Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Pengorbanan Awan


__ADS_3

Flashback on.


Yang Awan bisikkan kepada dokter itu adalah ia yang bersedia mendonorkan matanya buat Fisha, ia sungguh sudah tak kuat untuk bertahan hidup, mama, dan papa yang mendengarnya mereka pasrah dan saling berpelukan tak kuasa menahan tangisnya, anak Kebanggaan jagoannya akan pergi meninggalkan untuk selamanya.


Awan pun melambaikan tangannya kepada mama Zara, ia ingin berpesan dan menyampaikan sesuatu banyak hal, mama Zara dengan langkah yang gontai dan masih menangis, beliau mendekat dan langsung memeluk Awan.


“Ma, Awan nitip ini, tolong berikan kepada Fisha ya Ma,” Awan melepaskan pelukan mama Zara lalu menyodorkan sesuatu ke tangan mama Zara berupa kotak kecil dan sepucuk surat, mama hanya mengangguk dan masih menangis.


“Ma, jangan menangis nanti Awan sedih,” memegang dadanya dengan nafas yang tercekat.


“Ma, Pa, tolong jaga Fisha untukku ... jangan lupa kunci itu Ma, semua barang yang ada di dalamnya untuk Fisha ya ... juga sampaikan maaf dariku dan jangan boleh ia menangis karena aku sudah menyatu dengan dirinya melalui mata nanti,” jelas Awan panjang lebar.


”Ma, antar aku ke Fisha, aku mau melihatnya dari kejauhan uhuk ... uhuk ... uhuk ... cepat Ma!” memegang dadanya yang terasa semakin berat.


“Tapi Nak, apa kamu kuat?” Awan pun mengangguk dengan wajah yang semakin pucat, mama dan papa tak kuasa, ia menuruti anaknya tersebut, beliau mengambilkan kursi roda buat Awan dan mendorongnya ke arah Fisha, ibu Fisha yang tau Awan datang beliau menghampirinya.


“Bu mau ke mana?” Fisha yang tau ibunya beranjak dia merasa ada sesuatu yang semakin aneh.


“Gak Ke mana Sayang, kamu di situ saja bersama Ayah,” jawab ibunya.


Ibu pun mendekat ke arah Awan dan memeluknya dengan menitikkan air matanya, lalu memandang Awan.


“Bu, maafkan Awan gak bisa menjaga Fisha lagi uhuk, uhuk, ibu gak usah khawatir mataku akan siap untuk Fisha, kita menyatu dalam raga Bu,” ibu yang mendengarnya beliau menangis tersedu-sedu dan berterimakasih kepada Awan karena dia rela berkorban dan begitu mencintai anaknya, beliau pun mencium semua wajah Awan.


“Kamu harus semangat Nak, kamu gak boleh menyerah, masih ada harapan 10%,” Awan pun menggelengkan kepalanya, ia masih menatap Fisha dengan sendu dan tersenyum, ia tau takdir jahat dan begitu ganas kepadanya dan nasib cintanya, namun ia ikhlas dia berpikir Tuhan lebih sayang dia dan merindukannya.


Ney, jaga diri ya dengan sebaik mungkin, meskipun kita tak berjodoh di dunia, kelak di akhirat kita akan di pertemukan, jangan khawatir aku akan melihat kamu di atas sana, bahagia ya jangan bersedih, kalau kamu merindukanku kamu bisa bercermin dan melihatnya lewat mataku yang mesum itu, kita sudah menyatu dalam raga, selamat tinggal Sayang, suatu saat nanti pasti akan ada yang menggantikanku dan menyayangimu dengan tulus, maafkan aku. Batin Awan.


“Ma cepat laksanakan operasi itu! Awan sudah gak kuat!” mendengar Awan seperti itu semuanya menangis, Fisha yang mendengar tangisan lirih ia pun curiga dan penasaran.


“Bu, ada apa? Siapa yang menangis?” tanya Fisha dengan mengerutkan dahinya.


“Gak ada Sayang, lagi berbicara sama dokter, ini habis ini kamu operasi, ayo bersiap-siap,” bohong ibu menutupi semuannya, karena kalau ibu bilang langsung, Fisha akan histeris dan tak mau melakukan operasinya dan alhasil pengorbanan Awan sangatlah sia-sia.


Flashback Off.


Fisha pun pingsan dan dibawa ke kamar rawat inapnya semula, Ibu pun berusaha membangunkannya dengan memberikan minyak di hidungnya dan menepuk-nepuk pipinya, Fisha pun akhirnya sadar dan mencari Awan kembali.

__ADS_1


“Bu, aku tadi bermimpi kan kalau Awan meninggalkanku ... iya kan Ayah ....” Belum sempat mereka menjawabnya dokter pun datang.


“Fisha, waktunya membuka perbannya, gak boleh langsung melihat ya harus mengedipkan mata dulu pelan-pelan, agar tak kaget dan mata rileks, penyesuaian karena baru kamu miliki, dalam hitungan ketiga jawablah pertanyaanku, siap ya.” Fisha pun mengangguk, dokter pun dengan tlaten membuka perban Fisha.


“1,2,3 ... berapa ini?” Dokter menyodorkan jari telunjuk ke depan Fisha. Fisha pun membuka matanya dan mengerjapkannya.


“1 Dok,” dokter pun tersenyum atas jawabannya dan bersalaman dengan Fisha, Fisha pun mengangguk dan tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Dokter pun mengangguk dan pamit


“Bu, Awan mana Bu, ayo anterin aku ke Awan, aku sungguh ingin melihat wajahnya dengan tatapan mesumnya itu dan ingin melihat senyumnya,” Fisha pun teringat Awan kembali dan melupakan Awan kalau sudah pergi untuk selamanya karena ia merasa syok.


