Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Terpuruknya Fisha


__ADS_3

Ma, mana Awan? Tadi dia bangunin aku ... mana Ma? Hiks, hiks, hiks ...,” tanya Fisha sambil menangis.


“Sudahlah Sayang, kita harus sabar ya, agar Awan tenang, nanti setelah pemakaman kamu lihat saja flashdisknya barangkali ada sesuatu, baca buku diary pelan-pelan, kalau tak sanggup kapan-kapan saja ya dibacanya ....” Fisha mengangguk dan berjalan berdampingan bersama mama Zara.


mereka pun menuju ke arah Awan dan mereka siap memakamkannya karena sudah selesai di sholati tadi, Fisha menatap wajah Awan untuk yang terakhir kalinya dengan air mata yang menderas.


Alby, Ares, ayah Fisha dan papa Awan yang mengangkat jenazahnya Awan, semua pun mengiringi kepergian Awan dengan saling berpelukan. Fisha tak kuasa untuk berjalan, ia pun terseok-seok dan dibantu oleh ibu juga Sasa dan Sesil, mereka tau Fisha sangat terpukul, berulang kali Fisha jatuh dan sempoyongan, namun ia selalu bangkit padahal ibu dan yang lainnya menyuruh Fisha untuk istirahat, tapi ia menolaknya, katanya ini adalah terakhir kali ia melihat Awan di masukkan ke rumah terakhir, rumah yang gelap, rumah yang dingin dan sepi.


Ia berjalan sambil sekejab mengingat senyuman Awan dan tatapan mesumnya itu, dan mengingat kebersamannya bersama Awan, pelukan terakhirnya waktu itu yang sangat erat.


Andai waktu bisa diputar, aku akan memelukmu dengan erat, Hon ... dan tak akan aku lepas. Andai waktu itu kau tidak datang ke Malang karena ultah sialan itu, pasti kau masih bersamaku sekarang, semua ini salahku, salahku ... hiks, hiks.


Andai dan andai ... jadi ... waktu kau memelukku pas di Malang itu kamu sudah merasakannya? Terus sewaktu kau memelukku di rumah sakit kenapa kau diam saja tak bilang untuk yang terakhir dan melepaskanku? Segitunya kamu Hon, begitu teganya tak memberitahuku. Batin Fisha.


Dalam pemakaman, papa Aldi yang mengadzani Awan untuk yang terakhir kalinya, mereka semua tak kuasa dengan rasa yang tercekat di dalam hatinya, Asult juga datang untuk menghibur Fisha, ia mendekat namun Fisha tak memperdulikannya, setelah itu mereka menutup jenazah Awan dengan tanah dan jadilah gundukan tanah dengan nisan yang bertulisan Aris Setiawan, hari kematian Awan sama dengan hari kelahiran Fisha, ia sangat benci hari kelahirannya mulai saat ini, ia sangat merasa bersalah dengan Awan, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Pemakaman pun selesai, Fisha pun menaburi bunga di gundukan tanah itu, lalu duduk bersimpah dengan memegang nisan dan berderai air mata.


“Maafkan aku Hon ... andai waktu itu kamu tak mendatangiku pasti tak akan seperti ini, semua salahku ... hiks, hiks ... Hoooon ... Awaaaaan mega mendungkuuuuu ... kenapa kau tinggalkan akuuu,” teriak Fisha dengan syoknya, semua pun ikut menangis dan mendekat ke arah Fisha, Asult pun mendekati Fisha dan membantunya, Fisha yang sangat terpukul ia pun secara tak disengaja menyandarkan kepalanya di pundak Asult.


“Semua salahku ... hiks, hiks, hiks, semua salahku ...,” Sesal Fisha dengan menangis.


“Ndak, semua ini bukan salahmu, semua adalah kecelakaan Fish.” Asult mencoba menenangkan Fisha dengan mengusap-usap pundak Fisha. Ares yang melihatnya ia tersenyum kecut.


Kesempatan dalam kesempitan ... idih andai Awan melihatnya, dia pasti sungguh kesal, dia kan sangat membenci Asult mendekati Fisha. Batin Ares. Ia pun mendekat ke Fisha dan menyadarkan Fisha agar tak bersandar kepada Asult.

__ADS_1


“Fish, sudahlah ... kata Awan kamu harus selalu tersenyum untuknya, Awan kan sangat mencintaimu,” Fisha pun tersadar akan omongan Ares dan ia melirik ke Asult dan melepaskan sandarannya lalu ia berdiri dan mengangguk kepada Asult, Asult pun membalas dengan senyuman.


