Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Sama-Sama Terus


__ADS_3

Fisha berteriak sejadi-jadinya dan mengerjapkan kedua bola matanya. Ia merasakan bergetar seluruh tubuhnya dan mencari-cari keberadaan Even dengan mengarahkan pandangannya ke sana ke mari, ia mencari Even dengan menangis pilu karena Even yang bunuh diri juga menurutnya.


“Maz Eveeeen! Kamu ada di mana Maz? Eh ... kenapa aku masih diikat ya? Bukannya aku sudah hancur lebur dan tak tau arah karena ditindas kereta? Juga aku yang gentayangan?" teriak Fisha dengan suara yang tak jelas karena mulut yang masih dilakban. Ia lalu mengernyitkan dahinya karena sangat bingung dengan takdir yang mempermainkannya menurutnya. Dan apa yang terjadi saat ini. Lalu ia memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri sedari tadi itu.


Apa tadi aku pingsan terus bermimpi? Apa bius itu sangat kuat hingga menyebabkan aku jadi pingsan kembali? Jadi ... apa aku masih hidup? Batin Fisha pilu, ia menangis tersedu-sedu mengingat kehancuran dirinya, kehancuran Asult dan juga Even yang bunuh diri karenanya.


Wajahnya pucat pasi saat melihat lagi kereta yang tinggal beberapa jarak dari kejauhan dan suara gesekan kereta api dengan relnya.


“Jadi setelah ini gak akan ada kata ulang dan aku akan benar-benar mati? Apa dalam mimpiku tadi itu gambaran masa depanku yang akan tragis hancur lebur, aaaa aku takuuuut!" ucap Fisha lirih karena ia yang pening dan tak kuat lagi untuk berteriak. Fisha juga menahan rasa hausnya karena ia sedari tadi tak mau menyentuh apapun yang diberi Asult karena ia tak sudi dan sangat membenci Asult.


Saat Fisha memejamkan matanya karena ketakutannya, pemuda tampan datang menghampirinya dengan berlari dan setelah itu ia mendekapnya. Ia menciumi seluruh wajah Fisha yang sangat miris itu karena bekas tamparan sana sini dari Asult yang psikopat itu.


“Sayang! Buka matamu! Ini aku Maz Even, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu pucat sekali juga sangat dingin?" tanya Even sambil mengusap semua wajah Fisha dengan lembut disertai dengan tatapan nanarnya.


Fisha yang sangat kehausan dan bibirnya tidak kuat untuk berucap ia hanya mengangguk dengan pelan melihat Even yang bisa menemukannya. Even merengkuh Fisha semakin erat sambil sesekali mengusap air matanya. Even lalu membuka lakban yang membungkam mulut Fisha.


Ia sangat geram saat melihat Fisha penuh luka juga di pucuk bibirnya. Ia menyekanya dengan lembut lalu mengepalkan tangannya dengan menggerutukkan giginya.


“Siapa yang berani melakukan ini padamu! Aku bersumpah akan membunuhnya!" janji Even kepada Fisha dengan tegas. Fisha hanya menatap Even dengan tatapan yang kosong sambil tersenyum tipis.


“Bos cepat Bos! Lepaskan ikatannya, nanti saja bermesraannya, itu dalam 2 menit lagi kereta akan menghampiri kalian," seru Jonatan yang menoleh ke arah kereta yang sudah berjalan itu. Even terkaget juga saat Fisha menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya dengan mata yang dipejamkan. Fisha mengingat mimpinya yang tak masuk akal itu apabil mendengar suara kereta.


Apa kamu segitu menderitanya Sayang, sampai kau syok seperti itu, aku sangat terluka melihatmu seperti itu. Batin Even yang dari tadi memandangi Fisha dengan pilunya.

__ADS_1


-------


Even dengan cepat mendekati tali yang mengikat tubuh Fisha, setelah itu ia berusaha membuka tali yang mengikat Fisha sangat erat itu, namun rasanya sulit membukanya membuat Even frustasi.


“Maz sebaiknya kamu tinggalkan aku saja, kamu harus merelakanku, mungkin ini sudah suratan takdirku, aku gak mau kamu juga tragis sepertiku," saran Fisha dengan suara yang semakin lama semakin melemah dan ia sudah tak kuat lagi, namun ia tahan karena ia tak mau Even semakin khawatir padanya.


