Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Kado Terindah


__ADS_3

Fisha pun tersadar dari pingsannya. Ia mendesis nyeri sambil memegangi kepalanya karena masih terasa pening. Ia menoleh dan tersenyum tipis saat Even berasa di sampingnya, menatapinya sambil menggenggam tangannya erat.


“Aku kenapa Maz?" tanya Fisha dengan sangat lirih. Lalu menarik-narik tangan Even karena rasa penasarannya.


“Kamu tadi pingsan Sayang, kamu tau? Kamu akan menjadi seorang ibu," ucap Even. Ia menatap Fisha dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya dan mencium kening Fisha. Fisha yang masih bingung ia hanya melongo.


“Maksud Maz apa? Ibu? Ibu apa Maz?" tanya Fisha disertai mengernyitkan dahinya.


“Kita akan menjadi orang tua Sayang, kamu hamil," jelas Even dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.


“A—apa! Ha—mil? Hey Maz jangan bercanda, hamil apa? Bukankah kita baru saja menikah? Masak secepat ini sih ..." keluh Fisha yang tak mempercayainya. Fisha lalu berusaha bangkit dan menyandarkan kepalanya di dinding dekat ranjangnya, sambil menselonjorkan kakinya dan memainkan jari kakinya.


“Eh gak mungkin kenapa Sayang? Ya mungkin dong, Allah baik sama kita tau? Dan juga ini kan usaha kita, kamu gak lihat kemarin, Maz gencar sekali tongkat saktinya sampai beberapa ronde, ya itu yang membuat topcer, bisa membuatmu membuncit haha," ungkap Even dengan tawa renyahnya. Fisha yang mendengar itu ia malu, dengan cepat Fisha memukul bahu Even karena kenakalannya.


“Ya bukannya gitu Maz, tapi gimana dong, aku masih kuliah Maz, kurang 1 tahun setengah lagi, nanti bisa-bisa kedodoran kuliahku," ucap Fisha dengan cemberutnya.


“Santai Sayang, ada Maz yang selalu di sampingmu, Maz akan selalu jadi dosen buatmu," balas Even. Lalu memeluk Fisha dengan gemasnya.


“Tapi katanya dulu kamu dosen sementara Maz, dan akan pulang mengurus kantor? Aku ingat lho dulu kamu bilang begitu," ujar Fisha lagi yang takut akan kesendiriannya.


“Itu dulu, kan belum klop kita, belum saling cinta, sekarang sudah nikah jadi beda, nanti bisa diatur sama Maz, sudah gak usah khawatir Sayang." Saat Even membelai rambut Fisha, dengan cepat Fisha menepis tangan Even dan gelisah sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


“Kamu kenapa Sayang?" tanya Even. Fisha yang sudah tak tahan lagi ia dengan cepat mengeluarkan cairan kuning ke dalam pangkuhannya. Ia yang dirasa semakin lama semakin mual, hingga semua yang ada di perutnya dimuntahkannya.


Fisha ya merasa malu. Ia pun menangis. Even dengan sigap merawat Fisha dengan sungguh-sungguh, mengelap dan membasuhnya tanpa jijik sedikitpun.


“Apa sangat sakit? Hingga kamu pucat seperti ini dan menangis?" Fisha yang ditanya ia hanya menatap Even sambil menangis. Ia diam membisu membuat Even gusar.


Dengan cepat Even memencet tombol yang ada di dekat Fisha. Suster pun datang bersama dokter menghampiri mereka.


“Ada apa Pak Even? Bu Fisha?" tanya dokter dengan ramahnya. Even pun menjelaskan semuanya. Dokter yang melihatnya ia tersenyum.


“Gak apa-apa Bu, hal ini wajar dalam trimester pertama, Pak Even harus jaga baik-baik Bu Fisha ya." Even mengangguk saat mendengar penjelasan dokter.

__ADS_1


“Suster tolong bereskan semua yang kotor itu ya, juga ambilkan obat di ruangan saya!" perintah dokter yang bernama Geby itu. Suster pun menurut lalu berlalu pergi.


Beberapa menit kemudian. Suster pun datang dengan membawa vitamin kehamilan. Dokter secara rinci menjelaskan semuanya dan memberikan resep obatnya yang harus ditebus di apotik. Even dengan sigap mencatat poin-poin penting dan extra menjaga istrinya.


“Kalau begitu kami permisi dulu, Bu Fisha kalau sudah enakan boleh kok pulang," pamit dokter bersama suster menyudahinya. Fisha dan Even mengangguk dengan dibarengi senyumannya.


“Maz, ayo pulang saja ya besok ke Malang, aku ingin memberitahu mereka semua yang kemarin mengidam-idamkan aku hamil," celoteh Fisha dengan suara manjanya.


“Baiklah! Yang penting kamu kuat ya ..." balas Even dengan membantu Fisha yang ingin bangkit.


Mereka lalu ke apotek untuk menebus obat, lalu pulang ke hotelnya. Fisha yang rasanya sangat letih. Ia pun merebahkan dirinya dan ia pun dengan cepat tertidur pulas.


Even yang masih terjaga. Ia tersenyum lalu mendekati Fisha dan mencium seluruh wajahnya. Fisha hanya menggeliat, lalu Even beralih menyentuh perut Fisha dan mengusapnya. Ia pun berdoa di dalam hatinya. Berdoa untuk kebaikan istri dan anaknya.


