
Setelah selesai makan mereka pun bercanda gurau ditambahi dengan bumbu-bumbu pedas saling mengejek, emang lumrahnya mereka seperti itu setiap harinya, karena sedetik bahkan semenit saja tidak ada ejekan rasanya lidah mereka gatal, kelu dan mati rasa, bukanlah geng percabaian berlevel namanya kalau diam membisu tanpa kata.
Fisha pun sedikit melamun memikirkan Ibu Bella tadi, kata-katanya terngiang di telinganya, gila, sengsara, menyesal, merana, begitu yang dia pikirkan tentang Bella, dia sungguh anak yang ibah dan polosnya terlalu terhadap sesama, Awan yang melihatnya pun mencoba mengagetkan Fisha.
Dia mengangkat tangannya dan menghentakkan ke pundak Fisha. “Dorr woy.”
“Eh eh kuda terbang, kuda terbang,” ucap Fisha kaget.
“Haha kamu lucu sekali Fish, apanya yang kuda terbang? Emang mau naik kuda terbang kamu? Emang ada?” tanya Sasa dengan polosnya. Fisha pun menepuk jidatnya dengan ketawa.
“Haha kampret kamu Sa, mana ada, aku hanya kaget jadi spontan uhuy yang keluar, lagian mega mendung ini resek sekali sih bikin orang jantungan,” manyun Fisha dengan menatap tajam Awan. Awan yang ditatap dia ketawa dan mengedipkan matanya.
Tatapan mesum itu lagi? Hmmm tapi aku benar-benar merindukan tatapan itu, aku seperti tersihir dibuatnya, gara-gara aku pingsan agak lama kemarin, aku jadi kehilangan waktu banyak menatapnya, aku gak akan menyia-nyiakan lain waktu, ehh aku kenapa ini kok melow? Hey kayaknya tadi bukan aku dech yang ngomong tapi hatiku karena ulah peri cinta, hey hati diam! Kamu mau berkhianat? Nanti aku jadikan tumis hati kalau nakal. Batin Fisha.
“Oh ya tadi aku ketawa sama ibu gara-gara suara klakson mobil kamu kekanakan sekali haha,” lanjut Fisha dengan tertawa terpingkal-pingkal sambil menatap Awan.
“Emang kenapa? Biarin dong, keren kan buat kamu ketawa Sayangku, emang dari kecil aku menyukai suara tersebut,” ujar Awan dengan mengedipkan matanya dibuat seimut mungkin, membuat semua sahabatnya menelan ludahnya kasar dan pura-pura memuntahkan air ludahnya, Awan pun ketawa melihat kelakuan semua sahabatnya. Sedangkan Fisha menggelengkan kepala melihat semua sahabatnya yang konyol sekali menurutnya.
“Emang gimana klaksonnya sih? Aku penasaran nie.” Sesil semakin mendekat dengan tatapan penuh tanya.
“Haha kamu tanya Sasa mungkin dia denger,” ucap Fisha dengan memegang perutnya sakit karna kebanyakan ketawa.
”Sa gimana?” ulang Sesil.
“Mana aku tau, aku tadi pas di dalam mungkin, jadi gak denger, rumahku kan agak kedap suara Sil, tapi iya juga aku penasaran juga,” jawab Sasa
“Iya kita juga penasaran,” ucap Alby dan Ares bersamaan.
__ADS_1
“Haha udah itu menjadi rahasiaku sama ibu saja.” Goda Fisha kepada sahabatnya. Membuat mereka cemberut dan memelas.
“Ihh wajah kalian kok serem begitu seperti anak kucing yang kehujanan sih, pengen aku musiumkan tau ...,” sambung Fisha.
“Udah dech diam ikan, aku males sama kamu, kita ngambek, nanti aku pencet sendiri mobil Awan gampang,” ucap Alby sewot dan bersedekap pura-pura marah. Fisha semakin gencar ketawanya. Awan yang melihat Fisha ceria membiarkan saja mau dia bilang, mau ndak dia gak perduli, yang dia perdulikan hanyalah wajah kekasihnya yang ceria mengalahkan indahnya dunia, indah sekali tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Haha iya iya dech tadi klaksonnya bunyinya gini, tit tit teloleeeeet teloleeeeet, seperti bus cari penumpang, kekanakan sekali kan haha.” Fisha masih belum menghentikan ketawanya, membuat semuanya ikut ketawa karna dirasa konyol sekali sifat Fisha, jadi mereka tidak menertawakan mobil Awan sebenarnya, tapi ikut tertawa karna melihat tertawanya Fisha, karna mereka sangat senang kalau Fisha bahagia dan sebaliknya.
