Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Kesal


__ADS_3

“Fisha ... mau kemana? Tunggu aku ..." teriak Ares saat Fisha melupakannya dan meninggalkannya.


Ares gelisah saat melihat Fisha berlari kencang, ia lalu mendorong semua teman Asult dan berlari kencang menyusul Fisha. Sementara Asult ia menangis dan menyalahkan semua teman-temannya karena gara-gara mereka datang Fisha jadi tau semuanya, tapi teman-teman yang disalahkannya ia hanya saling melirik dan tak banyak membantah, karena mereka tak mau masalah menjadi runyam jadi mereka mengalah saja, padahal jelas-jelas ini salahnya Asult, namun persahabatan mereka yang begitu kental yang selalu ada menjadikannya awet dan saling setia, meskipun kelihatan seperti tak bermoral.


Semuanya membantu Asult namun semua sahabatnya pun ditepisnya dan ia menatap tajam, membuat mereka mengalah dan meninggalkan Asult sendirian, agar ia menenangkan dirinya sendiri.


“Lantas aku harus gimana? Pokoknya aku harus mempertahankannya titik, aku sangat mencintai Fisha, mungkin caraku saja yang salah, gara-gara cinta membuatku bodoh dan melakukan cara apa saja!" geram Asult sambil mengusap air matanya dengan kasar lalu ia berdiri dan tersenyum kecut ke arah teman-temannya yang berada di kejauhan. Ia pun lalu mendekat dan menyusul ke arah teman-temannya, serta membereskan semuanya untuk pulang nanti.


Sementara Ares dengan berlari sambil berteriak memanggil nama Fisha namun nihil, Fisha yang sudah terlanjur jauh darinya tak mendengar suaranya, ia bahkan tak bisa menyusul Fisha karena jarak sudah semakin jauh, lalu Ares menunduk dan mengatur nafasnya, ia pun mempunyai ide sedikit dan menegakkan badannya sambil tersenyum.


“Assalamu'alaikum Kak? Halo?" sapa Ares saat ia menekan nomor seseorang di teleponnya.


“Wa'alaikumsalam Res," balasnya dengan nafas yang terlihat sedikit mendesah karena kecapekan.


“Eh Kak Even, ada apa? Kenapa kok kelihatannya capek begitu? Apa habis lomba antar dosen Kak?" tanya Ares dengan nada cepatnya karena ia ingin segera menyampaikan hal tentang Fisha itu.


“Bukan! Tadi aku tadi melihat Fisha dia lari kencang sambil menangis, aku pun mencoba menyusulnya namun ada dosen memanggilku dan ada sesuatu yang penting jadi aku mengurungkannya, dan oh ya ... baru kali ini aku melihat Fisha lari seperti macan, kenapa dia?" jelas Even dan ia pun bertanya karena rasa penasarannya disertai nada khawatirnya.


“Itu masalahnya Kak, aku menelepon Kakak ya karena ini, cepat susul Fisha Kak! aku takut dia melakukan hal semacam aneh-aneh dan ia sakit karena trauma, aku sebagai sahabatnya tau betul Fisha bagaimana,” pinta Ares kepada Even dengan nada sedihnya.


“Hey, ada apa? Kamu di mana sekarang?" tanya Even cepat.


“Aku sekarang sudah di gerbang kampus Kak, tapi aku kehilangan jejak Fisha," sesal Ares dengan nada lirihnya.


“Oke, aku ke sana!" Even lalu memasukkan teleponnya ke dalam tasnya saat menyudahi obrolannya, ia lalu berjalan cepat dengan bergegasnya menuju gerbang untuk bertemu dengan Ares.


Saat ia melihat Ares, Even lalu mendekat ke arahnya dan saling bertatapan karena rasa ingin taunya keduanya.

__ADS_1


“Hey, ada apa?" Even bertanya dengan wajah datarnya sambil bersiap-siap untuk mendengarkan Ares bercerita.


“Ini semua karena Asult Kak, dia benar-benar brengsek, tega membohongi Fisha, dan kakak tau? Asult beserta teman-temannya ternyata menjadikan Fisha bahan taruhan, kalau Asult kalah mendapatkan hati Fisha ia harus menerima apapun teman-temannya minta, sedangkan kalau dia menang ia akan mendapatkan banyak hal.


“Apa! Dia benar-benar brengsek! Pantesan Fisha menangis seperti itu, padahal aku sudah mengalah dan berkorban agar Fisha tak bingung memilih jadi aku pasrah,” marah Even terhadap keadaan lalu ia mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaganya.


“Maksud Kakak?" tanya Ares namun tak dijawab oleh Even.


“Aku harus menyusul Fisha, di mana kira-kira Fisha? Apa kamu tau?" Even balik bertanya, sedangkan Ares hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tau.


Oh ... aku tau pasti Fisha menenangkan hatinya di sawah, biasanya dulu begitu ia melampiaskan kemarahannya, tapi di mana? Batin Even dengan menebak-nebaknya.


