
Fisha yang tersadar dan tangisannya sudah mulai mereda ia menoleh dan menatapi ke setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan Even. Asult yang merasa aneh dengan tingkah laku Fisha yang kebingungan seperti mencari seseorang ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
“Kenapa Fish? Kok kamu gelisah gitu? Apa kamu mencari seseorang?” Fisha mengangguk dengan wajah memelas karena kehilangan sesosok Even.
“A-Aku mencari maz Even,” ucap Fisha ragu karena ia malu dan juga menghargai perasaan Asult.
“Oh, Kak Even tadi keluar sebentar Fish katanya, gak tau ke mana kok gak balik-balik dia, emang kakakku itu benar-benar misterius,” sambar Alby dengan senyuman di wajahnya seraya melirik Asult untuk memanas-manasinya, dan ternyata Alby berhasil membakar rasa cemburu di hati Asult.
Huh Alby itu kurang ajar sekali, dia emang sengaja membuat aku sakit hati, awas aja ya aku yang akan menang nanti mendapatkan hati Fisha, bukan Asult namanya kalau kalah. Batin Asult, ia menatap Fisha dengan hati yang berkecamuk, namun ia tersenyum dengan memaksa.
“Oh Even? Kalau kamu mau cari dia gak apa kok Fish, cari saja, aku di sini sendiri gak apa kok, kan ada suster, lagian aku juga gak mau merepotkan orang, mungkin ini semua sudah takdir hidupku," sindir Asult seolah-olah pasrah, namun yang didengar semua sahabat Fisha adalah kesannya jangan tinggalkan aku semua ini salahmu Fish, begitu pemikiran mereka.
Alby menatap Sesil, Sesil menatap Sasa, Sasa juga menatap Alby, mereka saling bergantian menatap dan muak terhadap Asult, lalu mereka pamit untuk keluar dengan beralasan mencari angin.
“Kami pamit keluar dulu!" pamit semua sahabatnya serempak sambil bergantian mengusap pundak Fisha menyalurkan ketenangan masing-masing, Fisha mengangguk serta membalas dengan senyuman yang dipaksakan, ia rasanya ingin ikut bersama sahabatnya namun apalah dayanya ia punya tanggungjawab atas kejadian ini semua kepada Asult, ia pun meratapi nasibnya ke mana takdir cintanya akan mengarahkannya kelak, rasanya ia sungguh tercekat dan berteriak takkan mampu.
Fisha menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong, seperti hatinya terbawa bersama Even. Asult yang melihat itu ia menepuk punggung tangan Fisha pelan.
“Fish, kamu kok melamun? Kamu jenuh ya? Mau ikut mereka ya? Maafkan aku yang merepotkanmu,” sesal Asult dengan berpura-pura memelaskan wajahnya, namun di hatinya ia sungguh senang karena Fisha menemaninya.
Fisha yang tersadar karena ditepuk Asult ia lalu tersenyum tipis. “Eh hehe gak ada apa, enggak kamu gak merepotkan, jangan berfikiran begitu, aku sungguh capek saja kan tadi baru pulih," bohong Fisha menutupi gelisah di hatinya.
“Aku yang seharusnya minta maaf, gara-gara aku kamu begini, coba bisa ditukar biar aku saja yang mengalami lumpuh agar kamu tak menanggung beban ini,” ucap Fisha dengan permintaan maafnya yang sangat dalam.
“Hey sudah ini sudah takdir Fish, yang penting kamu mau ya untuk menemaniku selalu sampai sembuh?" balas Asult sambil meraih tangan Fisha dan menatap Fisha, Fisha yang tak berkutik ia berfikir dan ia terpaksa untuk mengiyakannya.
“Iya aku akan selalu menemanimu,” seru Fisha dengan nada malasnya lalu berusaha melepaskan pegangan tangan Asult. Asult yang tau Fisha risih ia lalu melepaskan tangannya dan mengangkat tangannya lalu mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ya sudah aku mau istirahat dulu ya di ranjangku yang tadi itu, aku sungguh mengantuk, kamu juga istirahat sana biar cepet pulih, kamu jangan macam-macam! Kalau perlu apa-apa panggil saja aku, aku siap!” pesan Fisha menunjuk ke ranjangnya tadi lalu menunjuk ke Asult disertai dengan nada ancaman.
“Baiklah tenang saja kamu akan aman, kan aku lumpuh caranya aku ke sana juga harus repot pakai kursi roda." Fisha mengangguk lalu berjalan ke arah ranjang dan tiduran di atas ranjang itu, ia membelakangi Asult agar Asult tak mengetahuinya, ia tak memejamkan matanya karena hati yang gelisah, ia hanya memandang tembok putih dengan pikiran yang kosong.
Kamu ke mana sih Even? Katanya kamu selalu ada buatku? Apa kamu mau meninggalkanku dan pasrah kalau aku bersama Asult? Apa kamu sungguh tak mencintaiku? Tapi kenapa rasanya sakit sekali, apakah aku sudah terbiasa karenamu? Lalu kasih tau aku harus bagaimana Even, Tuhaaaan kenapa selalu miris cintaku ini, kapan aku akan bahagia? Izinkan aku untuk mencintai dan dicintai dan menggapai pelangiku agar aku damai menuju surga-Mu, tunjukkan siapa jodohku. Batin Fisha sambil gelisah membolak-balikkan badannya pelan supaya Asult tak mengetahuinya.
