
Asult yang melihat mereka bermesraan dia mengepalkan tangannya geram karena hatinya yang terbakar. Ia lalu pergi meninggalkan Fisha dengan langkah yang dipercepat.
“Hais bisa-bisanya aku keduluan seseorang, gak, gak boleh, Fisha harus jadi milikku saja, aku yang mencintainya terlebih dulu,” ucap Asult dengan frustasi sambil mengurut pangkal hidungnya menghilangkan kebingungannya, tapi tetap semua itu tak meredakannya.
“Semangat Asult, semangat! Kamu tak kalah tampan dari dosen itu, tapi kok bisa Fisha kenal dosen baru? Aku harus cari tau," lanjutnya menyemangati dirinya sendiri, ia lalu berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman dingin agar panas dihatinya mereda, lalu setelah mendapatkan air dingin ia berjalan ke toilet dan menyiramkan air dinginnya ke puncak kepalanya agar sedikit fresh.
Aaaaa ... segarnya ... lumayanlah berkurang gerahnya. Batin Asult, sambil ia bercermin di kaca yang berada di toilet di dekat wastafel, ia menolehkan mukanya ke kanan dan ke kiri.
“Tampan kok aku, dosen mah kalah,” ujarnya dengan percaya diri sekali, ia lalu berjalan keluar dari toilet setelah dirasa sudah sedikit membaik.
Lalu Asult melihat Fisha dari kejauhan yang sedang berjalan dengan mendekap bukunya dan tangan satunya memegangi tasnya menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Asult yang melihat pujaan hatinya itu, ia berlari dengan kencang untuk menghampiri Fisha, ia pun menabrak Fisha dengan disengaja namun ia pura-pura tak disengajanya.
Bruk ....
“Aduh, hais, kamu apa-apaan, punya mata gak sih ...! Kamu selalu menyebalkan sejak awal jumpa!” teriak Fisha dengan kencang, lalu berjongkok memunguti bukunya yang berserakan di jalanan yang masih berada di kawasan kampus akibat ulah Asult yang menabraknya. Asult yang melihat itu ia berusaha membantu Fisha memunguti bukunya itu, tapi Fisha menepisnya dengan kasar.
“Udah gak usah, terimakasih! Tapi sayangnya aku bisa sendiri, jangan sok baik!” tolak Fisha dengan cepat-cepat memunguti bukunya lalu setelah usai dia segera berdiri dan berlalu pergi.
Baru beberapa langkah berjalan, Asult dengan cepat menghampirinya dan memegangi tangan Fisha dengan erat.
“Tunggu sebentar, aku mau bicara sama kamu sebentar saja,” pinta Asult dengan wajah yang memelas.
“Oke, iya iya aku kasih waktu 5 menit, tapi lepaskan tanganmu dulu!” balas Fisha dengan menatap tajam ke arah Asult.
”Kamu kenapa sih selalu jahat sama aku? Gak pernah ada baiknya?” tanya Asult dengan nada menyedihkan, tapi Fisha tak menjawabnya malah ia balik bertanya.
”Udah mau tanya apa? Kalau enggak ada aku pergi!” protes Fisha dengan nada yang tegas.
”Hmmm iya deh, aku mau tanya kamu kenal ya sama dosen baru bisnis itu?” Asult menatap Fisha dengan tatapan penuh dengan penasaran yang tinggi.
“Gak kenal,” balasnya singkat, ia berpura-pura dan menutupi semuanya.
__ADS_1
“Kalau kamu gak jujur, aku akan bilang kepada semuanya juga pak rektorat kalau kalian tadi bertemu di gudang,” ancam Asult dengan senyuman liciknya. Fisha yang mendengar itu ia kaget dan syok, namun ia bersikap tenang saja seperti biasa di depan Asult, padahal di dalam hatinya ia berdebar kencang.
Bagaimana kutu kupret ini tau, perasaan tadi aku lihat gak ada orang, aduh gawat kalau semua orang tau, tapi pasti lambat laun tau lah, tapi ya jangan sekarang juga sih, katanya Even hanya beberapa bulan di sini, iya gak apa aku harus jujur saja hanya sama Asult saja. Batin Fisha bergejolak, ia menatap Asult dengan gelisah dan keraguan, takut Asult tak dapat di percaya.
“Jawab! Apa bener kalian saling mengenal? Aku bisa dipercaya tenanglah!” Asult berusaha meyakinkan Fisha, ia paham kekhawatiran Fisha melalui wajahnya yang gelisah itu. Lalu Fisha mengangguk dengan cepat dan memalingkan wajahnya karena ia masih ragu.
“Hey tatap mukaku.” Asult yang tak direspon Fisha ia lalu menghampiri Fisha dan menghadap ke muka Fisha.
“Jangan membelakangiku!” lanjut Asult.
