga sering trauma? Jadinya dia menjadi buruk seperti ini." Even yang mendengar itu ia meloloskan air matanya dengan sendirinya. Dokter lalu mendudukkan dirinya dengan berjongkok sambil mengusap-usap punggung Even.


“Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa kabarin aku saja," pamit dokter lalu berdiri.


“Baiklah terimakasih Dok," kata Even menatap dokter itu, dokter itu adalah teman papanya jadi mereka sudah lumayan akrab.


“Oke santai saja, kayak kita tak mengenal saja hehe, kamu bisa menjenguk Fisha dan menyemangatinya," balas dokter sambil melambaikan tangannya. Even hanya mengangguk lalu bangkit dan bersiap untuk masuk ke ruangan Fisha.


Saat sudah masuk di ruangannya Fisha, Even pun menatapi Fisha dengan wajah yang sangat sedih, ia lalu menghampiri Fisha dan mengambil kursi lalu duduk di sebelah Fisha sambil menggenggam tangan Fisha erat.


“Sayang, apa kamu tak merindukan Maz yang tampan ini? Bangun dong ya, apa kamu mau Maz pergi saja!" ancam Even dengan nada yang sendu berharap Fisha bangun, namun tetap tak diresponnya.


-----


Beberapa menit kemudian Even pun selesai melaksanakan sholat isya' pada jam 02.00 pagi karena ia sedikit lalai sibuk mencari pujaannya itu, ia lalu mendekati Fisha kembali dan duduk di samping Fisha dengan membawa Al-qur'annya, lalu ia membukanya dan membacanya dengan lantunan yang merdu.


Ia melafalkan surat Ar-rohman sambil sesekali memejamkan matanya berusaha menghafalkannya, saat ia agak melupakan bacaannya ia pun membuka matanya kembali dan membacanya sambil menghela nafas panjang. Begitu selanjutnya sampai bacaannya habis. Fisha yang mendengar itu sedikit menggerakkan jarinya namun dia belum tersadar juga. Even tersenyum saat melihat itu ia bersyukur karena sudah ada sedikit kemajuan pada Fisha.


Even lalu berdiri dan mengembalikan Al-qur'annya sambil mengembangkan senyumannya. Ia lalu mendekati Fisha kembali dan menggenggam tangannya sambil berceloteh manja dan duduk kembali.


“Kamu tau Sayang ... aku sudah mau hafal lho surat Ar-rohmannya, aku agak melupakannya saja karena sudah lama aku gak menghafalkannya kembali, iya aku hafalan dulu di pondok, kamu bangun dong Sayang ya, lalu kita nikah aku janji akan menjagamu, aku gak mau menundanya lagi, karena sepertinya cinta kita banyak sekali rintangannya," ucap Even panjang lebar sambil mengusap-usap tangan Fisha dan dengan cepat meloloskan air matanya.

__ADS_1


Even yang rasanya sudah tak sanggup karena mengantuk karena ia tak tidur semalaman dan mencari Fisha ia pun menguap berulangkali sambil menghapus air matanya dengan kasar.


Lama kelamaan Even pun tertidur di samping Fisha sambil menunduk dan memegangi tangan Fisha dengan erat. Fisha yang merasakan itu ia lalu tersadar dan mengerjapkan kedua bola matanya dan melirik ke sana ke mari dengan kebingungannya. Ia lalu berteriak saat mengingat kereta itu. Dengan sekuat tenaga ia menangis tersedu-sedu.


Even pun terkaget ia lalu terbangun dengan cepatnya lalu menatap Fisha dengan lekat.


“Eh kamu sudah sadar Sayang alhamdulillah, kamu kenapa? Jangan takut ada aku di sini." Even berusaha menenangkan Fisha, lalu ia bangkit dan memeluk Fisha erat. Fisha pun tenang dan hanya terdengar suara isakannya saja.


“Jangan tinggalkan aku Maz, aku takut! Hiks, hiks, hiks!" kata Fisha sambil menangis dan nada yang bergetar, ia lalu memeluk Even dengan kencangnya.


“Enggak akan Sayang, tenang ya Sayang, apa kamu tau siapa yang melakukan itu? Apa Asult?" Fisha hanya diam membisu karena ia yang sangat tertekan dan terancam kalau menyebutkan nama itu, ia takut Asult akan mencelakai Even.


Eh kenapa Fisha tak menjawabku, apa iya? Lantas apa yang dilakukannya kenapa Fisha jadi tertekan seperti ini, tubuhnya pun penuh luka dan sekarang pun badannya masih demam hanya turun sedikit saja. Batin Even sambil mengusap-usap punggung Fisha dengan lembut.


“Ok kalau gak mau jawab Maz akan cari tau sendiri, dan juga Maz mau menikahimu nanti sekitar pukul 9 pagi penghulu datang juga kedua orang kita untuk menyaksikan dan menjadi wali." Fisha yang mendengar itu ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap Even dengan sangat serius.


“Apa Maz serius? Bukannya kata Maz belum hafal surat Ar-rohman?" balas Fisha dengan suara yang lirih menahan rasa sakitnya yang baru agak pulih itu.


“Serius, Maz sebenarnya sudah hafal hanya saja agak lupa, setelah ini Maz akan belajar lagi, insyaAllah pasti Maz akan hafal, aku ingin mempercepat pernikahan kita karena aku takut tidak ada waktu lagi, di luaran sana pasti banyak jelmaan Bela, aku gak mau mereka menjahati kamu lagi, dengan Maz cepat menikahimu Maz akan bisa mendekap dan melindungimu penuh," ungkap Even panjang lebar, Fisha hanya mengangguk pasrah lalu merebahkan dirinya kembali dibantu dengan Even.


--------


Note :

__ADS_1


Tunggu terus kisahnya sebentar lagi sudah detik-detik end, mungkin sekitar 5 eps insyaAllah, terimakasih jangan lupa like-nya 🙏❤


__ADS_2