Takdir Cinta Fisha

Takdir Cinta Fisha
Kegirangan


__ADS_3

Bella pun berteriak kencang saat mobil yang ditumpangi Even beserta anak buahnya menyerempetnya dengan keras, ia terselorok dan jatuh meluncur ke jurang bersama mobilnya.


Lalu Even mendongak dan mengeluarkan kepalanya sedikit di jendela mobil samping kiri yang mengarah ke jurang di mana Bella terjatuh. “Haha rasain! Kelar hidup loe wanita sialan! Haha cuih, bye-bye ...,” imbuhnya sambil meludah dan melambaikan tangannya dengan kegirangan.


Lalu memasukkan kembali kepalanya seraya bersiul-siul kecil, sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil dengan sesekali menari, ia sangat gembira hari ini karena bisa menyingkirkan Bella dari muka bumi ini, agar tak merisaukan semuannya lagi dan lagi.


“Kalian luar biasaaaa, tokcer dah,” ucap Even dengan mengangkat kedua jari jempolnya tanda bangga kepada semua anak buahnya.


“Tenang nanti akan aku kasih bonus buat kalian semuaaa!” lanjut Even dengan berteriak.


“Okeee terimakasih Bos,” balas mereka serempak, Even pun mengangguk dan meneruskan menarinya dengan senyuman kegirangan sambil bernyanyi-nyanyi lirih.


Anak buahnya yang melihat bosnya seperti itu mereka mengernyitkan dahinya karena baru kali ini bosnya seperti itu.


Kenapa Bos seperti itu? Tumben sekali, apa karena tertembak itu? Tapi apa bisa gesrek karena tertembak di bahu? Rasanya bukan karena itu, mungkin karena cewek itu siapa namanya lupa aku, ah sudahlah terserah Bos sajalah, suka-suka Bos. Batin Jonatan, ia lalu melirik ke arah Bosnya yang masih menari kecil.


“Bos, bukannya bahu Bos sakit? Kok bisa menari seperti itu? Apa tidak apa-apa?” tanya Jonatan dengan nada yang khawatir terhadap bosnya.


“Lho iya ya tanganku sakit kan ya? Haha aku baru ingat, tapi sepertinya udah sembuh dan gak sakit lagi,” jawab Even dengan cengengesan.


“Sepertinya Bos sangat senang sekali, masak sih baru tertembak tadi sudah sembuh sekarang, coba aku coba dulu!” seru anak buah lainnya, sambil mendekat ke arah bahu Even lalu mencoba menepuk bahu Even dengan pelan, namun belum sampai anak buahnya melakukan itu Even menatapnya dengan tajam.


“Hey mau apa kalian ...! Jangan macam-macam!” peringat Even mengangkat jari telunjuknya dengan melototkan kedua matanya sambil menunjuk ke semua anak buahnya satu persatu. Mereka semua pun terkekeh dan mengatupkan kedua tangannya.


“Oh ya Bos, apa Bos gak takut kalau si Bella mati? Nanti apa kata Bos terhadap polisi?” Jonatan mencoba menggoda Even dengan sedikit menakutinya, karena sebelumnya Even tidak pernah ikut turun tangan dengan dunia hitam seperti ini, ia hanya bekerja dan bekerja juga menerima beres apapun itu.


“Apa? Kenapa aku takut? Apa kalian takut?” Semuanya menggelengkan kepala saat Even menatapnya dan bertanya.


“Terus aku kenapa takut? Emang kita salah? Bukankah dia sendiri yang jatuh ke jurang kita hanya sedikit menyerempetnya saja, kan namanya bunuh diri sendiri, salah sendiri macam-macam dengan Even Markoliano, bahkan aku akan mengejarnya hingga ke lubang semut sekali pun haha,” jelas Even geram dengan senyuman menyeringai.


“Haha sejak kapan Bos benar-benar menyeramkan seperti ini,” ejek Dendi anak buah yang lainnya.

__ADS_1


“Bukannya kalian yang mengajarinya tadi? Dan pastikan dia benar-benar mati! Kalau tidak jelas dia akan balas dendam terus.”Even memerintahkan dengan tegas sambil memukul bahu anak buahnya yang bisa diraih.


“Tenang saja Bos, nanti kita yang membereskannya, Bos dijamin tidak akan terkena masalah apapun!” papar Jonatan menoleh ke arah Even yang berada di belakangnya.


“Oke, kamu selalu bisa diandalkan!” Even menepuk bahu Jonatan yang ada di depannya.


