Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Rasa Kagum


__ADS_3

“Fisha ... aku ... sebenarnya ....” Even ragu untuk mengatakannya namun terpaksa karena ia tidak bisa menahannya lagi. Even mengatakannya sambil memunggungi Fisha dan penuh kebimbangan, berulangkali ia berperang melawan batinnya lalu segera ia menepisnya dan memberanikan dirinya.


“Fisha ... aku sedikit ada rasa kagum padamu dan kagumku mungkin suatu saat akan berubah, siapa yang tau? Semoga saja, maafkan aku mungkin ini bukan waktu yang tepat karena waktu yang terlalu cepat! Aku sebenarnya pun ragu, tapi aku mencoba meyakinkannya ternyata ya aku mau berkorban untukmu, berarti apakah itu yang namanya perasaan berlebih?” ucap Even dengan cepat karena ia merasa gengsi dan belum waktunya untuk itu sehingga ia bertele-tele dalam kalimatnya.


Aduh beneran ini aku mengatakannya, kalau dia GR bagaimana? Bisa gawat aku kalau langsung dimakinya, dia kan killer sekali seperti singa haha, udah bismillah semoga oke, gentle dong Ven cowok kok, haha. Batin Even sambil mengelus dadanya, lalu hening tiada jawaban dari Fisha, ia lalu menoleh ke arah Fisha dan ia pun terkejut dengan membelalakkan kedua matanya.


“Eh Fisha tidur? Untung saja ia gak jadi dengar, dari tadi tidur ternyata wkwk syukurlah mungkin belum saatnya, aku kira dia mendengar semuanya,” keluh Even lirih sambil tersenyum dan puas memandangi wajah Fisha yang manis itu.


Even berusaha menyentuh bibir Fisha yang mungil itu namun diurungkannya, setelah dirasa puas, Even pun berbalik membelakangi Fisha kembali dan melihat pohon-pohon yang berjalan bergantian dengan gedung-gedung tinggi di arah jendela taxi yang berjalan dengan kecepatan sedang , Fisha yang sedikit mengerjapkan matanya dari tadi ia mendengar ucapan Even yang lirih itu, ia penasaran dibuatnya.


“Kenapa? Maksud kamu apa untung saja itu? Hayooo?” sahut Fisha dengan menatap Even penuh curiga, Even yang mendengar suara Fisha ia kaget bukan main lalu menoleh dan membalas tatapan Fisha dengan cengengesan.


“Kenapa ditanya malah cengengesan? Ada yang lucu? Jawab!” perintah Fisha, Even pun berfikir keras lalu ia terpaksa mengatakannya dengan ragu karena Fisha yang menatapnya dengan penuh permohonan dan menunggu jawabannya.


“Eh sudah bangun? Hehe, apa kamu mendengarnya tadi?” basa-basi Even agar segera cepat berakhir.


“Hem iya sudah, ayo apa kok!”


“Tadi itu ...,” ucapnya terjeda saat supir taksi bilang sudah sampai di rumah sakit, Even lalu mengeluarkan uang dari kantong celananya dan memberikan ke Fisha agar diberikan ke supir taksi karena Fisha duduk di belakang tempat duduknya dengan supirnya, namun Fisha menggeleng.


“Udah gak usah biar aku saja!” tolak Fisha dengan cepat. Lalu mereka pun keluar dengan berdiri beriringan.


“Enggak ini saja ya ... ambil kali ini saja ya!” mohon Even dengan wajah yang memelas, Fisha yang tak tega ia pun mengiyakannya lalu membayar ke supir taksinya, ia mengangguk sebelum supir itu meninggalkan mereka sebagai rasa hormat, supir taksi membalas dengan senyuman tulus dan membalas anggukan Fisha, lalu berlalu pergi.


“Eh sudah sampai RS ya Fisha, ayo cepat nanti saja ya penjelasanku, rasanya bahuku sakit biar cepat diambil pelurunya,” Fisha yang dari tadi cemberut karena tak mendapatkan jawaban dari Even tadi, ia pun lalu bersedih saat mendengar basa-basi Even mengatakan kata peluru, ia merasa sangat bersalah kepada Even selalu, ia berandai terus menerus, andai bukan Even tapi aku, begitu andaiannya di dalam otaknya.


“Udah jangan menangis! Aku sendiri yang ingin menyelamatkan kamu, jadi kamu gak salah kok,” tegas Even sambil berjalan mendahului Fisha dengan berjalan pelan sambil memegangi bahunnya yang sakit, Fisha yang tau itu ia dengan cepat berlari dan menghampiri Even, lalu Fisha merangkul lengan Even.

__ADS_1


Hahaha rencanaku berhasil juga, aku pura-pura memelas dengan mendahuluinya, dia berlari dan gak tega denganku, Fisha ... Fisha ... kita sama-sama aneh dan gengsi sekali, apa kau punya rasa sama sepertiku? Atau hatimu masih tertambat paten dengan Awan? Apa aku sedikit saja tidak bisa memasukinya? Eh tapi apa ini namanya cinta? Apa iya sih? Aku benar-benar gila. Batin Even sambil terus berjalan dan memasuki ruang RS bersama-sama dengan adik dan semua sahabatnya.


