
Di dalam mobil Alby, Sesil menatap Alby penuh dengan tanda tanya, Alby yang mengerti dia mengangguk lalu menjalankan kemudi mobilnya. Lalu dia bercerita kronologinya seperti apa, Sesil pun berwajah pias karena khawatir dengan sahabatnya itu, ia pun mencoba menghubungi Fisha, namun nihil telponnya tak aktif, ia pun mengechat Sasa agar segera datang ke Fisha, dan menjelaskannya, Sasa yang membacanya dia juga panik lalu pergi ke rumah Fisha samping rumahnya saja.
Hanya beberapa langkah Sasa sudah di depan pintu rumah Fisha, sedangkan Ares yang diberitahu Sasa tadi, dia sudah ada di jalan dan beberapa menit lagi sampai, sama dengan Alby dan Sesil pun demikian, Sasa pun mengetuk pintunya.
Tok, tok, tok ....
“Assalamu'alaikum, Bu.. Ini Sasa Bu.” Sasa mengetok pintunya dengan khawatir dan berkomat-kamit ria mengucapkan lantunan doa, semoga Fisha baik-baik saja begitu gumamnya.
“Wa'alaikumsalam Nak, iya tunggu sebentar Nak,” ucap ibu dari dalam rumah dengan segera membuka pintunya.
“Ada apa Nak? Silahkan masuk Nak Sasa, sendirian aja? Mau minum apa?” tawar ibu kepada Sasa, Sasa pun tersenyum kecut dan menatap ibu dengan nanar. Ibu yang ditatap seperti itu merasa heran dan khawatir.
“Kenapa Nak? Mau bicara apa? Silahkan duduk.” Ibu mengayunkan tangannya ke kursi agar Sasa segera duduk dan menceritakannya.
“Di mana Fisha, Bu?” tanya Sasa dengan menengok ke sana ke mati mencari sahabatnya itu.
“Oh, Fisha lagi di kamar Nak, kenapa? Mau melihatnya masuk saja.” Sasa pun mengabaikan pertanyaan ibu, ia langsung pergi ke kamar Fisha dengan secepat kilat, ibu pun mengikutinya karena semakin heran dibuatnya.
Tok, tok, tok ....
“Fisha ... ini aku Sasa, buka pintunya.”
“Fisha ... aku masuk nie kalau kamu tak menjawabnya,” izin Sasa lalu membuka pintunya, Sasa pun masuk bersama ibu, ia mencari keberadaan Fisha yang sepi dan dia melihat Fisha ada di bawah selimut dengan selimut yang bergetar.
Ibu pun penasaran, tumben anaknya jam segini tidur dan menutup dengan selimut, beliau pun membuka selimutnya dan terkejut karena Fisha menggigil dan berwajah pucat.
“Putriku ... hey Nak kamu kenapa? Hey badanmu panas sekali.” Ibu menyentuh kening Fisha dan seluruh badannya, dia pun terkejut lalu berlari mengambil air yang dimasukkan ke dalam wadah dan handuk untuk mengompresnya.
Ibu pun merawat Fisha, Sasa pun menatap sahabatnya dengan sedih, lalu pintu pun berbunyi kembali.
--------
Tok, tok, tok ....
“Assalamu'alaikum, Bu ...,” ucap Sesil, Alby dan Ares bersamaan.
__ADS_1
Sasa pun berlari turun ke bawah untuk membuka pintunya, karena ibu sedang merawat Fisha yang sakit.
“Wa'alaikumsalam, yuk masuk saja!” ajak Sasa, mereka pun mengangguk lalu Sasa berjalan mendahului mereka dan mereka pun membututi dari belakang.
“Sa, Fisha gak kenapa-kenapa kan?” tanya Sesil sambil menaiki tangga dengan nada lirih karena khawatir. Mereka pun berhenti di tangga sebentar dan saling berbincang panik.
“Nanti kamu lihat sendiri, coba ada Awan, dia pasti tenang, apa kita hubungi Awan saja? Tapi kasihan dia, mungkin sekarang baru sampai Jogja, jelas capek dia,” balas Sasa dengan wajah yang ditekuk.
“iya kita telvon Awan saja, dia tadi bilang sama aku, kalau ada apa-apa aku disuruh bilang, kalau gak bilang dia ngamuk, dan juga soal dia ke sini enggaknya terserah Awan yang penting kita sudah bilang saja, agar kita tak diamuknya,” sahut Alby dengan mengambil handphone-nya yang ada di dalam saku celananya.
Alby pun mencari nomor Awan lalu menghubunginya.
Tut, tut, tut .... (Terdengar nada yang tersambung)
“Halo? Gimana? Fisha gimana?" tanya Awan dengan tak sabar.
