
Even yang mendengar suara manis seseorang yang sedang di teleponnya itu ia menahan tawanya dan seketika letihnya terasa hilang. Ia tidur berguling-guling, bangun, tidur lagi, tersenyum sendiri sambil memeluk guling dengan gemasnya hanya gara-gara telepon itu.
“Ini aku? Orang tampan sedunia,” ucap Even dengan entengnya dan percaya diri sekali sambil tersenyum.
“Siapa? Aku gak kenal, nomer baru lagi! Sudah aku matiin bye!” balas Fisha dengan ketus.
“Hey Sayangku? Ini aku masak gak kenal sih ....” Even semakin gencar menggoda Fisha, membuat Fisha geram dibuatnya.
“Apa! Sayang? Sembarangan, kepala lo peyang!” bentak Fisha dengan kasar.
“Eh tunggu, tapi sebentar kayaknya aku mengenali suara ini, apa jangan-jangan kau ....” Fisha berfikir sambil menggantungkan kalimatnya.
“Ya Anda benar!” Even menyahutinya dengan kencang membuat Fisha kaget sambil mengelus dadanya.
“Eh kampret! Benar kau itu Venano gak jelas itu!” maki Fisha dengan ngototnya.
“Slow, slow, aku gak tuli ... lagian kamu gak sopan sekali, bukannya aku lebih tua darimu, panggil aku kok nama saja!” Even tak terima panggilan dari Fisha.
“Lantas? Mau apa? Apa Abang saja?” tawar Fisha dengan menahan tawanya.
“Apa! Abang? Tidak, tidak! Emang aku Abang tukang bakso mari ke sini hmmm,” tolak Even dengan meninggikan suaranya.
“Emmm bagaimana kalau Sayang, Honey, boleh tuh,” usul Even dengan pengharapan lebih.
“Hon-Ney? Apa!” Fisha berfikir ulang dengan lama akhirnya dia berteriak.
“Tidaaaak! Sembarangan!”
Tut, tut, tut telepon terputus Fisha mematikan teleponnya. Fisha melamun karena ucapan Even tadi menyebut kata honey ia teringat Awan seketika, Fisha langsung membuka handphone-nya dan membuka video Awan tersebut.
“Hon, apa kau merindukanku? Maafkan aku ya? Sudah tak seberapa mengenangmu lagi, tapi aku harus bangkit dari kepurukanku, kamu bahagia kan kalau aku bahagia?” ujar Fisha mengobrol sendiri dengan handphone-nya yang tertera video Awan yang waktu itu berada di flashdisk ia masukkan copy paste ke dalam handphone-nya.
Fisha berulangkali membuka videonya hingga ia sangat mengantuk dan tertidur terlelap, ia sudah melakukan sholat isya' tadi setelah sampai kos pas Alby mengantarnya tadi jadi aman baginya meskipun tertidur dengan sendirinya, tanpa dia harus bersusah payah bangun kembali nanti.
Sementara Even di kamarnya ia sedikit gelisah karena Fisha mematikan teleponnya secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Hmmm kenapa teleponku tiba-tiba dimatikan? Apa dia bersedih dengan candaanku? Apa aku salah? Sebentar aku ingat dulu, aku tadi bilang honey?” Even berfikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, lalu ia memukul kepalanya pelan saat mengingat sesuatu.
“Haha bodohnya kamu Even, bodoh! Padahal Alby sudah bercerita panjang lebar dan kamu tahu itu! Jelas Fisha sekarang sedih, kamu lupa kalau honey itu panggilan sayangnya pada mantan kekasihnya yang pergi untuk selamanya hah?” maki Even terhadap diri sendiri sambil menunjuk-nunjuk badannya sendiri.
”Aaaaa bagaimana ini?” teriak Even frustasi sambil mengacak-acak rambutnya hingga tak beraturan. Ia lalu membangunkan dirinya dan bersiap-siap wudhu sholat isya' dengan khusyuk, selesai itu ia duduk di tepian ranjang sambil bergumam sendiri.
“Sudah terlanjur, besok saja aku coba chat dia kembali dan minta maaf padanya.” Even menyudahi ngobrol sendirinya, ia lalu membaringkan dirinya dan menyelimuti dirinya kembali di ranjang dan memejamkan matanya lalu ia tertidur dengan nyenyak karena sangat penat.