“Apaan sih kamu ini, iya aku kenal, kamu tau dulu yang menolongku cowok pas aku bercerita dulu waktu kematian Awan, ya itu Even, dia kakak Alby sahabat aku," jelas Fisha panjang lebar.
“Apa!”
“Iya, kenapa kamu syok gitu biasa aja keles."
Wow dunia begitu putar memutar ya, bisa-bisanya Fisha bertemu dia lagi dan lagi, bisa-bisa aku kehilangan Fisha beneran karena kakak sahabatnya itu, bagaimana ini gawat. Aaaaaaa. Batin Asult, ia mengacak-acak rambutnya dengan cepat, membuat Fisha tertawa karena rambutnya tak beraturan.
”Kamu sungguh konyol, kenapa? Kamu seperti pak lampir,” ejek Fisha dengan menutupi mulutnya karena masih sambil tertawa.
Fisha sungguh mengagumkan, pantas cowok banyak yang mengejarnya, mati satu tumbuh seribu. Batin Asult dengan masih memandangi Fisha.
“Hey kamu kan cowok masak mak lampir? Kan bener, kamu ini jangan bodoh deh haha.
“Ya sudah aku mau pergi, aku sibuk!” pamit Fisha dengan mengatupkan tangannya.
“Fisha sebentar, kamu gak jatuh cinta sama dia kan?”
“Siapa?”
“Itu, sama dosen itu,” pekik Asult ragu takut Fisha marah.
“Kamu gila ya? Sembarangan! Udah jangan ngawur, bye!" Fisha memukul Asult dengan pelan lalu melambaikan tangannya dengan kasar. Fisha lalu berjalan cepat dan meninggal Asult yang masih menatapnya dari kejauhan.
__ADS_1
“Kamu benar-benar menggemaskan, tapi apa benar kamu tak menyukainya? Kalau bener syukurlah!” Asult mengelus dadanya dan rasanya plong setelah mendengar ucapan Fisha itu.
-----
Sementara Fisha berjalan sambil tersenyum membayangkan bersama Even tadi, yang di mana pun mereka ketemu pasti ada permusuhannya.
”Dia benar-benar ya kadang bikin aku pengen mencakar mukanya, tapi kadang aku sedikit merindukannya, eh aku ngomong apaan!"
“Apa aku mulai jatuh cinta? Eh gak mungkin masak secepat itu, tapi bisa saja sih karena dia yang selalu melindungiku setelah Awan meninggal, tapi apakah benar? Aduh udah terserah!" bimbang Fisha dengan melamun sambil berjalan dan sesekali ia memukul kepalanya pelan karena tak mempercayai itu semua.
Lalu ia dikagetkan oleh Ares yang juga berjalan menuju kosnya.
Dor dor dor .... (suara mulut Ares menggoda Fisha).
“Eh copot ada tembakan ...,” teriak Fisha dengan memejamkan matanya lalu menutup telinganya dengan kedua tangannya karena ia sedikit trauma mengingat waktu itu bersama Even, banyak yang Fisha takuti sejak dia merasakan cinta nyawanya selalu di ujung tanduk.
Fisha meloloskan air matanya di pipinya, membuat Ares heran dibuatnya, ia menyesal karena melakukan itu, niatnya hanya menggoda namun yang terjadi Fisha ketakutan.
“Fisha, ini aku maafkan aku, buka matamu!” perintah Ares dengan menggoyangkan Fisha lalu berusaha membuka tangan Fisha yang menutupi kedua telinganya. Tapi dirasa yang belum berhasil membujuknya Ares mengulang lagi.
“Fisha? Ini Ares Fisha ....” Ares terpaksa memeluk Fisha lalu Fisha yang merasa dipeluk ia menangis dipelukan Ares, setelah dirasa tenang Fisha membuka matanya dan menendang kaki Ares.
“Kamu keterlaluan!” teriak Fisha sambil berlalu pergi setelah menendang Ares.
“Iya aku minta maaf!” sesal Ares dengan mengikuti Fisha yang berjalan sambil mengatupkan kedua tangannya, Fisha yang masih berjalan ia melirik Ares yang wajahnya sangat memelas, Fisha pun tak tega dan tertawa terbahak-bahak.
“Iya wajah kamu jelek sudah jangan begitu!" Ares yang dimaafkan ia merangkul pundak Fisha lalu berjalan bersama ke arah kosnya masing-masing yang berarah sama.
--------
Note :
Kalau weekend upnya agak lama ya kakak, ingat sabtu minggu otak kadang bleng, pikirannya pengen liburan melulu 😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa like-nya, Otor sempetkan up ini, demi siapa? Ya kalian agar seneng. ❤
Jangan habis baca langsung kabur sakitnya tuh di sini. 💔🙄