
Fisha menaruh handphone-nya di atas meja lalu notif masuk kembali, notif panggilan di jeritan hati istri indosiar pun berbunyi, Fisha pun melirik handphone-nya lalu mengambil handphone-nya dengan meraba tangan kanannya ke atas meja.
“Tumben si Tawon telpon, ada apa dia?” ucap Fisha sambil memegang hp-nya dengan menerka-nerka lalu menggeser tombol hijaunya.
“Halo? Assalamu'alaikum, tumben Won, ada apa? Kamu tau Awan sudah berangkat dia tak bersamaku, jadi jangan mencarinya di sini! Haha,” bentak Fisha dengan ketawa memberi Alby candaan agar tidak sepi menurutnya.
“Bukan! Aku menelponmu bukan karena itu, tapi karena ada sesuatu hal yang really urgent, itu ... Anu ...” Alby memutuskan kalimatnya karena dia tak sanggup takut Fisha syok.
“Apa? Kenapa? Jangan bertele-tele, sok keinggrisan juga kamu, hais.” Fisha frustasi dengan kalimat Alby yang menggantung.
“Dengerin, jangan kaget ya dan tarik napas dalam-dalam,” jelas Alby, lalu dia menghela nafas panjangnya.
“Hey, cepat katakan ...!” ucap Fisha dengan tidak sabaran.
“Itu Fish, si Bella, si Bella dia ... dia kabur dari penjara, haaaaah,” jelas Alby dengan berkali-kali menghela napas.
“Apa! Ka-kabur ... ti-tidaaaak aaaaa,” teriak Fisha, lalu sambungan telpon pun terputus.
“Halo, halo ... Fisha ... Fish ....” Alby panik dan mengecek handphone-nya yang ternyata telponnya dimatikan oleh Fisha.
Tut, tut, tuuuut .... (Sambungan telpon terputus).
Fisha memutuskan sambungan telponnya dengan Frustasi. Dia menggigil dalam selimutnya, dia tak tenang, gelisah dan menangis tersedu-sedu di dalam selimutnya.
Bagaimana kalau dia menyakitiku ... bagaimana kalau dia menyakiti Awan, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan Tuhaaaaan. Batin Fisha.
Sementara Alby pun gusar dibuatnya karena sambungan telpon Fisha diputus, dia gundah, takut Awan mengamuk karena Fisha yang syok dan sakit, karena dia belum sampai di Jogja, dia masih diperjalanan, Awan di dalam mobil pun hatinya tak tenang, ia pun gelisah dengan mengecek ulang apakah ada notif dari sang pujaan hatinya, namun sayang ternyata tiada apapun. Awan pun mencoba mengirim Fisha chat.
Uhu ... uhu ... uhu....
📤 Sayang kamu lagi ngapain? Apa tidur? Tapi masih jam 10 ini, masak udah tidur?
Tidak terbaca dan tak dibalas, membuat Awan mengirim pesan ulang yang berbeda.
__ADS_1
📤 Ney, apa kamu baik-baik saja? Balas dong! Aku sungguh khawatir dan hatiku rasanya tak tenang. 😮
Tetap terabaikan, karena si gadis mungil yang manis itu mengabaikan handphone-nya dan ia pun masih menangis di dalam selimutnya.
“Kenapa ini? Apa ada sesuatu? Coba aku telpon dulu.” Awan pun mencari nomor bernama Ney❤ lalu ia menekan tombol hijaunya.
Tut, tut, tuuuut tak dijawab.
Tut, tut, tuuuut masih diabaikan.
Tut, tut, tuuuut, suara nomer tidak aktif berada dijangkauan.
”Eh kenapa ini? Tadi aktif, terus sekarang mati, apa lupa tak dicas sama Fisha, tapi kenapa hatiku tak tenang dan bergejolak sakit sekali rasanya, apa terjadi sesuatu, tidak, tidaaak! Aku tak boleh berfikiran negatif, aku menghubungi sahabatnya saja, Sesil, Sasa, atau Alby, Ares mungkin ya ... mereka pasti bisa membantuku mengecek keadaan Fisha agar aku tenang,” ucapnya dengan kekhawatiran yang luar biasa.
Awan pun berencana menghubungi Sesil namun nihil, tiada jawaban, lalu menghubungi Sasa, nomernya tak aktif, menghubungi Ares juga no respond.
“Pada ke mana sih semua? Tak ada disaat membutuhkan seperti ini hmmm, awas ya kalian semuaaaaa,” teriak Awan dengan lirih dan geram.
“Kenapa Ar?” tanya mama Zara, beliau menatap Awan yang gusar dan tak tenang.
