
Fisha berlari dengan cepat ke arah rumah sakit untuk menemui Asult yang hanya dekat beberapa langkah saja dari kampusnya.
Saat Fisha berada di luar rumah sakit ia menghentikan langkahnya dengan nafas yang tersengal, ia membungkukkan badannya dengan mengelus-elus dadanya karena kecapekan lari itu.
“Aish capek sekali aku! Asult benar-benar kurang ajar! Emang ada apa sih dia? Cengeng sekali!" gerutu Fisha lalu menegapkan badannya kembali dan berjalan ke arah lorong rumah sakit, lalu ia mengayunkan handle pintu dengan cepat dan membuka pintunya dengan syok serta membelalakkan matanya.
Fisha kaget saat melihat Asult yang menangis histeris dan terduduk pilu dengan bersimpuh dengan memukul-mukul kakinya tanpa kursi roda dengan memegang pisau di tangannya.
“Asult! Kamu ngapain? Apa terjatuh? Sini aku bantu!" ucap Fisha dengan mengulurkan tangannya untuk berusaha membantu Asult, ia aslinya takut melihat Asult seperti itu namun ia memberanikannya mendekat ke arah Asult.
“Fisha? Maukah kau menjadi pacarku dan menemaniku?" tanya Asult dengan menodongkan pisaunya ke arah Fisha dengan tak disengajanya.
“Hey, singkirkan pisaumu itu aku sungguh takut!" cicit Fisha dengan nada yang bergetar juga tubuhnya gemetaran sambil menutup telinganya karena ketakutannya.
“Jawab dulu cepat! Kamu tau Fish? Aku lumpuh total sekarang, kata dokter terapiku gagal dan tiada guna, terus siapa yang mau sama aku yang cacat ini, siapa? Gak akan ada yang mau." Asult berteriak sambil menangis tersedu-sedu membuat Fisha gusar dalam kebingungannya.
“Kamu mau meninggalkanku kan Fish? Dan bersama dosen itu kan? Huhuhu,” tangis Asult semakin pecah dan histeris. Fisha ingin mendekat namun ia semakin takut.
“Apa kamu gak mau membuka hatimu sedikit untukku? Kalau tidak ya sudah mending aku mati saja! Tiada yang mengharapkanku juga!" ancam Asult dengan menodongkan pisaunya ke arah lehernya sendiri dan siap untuk menyembelih dirinya sendiri.
Aduh bagaimana ini? Maz Even tolong aku ... maafkan aku ya, aku terpaksa ... aku gak bermaksud mengkhianatimu, aku hanya mencintaimu sampai kapanpun, aku hanya gak ingin dia meninggal karenaku, cukup Awan saja, jangan sampai banyak yang meninggal karenaku, kenapa hidupku miris sekali, apa salahku tuhaaaan. Batin Fisha, ia menatap Asult dengan sendu lalu meloloskan air mata di pipinya dengan sendirinya dan menghapusnya dengan kasar.
Fisha dengan terpaksa dan memantapkan hatinya mengiyakannya bahwa ia hanya menolong dan bertanggungjawab saja, bukan karena cinta, ia lalu dengan pelan membuka mulutnya, namun lidahnya rasanya kelu dan tak mampu berucap.
“Bismillahirrohmanirrohim ..." ucapnya lirih memantapkan hatinya menelan ludahnya dengan susah payah.
“Asult! Jangan seperti itu! Hentikan kegilaanmuuu! Iya aku mau berusaha membukakan hatiku untukmuuuu!" teriak Fisha dengan lantangnya dan memejamkan matanya karena ia terpaksa melakukannya dengan rasa gundah di hatinya.
__ADS_1
Asult yang mendengarnya ia tersenyum lalu menghentikan tangisannya namun suaranya masih memberat dan sedikit sesenggukan karena bekas menangisnya.
“Jadi? Kamu mau menjadi pacaraku?” tanya Asult lagi dengan senyumannya yang mengembang. Fisha tak mau berkata apa-apa karena ia sangat muak rasanya tapi belenggu seperti mengikat dengan kencang, hingga ia tak bisa bergerak. Fisha hanya bisa mengangguk pelan.
Apakah takdir cintaku hanya sampai di sini Tuhaaan. Hingga hatiku selalu pecah berlebur dan tak pernag berbentuk. Sakit rasannya, kapankah pelangi akan muncul di hidupku, sungguh aku sudah gak kuat rasanya, ujian apalagi ini. Batin Fisha ia merasakan sakit diterpa badai berulangkali.
“Fish, mendekatlah bantuin aku duduk ke ranjang," pinta Asult dengan melambai Fisha. Fisha yang masih terbengong ia mendengar suara Asult memanggilnya ia mendekat dan membantu Asult, namun saat Fisha membantunya. Asult dengan cepat menarik tangan Fisha dan memeluknya.
“Lepaskan! Singkirkan pisaumu itu! Apa kau mau membunuhku?" geram Fisha dengan memerintah sambil menyingkirkan tangan Asult yang masih menggenggam pisau. Asult yang teringat ia terkekeh lalu melemparkan pisaunya ke sembarng arah.
