
“Aku tadi bermimpi kalau kamu-” kata Even terhenti sambil menatap Fisha dan ragu untuk meneruskannya.
“Apa, kamu mimpi apa?” tanya Fisha penasaran sambil mengompres kening Even dengan penuh kasih sayang. Fisha mengambil semua alat kompresnya dari dapur Even tadi.
“Aku tadi mimpi Kamu cium aku hehe, tapi kok terasa nyata bener ciumannya.” Even terkekeh sambil membungkam mulutnya malu karena ucapannya.
Eh apa dia terasa ya tadi haha, padahal aku kan cuma dikit nyiumnya atas ucapan terimakasihku, itu fakta gak mimpi, kok bisa dibilang mimpi, lucu sekali haha biarlah aku pura-pura saja. Batin Fisha, ia lalu memeras sapu tangannya lalu mengompres Even kembali.
“Eh ada aja kamu Maz, ya gak mungkinlah sembarangan, masak aku main sosor sih ...,” sewot Fisha berpura-pura dengan nada yang sungguh jutek.
“Iya aku tau bukan kamu, gitu aja ngambek, kan aku bukan nuduh tapi bercerita kan mimpi Sayang ...," sanggah Even dengan senyuman manisnya menatap Fisha terus menerus.
“Maz kenapa memandangiku seperti itu, aku malu tau?" protes Fisha sambil tersipu malu lalu mengusap kasar wajah Even, membuat Even tertawa terbahak-bahak. Fisha pun menghentikan kegiatan mengompresnya lalu berdiri dan ingin membawanya pergi alat kompres itu ke arah dapur.
“Mau ke mana?" tanya Even mencegah Fisha pergi dengan menarik tangan Fisha cepat-cepat, Fisha pun menghentikan langkahnya dan menoleh saat digenggam Even dengan erat.
“Lepaskan! Aku gak mau ke mana-mana, aku cuma mau balikin alat kompres ini," keluh Fisha sambil memanyunkan bibirnya dan memberontakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Even namun sia-sia ia tak mampu untuk melawan.
“Gak usah, taruh di meja situ aja! Duduk saja sini!" perintah Even menepuk-nepuk kasurnya agar Fisha duduk di situ, ia juga bangkit dari tidurnya dan bersandar di ranjangnya sambil berselonjoran.
“Ayo sini!" ulang Even saat Fisha belum duduk dan malah melongo. Fisha yang akhirnya tersadar ia terpaksa dan langsung menuruti apa kata Even, lalu duduk di sebelah Even hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.
Mereka lalu saling bertatapan lama dan saling bertukar pandangan dengan penuh cinta lalu sesekali saling tersenyum dan tersipu malu.
“Apa Maz sudah enakan badannya?” Fisha menyentuh kening Even dan saat dirasa sudah tak panas, ia pun tersenyum senang dan berusaha menghilangkan kecanggungannya.
“Makasih ya, aku sembuh berkat kamu," tatap Even dengan suara manjanya.
“Iya Maz makasih kembali, jangan sakit lagi ya aku khawatir," tegur Fisha dengan keceplosannya namun ia tak sadar dengan yang diucapkannya.
“Khawatir?" tanya Even dengan wajah sumringahnya, sedangkan Fisha yang mendengar itu ia wajahnya memerah karena sungguh ia sangat malu karena keceplosan.
“Beneran kamu khawatir?” ulang Even saat tak mendengar jawaban Fisha.
“Iya iya aku khawatir, puas?" balas Fisha dengan rasa malunya. Even mengangguk cepat dibumbui dengan senyumannya.
“Maz sudah malam ini, aku balik dulu ya?” pamit Fisha menyela Even yang sudah mau berbicara sesuatu namun Even mengurungkannya karena belum saatnya.
“Balik ke mana? Apa rumah sakit itu?" cemburu Even saat bilang rumah sakit karena ia ingat persis Asult masih berada di sana.
“Iya mau gimana lagi maz, kan aku harus tanggungjawab,” protes Fisha dan bangkit dari duduknya.
“Apa kamu mencintainya?" tanya Even dengan tatapan penuh ke arah Fisha, ia penasaran dengan jawaban Fisha yang sungguh saat ini mencekat tenggorokannya karena takut kalau itu benar terjadi.
.
__ADS_1
“Enggaklah, aku hanya kasihan saja! Lagian kan dia juga temen kampus aku Maz, gak lebih!" jelas Fisha dengan sewotnya lalu ia melirik ke arah Even yang sedang tersenyum penuh syukur.
“Maz kenapa? Gila ya hmmm, ya sudah aku pamit dulu ya," ucap Fisha dengan berlalu pergi dan melambaikan tangannya.
”Hey tunggu! Jangan!" cegah Even dengan berteriak.
“Kenapa lagi? Apa kamu mau mengantarku? Kan kamu sakit," sewot Fisha menghentikan langkahnya lalu ia membalikkan badannya dengan cepat.