“Kakak jelek ketawanya dan senyumnya tak ikhlas, lagi menunggu balasan pujaan hati yaaa,” sahut Bulan dengan menggoda kakaknya, namun Awan cuek dia tak menggubris omongan adiknya itu, dia lalu memencet nomor Alby berharap hanya Alby yang bisa diandalkan.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Alby pun menghubungi Awan dengan sendirinya mendahului Awan, Awan pun lega dan tersenyum.
Panjang umur nie anak, benar-benar bisa diandalkan, yang lainnya gak tau pada ke mana, payah. Batin Awan.
Lalu Awan menggeser tombol hijaunya.
“Ya Bro, Assalamu'alaikum, panjang umur, baru mau tak hubungi kamu, ada apa Bro?” kata Awan dengan nada tak sabaran.
Wa'alaikumsalam, itu bro ternyata si Bella kabur dari penjara, dia sudah sembuh dari sakit jiwanya, lalu melarikan diri,” lontar Alby dengan nada bergetar takut.
“Apa?! Bagaimana bisa ceroboh sekali polisinya hais, gimana ini? Aku sungguh khawatir dengan Fisha,” balas Awan dengan dahi yang berkerut, dan memegang keningnya karena pusing memikirkannya.
__ADS_1
Mama Zara yang mendengar dia juga merasa syok karena pernah mendengar cerita Awan dulu, beliau pun mengusap pundak Awan dengan lembut dan menenangkan anaknya. Awan menatap mamanya dengan berkaca-kaca.
“Aku tak tau, emmm itu Wan, tadi aku sudah menghubungi Fisha dengan memberitahunya, lalu ia berteriak dan memutuskan teleponku, tapi aku mencoba menghubunginya lagi dan ternyata nomornya sudah tak aktif,” jelas Alby dengan lirih.
“Apa?! Alby ... Kamu benar-benar tidak waras, bagaimana ini? Cepat kamu lihat keadaan Fisha dengan Sasa atau pun Sesil terserah! sekarang! Aku sungguh khawatir, kabari terus info selanjutnya cepaaat!” perintah Awan dengan menekan semua kata-katanya, Alby lalu memutuskan panggilan teleponnya, Awan pun memejamkan matanya dan memijat pelipis keningnya dan tanpa di sengaja ia mengeluarkan air mata.
“Kamu kenapa Kak?” Awan hening tiada menjawab, mama yang melihatnya dia menatap Bulan dan menggelengkan kepala serta menaruh jari telunjuk di bibirnya, tanda kode diamlah dulu agar kakakmu tenang, Bulan pun mengangguk mengerti.
Inilah yang aku khawatirkan dari dulu, kenapa dulu Fisha memaafkannya, kenapa Fisha tak mengizinkanku untuk membunuh Bella saja, agar masalah selesai, ku rela melakukan apapun demi Fisha, kalau sekarang aku harus gimana, jauh begini, ternyata dari tadi hatiku tak enak karena masalah ini, dan aku merasakannya, Ney, sabarlah semoga kamu baik-baik saja, doaku terbaik, aku akan selalu menjagamu sampai titik darah penghabisan nyawaku. Batin Awan.
Lalu Alby pun dengan buru-buru mengambil mobil yang ada di garasinya, ia pun mengemudi mobilnya sambil di jalan mencoba menghubungi Sesil lama beberapa kali tak dijawab, lalu panggilan ketiga pun di jawab.
“Halo, kenapa Won? Crewet sekali kamu menghubungiku berkali-kali, kangen?” goda Sesil dengan nada mengejek.
“Hey itu tak penting sekarang, kamu bersiap-siaplah! Aku akan menjemputmu!” Perintah Alby dengan nada terburu-buru.
“Kemana?” tanya Sesil penasaran.
“Udah gak usah banyak tanya, kita mau ke Fisha, aku sudah di jalan mau sampai rumah kamu, cepat ya urgent gaspol, nanti aku jelasin di jalan.” Alby berkata panjang lebar, lalu dia mematikan telvonnya.
Tut, tut, tut ....
Sesil yang kebingungan dia tetap bersiap-siap dengan tampil apa adanya, dengan secepat kilat dia selesai bersolek, Alby pun membunyikan klaksonnya tanda sampai, Sesil membuka pintu lalu masuk ke mobil Alby.
-------
Note :
InsyaAllah lanjut lagi nanti yaaa, gimana panjang kan eps-nya ...😍
Kasih aku semangat terus yaaa ...
Maaf kalau kadang tak sempat balas komen, tapi aku like kok karena aku pasti membacanya, dan pasti aku mampir ke novel kakak-kakak semuanya dan aku sempatkan saling mendukung. Oke kakak-kakak kesayangan ... ❤
__ADS_1
Aku tanpa kalian bukan apa-apa ...
Like, vote & komen, makasih selalu ... 😘