Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Tragis


__ADS_3

Fisha pun sampai di tempatnya Awan, ia pun meraba sekelilingnya, Awan yang melihat Fisha ia tersenyum dan sedih karena keadaan sang pujaanya itu.


“Hon, kamu di mana? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Fisha dengan air mata yang masih menetes. Ibu dan ayah Fisha pun mendekatkan Fisha ke ranjang Awan yang begitu lemah tak berdaya.


“Hmmm aku tak apa Sayang, kamu kenapa?” tanya balik Awan, air mata Fisha pun semakin deras mendengar suara Awan yang sangat lemah itu.


“Begitu katamu tak apa? Kamu harus sembuh ya Hon, kita akan sama-sama selalu,” Awan pun tersenyum dan menangis namun Fisha yang buta tak melihatnya.


“Senyumlah Sayang, aku ingin melihatmu tersenyum,” pinta Awan dengan suara yang lirih. Fisha pun tersenyum yang dipaksakan sambil menahan air mata yang terus menerus keluar.


“Aku-aku.. Ingin lihat kamu tersenyum ... tapi bagaimana caranya? Aku buta, aku sekarang buta ... Hiks, hiks ... Aku cacat ....” Awan mengulurkan tangannya ke arah Fisha dan memegang tangan Fisha, Fisha yang merasakan itu, ia meraba wajah Awan yang tersenyum dan menangis lalu memeluknya.


“Uhhh,” pekik Awan


“Kamu kenapa? Apa sakit?” Awan menggelengkan kepalanya.


“Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatirkan aku, tenanglah Sayang, kamu akan segera melihat keindahan dunia,” ucap Awan dengan menahan sakitnya.


Dokter pun datang dan memeriksa Awan lalu geleng-geleng kepala, membuat semua gusar.


“Kenapa Dok, ada apa?” Mama Zara panik dan bertanya kepada dokter, namun Awan mengkode semuanya dengan jari telunjuknya ditaruh di bibirnya, agar mereka semua diam dan tak mengatakan sesuatu yang membuat Fisha khawatir.


“Kenapa Dok? Ada apa? Bu ... Yah ... Ada apa? Kenapa semua diam ... Apa ada yang kalian sembunyikan dariku,” kata Fisha dengan kebingungannya.


“Gak apa-apa Sa-yang, kamu ke-luarlah! se-telah ini ka-mu akan di operasi, a-da yang men-donorkan mata buat kamu!” jelas Awan dengan terbata-bata dan nafas tersengal.


“Siapa? Apa bener Dokter? Aku bisa melihat lagi? Awaaan aku sangat senang aku akan segera bisa melihatmu tersenyum lagi ...,” ujar Fisha dengan bahagia dan menangis karena terharu.


“Iya a-ku juga,” Awan pun menarik tangan dokter dan membisikkan sesuatu, dokter pun sedih lalu beliau mengiyakannya.


“Apa benar Dok? Yang dibilang Awan?” tanya ulang Fisha dengan tersenyum.


“Iya benar,” jawab dokter dengan wajah serius.

__ADS_1


Sedangkan kedua orang tua Awan dan Fisha mengernyitkan dahi karena tak tau, mereka benar-benar penasaran siapa yang akan mendonorkan mata untuk Fisha.


“Ney, bo-lehkan aku me-me-lukmu sekali lagi?” tanpa menjawab pertanyaan Awan, Fisha pun memeluknya dengan kencang dan menangis di pelukannya.


“Aku sungguh sangat men-cintaimu Ney, sungguh! Kamu harus selalu bahagia ya, jangan pernah melupakan aku ....” Awan berkata dengan rasa perih di hatinya, ia pun menangis tanpa bersuara, Fisha yang merasakan punggungnya basah ia pun tau Awan sedang menangis.


“Hon, sudah janganlah menangis, kita akan sama-sama, aku akan selalu memandangmu, aku juga sangat mencintaimu, katanya kamu akan pindah ke Malang kan demi aku ....” Awan mengangguk dan sudah tak kuat lagi, ia menatap dokter dan segera melakukan operasi Fisha.


---------


Operasi pun dilaksanakan, Fisha pun heran dibuatnya karena ia merasa kenapa sangat tergesa-gesa dalam menjalani operasi, hatinya pun merasakan ada sesuatu yang tak beres dan mengganjal.


Ia pun masuk ke ruang operasi dan tidur di atas brankar, Awan yang berada di dalam ruang yang sama dengan Fisha, ia pun tersenyum dan menatap Fisha penuh.