“Enak saja! Gak akan aku meninggalkanmu kita akan sama-sama terus, kamu diamlah! Aku akan menyelamatkanmu," kata Even sambil masih berusaha melepaskan tali yang mengikat Fisha dengan eluh yang berjatuhan karena ia khawatir waktu sudah tidak cukup untuk melepaskan itu.


Dengan pemikiran yang sangat canggih ia teringat senapan yang ada di kantong celananya. Lalu ia mengedipkan matanya ke arah Jonatan dengan cepat.


“Jon cepat! Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan, sekarang!" perintah Even dengan tegasnya. Jonatan mengangguk cepat lalu mengambil senapan yang ada di kantong celana Even. Ia lalu menekan senapan lasernya ke arah tali itu, lalu tali pun terbakar dan terputus. Membuat Even senang dan menghela nafas panjangnya.


Lalu saat kereta sudah hampir saja menabrak mereka. Fisha membelalakkan matanya sambil berteriak semakin kencang. Even dengan cepat mendorong Fisha ke belakang dengan kakinya. Fisha jatuh tersungkur tak bersama Even.


“Maz Even! Maz kamu di mana?" ucap Fisha sangat lirih sambil merangkak karena tak kuasa berdiri.


Ia semakin menangis saat ketakutan yang dirasakannya. Ia membayangkan kalau Even tertindas kereta karena menyelamatkannya.


“Tidak, ini tidak boleh terjadi!" Fisha yang tak terima ia kumpulkan semua kekuatannya dan merangkak membarengi kereta yang masih berjalan. Ia ingin menyusul kereta itu, namun akhirnya ia yang tak kuat itu akhirnya ia terkapar dan pingsan.


Lalu Even yang ternyata tak apa-apa ia mencari keberadaan Fisha saat kereta sudah habis melaju.


Ia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu karena tidak ada di tempat sewaktu ia mendorongnya.

__ADS_1


“Fishaaa kamu di mana Sayang? Maz di sini! Maz baik-baik saja!" teriak Even yang sangat takut itu. Jonatan yang tiba-tiba melihat seseorang terkapar ia pun mencolek Even dengan cepat.


“Bos, sepertinya itu Fisha Bos!" tunjuk Jonatan ke arah yang dilihatnya itu. Dengan secepat tenaga Even berlari menghampirinya. Ia menangis saat yang dilihatnya itu benar-benar kekasihnya, dengan darah menetes di keningnya.


“Apa aku sangat kencang mendorongmu tadi Sayang? Maafkan Maz Sayang! Bangunlah!" sesal Even tapi dia melakukan yang terbaik karena waktu tadi sangatlah mepet. Ia raih dan dekap tubuh Fisha lalu menggoyangkan badan Fisha dengan sangat kencang, karena ia tak mau Fisha pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Fisha yang sedikit mendengar suara Even karena kekuatan yang sedikit tersisa ia tersenyum tipis lalu mengangkat tangannya dan mengusap wajah Even dengan penuh cintanya.


“Maz Even kan?" tanya Fisha yang sudah sangat mengecil pupil matanya. Even mengangguk dan menggenggam tangan Fisha yang mengusap wajahnya. Fisha yang akhirnya tak kuat itu ia pun pingsan dan tangannya terlepas dari genggaman Even.


“Fishaaa! Bangun Sayang! Jangan tinggalkan Maz, Maz takut ... kenapa cobaan selalu menyakitimu, kenapa bukan Maz saja, kamu pucat sekali Sayang juga panas sekali." Even menangis saat melihat Fisha yang menggigil dengan kencangnya.


Ia lalu menggendong Fisha dan bangkit berlari menuju mobilnya.


“Jon ayo cepat Jon! Sudah tidak ada waktu lagi, aku takut tak bisa menolong Fisha, sepertinya disamping dia terluka dia juga sangat syok dan trauma, hiks, hiks," ucap Even disertai dengan tangisannya.


Jonatan pun tersentuh melihat percintaan bosnya itu. Ia pun ikut menitikkan air matanya, lalu mengusapnya dengan kasar dan dengan cepat mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


“Kamu harus bertahan Sayangku, untuk cinta kita, aku janji akan melindungimu sepenuhnya, dan akan membalas siapapun yang menyakitimu," seru Even sambil menyeringai membuat Jonatan tersenyum licik juga.


---------


Note :

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian terus hehe terimakasih baca recehanku. Jangan lupa like-nya. ❤


__ADS_2