Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Serbuan pertanyaan


__ADS_3

2 jam kemudian mata kuliah bisnis pun selesai. Even selesai mengucapkan salam untuk mengakhirinya ia lalu mendekati Fisha di bangkunya dan memberi kode dengan menaikkan kedua alisnya disertai senyuman tipis, Fisha yang tau itu ia hanya menunjuk-nunjuk Even ke arah pintu agar ia segera pergi karena semua cewek sudah menatap tajam ke arahnya, ia menutup mukanya dengan tas selempangnya karena menghindari tatapan penyerbuan itu.


“Sayang, kalau gitu Maz keluar dulu ya." Even berbisik di telinga Fisha, Fisha hanya mengangguk di balik tasnya lalu mengintip sedikit ke arah Even dan menyengir kuda dengan kebingungannya membuat Even gemas lalu mencubit pipinya dengan kencang.


Fisha yang merasa sakit karena cubitan Even, ia hanya meringis dan menahannya tanpa bersuara karena tatapan semuanya itu, tapi ia melototkan matanya ke arah Even sehingga membuat Even ketawa lalu ia pun melangkahkan kakinya.


Maz ini kurang ajar sekali sih, udah tau aku sudah menjadi perhatian dan incaran perbulian para cewek ini, malah dia semakin romantis mencandai aku, apa dia gak kasihan sama aku, iseng amat sih dia ... aduh gimana ini? Tolong aku ... Batin Fisha, ia pun mengintip Even yang pergi mendahuluinya di balik tas selempangnya itu. Even yang belum sampai pintu ia menoleh ke arah Fisha lagi sehingga mereka saling tatap sekilas dan membuat Fisha kaget dengan salah tingkahnya, Even pun mengedipkan matanya dengan tawanya dan berlalu pergi ke arah ruangannya.


Saat dirasa Even sudah jauh, para cewek berjalan mendekat ke arah Fisha dengan serbuan berbagai macam pertanyaan.


“Hey, bagaimana kamu kok bisa mengenal pak Even yang tampan itu?" tanya teman perempuan sekelasnya.


“Hey iya kok bisa sih? Pakai ilmu apa bisa membuatmu akrab dengannya menjadi asisten dosen pula!” maki teman yang lainnya.


“Ganjen amat sih kamu itu? pak Even itu milikku!”


“Iya dasar kamu itu Fish, bukannya kamu sudah punya pacar, itu siapa sih kakak tingkat, aku lupa?”


“Itu tuh Asult namanya." semua pertanyaan dibumbui dengan hinaan dan celaan masuk semua mengguyur Fisha dan terngiang di telinganya.


Fisha yang semula menutupi mukanya dengan tas selempangnya ia buka dengan cepat dan berdiri dengan cepat lalu menggebrak meja dengan keras karena rasa sakit di hatinya.


“Kalian ini apa-apaan sih ...! Kalau kalian suka sama pak Even jujur saja sana, kenapa pada protes sama aku, lagian aku juga cuma asistennya doang apa masalah kalian hah ...! Aku kan cuma cari tambahan uang saku, secara aku bukan orang kaya seperti kalian tau!" bentak Fisha dengan kencangnya sambil berkacak pinggang hingga ototnya sangat kentara di lehernya.


“Ya jelas bermasalah, ngaca dong apa kamu pantas jadi asisten? Kamu juga kumuh gitu dan miskin, gak levellah!" hina temennya yaitu ketua geng yang iri itu dengan berkacak pinggang pula.


“Heloooo? Kamu yang seharusnya ngaca, jelek begitu mana mau pak Even sama kamu!" bela Adrina sahabat Fisha, ia berdiri dari bangkunya lalu mendorong ketua geng itu dengan memancarkan kilatan kemarahan karena mereka keterlaluan semakin didiemin semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Kamu ...! Berani kamu sama aku ...!" Ketua geng semakin memanas dan membalas dorongan Adrina dengan kencang hingga Adrina sedikit terpental ke belakang.


“Hey sudaaah stooop, kalau lanjut terus aku akan laporkan kalian ke maz Even!" sela Fisha di tengah mereka yang semakin memanas dan adu mulut juga siap menyerbu. Mereka saling menatap tajam ke arah Fisha dan memiringkan mulutnya karena geregetan dengan panggilan Fisha. Fisha yang ingat keceplosan ucapannya ia membungkam mulutnya sebentar lalu pura-pura melupakannya.


“Sudah! Ayo Adrina jangan urusin mereka, mereka sungguh tidak waras," ejek Fisha dengan mengajak Adrina keluar lalu menarik tangan Adrina dan menggandengnya, meninggalkan mereka dan berjalan dengan langkah dipercepat.


