Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

“Hey, hey, hey ... tunggulah Sayang ... buru-buru amat sih!" ucap Even dengan langkah dipercepat yang masih membuntuti Fisha itu lalu ia menarik tangan Fisha dan menghadapkan Fisha ke arahnya.


“Kenapa sih? Kamu kenapa selalu muncul di kehidupanku? Kenapa!" tanya Fisha dengan kemarahannya sambil menundukkan kepalanya karena air matanya keluar dengan sendirinya, ia sangat kesal terhadap hatinya dan ia tak bisa mengendalikan perasaannya.


“Ayo ikut aku!" ajak Even dengan menarik tangan Fisha, Fisha yang masih bersedih dan menundukkan kepalanya ia menurut saja dan mengikuti Even sambil menatap tangan Even dalam-dalam.


Even mengajak Fisha ke arah luar rumah sakit yang sepi orang, lalu ia memegang kedua tangan Fisha dan menatapnya dalam-dalam.


“Sudah jangan menunduk! Lihatlah aku! Lihat!" Namun Fisha tetap menunduk, lalu dengan cepat Even mendongakkan dagu Fisha dan Fisha pun lalu menatap Even dengan wajah galaunya dan wajah sedihnya, lalu dengan cepat ia melepaskan tangan Even.


“Kamu kenapa seperti ini? Kenapa kamu sok perhatian kepadaku, juga kamu kenapa memanggil aku Sayang terus, kenapa? Apa kamu mau menghancurkan hatiku pelan-pelan?” tanya Fisha dengan meninggikan suaranya yang serak karena habis menangis itu.



“Bukan seperti itu, hanya saja aku-aku ....” Even ragu untuk menyatakan perasaanya karena menurutnya ini belum saat yang tepat untuk ia mengatakannya.


“Apa, kamu kenapa? Jawab!" Fisha semakin mendesak Even karena ia ingin tau apakah perasaannya juga sama seperti Even? Kalau bertepuk sebelah tangan ia tak akan mengharapkan lagi sesuatu yang menurutnya akan saling menyakitkan satu sama lain.


“Aku-aku mencintaimu!" balas Even dengan lantang karena ia semakin terdesak, ia pasrah atas jawaban Fisha menerima atau menolak sudah menjadi takdir hidupnya.


“Apa! Kamu yakin? Gak salah? Aku gak salah kan pendengaranku?” tanya ulang Fisha dengan syoknya menatap Even dengan nanar.


“Iya aku benar-benar sangat mencintaimu, meskipun kita tak mengenal lama, tapi kita selalu berjumpa berulang-ulang, sejak saat itu aku ingin selalu melindungimu dengan nyawaku, juga aku selalu melihatmu terus di sepertiga malamku," jelas Even panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


“Lalu?” tanya Fisha singkat dan terharu, ia ingin menuntaskan kegundahan di hatinya selama ini.


“Apakah kau juga menyukaiku? Aku bukan orang yang romantis seperti ABG biasanya yang memberi bunga, pandai merangkai kata cinta, memberi surprise dengan indah, namun aku adalah Even yang begitu banyak cinta untuk Fisha dengan segenap hatiku ini,” ujar Even menatap Fisha tulus, Fisha yang mendengar itu ia menangis dan menundukkan kepalanya lagi.


--------


Even yang tau itu ia mendekat ke arah Fisha lalu mengusap air matanya dengan lembut.


“Sudah jangan menangis lagi, kalau kamu tak menyukaiku tak apa, aku tak memaksa jangan menangis, aku tak mau melihatmu menangis, tersenyumlah!” tukas Even dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


“Maz? Aku juga men-cintaimu," balas Fisha dengan lirih. Even yang mendengarnya ia menahan senyumannya dan berpura-pura tak mendengarnya sambil memainkan hidungnya.


“Kamu bilang apa? Aku tak dengar." Even mengarahkan telinganya ke arah Fisha dengan menaruh telapak tangannya di daun telinganya.


“Ih kamu nyebelin, aku gak mau ngomong lagi, gak ada siaran ulang," sebal Fisha dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Gitu saja ngambek, sini aku peluk." Even berjalan mundur ke belakang lalu merentangkan kedua tangannya berharap Fisha memeluknya.


Fisha pun tersenyum lalu berlari ke arah Even, namun ia tak membalas pelukan Even malah Fisha menendang kaki Even. Lalu pergi berlari dengan cepat.


“Eh ... kamu nakal ya katanya cinta malah aku ditendang huh," keluh Even berpura-pura sebal sambil mengusap kakinya yang sakit. Fisha tak peduli ia malah menjulurkan lidahnya. Even yang begitu gemas ia lalu mengejar Fisha dan tertangkap.


