
7 hari pun berlalu, UN pun sudah selesai, mereka mengeluarkan air mata bahagia, akhirnya usai dari nama yang menyeramkan itu, tapi mereka juga masih was-was menunggu hasil UN besok, apakah bisa lulus atau diam di tempat karena mengulang hari yang membosankan tertinggal sendiri dengan bersekolah lagi, rasa-rasanya tidak bisa dibayangkan kalau harus mengulang lagi.
Beberapa orang berjalan dengan derap langkah yang nyaring dan serempak memenuhi jalan, mereka dari arah kelas pergi ke taman, sambil suara candanya menggelegar, iya mereka berniat ke taman untuk merefresh otak melihat kehijauan, katanya biar gak stres akibat UN kemarin, karena mereka sudah tak ada pelajaran, hanya menunggu penantian hasil saja, besok setelah mendapatkan hasilnya, sekolah langsung libur panjang bagi kelas akhir.
Iya siapa lagi kalau bukan geng master percabaian berlevel, dengan adanya kehadiran mereka suasana pasti akan menjadi riuh, kriuk, berisik dan siap mengeluarkan larva.
Mereka duduk di taman sambil menggelar tikar dan membawa makanan dan camilan dari rumah tadi, masing-masing membawa makanan beberapa jadi berkumpul jadi satu menjadi banyak, membuat anak-anak yang melihatnya ketawa karena ulah mereka, tapi Fisha langsung menatap tajam mereka membuat mereka langsung menunduk, ada yang berjalan dengan cepat, ada juga yang masih menatap karena merasa heran dan belum mengenal Fisha dengan baik.
“Hey apa lho lihat-lihat! Mau ikut gabung? Boleh, sini sini.” Tatap Fisha kepada anak-anak yang lewat yang masih menatapnya, Fisha menepuk tikar tempat duduk kosong di sampingnya, mereka hanya melirik Fisha dan menunduk dengan cepat seraya tersenyum dan berlalu pergi.
“Yaudah kalau gak mau, niatku baik lho, tapi kalian seperti lihat singa aja kalau melihatku haha.” Gurau Fisha dengan ketawa agar anak-anak mendengarnya dan gak takut dengannya. Tapi anak-anak cuma tersenyum tidak ada yang menjawab, mereka berjalan kian kemari karena sebentar lagi mau masuk kelas.
“Fish, tuh mereka semua kenapa kalau kamu tatap seperti takut sekali, muka kamu apa menyeramkan?” tanya Alby dengan menunjuk anak-anak yang berlalu lalang berjalan kian kemari dengan menunduk lalu melihat muka Fisha dengan seksama. Membuat Awan memukul kepala Alby sedikit merah wajahnya karena sedikit cemburu. Alby yang dipukul melototkan matanya.
“Udah ah aku gak tau dan gak mau tau.” Jawab Fisha cuek seraya melirik tajam ke Alby, membuat Alby yang dilirik bergidik ngeri mengangkat kedua pundaknya. “Apa kamu lihat-lihat! Apa aku sungguh cantik sekali, mungkin mereka semua iri dengan kecantikan aku, jadi banyak yang menatapku tadi,” lanjutnya dengan wajah dibuat seimut mungkin.
“Ihh kamu percaya diri sekali, aku lihat kamu, karena aku membuktikan sendiri kenapa mereka lihat kamu seperti takut begitu, dan aku tau jawabannya, mau tau jawabannya?” Alby menggoda Fisha agar Fisha terpancing dengannya dan alhasil dia tak terpancing sama sekali, malah dia memalingkan mukanya dan memakan camilannya dengan cepat.
Kraus-kraus, (Bunyi kunyahannya).
“Iya karena aku begitu menggoda, jadi aku gak penasaran dengan jawabanmu.” Fisha menjawab dengan masih sibuk mengunyah camilan dengan lahapnya.
__ADS_1
“Pelan-pelan Ney, gak ada yang minta, nanti kalau habis aku belikan lagi, lagian kamu seperti gak makan satu tahun aja sih sayangku haha.” Sahut Awan dengan ketawa, Fisha memicingkan matanya dan cemberut, membuat Awan semakin ketawa karena ternyata bibirnya belepotan, lalu Awan mengusap bibir Fisha dengan ibu jarinya, membuat Fisha jadi memerah karena malu dan dia menahan senyumnya.