----------
Fajar pun menyingsing, Fisha yang mendengar alarm ayam jagonya dengan kencang, seperti biasanya ia langsung menunaikan sholat shubuhnya, ia lalu memasak sedikit untuk dirinya sendiri, ia terbiasa berhemat jadi apa-apa harus mandiri, ia juga berniat nanti akan melamar pekerjaan agar gajinya lumayan buat tambahan jajan, begitu pikirannya, tanpa harus sering menyusahkan kedua orang tuanya karena uang jajannya.
Setelah dirasa selesai, ia pun membersihkan dirinya dan sarapan pagi, ia tak tidur lagi karena kuliahnya dimulai pukul 07.00, ia pun bersiap-siap dan segera berangkat kuliah.
Saat berjalan dari arah kosnya ia kebetulan ada seseorang yang merangkulnya dari belakang membuat Fisha kaget dan hampir memukulnya.
“Eits apaan? Ini Ares tau?” Ares memasang kedua tangannya di depan untuk melindunginya dari hantaman Fisha.
“Ehehe sorry, aku kira siapa tadi, kan aku kaget jadi spontan, lagian tumben kuliah kamu juga pagi, kebetulan sekali,” Fisha terkekeh sambil memandang Ares.
“Iya kebetulan dosennya memajukan jamnya lebih cepet karena katanya mau ke luar kota!” jelas Ares sambil mengajak Fisha berjalan kembali dengan menggandengnya.
Fisha berjalan terus tanpa memperdulikan ada seseorang di belakangnya membuntutinya dengan tersenyum dibuat semanis mungkin, berharap Fisha menoleh, namun Fisha yang sedang asik melamun sambil berjalan ia tak tanggap dengan seseorang di belakangnya.
Asult yang tak diperdulikannya ia lalu berjalan cepat dan mengagetkan Fisha dengan berada di depan Fisha dengan berteriak kencang.
Dor ... suara mencoba mengagetkan disertai hentakan kaki Asult membuat Fisha benar-benar terkejut dibuatnya.
“Hey kamu ini! Suka sekali membuat jantungku copot, mau kamu aku bogem?” tawar Fisha dengan mengangkat kepalan tangannya ke arah muka Asult, Asult mengangkat kedua jarinya membentuk huruf pis sambil geleng-geleng kepala.
“Ndak lah hehe, habisnya kamu, aku di belakangmu kamu cuek sekali, jadi aku mencoba mengagetkanmu!” kilah Asult dengan senyumannya yang khas.
“Lah mana aku tau? Emang aku peduli?”
“Iya juga ya hehe, oh ya gimana kabarmu? Lama kita tak jumpa,” tanya Asult saat berada di depan fakultas yang sama.
__ADS_1
“Ya seperti yang kamu lihat, aku selalu cantik dan mempesona, lagian lama tak jumpa apaan? Bukannya cuma 3 hari kau tak melihatku?” protes Fisha dengan menempeleng kepala Asult pelan.
“Bagiku 3 hari bagaikan 3 bulan,” balas Asult dengan lebaynya.
“Sudah jangan merayuku, tak mampan! Kenapa gak sama dengan 3 tahun aja biar keren kau menyaingi syair para pujangga,” ejek Fisha dengan nada sedikit meninggi.
“Boleh juga tuh.”
“Bener-bener tidak waras kamu! Ya sudah aku masuk dulu bye,” Balas Fisha dengan nada malasnya sambil berlalu pergi, sedangkan Asult masih memaku dan memperhatikan Fisha yang hanya terlihat punggungnya.
“Hey sudah jangan dilihatin terus, gimana udah mendapatkan hatinya?” seru temennya Asult mendekati Asult dengan merangkul pundaknya.
“Belum, dia susah sekali untuk di dekati, sepertinya aku punya saingan baru?” keluh Asult dengan nada kecewa.
“Siapa?” tanya temennya lagi.
“Ada dech pokoknya, ayo masuk!” ajak Asult masuk kelas.
Di kelas Fisha, Fisha masuk dengan memainkan bolpoinnya dan terngiang suara Even yang berat dan khas itu.
“Hmmm kenapa suara kutu kupret itu menggangguku?”
“Assalamu'alaikum semua? Kenalin saya dosen baru di sini!” ucap dosen baru itu, semua berbisik karena dosen baru yang tampan dan menawan.
Fisha yang asyik melamun ia seperti tersetrum dan tersentak mendengar suara itu, ia pun melongo.
“Apa! Kamu?” teriaknya.
----------
Note :
Otor upnya kemalaman ya hehe sorry! 😁🙏❤
Jangan lupa like-nya ya kesayangan, semakin seru dan semoga segera end yang membekas di hati 😂.
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel Otor satunya juga ya tak kalah serunya dan menegangkan. 😎
Terimakasih .... 💋