“Terimakasih Sayang, ini adalah kado terindah, di hari ulang tahun Maz hari ini, meskipun kamu melupakannya tapi ini lebih dari cukup, dan aku sangat mencintaimu" ucap Even dengan lirihnya, yang didengar oleh Fisha samar-samar.


Apa! Ulang tahunnya Maz Even? Kenapa aku bodoh sekali dan melupakannya dodoool, bukannya Alby dulu pernah bilang padaku, aku harus gimana ini, nanti deh kalau Maz Even tidur, aku keluar cari kado. Batin Fisha. Ia terbangun saat Even mengusap-usap perutnya dan Fisha merasa sangat geli.


-------


Jam menunjukkan pukul 11 siang. Fisha yang merasa Even sudah tidur dengan nyenyaknya. Ia pun mencoba bangun, dengan menyingkirkan pelukan Even pelan-pelan. Even yang sangat kecapekan ia pun tak merasakan pelukannya yang terlepas.


Fisha menatap Even, lalu ia mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Even dengan singkat.


“Happy birthday Sayangku, maafkan aku yang pikun ini, aku izin dulu ya Maz untuk keluar sebentar saja, jangan bangun dulu," pamit Fisha dengan menahan tawa. Ia pun berjalan pelan, mengendap-endap takut Even terbangun, lalu Fisha menuju toko yang ada tida jauh dari hotel.


Ia membeli kue ultah, baju, celana beserta jam tangan untuk Even. Ia juga meminta mbak penjaga toko membungkusnya.


“Semoga kamu suka ya Maz, maafkan aku memakai kartu kamu untuk berbelanja hehe, aku tak punya uang hehe," ujar Fisha dengan dirinya sendiri. Ia pun berjalan pelan dan hati-hati.


--------


Lalu di arah yang berlawanan. Seseorang sengaja ingin menabraknya. Beruntung Even yang sudah terbangun dan ketakutan mencari Fisha. Ia yang melihat istrinya yang mau ditabrak, ia pun berlari dengan kencangnya lalu mendekapnya dan mengelus-elus puncak kepalanya.

__ADS_1


“Kamu gak apa-apa kan Sayang? Baik-baik saja kan?" Fisha yang terkaget. Ia pun melongo lalu memandangi seseorang yang menolongnya yang tak lain adalah suaminya sendiri.


“Kamu mau ke mana Sayang? Kenapa gak ajak Maz saja, itu tadi bahaya, kurang ajar! Sepertinya tadi dia sengaja, biar nanti Maz tangani," ucap Even yang khawatir, disertai dengan makian karena sangat geram.


“Iya Maz, aku gak apa-apa, aku hanya kaget saja, aku mencari kado untukmu Maz, maafkan aku yang pikun ini baru ingat, selamat ulang tahun Sayangku, semoga tambah segalanya dan terbaik," ucap Fisha sambil menyodorkan bingkisannya. Even menerimanya dengan sangat senang, lalu mendekap Fisha dan memeluknya.


“Terimakasih Sayang," balas Even dengan rasa syukurnya. Ia curiga saat Fisha semakin memberat dan nafasnya tak beraturan. Even yang curiga istrinya pingsan. Ia pun menggoyangkan badanya pelan.


“Sayang, kamu kenapa? Bangun dong! Jangan bikin Maz khawatir." Even lalu menggendong Fisha dengan pontang-panting sambil membawa bingkisannya. Ia membelalakkan matanya saat melihat darah di paha Fisha yang sedikit tersingkap.


“Sayang bertahanlah," lanjut Even disertai air mata yang sedari tadi menetes. Dengan cepat Even menelepon dokter kandungan.


Dokter pun datang dengan cepat, karena hotel dan rumah sakit hanya berjarak beberapa langkah saja. Dokter lalu memeriksa Fisha dengan sekali-sekali menatap Even disertai senyumannya.


“Ibu Fisha baik-baik saja Pak, dia hanya kelelahan dan terkejut, jaga dia baik-baik ya Pak, kandungannya lemah jadi dia kaget sedikit pingsan, untung bayi dalam kandungannya tak apa-apa," pesan dokter kepada Even.


“Baiklah Dok, terimakasih." Dokter mengangguk mengiyakannya, lalu ia pergi meninggalkan Even yang sesekali melamun dan menatapi wajah istrinya.


Even mengusap air matanya dengan cepat saat Fisha tersadar dan menatapnya.


“Maz ... kamu menangis?" Even menggeleng lalu memeluk Fisha.


“Kita pulang sekarang saja Sayang, Maz pesen tiket yang mahal biar cepat jamnya dan nyampeknya," ajak Even. Ia dari tadi memikirkan untuk itu semua, karena sepertinya di mana pun ia dan Fisha berada, ini tidak aman untuk Fisha, tapi setidaknya di Malang banyak yang menjaganya.


“Kok mendadak banget sih Maz? Katanya besok?" tanya Fisha yang kebingungan.


“Gak apa-apa Sayang, sekarang saja! Maz lagi banyak pekerjaan," ucap Even beralasan. Fisha hanya mengangguk dan menuruti apa kata suaminya.


-----


Note :


Jangan lupa like-nya pembaca yang budiman.🤗❤🙏

__ADS_1


__ADS_2