Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Akhir Cerita


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. Kandungan Fisha sudah menginjak 7 bulan. Ia berjalan dengan langkah yang pelan sambil sesekali mengusap-usap perutnya. Even yang juga ternyata di samping Fisha. Ia selalu siaga mendampingi istrinya. Ia pun suka mengusap-usap perut Fisha yang sudah sangat membesar itu karena hamil kembarnya.


“Sayang, kuliahnya cuti saja deh, kasihan kamu sering kecapekan seperti itu," ucap Even dengan rasa khawatirnya.


“Nanti dulu ya Maz, aku masih kuat kok, nanti kalau sudah gak kuat aku cuti kok," balas Fisha. Ia pun masuk ke dalam mobil saat Even membukakan pintu mobilnya. Padahal kampus sangat dekat, namun Even tak mau Fisha berjalan kaki sehingga ia membawa mobilnya.


Fisha tersenyum lalu mencium pipi Even saat sudah berada di dalam mobil.


“Makasih Maz," ucap Fisha dengan suara genitnya.


“Hey, jangan menggoda Maz, kamu ini ya, meskipun hamil masih saja menggiurkan tau? Jadi jangan menggodaku Sayang," peringat Even. Ia mencubit pipi Fisha dengan gemasnya.


Beberapa menit kemudian. Sampailah mereka di kampus. Fisha lalu berpamitan kepada Even untuk memasuki kelasnya, karena Even masih mengajar di jam kedua Fisha.


“Hati-hati Sayang! Jaga diri baik-baik, jangan sampai kelelahan ya," seru Even lalu mencium kening Fisha dengan penuh cinta. Even lalu beralih menunduk dan mencium perut Fisha dengan sangat lama.


“Ciyeee, iri aku ngelihatnya," ledek Adrina saat ia berjalan mau masuk ke dalam kelas, tapi ia melihat Fisha yang masih di luar kelas. Ia pun menghampiri Fisha.


“Adrina! Titip istriku ya, kalau butuh apa-apa telepon aku saja." Adrina mengangguk sambil memiringkan tangannya di pelipis dahinya tanda siap laksanakan.


Even tersenyum memandangi Fisha penuh, lalu ia pun pergi meninggalkan istrinya itu. Mereka sama-sama mempunyai kesibukan masing-masing.


Fisha dan Adrina masuk sambil saling berceloteh dan bercanda gurau, karena dosen belum juga hadir. Adrina yang penasaran bagaimana rasanya hamil. Ia dengan gemasnya menyentuh perut Fisha sambil sesekali menaruh telinganya di perut Fisha. Ia tersenyum saat mendapat respon dari dalam perut Fisha.


“Fish, anaknya lincah sekali, nih lihat dia goyang terus darii tadi, main bola kayaknya mereka berdua, apa tak sakit saat ditendang keras seperti ini?" celoteh Adrina dengan hebohnya.


“Itu menyenangkan Adrina, rasanya sangat bahagia dan bangga, hanya saja kalau malam suka tak bisa tidur saja karena bingung, tidur posisi gimana pun sulit dan tendangannya kalau malam selalu sangat keras," jawab Fisha. Adrina yang mendengar dosen tak ada. Ia lalu mengajak Fisha untuk ke kantin.


“Ayo kita ke kantin!" ajak Adrina. Fisha mengangguk lalu dengan cepat ia mengambil handphone yang ada di dalam tasnya, dan menelepon Even untuk meminta izin.


“Halo Sayang? Ada apa?" tanya Even yang sudah mengangkat teleponnya.


“Maz, dosen gak ada, terus Adrina ngajak ke kantin, apa boleh?" tanya Fisha dengan suara mendayu-dayu.


“Sama siapa saja Sayangku?" Even balik bertanya karena memastikan keamanannya untuk istrinya.


“Sama Adrina, terus sama teman lagi Maz dari kelas sebelah, si Mely namanya." Fisha tersenyum saat mengucapkan nama itu, karena ia hampir melupakan dan menurut Fisha nama itu sangatlah lucu.


