
Fisha berjalan ke arah ruangan Asult dengan langkah yang ragu-ragu, karena ia sungguh canggung dan secara ia dari dulu tak seberapa suka dengan Asult dan teman-temannya.
Lalu Fisha sampai di depan pintu ruangan itu, ia pun memberanikan diri dan memegang handle pintunya dan masuk ke dalam dengan tatapan datarnya.
“Assalamu'alaikum," sapa Fisha saat melihat Asult yang ada di sebelah pintu menunggu kedatangan Fisha.
“Wa'alaikumsalam Fish," jawab Asult menatap Fisha penuh disertai dengan senyumannya.
“Ngapain kamu berada di situ? Terus kok sampai segitunya kau menatapku, apa ada yang aneh denganku?" tanya Fisha yang penasaran dan ia merasa malu karena tatapan Asult itu.
“Gak apa-apa Fish, hanya saja kamu cantik!” puji Asult dengan nada yang serius, membuat Fisha jengkel, ia langsung berjalan ke arah ranjangnya dan segera membaringkan dirinya untuk menghindari celoteh Asult yang gak jelas menurut Fisha.
“Eh kok aku ditinggal tidur sih? Apa kamu gak kangen sama aku?" goda Asult dengan gencarnya. Fisha yang sudah berbaring ia lalu duduk kembali karena terkaget oleh ucapan Asult itu, ia lalu melempar bantalnya ke arah Asult dengan kencang.
“Berisik! Tidur sana! Besok kuliah juga, apa gak ada keluargamu yang datang ke sini? Apa kamu gak bilang mereka?" Fisha menoleh ke arah Asult lalu berdiri dan berjalan untuk mengambil bantalnya.
“Enggak aku gak bilang, lagian percuma juga bilang, mereka juga sibuk terus jarang di rumah karena bisnisnya," balas Asult dengan santainya sambil mendorong kursi rodanya menuju ke arah Fisha.
“Mau ngapain Kamu? Jangan macam-macam!" peringat Fisha dengan nada ancaman menunjuk ke arah Asult.
“Galak amat sih ... lagian aku mau ngapain juga, kan aku cuma ingin melihat wajahmu sebelum tidur," goda Asult lagi.
“Sudah gak usah gombal, besok aku mau kuliah sore, aku gak mau ketinggalan kan aku masuk kuliah hasil beasiswa, kalau sering bolos bisa-bisa dicabut dan gawat," jelas Fisha tanpa menatap Asult.
“Gampang, nanti aku bayarin!" tanggap Asult dengan bangganya.
__ADS_1
“Heleh, aku gak butuh belas kasihan seseorang, aku hanya mau jerih payah usahaku sendiri, jangan aneh-aneh!” tegas Fisha membuat Asult salut terhadap kemandiriannya, ia pun semakin menatap Fisha dalam-dalam dengan dibarengi senyuman kekagumannya, namun Fisha tak meliriknya sedikitpun karena terlanjur sebal kepadanya.
“Ya sudah terserah kamu saja dah! Aku mau tidur, besok kamu bisa rawat jalan saja dah, nampaknya kamu sudah oke tuh sudah sembuh secara mulut sudah oke bawelnya, tinggal terapi saja," sambung Fisha dengan mengejek lalu berlalu pergi ke arah ranjangnya dan menutupi dirinya dengan selimut rapat-rapat tak mau mendengar balasan Asult, ia pun memejamkan matanya dengan cepat dan bermimpi indah.
Asult pun mendorong kursi rodanya ke arah ranjangnya dan mencoba tidur tapi ia yang sudah kebanyakan tidur, ia tak bisa tidur dan gelisah dengan membolak-balikkan badannya dan sesekali menatap Fisha yang tidur dengan membelakanginya itu.
“Apa kamu gak mau membuka hatimu sedikit saja untukku? Kalau tidak aku akan sedikit memaksa dan memanfaatkan kelumpuhanku ini, maaf sekali lagi cintaku padamu begitu besar dan sangat egois," ucap Asult lirih lalu ia pun berusaha memejamkan matanya dengan sesekali tersenyum karena ia bahagia Fisha menemaninya di rumah sakit, beberapa menit kemudian ia pun tertidur juga.