Ohh jantung diamlah kau! Apa kamu mau meninggalkanku dan berbalik ke Awan, mati dong aku kalau kau meloncat keluar, tenang, tenanglah! Nanti aku kasih makanan yang enak sekali, kamu mau sesajen apa? Pizza, burger, kentucky, spagetty atau apa jantung, biasanya kalau makanannya enak kamu semangat sekali dan berdebar karena keenakan, aku akan kabulkan asalkan kamu jangan kencang-kencang suaranya, nanti Awan dengar. Batin Fisha.
“Ney makanan yang bekas dari bibirmu ternyata lezat sekali.” Bisik Awan seraya memakan yang ada di ibu jarinya tadi dan menjilat ibu jarinya, membuat Fisha menatap tajam, memberikan nada isyarat, jangan macam-macam atau kamu aku lemparkan ke sungai, begitu bahasa isyaratnya.
Mereka yang melihat keromantisannya, mereka menggelengkan kepala serasa menjadi obat nyamuk saja. Lalu Sasa berdehem mencairkan suasana agar gak garing, Fisha dan Awan pun menoleh ke mereka dan tersenyum.
“Kita gak dianggap nie bagaikan dunia milik berdua, yang lain hanya tanahnya saja hmm,” ucap Sasa dengan melipat kedua tangan di dadanya, membuat semua sahabatnya ketawa.
“Oh ya aku tau jawabannya, kenapa semua orang seperti takut sama Fisha.” Sesil menatap ke Alby dengan tatapan terindah, membuat Alby terpana dan melongo.
“Penasaran amat sih kalian, udah aku bilang karena aku mempesona kok gak percaya, iya kan Hon?” Fisha bertanya kepada Awan dan mendekati Awan dengan bergelayut manja, membuat Awan terbuai dan menganggukkan kepala tanda iya sebagai jawabannya.
“Udah kita gak percaya ke Awan, dia kan sudah bucin akut, jadi apapun yang kamu bilang dia dengan ikhlas mengiyakannya.” Ares menatap pasangan itu dengan menggelengkan kepalannya, lalu menatap ke Sesil dengan menggangguk juga tersenyum.
“Lanjutkan Sil,” sambungnya.
“Itu mereka semua menatap ke Fisha karena mereka takut, abisnya tatapan kamu sadis Fish menyeramkan sekali, seperti peluru yang menembus ke jantung, iya aku sama Sesil udah akrab biasa aja, tapi mereka mana berani haha, para cowok aja masih banyak takutnya dengan tatapan kamu, bisa tidak, kalau menatap jangan seperti itu haha.” Canda Sesil dengan usil sambil ketawa dan mendekat ke Fisha dengan merangkul pundaknya.
“Para cowok siapa? Maksudmu mereka?” Tunjuk Fisha ke trio cowok sahabatnya, Sesil mengangguk dan ketawa.
__ADS_1
“Hey ini sudah takdir, aku juga mana sengaja menatap mereka seperti itu, niatku kan biasa aja dan baik, kalau mereka takut ya biarin, yang penting aku gak gigit, apa yang kalian takutin seperti ini?” jelas Fisha dan melirik tajam ke semua sahabatnya.
“Iya seperti itu haha.” Ketawa Sasa, yang lainnya pun mencoba menggoda Fisha dengan bergidik ngeri penuh ketakutan, sedangkan Awan menatapnya dengan penuh cinta dan Fisha menatapnya.
“Tuh buktinya Awan gak takut, dia malah tergoda.” Fisha menunjuk ke arah Awan dengan tersenyum.
“Kalau Awan jangan ditanya lagi, kamu tau jawabannya,” ucap Alby dengan memukul bahu Awan, membuat yang lainnya ketawa dibuatnya.
“Udah wes ayo pulang, udah hampir siang ini.” ucap Fisha dengan beranjak berdiri, yang lainnya mengikuti dan melipat alas tikarnya dan membereskan masuk ke mobil Awan, mereka tadi berangkat bersama dengan mobil Awan, jadi pulang pun bersama kembali.
Mereka pun akhirnya pulang bersama-sama dengan keributan yang sama, dimana pun mereka berada disitulah tercipta keributan yang menurutnya damai.
-----------
Kalian menunggu konflik yang lebih seru? nanti ya kakak-kakak ikuti alurnya dan keseruan mereka dengan tetap ikutin novel receh aku🤗.
Note:
Klik favorit agar tau informasi up nya, klik like, komen kritik dan saran, juga bantu vote kakak-kakak kesayangan...
Terimakasih untuk yang like dan vote dari kalian, semoga Allah memberikan keberkahan yang berlimpah ruah. Salam sayang jauh dariku penulis receh lopyupolepell💋❤
__ADS_1