“Bos, bahu Bos berdarah," pekik Jonatan dengan menunjuk bahu Even. Even menoleh lalu memegangi bahunya.


“Itu karena Bos saking kencangnya tadi menari,” sela anak buah lainnya.


”Iya Bos, ayo ke rumah sakit! Kita masih berada di kawasan Pasuruan ini, Surabaya rumah Bos masih sekitar 1 jam 20 menit lagi keburu kehabisan darah nanti Bos,” sahut Edi anak buah yang mengemudikan mobilnya.


“Masak sih bisa kehabisan darah? Kamu jangan menakuti ku, aku sangat malas jika harus ke rumah sakit terus menerus, aku benci bau rumah sakit,” balas Even dengan nada malasnya dan menekan bahunya yang berdarah agar terhenti.


“Eh jangan begitu Bos, lah kalau dibiarkan nanti membusuk Bos, bisa-bisa di amputasi mau bos? Gak punya tangan?” ujar Jonatan dengan entengnya sambil menahan tawanya, ia berusaha merayu Even agar patuh untuk ke rumah sakit, untuk diganti perbannya.


“Hey apa benar kalian ini? Sungguh menyeramkan sekali, kalian membohongi ku kan? Hayo ngaku!” bentak Even dengan raut wajah yang sedikit takut karena semua anak buahnya menakutinya.


“Ya sudah ayo kita mampir ke rumah sakit sebentar dah, iya juga ya kalau aku gak punya tangan, gak jadi Bos tampan lagi dong?” Edi lalu melaju ke arah rumah sakit saat Even memberikan perintah.


“Hmmm Bos, Bos, sakit begini masih memikirkan tampannya,” keluh Jonatan tangan kanannya Even sambil geleng-geleng kepala.


“Udah kalian gak usah iri, kalian sungguh kalah tampannya denganku.” Even menepuk dadanya tanda bangga terhadap dirinya.


“Iya dah Bos Venano emang yang paling tampan sejagat raya ini ....” Mereka serempak mengucapkan itu dengan nada terpaksa, Even yang mendengarnya tertawa memegangi perutnya.


“Good, kalian emang pintar!” puji Even singkat.


Lalu sampailah di rumah sakit tadi yang tempat Even di rawat, dokter mengernyitkan dahinya saat mengingat wajah Even kembali, ia tak berani bertanya hanya langsung saja duduk berhadapan dengan Even dan membersihkan lukanya Even dan memberi obat bubuk lalu memberi perban baru.


“Jangan dibuat banyak bergerak dulu ya Pak, agar tidak sakit terus menerus,” pesan dokter dengan tersenyum saat sudah selesai membalut luka Even dengan perban.

__ADS_1


“Baiklah! Makasih Dok,” dokter mengangguk dengan membalas Even, lalu Even berdiri dan berpamitan dengan dokternya.


-------


Satu jam kemudian Even sampailah di rumahnya, anak buahnya pun pamit mengundurkan dirinya tapi belum sempat mereka pergi, Even menghentikannnya.


“Hey Jonatan, jangan lupa mobilku ya yang ringsek itu, bisa diperbarui kan? Kalau tak bisa bawa saja ke rongsokan hais!” kesal Even dengan geram.


“Semua itu gara-gara wanita sialan ituuuu!” teriak Even dengan mengacak-acak rambutnya. “Dia kan yang menyuruh seseorang menembak Fisha, aku tau karena tadi aku melihat wajah yang menembak berada di rumah tua itu, brengsek! Kalian harus membunuh mereka semua ...! Harus menang pokoknya!” perintah Even dengan tegas.


“Baiklah Bos, tenang kita bisa meniupnya seperti debu, jangan khawatir!”


“Oke!” ucap Even singkat.


“Kalau begitu kami balik dulu Bos, kami akan membereskannya,” pamit mereka dengan menundukkan kepalanya lalu berlalu pergi, Even pun mengibaskan tangannya sambil tersenyum.


Ia lalu berjalan menuju kamarnya dan membaringkan badannya karena terlalu letih, lalu mengambil handphone-nya yang berada di kantongnya. Telepon pun terhubung.


“Halo siapa ini?”


------


Note :



Author balik lagi nie, lagi semangat ini, mana semangat dari kalian dengan like\-nya, beri dukungan Otor ya, agar Otor terus semangat, habis baca di like jangan langsung kabur. 🙄😝🙏



 

__ADS_1


 


__ADS_2