“Lepaskan! Apa kau tak dengar?" perintah Fisha karena risihnya, sedangkan Asult tak peduli dia semakin memeluk Fisha. Fisha semakin memberontak namun ia yang mungil itu tak bisa melepaskan rengkuhan Asult yang kekar itu.
“Sakit tau? Lepaskan! Kalau tidak aku akan meninggalkanmu!" lanjut Fisha dengan berteriak namun lirih karena kehilangan kekuatan suaranya karena masih terkaget dan tak menyangka semua ini bakalan terjadi.
-------
Tiba-tiba Asult tersenyum menyeringai dan semakin memeluk Fisha erat karena ternyata Even datang dengan mata membunuh karena melihat mereka berpelukan
“Fishaaa! Ngapain kaliaaan!" teriak Even dengan mengototnya, karena ia sangat cemburu hatinya memanas, hingga menggerutukkan giginya.
“Eh tolong aku Maaaz!" teriak Fisha dengan memberontakkan dirinya kembali.
“Tolong apa? Kalian sangat mesum dan berpelukan dengan indahnya seperti ini minta tolong? Dasar tidak waras, sudah aku tak mau mendengarnya bye!" pamit Even pergi dengan hati yang sangat sakit dan emosi memuncak.
“Maz ... tungguuuu!" teriak Fisha namun Even tak meresponnya. Lalu Fisha yang merasa geram ia memukul Asult dengan kencang serta menggigit telinganya. Asult yang merasa kesakitan ia melepaskan pelukannya dan Fisha pun meloloskan diri dengan berlari kencang untuk menyusul Even yang sudah salah paham kepadanya.
Sedangkan Even di dalam ruangannya ia tersenyum penuh kemenangan dengan memainkan handphone-nya.
__ADS_1
“Untung tadi semua teman-temanku bilang semua ini, tentang asisten dosen adalah Fisha terus semakin dekat, jadi aku harus mencegahnya dan memanipulasi kelumpuhanku terus menerus, tak apa demi mempertahankan cintaku, aku pun rela misal lumpuh seumur hidup pun tak apa," ungkap Asult dengan mengechat grup geng teman-temannya lalu ia pun berusaha mendudukkan dirinya di atas kursi roda.
Sekali lagi maafkan aku terus Fisha, aku harap kamu tak akan membenciku karena ulahku dan cintaku yang sungguh dalam. Batin Asult dengan senyuman tulus, ia mengingat-ingat pelukan Fisha lalu ia mendekap dirinya sendiri membayangkan momen tadi.
Sementara Fisha ia berlari kencang mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Even.
“Maz Eveeen! Kamu dimana? Semua itu hanya salah paham!" teriak Fisha dengan kencangnya sambil ngos-ngosan.
“Ada apa? Kenapa mencariku? Aku bukan siapa-siapa kamu, katanya kamu juga gak mau pacaran, nyatanya itu tadi apa namanya, kalian pacaran kan?" ungkap Even dengan geramnya dari arah belakangnya Fisha. Fisha yang mendengar suara Even di belakangnya ia membalikkan badannya dan menatap Even nanar.
“Bukan begitu Maz, tadi aku hanya membantunya," papar Fisha mendekat ke arah Even.
“Jangan mendekat! Kamu pembohong! Aku gak akan mendekatimu lagi! Tapi aku pasti akan menolongmu karena aku dulu sudah berjanji akan ada selalu buatmu, terimakasih mungkin kita tak berjodoh, anggap saja aku hanya kakakmu seperti Alby terhadapku, masalah asisten kamu masih tetap asistenku," ujar Even dengan rasa sakitnya lalu ia meninggalkan Fisha yang tak bisa berkata apa-apa.
“Maz Eveeen ... kok kamu gitu? Maz? Kamu belum dengerin aku, Maz ..." teriak Fisha dengan kencangnya dan menangis tersedu-sedu.
Tuhaaan gimana ini? Aku serba salah, akhirnya maz Even menjauhiku, apa Engkau tak mengizinkanku bahagia? Apa aku harus selalu terluka ... aaaaaa ... maz Even ... kenapa kau berbicara seperti itu? Seakan-akan hanya kau yang terluka, aku juga maz ... aku harus apa Tuhaaan ... haruskah takdirku bersama Asult. batin Fisha ia meloloskan air matanya dengan gencarnya lalu terkulai duduk bersimpuh dengan mencengkram hijabnya itu.
“Aaaaa kenapa ... kenapa ..."
------
Note :
Jangan lupa like-nya kesayangan dukung Otor ya lagi sedih ini. 😭
Jangan lupa bila berkenan mampir ke karya kedua saya romantis, komedi, supernatural.
__ADS_1
Judulnya : Pangeran Gayung & Putri Tidur.
Keren juga kok, boleh dicoba kalau gak suka tinggalkan saja hehe, terimakasih. ❤🙏