Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Mengalah Dan Berkorban


__ADS_3

Fisha lalu mempresentasikan dengan baik dan benar membuat semua orang paham juga takjub. Apalagi Even ia memandangi Fisha melongo hingga mulutnya menganga tanpa berkedip.


“Pak, sudah selesai," ucap Fisha dengan cepat membuat Even terkaget dan menghentakkan kakinya lalu ia yang malu mengusap wajahnya dengan kasar.


“Oh iya, silahkan duduk! Lain kali jangan melamun ya! Dengerin saya menerangkan!" perintah Even menerangkan sambil menyentil kening Fisha.


Fisha hanya mengangguk pasrah dengan mendesis dan mengusap-usap keningnya pelan, lalu ia kembali ke tempat duduknya.


Apa-apaan katanya melupakanku, tapi buktinya dia segitunya, aku yakin dia gak akan pernah melupakanku, ya kan Maz ... aku tau kamu sangat mencintaiku, semoga saja! Batin Fisha, ia duduk dengan menatap Even sambil memainkan bolpoinnya. Even yang tau ditatap ia hanya geleng-geleng kepala saja.


“Ok, ya sudah Anak-Anak pertemuan kita kali ini sudah selesai ya, kita akan jumpa lusa, kalau ada yang mau ditanyakan bisa tanya kepada asisten saya, sekian terimakasih, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," salam Even menyudahi mata kuliahnya dan menunjuk Fisha saat menyebutkan kata asisten tadi.


Semuanya menjawab salam Even lalu merapikan buku-bukunya dan berlalu pergi keluar untuk beristirahat sebelum jam kedua dimulai kembali, dan setelah Even sudah berjalan keluar. Fisha yang merasa masih mengganjal dengan Even dan belum selesai permasalahannya ia pun berlari mengejar Even dan menghampirinya, membuat Adrina melongo karena tak tau ada apa dengan sahabatnya itu.


“Maz ... Maz Even ... tunggu sebentar! Aku mau berbicara dan menyelesaikannya," kekeh Fisha untuk berusaha menjelaskannya agar semua clear, padahal Even sudah tau semua bahwa hati Fisha hanya untuknya, namun ia hanya mengalah dan berkorban agar Fisha tak sakit karena memikirkannya. Ia hanya pasrah kepada sang pencipta.


Even yang merasa dipanggil ia berhenti lalu tersenyum membelakangi Fisha, ia sebenarnya sangat merindukan gadis kecilnya itu, ia pun menoleh dan memasang wajah datarnya. Fisha lalu mendekat dan memasang wajahnya yang sedih.


Cukup! Jangan memasang wajah seperti itu, aku sangat sakit melihatnya Sayang, maafkan aku, nanti tiba saatnya kita akan bersama, semoga InsyaAllah, karena kau selalu bermunculan dalam mimpiku juga dalam selesai sholatku. Batin Even, ia menatap dalam wajah Fisha dan matanya yang nanar. Lalu memalingkan wajahnya dan menata hatinya kembali.


“Maz Even ...." Fisha memanggil ulang dengan nada yang sendu. Even pun menoleh kembali.

__ADS_1


“Iya ada apa? Oh ya ... ini kampus ya jangan memanggilku Maz, bapak saja sesuai seperti orang-orang, juga panggil kakak seperti Alby, karena kita bukan siapa-siapa sekarang,” protes Even dengan lantang dengan hati yang sangat pedih. Ia terpaksa melakukannya agar Fisha bahagia bersama Asult saja karena rasa tanggungjawabnya siapa tau lama kelamaan bisa menjadi cinta, ia menghindari hatinya agar tak sakit semakin parah nanti.


“Apa! Kenapa kau setega itu padaku? Aku kira kau sangat mencintaiku, nyatanya kau hanya merelakanku tanpa berkorban, kau begitu jahat! Ya sudah kalau itu maumu aku akan melupakanmu, terimakasih atas semua, aku gak akan lagi menyulitkanmu, dan satu lagi aku mengundurkan diri sebagai asisten, sekian bye!" Fisha berbicara dengan panjang lebar dengan sangat mencekat di dalam tenggorokannya, rasanya terganjal batu besar di dadanya, air matanya pun melolos lalu ia mengusapnya dengan kasar dan berlari menjauhi Fisha.


------


Even yang tak bisa berkata apa-apa ia hanya menatap Fisha yang sudah berlari kencang dan hanya terlihat punggungnya dari kejauhan yang sudah sangat kecil.