“Baiklah Sayang pokoknya hati-hati ya," cicit Even yang selalu mengkhawatirkan istrinya.


“Oke Maz," balas Fisha singkat tanpa mengucap salam karena terburu-buru segera diajak Adrina.


'Kenapa firasatku tak enak seperti ini, semoga tak terjadi apa-apa.' Batin Even yang masih sibuk mengoreksi tugas-tugasnya. Ia lalu fokus mempercepat tugasnya, agar ia cepat mendampingi istrinya kembali.


Pada saat Even masih sibuk membolak-balikkan buku tugasnya. Ponselnya berdering kencang. Ia lalu melirik untuk melihat siapa yang meneleponnya, dan ternyata dia adalah Jonatan yang menelepon Even saat ini.


“Halo Bos? Ternyata dalang bersama Asult adalah dia anak didik Bos di kelas B," jelas Jonatan tanpa basa-basi saat Even sudah mengangkat teleponnya.


“Maksudmu? Kelas B? Siapa namanya?" Even yang mendengar itu jantungnya serasa berhenti, ia teringat istrinya saat ini yang berada di kampus tanpa perlindungannya.


“Namanya adalah siapa ya tadi, itu Bos, si Mely kalau gak salah," balas Jonatan dengan kakunya karena ia agak melupakan namanya.


“Me—Mely? Apa!" teriak Even dengan syoknya. Ponselnya pun jatuh dari genggamannya. Jonatan yang juga gusar karena bosnya tak menyahutinya, ia pun takut Even kenapa-kenapa dan secepat kilat Jonatan menghampiri Even ke kampus.

__ADS_1


Sedangkan Even lalu berlari kencang menuju kantin yang terdapat istrinya dan teman-temannya itu. Karena Even gak ingin terlambat untuk menyelamatkan Fisha karena ulah Mely.


Dan benar, Mely memesan minumannya sambil memasukkan sesuatu ke dalamnya, ia lalu memberikan minumannya untuk Fisha.


Fisha yang tak tahu ia hanya tersenyum dan menerimanya juga mengucapkan terimakasih. Ia lalu meneguk minumannya hingga terminum setengah gelas karena rasa hausnya.


Even yang datang terlambat, ia wajahnya memucat saat melihat minumannya sudah diminum setengah oleh Fisha. Mely yang belum tau kalau Even sudah tau. Ia masih dengan santainya bercanda gurau bersama teman-temannya.


“Eh Maz Even, ada apa ke—" Fisha meringis kesakitan dan tak meneruskan kata-katanya. Obatnya sudah bekerja dengan sangat efektif. Fisha yang kesakitan ia meraung dan melemas. Beruntung Even menangkapnya.


“Hah sakit sekali ahhhh, Maaaaz sakit sekali!" Fisha menangis sambil memegangi perutnya dan mencengkramnya. Even membelalakkan matanya dan sangat syok saat melihat darah keluar dari jalan lahir Fisha dengan sangat derasnya. Fisha akhirnya terkulai lemah dan tak sadarkan diri.


“Kurang ajar kau Mely, urusan kita belum selesai, Jon! Tangkap diaaaa!" Mely yang mendengar itu ia ketakutan lalu berusaha berlari, namun ia terlambat karena dengan gesit Jonatan mencekal tangannya dan menyeretnya menuju Asult.


 


...****************...


Sementara Even ia menggendong Fisha dengan berlarian sambil sesekali menangis, karena ia takut Fisha dan calon bayinya tak terselamatkan. Adrina yang juga sedih melihat Fisha seperti itu ia pun menemani Even menuju ke rumah sakit.


“Ternyata firasat dari tadi yang tak enak adalah ini, kenapa kamu bodoh sekali Even, kenapa? Hiks," teriak Even saat Fisha sudah berada di brankarnya. Even meraih tangan Fisha dengan genggaman yang erat sambil mengecupnya.