“Nak, kamu harus tenang ya Nak, Awan dia sudah meninggalkan kita,” Fisha yang mendengar ibu berbicara ia mematung dan menangis tersedu-sedu lalu terkulai lemah.


“Gak mungkin Ibu, gak mungkin ... Ayah ini bohong kan?” tanya Fisha, ayah pun tak bisa berkata-kata beliau hanya menunduk pasrah.


“Dengarkan Ibu, kalau kamu merindukannya, tataplah wajahmu di dalam cermin ini,” ibu menyodorkan sebuah cermin berukuran sedang ke arah Fisha, Fisha pun bingunh dibuatnya.


“Maksud Ibu?” Fisha menatap ibunya lalu menatap cermin, ia lalu merasakannya lalu air mata semakin deras.


“Maksud ibu? Bu, Ayah? Sepertinya aku mengenal mata yang mesum ini, hiks, hiks, Ibu apa benar ini adalah mata ... hiks, hiks, hiks,” Fisha tak kuat melanjutkan kata-katanya, ia menangis tersedu-sedu dan menundukkan kepalanya.


“Iya Sayang, iya, kamu harus kuat.. Dia sudah berkorban untukmu, jaga mata itu dengan baik Nak, dia sungguh sangat mencintaimu, dia berpesan kamu harus selalu bahagai gak boleh menangis, kalau kamu menangis melalui mata itu, Awan akan sedih di atas sana karena ia merasakannya.


Setelah tau tempat Awan, Fisha dengan langkah yang gontai ia mendekat sambil mengusap air matanya berulang kali, ia pun membuka selimut yang menutupi Awan, ia memandang Awan yang sudah terbujur kaku dan sangat pucat berulang-ulang.


Mama, papa Awan sengaja belum membawa pulang jenazahnya, karena beliau menunggu Fisha untuk membuka perbannya dan Fisha bisa melihat Awan untuk terakhir kalinya di rumah sakit, beliau yang melihat cinta yang begitu besar dari anaknya dan Fisha, beliau sungguh tersayat hatinya, bagai di hantam batu besar dan sesak sekali di dadanya.


“Hon, aku datang ... lihatlah aku sudah bisa melihat wajahmu yang tampan ini, mana janjimu katanya akan memberikan senyuman di wajahmu, mana Hon, aku ingin melihatnya ... hiks, hiks, hiks ....


”Hon bangunlah ... apa mau kamu aku pukul hiks, hiks, jangan tinggalkan Aku ... Hon ... jangan pergi, aku mohon Hon.. Aku juga sangat mencintaimu.” Fisha memeluk erat Awan dengan sesenggukan, yang lainnya pun ikut menangis, semua sahabatnya yang mendengarnya dari Farsi, mereka dengan kencang menuju rumah sakit dan mereka pun melihat Fisha yang sangat sedih, semuanya tak kuasa menahan tangisnya.


Sesil dan Sasa pun mendekat ke arah Fisha dan memeluknya juga menenangkannya. Tapi Fisha tak membalas pelukan mereka, Fisha sibuk dengan pelukannya ke Awan.


“Fish, sabar ya kita semua ada di sini akan selalu bersama,” ucap Sesil menatap ke semua sahabatnya yang nanar.


“Iya Fish, yang ikhlas agar Awan tenang, kamu bisa kok melihatnya terus melalu matamu,” Sasa menimpali, ia tau mata itu dari Awan, semua sudah dijelaskan oleh Farsi. Fisha pun melepas pelukan Awan lalu memeluk kedua sahabatnya itu, Alby dan Ares pun mengikutinya dan mereka semua berpelukan lalu mereka memeluk Awan bersama-sama dan menangis bersama.


“Sil, Sa, By, Res, Maafkan Awan ya kalau ada salah sama kalian ... hiks, hiks ... Awan Sil ....” Mereka pun hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata, mereka hanya semakin mempererat pelukannya saling menguatkan.

__ADS_1


“Sudah ya.. Sekarang waktunya mengurus jenazah Awan,” Fisha tak kuasa dia pun melepas pelukannya dan terperosok jatuh di lantai dan terduduk juga termenung.


Hon, cintamu sangatlah besar terhadapku, hingga kau mendonorkan matamu untukku, aku akan menjaganya dengan baik, terimakasih untuk cintamu itu, aku tak kan melupakanmu, aku bahkan ingin menyusulmu, apa boleh Tuhaaan. Batin Fisha sambil menangis tersedu-sedu dan menunduk.


“Fisha sudahlah Nak, ini ada sesuatu untukmu dari Awan,” mama Zara menyodorkan kotak kecil untuk Fisha, Fisha menatap mama Zara dengan senyum yang dipaksakan.


“Apa itu Tante ....”


“Buka saja,” ucap mama Zara.


“Ini ... ini ... Awaaaan ... Kau ... sungguh tegaaa meninggalkanku hiks, hiks, Tuhaaaan.”


----------


Note :



Partnya panjang ...


semoga nanti segera terselesaikan, doakan ya kakak\-kakak *weekend* sibuk nemenin suami yang libur Authornya ...


Bermanja\-manja riya dulu hehe ...


Maafkan kisahnya lagi sedih ...



Kisahnya emang aku bikin berwarna\-warni nanti akan indah seperti pelangi seperi judulku itu agar sesuai😘 ...



Jangan lupa like\-nya dan dukung terus ya agar Author semangat ... Da ... Da ... ❤



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2