“Maafkan aku, maafkan aku Fisha ... semua ini gara-gara Asult, aku harus cari tau apa dia benar-benar cinta atau hanya memainkan Fisha saja, kalau dia benar-benar cinta aku akan merelakannya, kalau dia licik dan tak mencintai Fisha aku akan merebutnya kembali," marah Even dengan mengusap wajahnya kasar lalu mengepalkan tangannya dengan menggerutukkan giginya karena sangat geram kepada Asult.


“Bahkan Fisha sekarang mengundurkan diri menjadi asistenku karena ini dan kita semakin jauh, Tuhaaan kasih petunjukMu, apakah aku salah karena tak memperjuangkannya dan merelakannya, nyatanya aku gak mau Asult selalu menekannya karena ingin bunuh diri itu,” lanjut Even. Ia tau kalau Asult menjebak Fisha untuk menerima cintanya karena alasan bunuh diri itu. Apa Even yang tak tau, anak buahnya pun banyak. Ia juga galau seperti halnya Fisha.


Lalu Even pergi ke arah kantornya dengan langkah yang lemas karena kebingungannya. Sedangkan Fisha di jalan ia menangis tersedu-sedu dan mengusapnya dengan kasar. Adrina yang melihatnyabia menghampiri Fisha dan merangkulnya lalu mengajaknya duduk di taman.


“Itu-itu aku menerima cinta Asult," balas Fisha dengan sesenggukan jadi suaranya menjadi terbata.


“Apa! Kok bisa? Bukannya kamu dan Pak Even saling cinta? Kenapa begitu?" tanya lagi Adrina dengan syoknya dan membelalakkan matanya.


“Iya saling cinta, tapi sekarang maz Even marah Gara-gara itu, karena aku dulu ditembaknya bilang gak mau pacaran, nyatanya sekarang ia dengar langsung aku menerima Asult juga kemarin Asult memelukku maz Even melihatnya Adrina? hiks, hiks, apa yang harus aku lakukan?" jelas Fisha dengan diselingi tangisan yang pecah. Adrina langsung memeluk Fisha dan mengusap pundaknya dengan lembut.


“Sabar Sayang, kalau kalian jodoh pasti kembali lagi, yakinlah itu Allah tidak tidur," balas Adrina menenangkan Fisha. Fisha yang mendengar itu ia hanya mengangguk dan masih menangis.

__ADS_1


“Tapi Asult benar-benar gila ya ... apa yang dilakukannya hingga kau bisa menerima cintanya?" lanjut Adrina dengan tenang agar suasana tak semakin runyam.


“Itu karena Asult mengancam akan bunuh diri, kamu tau Adrina katanya dia lumpuh total? Lalu aku harus berusaha mencintainya dengan seumur hidupku, apa aku bisa hiks, hiks, kenapa Tuhan selalu memiriskan cintaku, kenapa Adrina? Kenapa tidak mencabut nyawaku saja, agar aku mengikuti Awan dan bahagia di atas sana,” keluh Fisha dengan suara yang sangat memberat dan sibuk mengusap air mata sedari tadi di punggung Adrina dengan tisu yang diberikan Adrina.


Adrina tau betul tentang kisah Fisha semua tentang masa lalunya karena Fisha sudah menceritakannya dulu sewaktu mereka sudah saling nyaman dan berbagi cerita. Lalu Adrina yang mendengar Fisha mengeluh seperti itu ia melepas pelukannya dan menatap Fisha dengan wajah sedih.


“Hey, hey ... kamu gak boleh ngomong gitu ... masih ada aku sahabatmu yang akan selalu menemanimu dalam suka duka, jangan hiraukan cowok dulu, nanti tiba saatnya kamu akan bahagia, tenang ya sayang ...." Adrina mengelus-elus tangan Fisha lalu menggenggamnya untuk menyalurkan kekuatannya.


“Kamu tau aku kan juga jomblo tapi santai tuh haha, masa depan masih panjang, jangan gara-gara cowok jadi gini haha, semangat," canda Adrina dengan melayangkan tangannya dan mengepalkannya. Membuat Fisha tersenyum dan menghentikan tangisannya.


“Kamu bener juga, ayo ke kantin! Aku sangat lapar!" ajak Fisha dengan berdiri dan meraih tangan Adrina.


“Eits, tapi sebelumnya cuci muka dulu haha, lihat mukamu itu." Adrina mengeluarkan cermin dari dalam tasnya. Membuat Fisha dan Adrina tertawa terbahak-bahak karena wajah kucelnya Fisha sehabis menangis.


------


Note:


Besok weekend yaaa hehe, Otor mungkin telat upnya kalau weekend gak konsisten. Karena harus menemani sang doi dong hehe, oke🤗.


Salam sayang ❤

__ADS_1


Jangan lupa like-nya 🙏😍


__ADS_2