“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu! Dan mencarinya," pamit Even dengan menepuk bahu Ares lalu melangkahkan kakinya dengan buru-buru.


“Kak ... aku ikuuut!" teriak Ares saat Even sudah menjauhi Ares.


“Oh ... ya sudah, aku serahkan Fisha ke Kakak ya ...." Even mengangguk lalu membentuk jari tangannya ok.


------


Even berlari kencang mencari sawah yang pas sesuai dengan penempatan Fisha yang sedang berkeluh kesah sekarang.


Ia mencari dari sawah satu ke sawah yang lainnya dan lama kelamaan ia pun menemukan Fisha yang sedang menangis tersedu-sedu sambil mengumpat dengan berteriak, ia hanya memandanginya dari kejauhan dan sesekali menggelengkan kepalanya saat dirasa umpatannya lucu, dan kadang Even menitikkan air matanya karena umpatan yang membuat haru.


Fisha semakin histeris isi marahnya berisi umpatan kekesalan adalah bermacam-macam :


“Heeeey brengsek! Semua cowok sama! Hanya Awan yang sayang sama aku, tapi ia juga sama sih ... karena ia juga meninggalkanku selamanya hingga meninggalkan luka, hiks, hiks ... hais!" umpat Fisha sambil memegangi dadanya yang sangat sesak

__ADS_1


“Asult ... kau juga keterlaluan, teganya kau membohongiku, aku kehilangan cintaku gara-gara kau ... aku kehilangan Maz Even! Dia meninggalkanku karena sebuah kesalahpahamanmu, kenapa ini semua terjadi padaku Tuhaaan! Kenapa! Apa aku gak pantas untuk bahagia? Kalau begitu cepat lebih baik Engkau ambil saja nyawaku, aku sungguh tidak kuat hais, haaaaaaa," teriak Fisha dengan kencangnya, ia yang tak kuat ia pun jatuh terjerembah dan duduk bersimpuh dengan frustasinya dan mengacak-acak rumput yang ada di sawah itu dengan ganasnya.


“Kenapa? Kenapa ... cintaku selalu miris, kenapa? Kalau cinta hanya datang untuk menyakitiku, kenapa harus hadir hiks, hiks, hiks, kenapa? Siapa yang bisa menjawabku hah, kenapa?" Fisha menangis dan semakin lama semakin disertai marah ia mencabik-cabik rumput dan mencabutnya hingga ke akarnya lalu melemparnya ke atas.


“Hey, kata siapa cintamu miris Sayang? Kata siapa?" sahut Even berjalan pelan dan berniat menghampiri Fisha, saat Fisha merenung dan meratapi nasibnya setelah puas ia dengan rumputnya, ia yang menunduk dan mendengar suara itu, ia lalu menebak-nebaknya dengan membatin.


Eh ... sepertinya aku mengenal suara ini, gak asing bagiku.


Fisha dengan cepat lalu menoleh dengan masih dengan duduk simpuhannya, lalu ia menatap tajam ke arah Even dengan mengusap semua air matanya dengan kasar. Ia pun lalu bangkit dan berdiri dengan tatapan membunuh dan siap menerkam.


“Aku selalu mencintaimu, hingga akhir hayatku, maafkan aku mengalah kemarin, aku tak ingin menyakiti hatimu, maafkan! Kemarilah!" perintah Even dengan merentangkan kedua tangannya berharap Fisha berlari dan memeluknya, namun yang ada Fisha menepisnya dan menendang kakinya.


“Berani-beraninya kau muncul lagi di depanku dengan entengnya, Sayang? Apa! Sayang? Bukannya kemarin kau menyuruhku memanggil Pak? Juga menyuruhku melupakanmu, sekarang apa-apaan kau ini menyebalkan, jangan harap kau!" maki Fisha dengan sekali lagi memukul Even, lali ia pun pergi meninggalkan Even tanpa menoleh dengan langkah yang gontai.


Sebenarnya aku merindukannya dan mengharapkan itu, tapi enak saja! Aku harus membalasnya biar tau rasa! Aku gak tau maksud dia kemarin sebenarnya apa, tapi aku gak mau tau sekarang, bagiku aku sangat kesal dengan sikapnya yang cemen itu. Batin Fisha, ia berjalan pelan sambil sesekali masih mengusap air matanya karena rasanya air matanya tak kunjung berhenti dengan sendirinya.


Sementara Even menatap Fisha dengan nanar dan tersenyum pilu, karena Fisha mengabaikannya.


“Maafkan aku Sayang, aku ngaku aku salah, aku cemen, namun itu kemarin, sekarang aku akan mempertahankanmu dan mendapatkanmu kembali," ucap Even dengan tegas dan semangat.


-------


Note :


Masih weekend ya tanggal merah jadi up tak beraturan karena doi di rumah dan Otor sibuk di dunia nyata hehe.


Like-nya jangan lupa terimakasih 🙏🤗❤

__ADS_1


__ADS_2