Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Debat


__ADS_3

“Aku membutuhkanmu dan merindukanmu," ucap Asult dengan senyuman menggodanya.


“Heleh rindu, rindu, enak aja! Fisha pacarku!" sahut Even asal dengan wajah datarnya.


“Masak? Yang bener? Apa bener Fish?" Asult meyakinkan dirinya dengan bertanya kepada Fisha dan menatapnya. Sedangkan Fisha kebingungan harus menjawab apa. Fisha pun menyengir dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Hey, jawab aja iya Sayang," bisik Even yang ada di samping Fisha dengan mencolek-colek bahu Fisha.


“Lah apa kamu menembakku Maz? Enggak kan? Hayo? Harus jujur, cepat kamu bilang!" Fisha balik berbisik ke telinga Even dengan mendorong pelan bahu Even.


Even mendekat ke arah Asult yang berada di kursi roda dengan wajah tak ramah. “Kamu ini ya mengganggu saja! Sudah pergi sana! Aku sudah oke sama Fisha dari tadi, baru mau nembak kamu muncul, dan tunggu! Fisha emang bukan pacarku, aku emang gak mau jadian tapi dia adalah calon makmumku, istri dan ibu dari anak-anakku kelak," jelas Even dengan senyuman secerah mentari ke arah Fisha. Fisha yang malu atas ucapan Even dan terpukau ia menghampiri Even dan mencubit bahu Even dengan gemas.


“Enak saja gak akan, Fisha adalah milikku," sewot Asult dengan memonyongkan bibirnya.


“Hey jangan ngaku-ngaku enak aja, enggak kamu gak cocok, Fisha milikku,” debat Even dengan berkacak pinggang dan melototkan kedua matanya.


“Hello? Kaliaaaan Diaaaam! Aku bukan milik siapa-siapa tapi milik Allah, aku gak mau pacaran nanti saja langsung menikah!” bentak Fisha dan berlalu pergi.


Sedangkan Even dan Asult saling melototkan matanya, Even yang sedikit kesal ia mendorong kursi Asult dan mempermainkannya, Asult yang merasa takut terjatuh ia berteriak.


“Aaaaa Even kampreeet!" Fisha menoleh saat mendengar teriakan Asult lalu ia berlari untuk menolong Asult.


“Maz Eveeeen, Venano ... Markoliano ... jangan iseng deh nanti bahaya gimana?” geram Fisha sedikit meninggikan suaranya.


Even hanya pura-pura menunduk lalu menahan senyumnya, ia berpura-pura menyesal padahal di hatinya dia sangat senang. Sedangan Asult pura-pura syok dan melirik Even dengan menjulurkan lidahnya. Fisha yang merasa iba dan tak melihat wajah Asult ia membantu Asult dan mendorongkan kursi rodanya untuk masuk ke ruangannya.


Ihhh kampret dia benar-benar benalu, gak sakit apa-apa tapi mengeluh, menghina aku dia, coba aku yang sakit pasti lebih disayang sama Fisha, kamu jadi keset buat aku, dasar Asult jelek. Batin Even, menatap Fisha dan Asult yang berlalu pergi, lalu ia menyusul dengan membuntuti mereka.

__ADS_1


Asult yang merasa diikuti ia menoleh ke belakang dan menggerutukkan giginya dengan menaikkan alisnya tanda mengusir Even, tapi Even tak peduli dia cuek dan terus mengikuti Fisha.


Apaan Even itu, dia mengikuti kita terus, bisa-bisa gagal aku minta manjain Fisha, benar-benar benalu, awas saja nanti akan aku jadikan keset kamu dan aku lipat kecil-kecil biar dimakan kecoak. Batin Asult, ia mengepalkan tangannya membayangkan wajah Even yang diremas-remas dengan kepalan tangannya.


Mereka pun sampai di ruangan Asult. Asult lalu duduk di atas kasur atas bantuan Fisha dan menselonjorkan kakinya, ia pun melancarkan aksinya dengan sangat manja.


“Fish, aku haus banget tau? Tak bisakah kamu mengambilkan aku air minum?" pinta Asult dengan wajah yang memelas.


Fisha aslinya sangat geram dan sangat jengkel, namun ia sangat ingat bentuk tanggungjawabnya atas pengorbanan Asult sehingga ia sangat menahan hatinya itu.