Ney ... maafkan aku yang tidak bisa lagi mendampingimu, mungkin takdir kita hanya sampai di sini, tapi yakinlah Sayang, aku sungguh sangat mencintaimu sampai ujung nafasku, aku rela segalanya buatmu, asalkan kau bahagia. Batin Awan dengan menitikkan air mata.


“Apakah sudah siap?” Fisha pun mengangguk, Fisha yang mendengar suara dokter itu, ia pun merasa gugup, andai Awan menemaninya begitu pikirnya, ia juga merasa bersyukur karena bentar lagi ia dapat melihat Awan dengan tatapan mesumnya dan senyumnya yang mengalahkan mentari itu.


Dokter pun berkutat di dalam dengan alat-alat medisnya, di luar kedua orang tua mereka sangatlah khawatir dan menangis, apalagi orang tua Awan, mereka begitu sangat terpukul.


“Bu antarkan aku ke Awan.,” ucap Fisha dengan mata yang masih diperban.


“Nanti ya Sayang, kamu belum pulih!” ibu beralasan agar Fisha mau menundannya.


Tapi, Bu ... Aku sungguh ingin melihatnya ... firasatku sungguh tak enak,” balas Fisha dengan manahan tangisnya.


“Iya Sayang ... Ibu tau ... tunggu sebentar!” ibu melirik ke arah ayah Aldi dengan menahan tangisnya, ayah pun mengangguk dengan berat hati karena tak tega dengan anaknya yang terus merengek itu.


”Baiklah ayo, kamu harus tersenyum ya ... pesan Awan kamu gak boleh menangis ....”


“Maksud Ibu?” ibu menuntun anaknya itu tanpa berkata apa-apa.


“Awan ... Aku sudah selesai operasi ... Kamu gimana apa senang?” tanya Fisha, namun hening dibuatnya, ia pun mendekat ke arah Awan dengan dituntun oleh ibu. Fisha pun membuka selimut Awan dan memegangi wajah Awan yang dingin itu.

__ADS_1


“Bu ... kenapa Awan sangat dingin sekali? Kenapa dia tak berbicara apa-apa saat aku datang, apa dia marah padaku? Bu ... apa mataku udah sembuh dan boleh dibuka? Aku sungguh ingin melihatnya?” Namun semuanya tiada jawaban, yang ada hanya isakan tangis yang terdengar.


”Yah, Ayah, kenapa dengan Awan? Kenapa semua menangis? Kenapa tak ada yang menjawabku? Kenapa? Hon ... Kamu baik-baik saja kan? Ayo peluklah aku ... kasih aku ucapan selamat ... Kamu kok diam saja ...,” Fisha menggoyangkan bahu Awan tapi nihil dia sama sekali tak bergerak. Ibu yang melihat Fisha kebingungan ia mendekat ke arah anaknya dan memeluknya.


“Fisha ... Sayang ... Awan telah pergi meninggalkan kita semua, dia berpesan ....” Belum selesai ibu menyelesaikan kalimatnya, Fisha pun tubuhnya bergetar hebat, ia pun terkulai lemah dan meremas bajunya, ia pun menangis dan menjerit.


”Tidaaak, tidak mungkin ... Kalian bohong ... Awan tadi berjanji padaku tak akan meninggalkanku, dia bilang dia tak apa-apa, jangan bercanda! Aku tak suka itu ... hiks, hiks, hiks ....” Fisha pun berdiri dan meraba mendekati Awan dan mendekatkan wajahnya di wajah Awan.


“Hon ... Mereka semua bohong kan ... Kamu tak apa kan ... Kamu hanya tidur kan ... Hon ... jawab aku ....” Fisha menghapus pipinya yang basah dengan tangannya.


“Hon ... jangan bercanda ... coba lihat! Aku sudah tersenyum ... katanya kamu ingin melihatku tersenyum ... bangunlah Sayang ... tidaaak bangunlah ... Aku mohon ... Aku tak terbiasa bila tanpamu ... hiks, hiks, Tuhaaaan tolong ...!


Semua yang melihat Fisha histeris ia pun mendekat dan menenangkannya, Fisha pun tak kuasa, ia pun pingsan.


-------------


Note :



Lanjut nie ... insyaAllah Nanti ya ... Author lagi sibuk mengupas bawangnya ... maafkan ... 😭


Ingatlah ... jodoh akan datang dengan berjalannya waktu seperti pelangi suatu saat nanti, gapailah pelangimu, setelah hujan pasti akan ada pelangi ... 😎



Makasih yang selalu baca cerita recehku ... dukung terus ya ... Allah yang membalasnya .... ❤👍⭐⭐⭐⭐⭐



 


 

__ADS_1


 


__ADS_2