------
Fajar menyingsing, Fisha mengerjapkan matanya dengan menggeliat dan menggeleng pelan untuk menghilangkan kantuknya, ia pun melihat jam yang menunjukkan pukul 5 pagi.
“Eh sudah hampir hilang shubuhnya, aku mau sholat dulu,” celoteh Fisha bangkit dari ranjangnya dan melirik ke arah Asult dengan menggelengkan kepalanya karena masih tidur pulas.
Setelah itu Fisha sholat dengan khusyuk dengan memakai mukenah yang disediakan di rumah sakit. Ia berwirid sebentar lalu menadahkan tangannya dan berdoa.
“Ya Allah berikan aku kebahagian, jangan sampai cinta membuat seseorang menjadi takabbur dan menggelapkan matanya hingga ia berbuat nekad, cinta yang tulus yang selalu diidamkan setiap wanita termasuk aku, sembuhkan temanku Asult ini agar dia seperti sedia kala dan aku tak merasa bersalah terus menerus, Amin," doa Fisha di pagi hari, ia lalu mengusap wajahnya kasar dengan memelas dan terbengong lama.
Asult yang ternyata sudah bangun beberapa menit yang lalu sejak Fisha berdoa pertengahan tadi ia pun mendengarkannya dan terharu, ia melirik Fisha yang selesai berdoa dan memperhatikan Fisha yang terbengong itu tanpa bicara sepatah kata pun.
Dia segitunya berdoa untukku, apakah udah ada sedikit rasa untukku?" Batin Asult, ia GR atas ucapan Fisha padahal dia tak mendengar doa Fisha dari awal. Asult pun tersenyum kegirangan seperti harapannya ada celah dipenuhi, padahal ia hanya salah paham.
Fisha bangkit berdiri saat sudah tersadar dari lamunannya lalu melipat mukenahnya dan menghampiri Asult yang pura-pura tidur itu. Fisha pun membangunkan Asult dengan menepuk-nepuk pipinya.
“Hey bangun! Bangun! Kamu gak sholat apa! Imam masak malas gini sih,” ledek Fisha, sedangkan Asult yang tak tidur ia mendengarnya dan menahan senyumnya atas ucapan Fisha yang bilang imam itu, ia GR berulang kali.
__ADS_1
Lalu Asult menggeliat dan pura-pura mengucek matanya sambil menguap.
“Ih jorok, sana cuci muka atau mandi sana udah jam segini keburu shubuhnya waktunya habis!" perintah Fisha dengan mengibaskan tangannya. Namun Asult masih menggeliatkan tangannya dan bermalas-malasan.
“Ya sudah terserah kamu, mau sholat atau tidak terserah! Emang kamu pernah sholat? Paling juga enggak!" gencar Fisha mengejek dan berlalu pergi keluar untuk mencari udara segar di pagi hari.
“Ehh Fish, aku sholat terus enak aja! Bantuin dong aku ke kamar mandi, malah pergi!" protes Asult dengan berteriak tapi tak direspon oleh Fisha yang sudah pergi keluar dengan langkah yang dipercepat.
Fisha yang sudah di luar dan berjalan di lorong rumah sakit ia mengkomat-kamitkan mulutnya karena ia rasanya sudah gak tahan lagi berada di rumah sakit ia memasang wajah dengan jengkelnya.
“Menjengkelkan! Bau obat dan semuanyaaaa menjengkelkaaan! Kapan semua ini akan berakhir! Rasanya aku ingin loncat saja dari tebing ini hais!" umpat Fisha dengan menghentakkan kakinya.
“Hahaha, slow, slow!" tawa seseorang yang datang dari arah depan dan menghampiri Fisha.
“Apa? Kenapa? Gak ada yang lucu tau, minggir aku mau pergi,” usir Fisha dengan mendorongnya ke samping dengan pelan.
“Ke mana? Bunuh diri? Ikut doong!" Fisha menatap tajam ke arahnya dan memanyunkan bibirnya, lalu pergi dengan emosinya, seseorang itu membuntuti Fisha karena ia begitu merindukan gadis kecilnya itu.
-----
Note :
Tebak saja! Pasti kalian tau siapa dia? Haha, maaf slow respon haha Otor sempat menghadapi jalan buntu, sibuk di dunia nyata. 😁🙏
Jangan lupa like-nya, panggil Otor 3x dan Otor pasti kembali. 😝❤
__ADS_1