“Em itu, Fisha sakit Aw, dia demam tinggi dan menggigil kata Sasa, ini kita baru sampai mau melihat ke kamarnya,” jawab Alby dengan nada bergetar takut Awan marah.
“Apa?! Ya ampun Fisha .... kenapa bisa seperti ini? Aku harus gimana ini Al, aku baru aja sampai Al di sini, apa aku pulang saja sebentar untuk melihat Fisha, aku jadi tak tenang di sini, coba aku punya ilmu menghilang pasti langsung ke sana secepat kilat,” lontar Awan dengan nada mendayu-dayu karena takut terjadi apa-apa dengan pujaannya itu.
“Lagian jangan pulang dulu nanti kita kabarin perkembangan Fisha, kalau dia baik-baik saja kamu gak usah pulang, kalau Fisha melihatmu malah ia semakin sedih dan gak mau ditinggal lagi,” jelas Alby, Awan pun mencerna kata-kata Alby lalu menyetujuinya.
“Kamu pokoknya kasih kabar aku ya setiap menit perkembangan Fisha, oke!” perintah Awan.
“Iya beres setiap detik akan aku kabarin,” ucap Alby dan Awan pun terkekeh.
“Udah dulu bye,” Alby menyudahi telponnya.
Mereka pun masuk ke kamar Fisha dengan langkah yang hening, ibu yang melihat mereka pun menatap mereka satu persatu agar mereka menjelaskan, kenapa Fisha jadi seperti ini, lalu ibu menggiring mereka untuk ke luar kamar dan penataran di luar.
“Sebenarnya, apa yang terjadi Nak? Nak Sesil, Nak Alby, Nak Sasa, Nak Ares.” Ibu mengabsen semuanya agar mereka mau menjawab pertanyaan ibu. Lalu Sesil pun yang menjawab pertanyaan ibu.
“Ibu, Fisha mendengar kabar kalau si Bella kabur dari penjara.. Makanya ia syok dan kembali trauma lagi.” Sesil menatap ibu lalu menunduk, mereka semua pun menunduk sedih dan menyesal karena tidak bisa menjaga Fisha dengan baik.
Ibu yang mendengarnya terkulai lemas badannya seperti tak bertulang, ibu pun terduduk di lantai dengan menatap kosong ke sembarang arah dengan air mata tiba-tiba jatuh dengan sendirinya. Mereka yang melihat ibu seperti ibu, mereka mendekati ibu dan duduk bersimpah menenangkan ibu.
__ADS_1
“Bagaimana bisa? Hiks, hiks, bagaimana kalau dia menyakiti Fisha kembali? Mana janji ibunya akan menjaga dengan baik anaknya dan meminta maaf? Kalau sampai kejadian kejahatan terulang kembali, aku akan bunuh anak itu, hiks hiks hiks.” Ibu berucap dengan menangis campur amarah, semua sahabatnya Fisha pun ikut menangis lalu mereka berpelukan bersama dengan erat meratapi kesedihannya.
Di dalam kamar Fisha pun gelisah dengan bercucuran keringat dingin dan berteriak histeris.
“Awaaaan ... tolong aku ... lindungi aku ... jangan pergi ... jangan tinggalkan aku ... aaaaaaa”
Mereka yang mendengar dari luar langsung kelabakan masuk dengan kaget lalu mengecek Fisha, ibu mengecek suhu badan Fisha, beliau kaget karena suhu semakin panas bagaikan gunung berapi, ibu pun menelvon dokter pribadi Fisha. Dokter pun mengiyakannya dan segera datang. Ibu juga menelvon ayah, ayah pun mengiyakannya dan segera pulang karena khawatir terhadap putrinya.
Kenapa nasibmu malang sekali Nak, kalau bisa memilih, biar ibu saja yang menggantikanmu. Batin ibu.
Lalu Alby merogoh kantongnya dan menghubungi Awan. Menjelaskan semuanya dengan detail.
“Apa?! Baiklah ....”
-----
Note :
Aku balik lagi nie kakak-kakak kesayangan, makasih apabila kalian menyayangi karya recehku ini.
Jangan lupa dukung yang kenceng ya, nanti kalau oke aku balik lagi, sekarang mau urus si comel dan perut dulu, da ... da .... 😂
Unch lophyupolepel .... 💋
Allah yang membalas kalian semua .... ❤
---------
Mampir juga yuuuk ke karya recehku kedua.
**Pangeran Gayung & Putri Tidur.
Genre komedi romantis dan supernatural. ❤**
Semoga kalian suka, sama serunyaaaaa 😘
__ADS_1