“Bertahanlah Sayang untuk Maz, Maz tak akan bisa bila sendiri," ucap Even dengan lirihnya. Lalu ia melepaskan genggamannya saat Fisha sudah masuk di ruang operasi.


“Pak Even! Tanda tangani surat ini!" dokter keluar lalu menyodorkan berkas ke arah Even. Even dengan cepat menandatanganinya.


“Dok, sebenarnya racun apa yang diminum istri saya? Tolong selamatkan keduanya ya Dok," pinta Even dengan wajah kuyunya. Ia mengusap-usap air mata yang tak mau kunjung berhenti itu.


“Apa! Ra—racun mematikan? Kurang ajar Mely, Asult sialan semuanya!" Even berteriak dan dengan cepat, ia lalu mengechat Jonatan agar melancarkan aksi sesuai pendapat Jonatan sendiri, Even memasrahkan kedua penjahat itu dan Jonatan menerimanya dengan senang, karena ia akan bermain-main kepada keduanya sebelum merusak anggota tubuh mereka.


Even yang semakin gelisah. Ia mondar-mandir dan mengusap wajahnya dengan kasar, sambil sesekali menangis membayangkan wajah Fisha yang kesakitan itu.


“Bertahanlah Sayang, Maz mohon!" cicit Even berbicara sendiri. Lalu kedua orang tua Even dan kedua orang tua Fisha pun datang dengan kegemasan masing-masing.


“Sabar ya Pak, aku yakin Fisha pasti baik-baik saja." Adrina mencoba menenangkan. Even hanya mengangguk.


“Gimana Nak, apa Fisha baik-baik saja?" tanya mereka serempak saat sudah datang dan menghampiri Even. Even hanya menggelengkan kepalanya dengan kebingungannya.


1 jam kemudian. Dokter pun keluar dari ruangannya dengan wajah datarnya dan eluh yang berjatuhan.


“Bagaimana Dok, keadaan istri saya?" tanya Even saat sudah menghampiri dokternya.


“Operasi sesarnya berjalan dengan baik, dan anak kalian keduanya berjenis kelamin laki-laki, mereka ada di inkubator karena lahir primatur masih umur 7 bulan, sedangkan Fisha dia—" Dokter menggantungkan ucapannya karena ragu menjelaskannya.


“Kenapa dengan istriku Dok, kenapa?" teriak Even dengan tak sabarnya, sambil meraih kerah baju dokternya.


“Dia meninggal, detak jantungnya sudah tak ada, dia masih bisa berdetak karena ada alat itu, tapi apabila alat dilepas dia emang sudah meninggal." Even yang mendengar itu. Ia langsung duduk terjerembah dengan pandangan kosong. Ia menangis dengan kencangnya sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


“Tidaaak, ini tidak mungkin terjadi ... Sayangku kamu tak akan meninggalkanku kan aaaa ...." Even berteriak lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke ruangan Fisha.


Ia melihati istrinya yang tak bergerak dan pucat itu lalu ia meraih tangannya dan mengusapnya dengan lembut. Even pun menciumi seluruh wajah Fisha disertai dengan ciuman di bibirnya lama.


“Sayang, ayo bangun! Tak maukah kamu memeluk Maz? Dan apa kamu tak mau melihat anak-anak? Mereka sangat lucu Sayang, bangunlah! Bagaimana nasib mereka nanti kalau kamu meninggalkannya, bangunlah! Hiks bangunlah!" Even menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu. Air matanya menetes membasahi pipi Fisha.

__ADS_1


Akhirnya alat pun berbunyi kencang kembali tanda jantung sudah berdetak, Fisha menggerakkan jarinya lalu lama kelamaan ia pun mengerjapkan kedua bola matanya.


“Maz ..." ucapnya lirih sambil mendesis nyeri.


“Sa—Sayang hiks, terimakasih sudah mau kembali untukku, aku tak bisa hidup tanpamu Sayang hiks, terimakasih Sayang, terimakasih huaha hiks." Even berbicara sambil menangis. Ia pun menangis tiada henti. Ia membayangkan kejadian seandainya dan seandainya.