Fisha pun melirik mereka dengan memicingkan matanya karena dirasa tertawa mereka garing sekali seperti kacang boby yang garing kerontang karena dipaksakan.
“Hey kenapa hayo? Ketawa kalian aneh, apa gak lucu ya?” tanya Fisha dengan wajah bersedih.
“Ti-tidak sayangku Fisha lucu sekali kok, ya kan Sa?” sahut Sesil.
“I-iya Fisha sayang, lucu sekali kok, iya kan Res arek setres, By tawon kumbang? Hahaha,” tanya Sasa kepada mereka. Mereka mengangguk dengan tertawa terbahak-bahak karna ulah Sasa yang menghina mereka dengan nama, karna udah jarang dan lama sekali mereka tidak saling ejek nama jadi dikira sangatlah lucu.
------------
Mereka saling berpelukan lama hingga guru datang mendehemi mereka, lalu mereka ketawa dan melepas pelukannya.
“Kalian lucu sekali, mendramatisir sekali, bikin semua iri,” ejek guru itu. Mereka semua hanya cengengesan dan menatap guru dengan tidak suka, karna ocehan yang dirasa tidak mengenakkan di telinga.
Idih bilang aja bapak yang iri dengan persahabatan kita, alasan pakek pura-pura semuanya yang iri, gengsi amat haha, mana ada yang mau berteman sama bapak, secara bapak orang yang killer, jangan harap ihh, kasihan ... sini sini minum contraxin biar turun panasnya haha, iya panas hatinya wkwkk. Batin Fisha.
Lalu guru pun menerangkan kelanjutan arahan UN tadi pagi dengan detail, agar mereka paham dan akhirnya penjelasan pun selesai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing, Awan bersama Fisha dan Sasa karena emang tadi pagi berangkat bersama naik mobil, Sesil sendiri dengan ontelnya, Alby dan Ares bersama boncengan naik motor.
Di dalam mobil Fisha tidak bisa diam dia menggeser duduk sana sini membuat Awan yang mengemudi heran dan melirik di kaca spion.
__ADS_1
“Hey kamu kenapa? Kutu air pantatnya kok geser sana sini Haha.” Awan menggoda Fisha dan ketawa, sedangkan Fisha melirik aja pun tidak dia malah bermain game peternakannya.
“Iya nie kamu kenapa? Kasihan aku pencet di geser sana sini, tergoncang dagingku tinggal kutilang nanti lama-lama.” Sasa menimpali dengan wajah memelas dan pura-pura menangis dan mengusap air mata dengan tangannya.
“Kutilang? Burung kenapa diajak-ajak sih, apa salah burung itu coba?” Sahut Awan dengan polosnya dan masih mengemudi dengan sesekali melirik Fisha di kaca spionnya.
“Udah kalian diam! Lagian kamu kenapa gak encer-encer sih Hon, kutilang mana ada burung, itu bahasa gaul keles, kulit tinggal tulang hmmm ampun, aku jatuh cinta sama makhluk tahun berapa sih? Haha,” ucap Fisha dengan menepuk jidatnya sambil ketawa.
“aku gak apa-apa hanya saja aku ... Aku ... pengen ... itu anu ... pengen panggilan alam haha,” lanjutnya.
“Kenapa gak bilang dari tadi dodol, kan aku bisa turunin kamu di rawa sayang haha,” ucap Awan melucu.
“Udah gak ada yang lucu, di rumah aja bentar lagi nyampek.” Sahut Fisha.
“Kamu pacaran sama zaman purbakala dulu haha, dibilang semua temennya udah pada di tanah kok, apa gak denger dulu kita ngobrol haha,” ujar Sasa, membuat Awan tersenyum kecut.
“Haha iya bener-bener.” Angguk Fisha ke atas dan ke bawah berulang.
“Hon udah sampai makasih, bye sayangku Awan mendungku Purbakalaku haha, mau mampir boleh, asalkan ikut aku ke wc dulu wkwk,” ucap Fisha ketawa dengan melambai lalu lari terbirit-birit, membuat Awan geleng-geleng kepala dibuatnya, Sasa pun pamit juga sama Awan dan mengucap terimakasih, Awan pun mengangguk. Dia lalu melajukan mobil ke rumahnya.
----------
Note:
Makasih selalu setia menunggu kisahnya, jangan lupa like, ⭐⭐⭐⭐⭐, vote ya kakak-kakak kesayangan, dukung aku selalu ya kak, jangan pelit like gak baik hehe ....
Komen kritik dan saran aku sangat senang.
__ADS_1
Makasih❤, semoga Allah yang membalasnya, lophyupolepel semuanya 💋