Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Selalu Melihatnya


__ADS_3

Fisha berjalan ke toilet bersama Sesil, Sesil setia menemani Fisha di dalam sambil sesekali mengajak Fisha berceloteh manja.


“Fisha Sayang? Fishaaa sudah belum?" tanya Sesil dengan memainkan handphone-nya memainkan game zombie-nya, dia suka sekali dalam dunia game peperangan, berbeda dengan Fisha ia suka yang ringan dan santai.


“Sebentar Sil, sebentar lagi, tunggu ya jangan ditinggal dulu aku-nya, aku takut!" pinta Fisha dengan suara mendayu-dayu sedikit parno selalu terbayang kejadian dulu.


“Iya Fisha Sayang, tenang dah, puas-puasin dulu aku lagi membantai zombie ini, untung ada kursi duduk di sini haha, kalau gak ada masak aku harus bersimpuh di lantai hehe," keluh Sesil sambil terkekeh dan masih fokus dengan handphone-nya.


“Hehe iya maafkan ya aku sakit perut jadi lama." Setelah dirasa selesai Fisha langsung membenarkan pakaiannya dan semuanya di dalam setelah itu dia keluar menghampiri Sesil yang duduk di dekat wastafel.


“Sil sudah selesai, ayo!" ajak Fisha sambil meraih pundak Sesil, Sesil yang merasa disentuh ia menoleh ke arah Fisha.


“Eh kok cepet sih, katanya lama? Sebentar aku pause dulu game aku.” Sesil berdiri menerima ajakan Fisha lalu menggenggam handphone-nya saat sudah mengeluarkan game-nya.


“Kamu ini ya, kalau main game pasti keasyikan dan kadang lupa waktu," ledek Fisha, ia mendorong Sesil dengan sikunya.


“Idih kita sama ya Fisha Sayang, kamu juga." Keduanya pun terkekeh karena hoby-nya sama. Mereka lalu berjalan ke arah ruangan Fisha kembali, saat dirasa Fisha sudah masuk ia menemukan Even duduk di kursi seraya menyilangkan kedua kakinya dan melipat kedua tangannya sambil memandangi Fisha terus menerus, Fisha yang sedikit salah tingkah ia balik memandang Even dan terjadilah pertukaran pandangan.


“Sudah-sudah Fish jangan saling memandang kalau rindu bilang saja langsung saja, sekarang kamu waktunya istirahat Fisha Sayang," ucap Sasa dengan menahan senyumnya.


“Idih apaan sih kamu ini? Sudah diam kalian semua, aku mau menjenguk Asult, bagaimana keadaan dia?" Fisha mendekat ke arah Asult dengan tatapan iba dan penuh penyesalan. Even mendekat dan mengusap pundak Fisha menenangkannya, Fisha menoleh dan ia tersenyum pilu.


Heeem bener kan mereka sudah saling cinta? Dulu hanya Awan yang bisa menenangkan Fisha setelah neneknya, sekarang dengan sentuhan kakakku Fisha juga tenang, semoga saja mereka berjodoh, aku setuju Tuhaaan, berilah kebahagiaan untuk Fisha jangan biarkan dia terus menerus mengalami hal tragis, Amiiin. Batin Alby, ia menatap punggung kakaknya sambil tersenyum. Sesil yang tau itu ia menyenggol Alby.


“Hey kamu kenapa Tawon?” protes Sesil dengan lirih agar semua tak mendengarnya.


“Gak apa-apa," balas Alby lirih sambil menaruh jari telunjuknya dibibirnya agar Sesil diam dan gak mau tau aja apa yang ada di pikirannya.


Beberapa menit kemudian Asult pun menggerakkan jarinya, Fisha yang tau itu ia tersenyum lalu beralih menatap Asult, ia lalu mengerjapkan kedua matanya dengan pelan.

__ADS_1


“Aku di mana ini?” tanyanya sambil memegang keningnya yang masih pusing.


“Kamu ada di rumah sakit, mana yang sakit?" balas Fisha dan balik bertanya ia karena khawatir.


“Kepalaku yang sakit, euh ... eh bukannya kamu juga sakit Fish?” Asult menatap Fisha dalam dan melihat dari atas sampai bawah yang masih memakai pakaian baju khas rumah sakit.


“Iya aku udah gak apa kok, aku hanya sakit sedikit kok, udah kamu istirahat saja, apa kamu mau makan?" Asult menggeleng dan tersenyum lalu sesekali melirik Even seperti mengejek Even agar Even cemburu Fisha memperhatikannya, tapi ternyata Even hanya menatap dengan dinginnya.


“Aku ingin ke toilet." Asult menggerakkan kakinya dan ingin segera ke toilet namun kakinya tak bisa bergerak membuat ia panik dan gusar dengan histeris.


“Eh kenapa kakiku ini? Kenapa gak bisa digerakin? Fisha kenapa ini?" lanjut Asult dengan berteriak kencang dan menggoyang-goyangkan badan Fisha, Fisha yang melihat itu ia panik juga, Even pun bertindak ia memencet tombol yang ada di ruangan itu, dokter dengan cepat datang menghampiri. Lalu Asult melepaskan Fisha saat dokter datang.


“Ada apa?" tanya dokter sambil mengeluarkan seluruh alat pemeriksaannya dan siap memeriksa Asult.