--------


Mereka bertanya kepada resepsionis, dan Even beserta yang lainnya diarahkan oleh suster untuk duduk di kursi tunggunya di depan ruang UGD, sedangkan Alby sedang sibuk berkutat dengan lembaran dan bolpoinnya mengisi data administrasi dengan sedikit membungkuk tetap di meja resepsionis itu. Even yang menunggu di kursi ia merasa bosan sambil memainkan ponselnya dan sesekali mendesis.


“Apa begitu sakit?” tanya Fisha dengan nada khawatir dan mengernyitkan dahinya saat mendengar Even yang sesekali mendesis lirih.


“Sedikit, tapi gak apa-apa.” Even tersenyum dengan semanis mungkin, Fisha yang melihatnya hatinya sedikit berdesir dan terus menatap Even, Fisha pun tersadar saat suster memanggil Even.


“Pak Even! Silahkan masuk!” ujar susternya dengan mengangguk, Even pun bangkit dari duduknya lalu Fisha memegangi tangannya niat memberi semangat.


“Kenapa? Kangen ya? Sudah nanti juga ketemu lagi haha,” ucap Even sambil tertawa kerasnya menghilangkan ketakutan Fisha, Fisha memonyongkan bibirnya lalu Even mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


“Kenapa bibirnya? Apa mau minta kiss? Haha,” bisik Even sambil berlalu pergi.


“Eveeen Markolianoooo, Venano ....” Even yang mendengar teriakan Fisha karena geram ia terkikik geli, lalu ia masuk ke dalam ruang UppGD.


“Udah kak Even kuat kok Fish, sabar saja santai!” cetus Sesil sambil berjalan mendekati Fisha lalu mengusap punggungnya.


”Iya Fish, bener apa kata Sesil, bismillah saja!” Sasa menimpali lalu menghampiri Fisha juga Sesil dan mereka berpelukan bersama.


“Kalau kamu khawatir dan penasaran? Masuk saja dan temani kakakku! Boleh kok tadi aku sudah izin dokter katanya boleh ditemani 1 orang saja, udah kamu saja!” perintah Alby dengan nada entengnya lalu mengibaskan tangan ke arah Fisha tanda cepat pergi temani kakakku.


“Apa beneran gak apa-apa?” tanya Fisha dengan tatapan ketakutan ke arah Alby.


”Iya Fish, udah sana ditunggu dokternya biar kamu tau cara mengambil peluru dan menjahitnya.” Fisha yang mendengar itu dari Alby ia menelan salivanya dengan kasar, lalu menatap Alby dengan tajam, Alby yang ditatap seperti itu ia terkikik dan tangan diangkat ke atas tanda suer.

__ADS_1


Lalu Fisha masuk ke dalam, Even yang melihatnya ia tersenyum.


“Kenapa lagi? Ada apa kok masuk?” tanya Even dengan antusias sambil berbaring.


“Gak apa aku hanya ingin menemanimu saja, kata Alby boleh perwakilan satu orang.”


“Apa boleh beneran nie Dok?” dokter pun mengangguk, lalu dokter fokus kepada bahu Even dan menyuntiknya dengan biusan sedang penahan rasa sakit, dokter membelah sedikit bahu Even dan berkutat mencari di mana pelurunya berada, saat dirasa lama Even sedikit menyengir karena biusannya sedikit terasa.


Fisha yang melihat itu dia bergidik ngeri dan menutup mukanya dengan kedua tangannya, setelah dokter menemukan pelurunya dan membuang di wadah yang tersedia, dokter lalu menutup sobekan bedahnya dengan jahitan.


“Udah belum?” tanya Fisha masih menutup mukanya.


”Aw, aw, sakiiiit,” goda Even, dan berhasil Fisha dengan panik mendekati Even. Even yang melihat expresi Fisha dengan cepat ia sangat senang.


”Mana, mana yang sakit?” dokter yang melihatnya ia tersenyum dan geleng-geleng kepala dibuatnya lalu melanjutkan jahitannya yang tinggal sedikit lagi.


“Sudah selesai! Untung gak kelamaan dibawa ke sini, kalau fatal kamu bisa kekurangan darah dan bisa-bisa koma, baru kali ini ada seseorang yang kuat sekali sepertimu,” jelas dokter panjang lebar.


“Dokter, apa saya boleh pulang? Terus bolehkah saya mengemudi?” tanya Even.


“Tidak boleh! Biar Alby saja!” sahut Fisha singkat. Even menatap dokter dengan memelas agar memperbolehkannya.


“Iya benar kata kekasihmu.” Even dan Fisha yang mendengar ucapan dokter kata kekasih wajahnya memerah menahan malu.


“Baiklah, makasih Dok, kami permisi!” mereka saling bersalaman lalu dokter pun mengangguk dan memberikan resep obat untuk Even.


---------

__ADS_1


Note :


Weekend yaaa up-nya agak telat hehe, terimakasih selalu menunggu cerita ini, jangan lupa like-nya.. ❤


__ADS_2