“Iya Fish jangan berlarut-larut dalam kesedihan, sekarang juga ulang tahun kamu kan? Happy birthday yaaa Fish, se-” Asult menggantungkan kalimatnya karena Fisha membungkam mulut Asult.


“Stoooop jangan diulang lagi! Aku benar-benar membenci semua ini ... Aku benci ... Awaaaan jemput aku saja ....” Fisha pun berlari meninggalkan semuanya dan tak tentu arah, semua pun mencari Fisha dengan rasa takut di hatinya, mereka semua takut Fisha trauma histeris seperti dulu dan sakit, karena hanya Awan yang bisa membuat Fisha tenang.


“Bagaimana ini? Fisha ke mana? Kamu ini Sult, gara-gara kamu! Sampai Fisha kenapa-kenapa awas kamu ya ...!" Bentak Sesil dengan wajah yang memerah padam. Semua mengenal Asult karena Ares yang bercerita. Sedangkan Asult hanya diam saja karena ia tak mau memperkeruh suasana, semua pun mencari Fisha ke sana ke mari.


“Ayo Res, kita ke sana dan Sesil juga Sasa kamu ke utara ya ... Kamu Sult, kalau mau bantuin kamu ke timur!” Perintah Alby menunjuk ke segala arah, mereka pun mengiyakannya.


“Kalau sudah ketemu balik lagi ke rumah Awan ya..!” Teriak Alby, lalu mereka mengangguk dan pergi mencari Fisha, sedangkan ibu Fisha menangisi anaknya itu bersama mama Zara.


--------------


Di sawah.


“Awan ... Mau kah kau mengajakku ... hiks, hiks, hiks ....”


“Hey di mana ini? Aku tersesat, ini ada di mana? Aku takut..” Fisha menengok ke kanan dan ke kiri dan sawah hari itu sangatlah sepi, membuat Fisha merinding.


Ia pun terduduk dengan lemas di hamparan sawah yang luas dengan masih menangis tersedu-sedu, lalu Fisha bangkit dan berada di tepi jurang sawah tersebut dengan berteriak sekuat tenaga dan memejamkan matanya.


“Awaaan ... Aku akan menyusulmu ... tunggulah aku ... Aku tak sanggup bila tanpamu ... kita akan sama-sama nanti ... hiks, hiks, hiks ....”


“Haha menyusul apaan ...! Jangan gila kamu ...!” ada seseorang cowok yang entah muncul dari mana menertawakan Fisha yang sedang menangis.

__ADS_1


“Mau ngapain kamu? Mau bunuh diri?” tanya cowok itu mencoba mendekati Fisha dengan perlahan, karena ia mau menolong Fisha agar tidak melakukan perbuatan gilanya.


“Jangan mendekat!” orang itu pun masih mendekat dengan satu langkah dua langkah.


“Aku ulangi jangan mendekat! Apa kamu tuli hah ...! Kamu jangan ikut campur! Semuannya jahat pasti mereka semua meninggalkanku, dan pasti akan bahagia apabila aku tiada!” Teriak Fisha dengan sesenggukan.


“Hey kata siapa? Semuannya pasti sekarang khawatir denganmu, oh ya kamu jangan gila, bunuh diri itu dosa dan juga sakit tau?” Mencoba merayu Fisha dengan perlahan mendekatinya.


“Masak? Kamu kata siapa?” tanya Fisha dengan menatap orang itu.


“Ya iya, coba bayangkan! Kamu tau kalau kamu lompat kan sakit, semua tulangmu patah, dan iya kalau mati, kalau enggak kamu lumpuh seumur hidup dan menyusahkan banyak orang lain mau?” Fisha berfikir dan menggeleng.


“Lah ya itu sakit tau, pasti nanti akan ada yang terbaik di dunia ini seperti pelangi, hidup tak akan berhenti hanya karena ditinggal pergi 1 orang saja.”


“Dan oh ya.. Apa kamu mau tau bunuh diri yang tak sakit? Coba Kalau kamu mau tau minum aja sianida atau obat nyamuk pasti akan perlahan mati, tapi ya sama sih kalau gak berhasil ya lumpuh juga dan malah penyakitan haha, jadi gak ada bunuh diri yang enak, semua ada dampaknya, paham?” Fisha mencerna semua kata orang itu, ia menangis sesenggukan dan pingsan.


Aduh orang ini menyusahkan saja.


-----------


Note :



Jangan lupa like setiap episode yaaa, terimakasih .... ❤❤❤

__ADS_1


 


__ADS_2