Sabar Fisha, saba! Tunggu nanti kalau Asult sudah sembuh dan tendang dia dengan kencang. Batin Fisha, ia lalu mengelus-elus dadanya agar ia bisa sabar menghadapi Asult.


“Hey, ambil sendiri! Di situ saja manja sekali!" sentak Even dengan mengotot kencang.


“Aku kan lumpuh dan sudah di atas kasur, mau ke sana lagi ribet harus ambil kursi roda lagi,” keluh Asult mengingatkan semuanya, membuat Fisha bersedih. Even yang melihat wajah Fisha yang bersedih ia lalu melangkah dan mengambil air minum untuk Asult dan menyodorkannya ke tangan Asult.


“Nie minum dan habiskan! Kalau perlu dan kurang nanti aku bawakan galon ke sini dan minum sampai kembung!” omel Even dengan menekan semua katanya dengan nada yang mendidih karena marah.


“Sama saja, Fisha adalah aku, aku adalah Fisha!" balas Even dengan lantangnya membuat Asult kembali menoleh lalu merebut air minum yang ditangan Even dan meminum airnya dengan ganas karena sangat cemburu dengan perkataan Even.


Sedangkan Fisha memandang Even dengan senyuman manisnya, Even yang sadar dipandangi Fisha ia memandang balik dan mereka saling menatap. Asult yang geram ia berdehem dengan keras. “Ehem! Ada orang sakit di sini butuh Perhatian!"


------


Even dan Fisha lalu menoleh ke arah Asult dengan cepat dan bebarengan.


“Udah kamu pergi sana! Bukannya kamu dosen dan mengajar!” usir Asult agar Even segera pergi dan tak menggangunya bersama Fisha.

__ADS_1


“Enggak aku mengajar nanti sore, mata kuliah bisnis mata kuliah calon istriku dong?" tolak Even dengan senyuman mengejek. Asult yang tau kalau yang dimaksud Fisha ia lalu menatap tajam Even.


“Nanti Fisha izin dia menunggu aku terapi,” kilah Asult dengan beralasan.


“Enggak aku izinin, nanti kalau bolos aku kasih nilai E,” balas Even dengan senyuman menyeringai ke arah Asult.


“Heeeey kaliaaaan! Diaaam! Aku sungguh pusing dari tadi berdebat melulu," jerit Fisha dengan berkacak pinggang sampai otot lehernya juga kentara karena sangat kencangnya.


“Kamu Asult! Diam! Setelah ini kamu terapinya jangan beralasan, dan kamu Maz Even iya sudah kamu pulang saja, nanti aku masuk kok kuliah tenang saja!" ungkap Fisha agar membungkam mulut mereka berdua, mereka termenung lalu diam tak membantah.


“Enggak aku di sini saja, aku mau menunggumu saja agar Asult gak macam-macam," tolak Even.


“Ya sudah terserah kamu saja Maz, tapi sudah diam saja ya, aku sungguh sakit kepala rasanya mendengar kalian berdebat terus," keluh Fisha dengan memegang keningnya.


“Kamu sakit?" tanya Even dan Asult bersamaan.


“Hmmm sudah diam!” sentak Fisha lagi. Para cowok lalu diam membeku. Even mendekat ke arah Fisha dengan khawatir, ia lalu menyodorkan tangannya dan membantu Fisha memijit pelipisnya, Fisha hanya pasrah atas perlakuan Even.


Asult yang melihatnya ia menahan geramnya dan gak mau berisik lagi karena ia juga kasihan melihat Fisha yang sakit kepala itu.


Beberapa menit kemudian dokter pun datang dan memberitahu bahwa waktu terapi sudah tiba. Fisha yang masih pening kepalanya terpaksa membantu Asult untuk terapi, padahal Even sudah memaksanya untuk istirahat namun Fisha menolaknya karena bentuk tanggungjawabnya, Even yang tau itu dia pun menemani mereka juga, menurut Even agar Asult tak sewena-wena juga. Asult hanya pasrah karena ia tak mau berdebat lagi.


-------


 


Note :

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, vote komen, terimakasih, dukungan kalian sungguh sangat berarti buat penulis receh sepertiku. 🙏❤


 


__ADS_2