
Cowok itu pun berlari menghampiri Fisha yang pingsan itu, ia pun sedikit panik dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang bisa membantunya, tapi sawah hari ini lagi sepi, tak ada orang satu pun sejak pagi, waktu juga masih sore menunjukkan pukul 3 sore.
“Ke mana semua orang? Apa gak ada yang ke sawah ya jam segini? Tapi perasaan, aku tadi pagi lewat sini juga gak ada siapa pun, dasar aneh semua orangnya sama saja!” bertanya-tanya sendiri lalu membungkuk dan membopong Fisha, lalu ia pun berjalan dengan nafas terengah-engah sambil menggerutu.
“Ihh berat sekali, dasar! Merepotkan saja huh! Aku bawa ke mana nie cewek?” ia pun memandangi Fisha dengan tatapan penuh.
“Ehh tunggu! Kayaknya aku pernah melihat cewek ini, di mana ya?” berpikir keras sambil terus menatap Fisha.
“Eh iya, aku bertemu dan melihatnya di rumah temen Alby tadi, cewek ini yang menangis dengan lebaynya tadi, tapi kasihan juga, apa yang meninggal itu pacarnya ya? Dasar aneh! Meskipun begitu kenapa dia mau mengakhiri hidupnya, untung ada aku!” berbicara dengan diri sendiri panjang lebar.
“Apa aku telvon Alby saja, biar mereka yang jemput,” cowok itu merogoh handphone-nya di kantong celananya, belum sempat ia mengambil, ia kepergok dengan warga desa, mereka pun mencurigainya karena menggendong Fisha.
“Hey, Nak ... Kamu siapa? Dan mau kamu apakan cewek itu?” tanya lelaki paruh baya, dengan memicingkan matanya. Belum sempat ia menjawab, yang lainnya menyahutinya.
“Iya mau kamu apakan itu? Mau pelecehan seksual ya?” sahut yang lainnya.
Aduh gawat! Bisa-bisa aku dibawa keliling kampung, dinikahkan dengan cewek aneh ini, aku harus segera menjelaskannya sebelum masalahnya menjadi tambah runyam. Batin cowok itu. Ia pun mendekat ke arah petani yang bertanya tadi.
“Bapak-bapak maaf sebelumnya, saya berniat menolong cewek ini, ia tadi mencoba bunuh diri lalu pingsan, saya mau bawa pulang ke orang tuanya, kebetulan saya mengenal orang ini, kalau gak percaya bisa bawa KTP aku,” jelasnya panjang lebar dengan nafas yang tersengal karena Fisha semakin berat.
Para petani saling bertatapan dan mengangguk dengan tersenyum. “Oh jadi begitu? Emang cewek ini orang sini ya? Kok bapak gak pernah lihat?” tanya petani itu.
“Oh iya ini kalau gak salah cucunya kakek Hartawan dech, yang rumahnya sebelah yang meninggal itu, Awan kalau gak salah,” tebak petani yang lainnya.
“Kayaknya begitu, soalnya tadi aku bertemu dia juga pas melayat di situ, iya Awan namanya,” balas lelaki itu.
“Ya sudah Pak, aku bawa ya keburu aku pegal dan capek dari tadi membopongnya berat sekali,” Mereka semua terkekeh, lalu saling mengangguk.
“Permisi ...!” pamitnya dengan melewati petani-petani.
---------------------
Cowok itu pun terus berjalan dengan dipercepat langkahnya, karena ia ingin segera sampai di rumah Awan, ia gak bawa mobil karena jalan sawah mana bisa mobil masuk, dan bayangkan saja ia berjalan 20 km dengan menggendong Fisha, terasa banget capeknya, ia juga orang terpandang mana pernah menggendong cewek selama itu.
“Hei, bangun dong ...! Aku capek ini ...! Rasanya tanganku patah! Kamu berhutang padaku ya ... awas kalau suatu saat kita berjumpa lagi.” Menepuk-nepuk pipi Fisha agar terbangun, lalu ia terjatuh dan terkapar karena ia tersandung lubang jalan sawah. Mereka pun jatuh berpelukan, Fisha pun tersadar dan ia kaget juga tersentak karena cowok itu berada di atasnya.
__ADS_1
“Eh mau ngapain kamu? Cabul ya ... toooo-” Belum selesai Fisha meneruskan kalimatnya, cowok itu membungkam mulut Fisha, Fisha pun menggigitnya.
Aw, aw, aw ....