“Fishaaa ... Adrinaaaa ... aku belum selesai bicaranya!" teriak semuanya dengan serempak dan masih mengamuk, namun tak diperdulikan oleh Fisha dan Adrina. Keduanya malah cekikikan dan berjalan menuju arah taman.


Sesampainya di taman, Adrina menatap tajam ke arah Fisha dengan tatapan yang sangat serius.


“Fishaaaa ... kamu punya banyak penjelasan kepadaku!" geram Adrina meminta penjelasan kepada Fisha. Fisha hanya terkekeh dan mengangguk juga mengangkat jarinya bentuk V.


“Iya Sayangku ... duduk di sana yuk aku jelasin!" ajak Fisha dengan menunjuk kursi duduk yang ada di taman kampus itu. Adrina menurut dan berjalan di samping Fisha dengan serempak, lalu saat dirasa udah sampai di arah yang dituju. Fisha pun menjelaskan semuanya dengan tuntas.


Adrina menganggukkan kepalannya dengan sesekali tersenyum dan takjub.


“Enak apanya Sayang, malah aku takut banyak musuh karena iri, seperti tadi tuh, bisa-bisa aku dibunuh mereka," jelas Fisha dengan mengangkat bahunya dan bergidik ngeri.


“Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh Sayangku Fisha, biarlah mereka mau ngapain, kan ada para pangeran tuh yang siap mendekapmu,” canda Adrina dengan senyuman menggodanya.


“Ih kamu jangan begitu, aku bingung tau masalah Asult itu, dia itu begitu juga serasa aku pacarnya saja," keluh Fisha dengan memelaskan wajahnya dan menopang dagunya.


“Kalau begitu kamu jelasin aja sama dia kalau kamu sudah saling mencintai sama Even gitu, jelasin dengan pengertian penuh," usul Adrina dengan menatap Fisha yang serius mendengarkannya.


“Gitu ya? Apa beneran gak apa-apa, aku takut dia bunuh diri atau apa, kan dia lumpuh juga karenaku," cemas Fisha karena rasa tanggungjawabnya.


“Dicoba aja Sayang, apa salahnya kan mencoba, lagian cinta tak harus memiliki dan tak bisa dipaksakan," ungkap Adrina menerangkan makna cinta. Fisha mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan karena kegalauannya.

__ADS_1


“Ya sudah kita pulang yuk, mata kuliah kan hari ini cuma bisnis saja, mau ikut ke rumahku?" tawar Adrina dengan menatap Fisha lalu ia berdiri dan menggandeng tangan Fisha, Fisha ingin sebenarnya namun ia masih punya tanggungjawab itu jadi ia menolaknya.


“Kapan-kapan ya Adrina ... aku kan masih punya tanggungan bayi di rumah sakit itu, itu si Asult," jawab Fisha dengan memanyunkan bibirnya.


“Ya sudah aku pulang kalau gitu, kamu hati-hati ya, ingat pesanku tadi agar kamu terbebas dari belenggu si Asult," saran Adrina mengingatkan lalu berjalan menjauhi Fisha dan melambaikan tangannya pamit pulang.


Fisha lalu merogoh handphone-nya saat Adrina sudah pulang dan tak kelihatan di pelupuk matanya. Jam juga udah menunjukkan pukul 3 sore ia berniat mengechat Even tapi belum sempat ia mengechatnya, Asult meneleponnya dengan tangisan menggencarkan.


“Hey, ada apa kamu? Kenapa nangis," ucap Fisha saat sudah mengangkat teleponnya dengan cemas.


“Ka-kamu harus cepat balik ke sini!" balasnya dengan sesenggukan.


Dia cowok tapi cengeng sekali. batin Fisha.


“Iya aku datang, aku kan baru selesai kuliah, ya sudah bye!" Fisha menutup teleponnya dan memasukkan ke tasnya lalu ia berlari dengan kencang. Even yang melihatnya ia berteriak.


“Fishaaa mau ke manaaaa!" teriaknya dengan sekencang tenaga. Fisha hanya melirik lalu melambaikan tangannya dengan kasar.


“Ada apa dengan Fisha?" Even bertanya-tanya sendiri.


“Pasti ada yang tidak beres!" lanjutnya dengan menatap Fisha yang berlari dengan cepat.


------


Note :


Jangan lupa like-nya ya kesayangan, tiada daya dan upaya tanpa dukungan dari kalian. Terimakasih ❤😍🙏

__ADS_1


__ADS_2