
“Kenapa ... kenapa ... sakit hati selalu terjadi berulang-ulang kepadaku? Apa salahku Tuhaaaan ... apa aku enggak berhak untuk bahagia?" teriak Fisha dengan sesenggukan dan masih duduk bersimpuh meratapi takdir hidupnya.
Suster yang melewati Fisha dan melihatnya histeris, ia pun mendekat dan duduk berjongkok lalu menanyai Fisha dengan herannya dan sedikit rasa khawatirnya.
“Mbak ada apa? Ini rumah sakit Mbak ... apa Mbak sakit dan terluka? Sini biar aku lihat dan aku bawa ke dokter," tawar suster dengan merengkuh pundak Fisha dan berniat membantu Fisha bangun, namun yang ada Fisha semakin menangis kencang dengan menselonjorkan kakinya bagaikan kehilangan separuh hatinya kembali dan seperti anak kecil yang menangis karena kehabisan permen.
“Ayo Mbak, saya bantu! Dilihat orang tuh, mana yang sakit? Cerita gak apa-apa sama aku,” ucap suster dengan suara yang lembut dan tersenyum ke arah Fisha. Fisha yang menanatapnya ia semakin menangis tak tertahankan lalu ia memeluk susternya dengan spontan dan sangat erat.
“Sus, yang sakit adalah hatiku, bisakah kau menyembuhkan hatiku?” pekik Fisha dengan suara memberat menahan tangisan yang ingin keluar kembali.
“Hati? Emang ada apa Mbak?” ujar Suster penasaran karena ia sangat kasihan terhadap Fisha yang begitu pilu keadaannya.
“Kau tak akan mengerti Sus! Kau tak akan mengerti! Aku rasanya hancur, apakah aku harus mati saja? Tak akan ada jelasnya yang mencariku!" sentak Fisha berkata dengan ngaconya, pikirannya sangat kacau hingga ia berbicara seperti itu dan meloloskan kembali air matanya.
“Hey, hey ... jangan gitu Mbak, coba lihat! Masih banyak yang sayang sama Mbak, seperti keluarga Mbak, sahabat juga teman Mbak, apa Mbak enggak kasihan kalau nanti dia akan menangisi Mbak dengan sekencang mungkin?” terang suster dengan mengelus-elus punggung Fisha. Lalu Fisha yang mendengar itu ia melepaskan pelukannya dan menatapnya dalam-dalam.
“Apa benar begitu Sus? Emang Suster mengenalku kok tau? Apa Suster juga mau jadi teman saya?" cecar Fisha merengek seperti anak kecil.
“Ya jelas mau dong Mbak, kenapa enggak Mbak? Senang berjumpa dengan Mbak," ujar suster dengan seriusnya lalu ia bangkit berdiri kembali. Suster menyodorkan tangannya ke arah Fisha, membantunya untuk berdiri.
“Ayo kita Pergi! Jangan di sini! Duduk di sana saja di kursi tunggu lebih enak, tuh lihat dari tadi banyak yang melihat Mbak," perintah suster sambil menunjuk ke tempat duduk tunggu dan menunjuk orang-orang yang berlalu lalang di sekitar rumah sakit. Mereka dari tadi melihat Fisha dengan herannya.
Fisha menoleh karena tunjukan suster itu, ia yant merasa kacau dan kembalinya kesadarannya ia merasa malu dan menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Haha, aku sangat jelek sekali ya Sus? Haduh malunya aku ...." Fisha mengusap mukanya dengan kasar.
Suster hanya tersenyum lalu menyodorkan sapu tangan yang diambil dari sakunya. “Ini, pakai sapu tanganku!"
Fisha menatap suster lalu menerimanya dengan tersenyum. “Terimakasih Sus, Suster baik sekali, aku mau cuci muka aja ya kalau gitu karena rasanya aku sangat jelek dan buruk," pamit Fisha kepada susternya dengan bersalaman.
“Enggak jelek kok, kamu selalu cantik kok, tapi kalau mau cuci muka juga gak apa biar semakin segar wajahnya," seru suster dengan membalas salaman Fisha sambil mengangguk. Lalu Fisha berlalu pergi dan menuju ke arah toilet.
