
Setelah menemani Asult terapi bersama Even. Fisha pun pamit kepada Asult untuk berangkat kuliah.
“Sult aku berangkat dulu, kalau ada apa-apa telepon aja!” perintah Fisha menatap Asult sebentar lalu pergi bersama Even tanpa mendengar jawaban Asult.
“Fishaaa katanya kamu masuk soreee," teriak Asult ke arah Fisha saat Asult mengarah ke pintu untuk melihat kepergian Fisha dan Fisha juga sudah melangkahkan kakinya dari ruangan Asult dirawat.
“Sudah biarkan saja dia, nanti kamu sakit tenggorokan meladeni dia," sela Even yang berada di samping Fisha. Sedangkan Asult tak mendengar suara Even karena Even sudah melangkahkan beberapa jarak jauh dari Asult.
“Iya kurang 1 jam lagi, tapi aku ada perlu mau ke perpustakaan pinjam buku buat tugaskuuuu," balas Fisha dengan berteriak tanpa memperdulikan Even yang mendengus kesal karena Fisha mengabaikannya.
“Oh, ya sudaaaah." Fisha hanya mengangguk dan berlalu dengan cepat bersama Even , hingga Fisha tak terlihat Asult masih mematung meratapi kepergiannya.
Kenapa dia semakin akrab kepada dosen itu, haruskah aku mengalah? Tapi cintaku begitu besar dan tak terbendungkan, oh ... dewi cinta balaskanlah cintaku ini. Batin Asult sambil masih mematung melihati jalan yang dilewati Fisha tadi, ia lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Haruskah aku rawat jalan saja? Aku sungguh bosan berada di rumah sakit ini, tapi di rumah juga sama saja aku kesepian, mending di sini sih bisa selalu ditemani Fisha, kalau di rumah mungkin hanya sesekali, ya sudah di sini saja,” ucap Asult berbicara sendiri dengan tersenyum liciknya karena idenya itu.
Sementara di perjalan Even dan Fisha yang berada di dalam mobil. Mereka saling melirik satu sama lain dan sesekali bertukar pandangan dengan senyuman tulus di wajah masing-masing.
“Hey ... Maz ... perhatikan jalan sana!” Fisha membuka suaranya saat Even terus memandangnya, ia merasa malu dan canggung.
“Lagian kenapa sih, saling cinta kok malu?” goda Even dengan nada dibuat segemas mungkin.
“Heleh, pokoknya lihat ke depan!” kekeh Fisha mengalihkan pembicaraanya. Even hanya menahan tawanya dan fokus mengemudi kembali.
“Lagian bukannya rumah sakit dekat dengan kampus tinggal jalan kaki sampai kenapa bawa mobil?” tanya Fisha dengan merogoh handphone yang ada di tasnya lalu memainkan game andalannya.
“Lah kan Maz dari apartemen kan lumayan jauh, masak jalan kaki? Tadi langsung dari apartemen ke rumah sakit, ini kan waktunya masih sejam lagi kan masuk kuliahnya, mata kuliah Maz sendiri lagi, jadi kita jalan sebentar hehe," jelas Even dengan terkekeh dan wajah yang sumringah.
“Oh gitu ... terserahlah kalau begitu Maz ..." pasrah Fisha dengan memberi makan sapi juga ayamnya dalam game peternakannya.
--------
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di BaReLo restaurant yang jaraknya dari kampus Muhammadiyah hanya 2,7 km saja. Fisha mengernyitkan dahinya saat mobil Even sudah menempati parkiran di depan restauran itu.
“Ayo turun!" ajak Even dengan senyumannya lalu turun duluan dan membukakan pintu untuk Fisha ia pun mengulurkan tangannya ke arah Fisha. Fisha menerima uluran tangan Even dengan kebingungannya.
__ADS_1
“Maz, ngapain kita ke sini? Apa Maz lapar?” tanya Fisha menatap Even.
“Ya aku lapar, temani aku makan, kamu juga lapar kan?" tanya balik Even dengan menggandeng Fisha dan terus berjalan.
“Enggak aku udah makan," bohong Fisha karena ia malu kalau menjawab belum.
“Sudah jangan bohong! Kamu di rumah sakit terus makan apa, paling kadang gak sempet ke kantin, terus masakan rumah sakit juga gak enak, nanti kamu kurusan," jawab Even disertai dengan peringatannya.
“Ihh Maz ini kurusan apaan!" senggol Fisha ke arah Even, membuat Even ketawa terbahak-bahak karena suara Fisha yang kesal sekaligus malu.
Even lalu duduk di meja makan, Fisha hanya mengikutinya, pelayan pun datang dan menyodorkan menunya.
“Permisi mau pesan apa?” tanya pelayan dengan ramah sambil membawa catatan dan bolpoinnya siap mencatat.