“Kamu ini! Ganas juga yaaa ... siapa juga yang mau cabul, kamu berhutang padaku! Aku malah membantumu, kamu begitu berat, sampai aku kecapekan dan kakiku tersandung terus jatuh dan posisinya seperti ini!” jelas cowok itu dengan ngototnya.” Ia mencoba berdiri dan mendesis karena kakinya terkilir. Ia pun menyentuh kakinya dengan membungkuk, Fisha pun bangun dan terduduk lalu melihat dan mengusap kaki cowok itu.
“Kamu gak apa-apa kan? Makasih ya atas bantuannya ... sini aku bantuin! Kebetulan aku ke mana-mana bawa minyak,” Fisha merogoh minyak angin di kantong celananya dan mengulurkan tangannya untuk membantu cowok itu.
“Gak usah! Aku gak apa-apa, aku mau pulang saja! Apa kamu bawa handphone? Kalau tak bawa bisa pakai handphone-ku, aku baik bantuin gak setengah-setengah.” Merogoh handphone-nya di kantong celana.
“Iya kamu baik sekali bak pangeran dari negeri dongeng, aku sangat berterimakasih, maka-nya sini aku bantuin kaki kamu biar impas!” paksa Fisha, ia pun menarik tangan cowok itu agar duduk di samping Fisha, ia pun menurut lalu mengulurkan kakinya, Fisha pun membantunya mengoles minyak dengan lembut dan meniup-niup kakinya, cowok itu pun memandang Fisha yang mengobati kakinya dengan tatapan serius.
“Sudah selesai! Gak sakit lagi kan?” Fisha tersenyum dan menatap cowok itu, mereka pun saling bertatapan beberapa menit, lalu saling memalingkan wajahnya.
Kenapa aku jadi grogi dan salah tingkah gini dengan cewek aneh ini, ini temen Alby juga ya kayaknya? Tau ah aku gak peduli, setelah ini semoga aku gak bertemu cewek aneh seperti dia lagi. Batin cowok itu.
“Iya sudah, makasih ya ... ya sudah kamu pulang sana! Aku juga mau pulang ... apa mau aku antar? Takutnya nanti kamu bunuh diri lagi!” Tawar cowok itu, Fisha pun terkekeh lalu tersenyum manis, cowok itu pun tersihir bagaikan angin berdesir ke dalam hatinya, ia tak berkedip menatap Fisha, lalu ia tersadar dan menundukkan pandangannya.
“Haha enggak tenang saja, aku dapat pencerahan dari kamu tadi, aku merinding kata-mu bunuh diri itu kan sakit dari segi manapun?”
“Ya emang iya, aku sudah pernah soalnya minum racun terus lumpuh dan aku berobat ke luar negeri baru sembuh beberapa bulan, mau kamu seperti itu?” ucapnya menakuti Fisha.
“Enggak, aku gak gila! Untuk apa bunuh diri.. Aku diracuni seseorang yang iri dengan kesuksesan aku, sekarang dia sudah mendekam di penjara, sudahlah aku gak mau membahasnya, ngeri rasanya,” jelas cowok itu dengan mengedipkan matanya.
Ehh kedipan mata itu, kenapa seperti Awan? Aku jadi merindukannya, tapi mata Awan kan ada di aku? Berarti tatapan mata itu sama denganku sekarang. Batin Fisha.
“Kalau boleh tau namamu siapa?” Fisha bertanya sambil memperhatikan wajah cowok itu.
“Namaku?” cowok itu menunjuk ke dirinya sendiri. Fisha pun mengangguk.
“Namaku Even Markoliano, panggil Even bisa Marko bisa, biasanya panggilan singkatanku Venano. Keren kan?” ucap Even menyombongkan dirinya sendiri. Fisha tersenyum mendengarnya.
”Kalau kamu siapa?” tanya balik Even ke Fisha.
“Namaku Fisha Aureliastra, panggil aja Fisha, panggilan singkatanku Fistra haha,” balas Fisha dengan tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Jangan ikut-ikut menyingkat namamu, namamu jelek kalau disingkat.”
Ehh kenapa yang dia ucap sama dengan Awan, apa kebetulan? Atau dia titisan Awan, aku semakin sedih hiks, hiks, Awaaaan ... Batin Fisha, ia tak sengaja meloloskan air mata di pipinya.
“Kamu kenapa menangis? Udah sana pulang nanti kesurupan udah sore.”
“Fishaaa ... heyyy ... Fishaaa ....”
---------------
Note :
Habis baca jangan lupa like\-nya ya kakak\-kakak kesayangan.. Minim sekali, jangan pelit\-pelit gak baik ... 😣
Sampai otor kadang patah semangat ...
Sepi kayak kuburan ... 🙄😥
Mampir juga ke ceritaku kedua kakak\-kakak kesayangan ...
Genre romantis komedi supernatural ...
\*Pangeran Gayung & Putri Tidur\*
__ADS_1