Sesampainya di toilet Fisha masuk ke dalam dan panggilan air alias BAK dengan secepat kilat, karena ia masih parno dengan masa lalunya itu.
“Auh, aku masih selalu takut ke kamar mandi sendiri kalau di tempat umum, apalagi dulu kejadiannya di rumah sakit," seru Fisha dengan gemetar berjalan lalu menatap wajahnya di cermin, dirasa buruk ia pun lalu membasuhnya dan memakai sabun yang dibawanya.
“Buruk sekali wajahku ini ... Maz Even? Apa benar kita gak berjodoh? Aku mendengar itu rasanya hatiku remuk sekali, karena aku sudah menyerahkan hatiku untukmu," lanjut Fisha dengan berceloteh sendiri sehabis cuci muka di wastafel lalu beralih ke cermin sedang yang ada di dekat wastafel.
“Aku harus semangat gak boleh menyerah, belum tentu kan Maz Even akan melupakanku secepat ini? Semangat Fisha ... semangat! Jodoh pasti bertemu kembali," tekadnya dengan tersenyum di depan cermin lalu mengangkat tangannya dengan mengepalkannya tanda semangat.
Fisha lalu berjalan kembali ke ruangan Asult dan menengoknya kembali dengan wajah datarnya. Asult yang melihat Fisha datang ia tersenyum senang dan menghampiri Fisha.
“Fishaa kamu lama sekali, ke mana aja Sayang?" cetus Asult dengan suara manjanya berusaha merayu Fisha, namun Fisha hanya melirik Asult sekilas lalu menuju ranjangnya dan meringkuk di atasnya dengan menutupinya dengan selimut.
“Hey kamu kenapa? Kenapa wajahmu sembab? Apa habis menangis?” lanjut Asult yang melihat Fisha membelakanginya, ia khawatir karena Fisha hanya diam saja dan tak menganggapnya.
“Kau marah padaku? Apa kamu dan Even berantem? Kok gak jawab?” Asult terus menerus memberondong pertanyaan namun Fisha hanya membisu karena hatinya ngilu rasanya masih tak bisa menerima semua itu.
__ADS_1
Asult yang merasa dicuekin ia mendekat ke arah Fisha dengan mendorong kursi rodanya dengan kedua tangannya, saat berada di depan Fisha. Fisja dengan cepat menutup matanya dan berpura-pura mendengkur agar Asult mengiranya tidur.
“Kamu terluka? Maafkan Aku ya Sayang, aku juga sangat terluka, semoga kau benar-benar membuka hatimu untukku," ujar Asult tersenyum sambil memandangi Fisha dan mengelus-elus puncak kepala Fisha dengan lembut.
Sialan dia benar-benar berani, pakai pegang-pegang aku lagi, hais sialnya aku berpura-pura tidur, kalau enggak pasti sudah aku tepis tangannya dan aku pukul dia. Batin Fisha dengan geramnya.
-------
Sementara Even yang ada di taman rumah sakit sambil duduk di kursi panjang yang berada di taman. Ia sangat sedih mengingat Fisha yang tadi dilihatnya menangis pilu meratapi kepergiannya, ia sebenarnya tadi tidak pulang, tapi ia hanya bersembunyi dari kejauhan dan masih memperhatikan Fisha dengan rasa sesak di dadanya.
Even juga sama saat ini hatinya saat ini lagi kacau balau seperti terombang-ambing terganjal batuan yang sangat besar, ia menitikkan air mata tanpa disengajanya dan menepisnya dengan kasar.
“Maafkan aku Fish, maafkan aku Sayang, bukan maksudku seperti itu ... hanya saja aku terpaksa melakukannya, aku gak mau kamu memilih dan bimbang lalu kamu sakit memikirkannya, biarlah aku yang mengalah, nanti tiba saatnya cinta akan kembali pulang," ucap Even dengan lirihnya.
“Aku akan selalu berdoa untuk cinta kita, semoga suatu saat kita bisa bersama," lanjutnya lalu Even bergegas untuk kembali ke apartemennya.
-----
Note :
InsyaAllah update selalu jam 18.00/19.00 juga jam 24.00/01.00 wib yaaaa, semoga bisa konsisten. Amin hehe.
Segera Otor end kan max 150, mohon dukungannya dengan like, terimakasih. 🤗❤🙏
__ADS_1