“Itu Dok, katanya Asult kakinya gak bisa digerakin?” ujar Fisha dengan nada bergetar hebat dan tangannya gemetaran. Even menatap Fisha dan meraih tangan Fisha lalu menggenggamnya erat.


“Sudah tak apa-apa kamu harus tenang, aku di sini! Semua bisa diatasi," sela Even berusaha menenangkan Fisha. Fisha tiba-tiba menjatuhkan air matanya melolos di pipinya dengan sendirinya. Even menggeleng lalu mengusap air mata Fisha.


------


“Dok, aku kenapa Dok? Aku baik-baik saja kan?” tanya Asult dengan gak sabarnya lalu menggoyang-goyangkan kerah yang dicengkramnya dari tadi dengan kencang.


“Sult, lepaskan! Agar Dokter bisa menjelaskannya!" sentak Alby mendekat ke arah Asult lalu menarik tangan Asult agar melepaskan cengkramannya.


”Begini, sesuai penjelasanku kemarin bahwa dugaan itu benar, kalau Asult dia lu-lumpuh karena kebanyakan racun kemarin,” jelas Dokter dengan ragu dan menatap semuanya dengan sendu.


Lalu Asult berteriak kencang. “Tidaaaak! Aku tak mungkin lumpuh! Kalau aku lumpuh siapa yang mau berteman denganku? Fish, Fisha apa kamu masih mau berteman denganku dan mendekati orang cacat sepertiku? Tidaaaak!" Asult sangat Frustasi ia mencengkram kepalanya kuat dan mengacak-acak rambutnya dengan wajah kunyuhnya.


Fisha merasa iba lalu mendekat ke arah Asult dan menundukkan kepalanya seraya menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


“Kenapa ini terjadi kepadamu? Kenapa kau harus minum di minumanku kenapa? Kenapa gak aku saja yang meminumnya kenapa? Agar aku segera pergi dan tak selalu menyusahkan kalian, kenapa? Kenapa aku selalu pembawa sial buat kalian semuaaaa, hiks, hiks, hiks, maafkan aku, maafkan aku semuanya, aku pembawa sial hiks, hiks, hiks, akuuuuu selalu dalam kemendungan, kapan pelangi itu ada Even, kapan!" ucap Fisha sambil masih menangis tersedu-sedu dan menyesal semakin dalam.


“Fisha, Asult kata Dokter bisa sembuh kok kalau terapi, iya kan Dok?” sela Even ditengah-tengah tangisan Fisha, ia berusaha membuat Fisha tenang.


“Iya yang penting Asult bersungguh-sungguh terapi dan semangat, kalau begitu kami permisi dulu,” ucap dokternya dan pamit lalu diangguki oleh semuanya dengan ucapan terimakasih.


Semua sahabatnya yang mendengar itu ia merasa tersentuh lalu ikut menangis dengan sendirinya, Even yang berusaha mendekat dan ingin menenangkan Fisha dengan mengusap air matanya, ia keduluan oleh Asult yang langsung meraih Fisha dalam dekapannya dengan erat.


“Enggak kamu bukan pembawa sial, kamu adalah yang terindah, aku bersyukur bisa berkorban untukmu, biarlah aku yang seperti ini yang penting bukan kamu, aku sungguh sangat mencintaimu.” Asult mengungkapkan semuanya sambil mengelus-elus punggung Fisha, sedangkan semua sahabat Fisha geram karena Asult memanfaatkan itu semua, sedangkan Fisha tak menanggapinya ia hanya merenungi nasibnya yang dari dulu tak pernah mulus.


Even yang mendengar itu semua hatinya terbakar namun ia memasang wajah sok coolnya, ia hanya bisa pasrah kepada takdir cintanya dan ke mana Tuhan mengarahkanya, ia selalu memantapkan hatinya hanya untuk Fisha, karena dalam sholat malam istikhoronya yang ia lihat hanya wajah Fisha, dan ia berdoa selalu agar benar-benar berjodoh dengan pujaannya itu.


Alby lalu menarik tangan kakaknya untuk keluar dan ia ingin berbicara 4 mata.


“Kak, kakak? Kakak apa bisa diam saja? Melihat Asult begitu? Aku tak setuju pokoknya," keluh Alby sambil menatap kakaknya dalam.


“Lalu Kakak harus apa? Biarlah Fisha yang memilih dan menerima jalan hidupnya sendiri, terus apakah kau ibunya sehingga tak setuju?" balas Even dengan tenangnya.


“Tapi Kak, Kakaaaak aku belum selesai," tolak Alby, sedangkan Even lalu pergi meninggalkan adiknya dan melambaikan tangannya cepat dengan berjalan tak tau arah.


Tuhan jika kau menjodohkan aku, arahkan cintaku ke arahnya selalu, meskipun batuan menerpa tapi segeralah menyingkir seperti debu, pintaku hanya itu karena aku selalu melihatnya di sepertiga sholat malamku. Batin Even, sambil ia terus berjalan.


--------


Note :


Semakin terenyuh, Jangan lupa like-nya dong ya Kakak-kakak, mungkin novel ini gak akan panjang lagi sepertinya, max 150 saja, lihat nanti dah 😊


Maaf dari tadi baru up ketikannya hilang separuh 😣

__ADS_1


Puyeng dah Otor, semoga selalu membekas di hati ceritanya pemirsa, lopyupolepel dah buat yang gak pelit like❤


__ADS_2