Fisha mengangkat tangannya lalu mengusap-usap air mata Even. Even menoleh lalu tersenyum.


“Mana yang sakit Sayang?" Fisha menggeleng lalu ia memejamkan matanya karena belum stabil.


 


...****************...


Seminggu telah berlalu. Even selalu dengan gesit dan sungguh-sungguh merawat istrinya dengan penuh cinta. Sesekali ia mengecup bibir ranum Fisha. Dan Fisha pun sembuh dengan cepat.


Sedangkan Asult dan Mely. Jonatan membalasnya dengan racun perusak saraf. Mereka lumpuh dan dibuang Jonatan ke rumah sakit jiwa. Akhirnya lama kelamaan mereka pun gila dengan kelumpuhan permanen. Sungguh tragis bukan pembalasan Jonatan.


Fisha yang sudah merengek ingin pulang, dengan gemasnya Even mengabulkannya. Mereka pulang dengan rasa bahagia di hatinya.


Mereka masih menetap di Malang akibat study Fisha yang belum selesai, setelah menyelesaikannya nanti mereka akan kembali ke tempat kelahirannya yaitu Surabaya.


“Oh ya Nak, selamat menjadi orang tua," ucap ibu Lani dengan menjabat tangan Fisha dan Even. Semua mengikutinya. Fisha hanya tersenyum melihat kebahagiaan itu. Ia mendudukkan diri di kursi plastik yang berada di apartemen Even.


“Oh ya Nak, siapa nama anaknya?" tanya mama Even yang penasaran. Semua pun siap mendengarkan Even yang berbicara atas kesepakatan bersama Fisha.


“Namanya adalah Evish Markoliano sama Fino Markoliano," ucap Even dengan bangganya.


“Wow keren ya Kak, semua serba nama singkatan dari kalian, selamat ya semoga sholih keponakanku," ujar Alby sambil menyodorkan hadiah. Apartemen pun akhirnya penuh hadiah dari kedua orang tua dan para sahabat.


“Yeeee aku jadi tantee!" teriak Sesil dan Sasa dengan serempak. Membuat Fisha tertawa. Fisha memandangi mereka semua sambil tersenyum mengembang. Even memeluk Fisha dengan romantisnya, sedangkan kedua anaknya diperebutkan oleh kedua orang tuanya.


“Terimakasih Sayang, aku mencintaimu, cintaku hingga akhir hayat, hanya maut yang memisahkan kita,” celoteh Even. Ia lalu mencium seluruh wajah Fisha dengan gemasnya.


Terimakasih ya Allah, engkau begitu banyak memberikan kebahagiaan saat ini, setelah liku-liku yang begitu banyak terlampaui, akhirnya aku bisa bernafas lega karena sudah cukup menggapai pelangiku dengan kehidupanku yang sangat indah sekarang, terimakasih.


Fisha membalas pelukan Even dengan sangat erat dan balik mencium Even, lalu mereka saling berfoto dengan Evish dan Fino dengan gemasnya dan gaya bermacam-macam. Mereka sangatlah bahagia dengan kehadiran bayi kembar itu.


❤❤❤


THE END.


❤❤❤


Hai para readers aku yang tercinta, terimakasih selalu mengikuti liku-liku cinta Fisha. Saya ucapkan terimakasih untuk apresiasinya, hingga cerita Otor bisa tamat tanpa menggantung hehe. Maafkan apabila Otor ada salah kata.


Salam sayang dari Otor, semoga kalian suka ya dengan cerita recehan ini. Jangan lupa diresapi pasti nyentuh.😘😘😘


Bye-bye! Semoga kita bisa berjumpa lagi di karya Otor lainnya.


Ini part terpanjang hampir 2000 kata sedikit lagi lho hehe, jangan lupa like-nya, kalau kangen mereka baca lagi boleh banget hehe, nanti kalau Otor gak sibuk insyaAllah pasti akan ada bonus cerita.


Bye lophyupolepell unch. 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2