Even pun membolak-balikkan menunya. “Saya mau pesan 'Stir Fried Ginger Crab' sama minumannya 'Sparking Apple Compote'," pesan Even dan pelayan mencatat dengan cepat.
“Hehe gak tau menunya aneh-aneh, lagian lucu ya pas Maz menyebutkan semua, yang aku tau crab itu kepiting pokoknya, ya saya mesen itu saja," jelas Fisha dengan tawa renyahnya.
“Minumnya yang ada oreo-nya itu,” sebut Fisha dengan membaca menunya.
“Itu Mbak makannya sama kayak aku terus minumannya nambah 'Matcha Green Tea Oreo mocktail'," ucap Even lalu pelayan mencatat dan menganggukkan kepala dengan berlalu pergi.
Fisha pun ketawa saat pelayan sudah berlalu pergi, ia merasa konyol karena menu masakannya sok keinggrisan semua, bukannya Fisha tak tau artinya ia kan pandai dan beasiswa, tapi ia malas karena ia bukan anak horang kaya jadi jarang tuh nimbrung di restoran mewah.
“Maz, lain kali ajak aku di warung saja yang sederhana ya, jangan mewah seperti ini aku gak terbiasa, aku kan bukan horang kaya, semua makanannya asing bagiku," pekik Fisha merendahkan dirinya sendiri dan merasa minder.
“Hus gak boleh ngomong gitu semuanya sama, lagian Maz lagi ada rezeki baru gajian haha," bangga Even dengan menatap Fisha.
“Oh ya ... selamat ... makasih traktirannya dosenku plus kesayanganku.” Fisha berucap lirih saat menyebut kata kesayanganku.
“Apa, apa Sayang? Aku gak denger!" harap Even dengan mendekatkan telinganya ke arah Even.
__ADS_1
“Tiada siaran ulang," kata Fisha singkat, membuat Even mencubit pipi Fisha gemas. Fisha hanya mendesis sambil mengusap-usap pipinya dan memanyunkan bibirnya.
“Sudah, jelek tau?" ejek Even lalu Fisha menatapnya dengan tajam.
“Maz, kamu punya temen yang buka lowongan kerja buat mahasiswi gak? Yang bisa dilobi waktunya?" tutur Fisha dengan wajah yang serius.
“Kenapa kamu tanya seperti itu? Apa ada temen kamu yang nyari?" tanya Even dengan menyedot minumannya saat pesanan mereka sudah tiba semenit yang lalu.
“Bukan, tapi buat aku," balas Fisha sambil memainkan minumannya karena ragu untuk mengatakannya dan ia sangat malu karena fasilitasnya kehidupannya yang sederhana itu.
“Kamu? Kok kamu? Kenapa? Apa butuh uang tambahan?" Fisha mengangguk dengan senyuman canggungnya.
“Oh ada kok," ucap Even dengan entengnya. Fisha yang mendengar itu ia tersenyum senang dengan mata yang berbinar.
“Jadi asisten dosen mau?" tawar Even.
“Eh ... di mana Maz?" penasaran Fisha dan ia sudah sedikit bisa menebak Even akan menjurus ke mana, hanya saja Fisha pura-pura tak tau dengan menahan senyumnya.
“Asisten dosenku, nanti aku gaji dong ...” balas Even lalu menyendok daging kepiting yang sudah disajikan itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Tuh kan ngomongnya ngawur, aku gak mau kamu mengasihaniku Maz," cicit Fisha dengan memelaskan wajahnya.
“Lho ... siapa yang ngawur? Maz beneran sumpah, kamu kan pintar bisa dong jadi asisten dosen, dan kan bukan ngasihani namanya tapi saling menguntungkan, mau apa tidak? Kalau tidak ya sudah Maz cari cewek lain saja," goda Even dengan gencar, membuat Fisha mencubit lengan Even dengan kencang. Even hanya tertawa renyah.
“Jadi? Apa mau? Nanti Maz gaji kamu mau berapapun," sanggup Even dengan sepenuh hatinya.
“Enggak gaji sewajarnya saja. Fisha hanya butuh buat beli buku sama uang saku doang hehe, sama kos, kalau kampus kan udah beasiswa," ungkap Fisha.
“Oke, kamu sangat pintar sekali, ya sudah makan dulu keburu dingin nanti!" ajak Even. Lalu mereka melahap makanannya dan sesekali Even menyuapi Fisha dan mengelap bibir Fisha yang belepotan dan mereka saling bercanda gurau.
-------
Note :
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, sungguh jejak kalian sangat berarti, terimakasih ditunggu like-nya mendarat juga komen yaaaa 😍❤
Maaf reviewnya lama sekali hingga gak berhasil-hasil upnya jadi telat sekali sejak jam 11 malam, katanya sistemnya agak eror banyak yang mengeluh. 🙏
__ADS_1