Mereka pun ketawa bersama lalu tiduran di atas rerumputan yang ada di taman itu.


“Maz? Beneran kamu mencintaiku?" tanya Fisha lagi seperti meragukan Even.


“Iya, kamu gak percaya? Coba tatap mataku dan pegang dadaku." Fisha menatap Even atas perintah Even lalu saat mereka saling memandang, Even pun menarik tangan Fisha dan menaruh tangannya di dadanya. Fisha tersenyum saat merasakan dada Even yang berdetak kencang dan bergemuruh.


“Gimana?" ucap Even singkat.


“Suara dadaku?"


“Oh ... dada kamu ya? Iya Kencang sekali, itu kenapa? Apa ada bomnya di dalamnya kok serem begitu," canda Fisha dengan membungkam mulutnya menahan tawanya.


“Ish kamu ini Sayang, itu karena cintaku teramat dalam untukmu," serius Even sambil mencubit hidung Fisha yang mancung itu lalu mereka saling tumpang tindih kakinya bergantian dan memainkan kakinya dengan gemas.


“Pinter amat gombalnya," ejek Fisha dengan menatap Even.


“Lalu kamu bagaimana? Kenapa bisa cinta sama aku?" seru Even menatap balik Fisha, namun Fisha hanya tersenyum dan menggedikkan bahunya lalu menghentikan kakinya.


“Sudah jangan melihatku terus menerus, aku sungguh sangat tampan emang sejak lahir," sambung Even dengan tatapan mesumnya dan senyuman yang mengalahkan mentari membuat hati Fisha berdesir dan tersipu malu.


Eh dia cara berbicaranya mirip sekali ya sama Awan dulu, dan tatapan itu juga sama persis, senyuman itu juga. Batin Fisha yang masih menatap Even, ia pun menitikkan air matanya secara tiba-tiba, membuat Even heran dibuatnya.

__ADS_1


“Hey, kenapa kamu menangis lagi?" Even lalu bangkit dari tidurnya dan terduduk sambil membantu Fisha agar terduduk pula, saat mereka sudah sama-sama duduk di atas rerumputan, mereka saling berhadapan dan menatap lama, sambil Even menghapus air mata Fisha.


“Kenapa? Bilang sama aku!" lanjut Even dengan memegang pundak Fisha.


“Aku ingat Awan, kamu mirip sekali dengan Awan, semua omongan kamu mirip dengannya,” terang Fisha membuat Even menghela nafas dengan kesal karena rasa cemburu dan menatap Fisha dengan sebal.


“Eh kenapa kamu seperti sebal begitu? Tatapan matamu itu menusukku tau gak Maz?" kata Fisha dengan nada manjanya.


“Habisnya kamu membandingkanku sama Awan, jelas beda lah, jelas tampan aku," balas Even dengan memanyunkan bibirnya dan bersedekap.


“Iya kan Awan emang cinta pertamaku, sedangkan kamu itu cinta terakhir aku, semoga ya hehe, jadi jangan cemburu sama orang yang sudah meninggal, lucu sekali kamu itu haha," ledek Fisha dengan tertawa terbahak-bahak lalu mendorong bahu Even karena ia gemas.


Dari kejauhan ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka berdua, ia menatapnya dengan kesal, dengan rasa iri dan marah, sambil mendorong kursi rodanya berjalan menghampiri Fisha dan Even.


Mereka semakin akrab, bukannya Fisha gak mencintai dosen itu? Tapi kenapa seperti itu? Apa aku harus kehilangannya lagi untuk kedua kalinya, kenapa aku selalu kedahuluan orang sih, dulu si Awan itu, terus udah meninggal masak aku kalah terus, ini tak boleh dibiarkan, Fisha pokoknya milikku. Batinnya dengan geram dan ia mendekat ke arah yang sedang kasmaran.


“Fishaaaa ...." Fisha yang dipanggil menoleh dengan cepat.


”Mengganggu saja!" ucap Even lirih namun Fisha yang mendengarnya ia melirik Even dengan mengkomat-kamitkan bibirnya agar Even diam.


“Ada apa?”


“Aku-aku-”


------


Note :


Tuh kan Otor balik lagi, jangan lupa like-nya, dukungan kalian sungguh berarti, jangan habis baca langsung kabur, itu seperti mematahkan hati Otor berulang-ulang 😣🙄🙊, ❤❤❤ buat yang gak pelit like.


kiss online. 😘 tinggalkan jejak komen biar rame. 😑


Juga biar tau kekurangannya.

__ADS_1


Terimakasih. 🙏


__ADS_2