“Biar Jonatan yang mengantarmu pulang, sebentar aku telepon dia dulu." Fisha menatap Even kembali.
Lalu Even mengambil handphone yang ada di atas meja dan menelpon Jonatan.
“Jon! Segera masuk!" perintah Even cepat saat telepon sudah dijawab. Lalu Even mematikannya dan menaruh handphone kembali ke tempat semula.
Jonatan dengan sigap dan tepat masuk ke dalam dan tersenyum menyapa Even dan Fisha.
“Jon tolong antar ya, terimakasih,” mohon Even dengan suara yang sendu.
“Baiklah! Kami berangkat dulu Bos!" pamit Jonatan dengan menundukkan kepalanya tanda hormat, sedangkan Even ia mengangguk menerima pamitannya Jonatan.
“Maz aku balik, jaga diri baik-baik jangan sakit lagi, oke!” Fisha tersenyum dan mengangkat jarinya bentuk O.
“Siap komandan!" balas Even mengangkat tangannya menaruhnya dipelipis keningnya tanda hormat.
Bos, bos kamu cemburu iya kan? Cepat lamar sana! Jangan lama-lama keburu nanti didahului orang, dasar kau bos cemen sekali haha. Umpat Jonatan di dalam hatinya, ia lalu berjalan membuntuti Fisha yang berjalan duluan.
------
Sementara Asult di rumah sakit, ia menunggu kedatangan Fisha dengan gelisahnya berjalan ke sana ke mari dengan mendorong kursi rodanya.
“Fisha ke mana sih lama sekali? Apa si dosen jelek itu mencegahnya balik ke sini?" ucap Asult berbicara dengan dirinya sendiri.
“Hais, dia sungguh mengganggu saja, ingin aku buang ia ke rawa atau laut, biar di makan ikan hiu sana!" lanjutnya dengan geram dan membuka handphone-nya lalu mencari nama Fisha dan mengechatnya.
📥 Fisha kau ada di mana?
Asult pun memegangi handphone-nya dan menunggu balasan Fisha, lalu beberapa detik kemudian ia mendapatkan notif balasannya.
📤 Di jalan. Eh kau sudah bangun? Apa butuh sesuatu?
Asult membacanya dengan tersenyum karena menurutnya itu adalah perhatian dari Fisha untuknya.
📥 Enggak usah Fish, aku gak butuh apa-apa, yang aku butuhkan hanyalah kamu saja! Cepat datang!
Asult membalasnya dengan rayuan dan ia mengechat Fisha dari tadi dengan senyam-senyum sendiri seperti orang yang lagi kasmaran.
__ADS_1
📤 Oh, ok kalau begitu, istirahat saja sana!
📥 Aku sudah capek tidur Fish.
📤 Oh ya sudah terserah kamu saja! Aku bentar lagi sampai kok.
📥 Oke hati-hati.
📤 Siap!
Saat Fisha menyudahi chatnya dan ingin memasukkan handphone-nya, Even pun mengechatnya. Fisha yang melihat chat Even ia ketawa terbahak-bahak.
Isi chatnya.
📤 Apa kamu udah sampai rumah sakit? Hati-hati ya di sana Fish, jangan macam-macam sama orang cabul itu, dia itu iblis yang jahat dan akan menggerogoti daging serta kulitmu, berhati-hatilah serta waspadalah!
Fisha menggelengkan kepalanya saat pesan Even dirasa lucu sekali, ia lalu membalasnya dengan candaan.
📥 Emang dia kanibal? Aneh-aneh saja kamu Maz, kamu istirahat sana, semoga cepet sembuh, tenang nanti aku akan jaga Asult dengan baik dan memeluknya.
📤 Hey, hey, hey gak boleh! Bukan muhrim! Awas ya nanti akan aku laporkan kepada tante Lani.
📥 coba saja 😝, semoga ceper sembuh bye.
📤 Oke, ingat pesanku.
Fisha menyudahi pesannya lalu semakin tertawa terbahak-bahak saat Even mengancam akan melaporkan kepada ibunya.
Emang dia kenal ibuku? Ada-ada saja ulahnya. Batin Fisha dengan masih tersenyum.
“Kenapa Fish?" tanya Jonatan penasaran saat Fisha dari tadi ketawa dan senyum sendiri layaknya orang gila.
“Eh hehe gak apa-apa, sudah sampai kah?" tanya balik Fisha dengan melihat ke jendela mobilnya.
“Sebentar lagi kok."
Fisha diantar Jonatan naik mobil, waktu menunjukkan pukul 10 malam, mereka pun lalu tiba di rumah sakit, dan Jonatan menganggukkan kepalanya berpamitan kepada Fisha, Fisha membalasnya dengan senyuman dan anggukannya, lalu Jonatan pun pergi.
------
Note :
Hehe Otor baru up tengah malam menjelang pagi, dikarenakan si comel rewel semalaman, maklumi dan hargai ya, demi kalian pasti Otor akan selalu up.
Jangan lupa like-nya, terimakasih. ❤🙏
__ADS_1