Namun Asult yang juga belum tidur dan ia dari tadi memandangi Fisha, ia melihat tingkah laku Fisha yang gelisah membolak-balikkan badannya.
Fisha maafkan aku, kalau cintaku membuatku egois, tapi aku berjanji akan membahagiakanmu selalu, lambat lama kamu pasti akan mencintaiku, aku percaya itu, bukalah hatimu untukku sedikit saja pasti aku akan memasukinya, maafkan aku. Batin Asult, lalu ia mengambil kursi roda yang sengaja ia memesan kepada suster tadi, ia berjalan ke arah Fisha dengan mendorong kursi rodanya dan menatap Fisha yang sudah tertidur lalu mengusap puncak kepalanya dengan tersenyum.
Fisha mengigau menyebut nama Even, mungkin ia bermimpi bersama Even, Asult yang mendengarnya ia mengepalkan dadanya lalu berjalan menuju ranjang sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
“Apakah sesakit ini? Apa kau sudah mencintai Even? Enggak aku gak boleh menyerah, semangat Asult,” ucapnya lirih menyemangati diri sendiri agar Fisha tak mendengarnya. Lalu ia membaringkan badannya dan beristirahat.
------
Even mendekat lalu duduk bersimpuh dan menjambak rambut Bella dengan kencang dan mendongakkan Bella ke atas. Bella yang merasa kesakitan ia mendesis dan menatap tajam Even lalu meludahi mukannya.
“Kurang ajar kau meludahikuuu!" bentak Even dengan sekencang mungkin, membuat semua anak buahnya kaget dan Jonatan mendekati Even lalu memberikan sapu tangan ke arah Even. Even dengan cepat mengusap-usap mukanya dengan sapu tangan itu lalu ia menampar Bella dengan keras hingga darah mengalir di sudut bibirnya.
“Sialan kau menamparku!" Bella mengelus-elus pipinya yang ditampar Even dengan tenangnya.
“Haha meskipun kau menamparku bahkan membunuhku sekalipun aku akan tetap membunuh Fisha karena aku sangat membencinya sampai dasar nyawaku," keluh Bella dengan tatapan menyeringai dan mengancam Even dengan tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya Bella takut Even akan membunuhnya namun ia berpura-pura sok berani.
“Jangan dengarkan Bos, Bos harus membunuhnya agar dia tak meresahkan semuanya, nyawa harus dibalas dengan nyawa, meskipun ada pihak yang berwajib tapi kita sudah gak percaya lagi sama mereka, berapa kali Bos dia mencoba membunuh cewek Bos, berapa kali?” Even yang mendengar Jonatan menjelaskan ia berfikir dan membenarkannya.
“Ka-kamu pacarnya Fisha? Bukankah Awan?” tanya Bella dengan sedikit ketakutannya gara-gara omongan Jonatan.
__ADS_1
“Itu tidak penting, kau gak usah bertanya padaku, sekarang kau bersiap-siaplah untuk mati," ujar Even dengan sinisnya.
Sialan kenapa jadi begini, padahal aku hanya mengancamnya tapi aku benar-benar akan di bunuhnya. Batin Bella.
Even menoleh ke arah Jonatan. “Jon, mana pistolnya," Even menadahkan tangannya ke arah Jonatan. Jonatan lalu sigap memberikan pistol yang ada di sakunya.
“Apa Bos yakin, Bos sendiri yang akan membunuhnya? Apakah gak sebaiknya aku saja? Kan Bos gak pernah membunuh orang sebelumnya.” Jonatan meyakinkan Even agar mengambil alih pistol itu namun Even menggelengkan kepalanya.
“Hey kamu! Kalau kamu membunuhku akan ada Bella yang lain ingat ituuuu!” sahut Bella dengan berteriak. Namun Even tak memperdulikan itu dan memantapkan hatinya.
Ia memegang pistol dengan tangan yang bergetar.
“Bismillah atas nama Fisha dan atas izin Allah aku membunuhmu agar kau tak meresahkan selalu. La ilaha illallahu Allahu Akbar." Even lalu menarik pelatuknya dan melepaskan peluru yang ada di dalam pistol itu.
Doooor ... tembakan tepat di dada Bella, Even lalu memejamkan matanya dengan badan yang bergetar hebat lalu pistol pun terjatuh, Bella tewas seketika lalu Even jatuh terjerembah dengan keringat dinginnya karena ketakutannya.
Jonatan mendekati Even dan memapahnya.
“Bos gak apa-apa?” Even menggeleng cepat. Lalu semua anak buahnya membereskan mayat Bella atas perintah Jonatan yang mengibaskan tangannya.
Ya Allah aku benar kan? Aku hanya melindungi cintaku. Batin Even.
------
Note :
Otor nulis tegang sekali wkwk, jangan lupa like-nya ya, ini 1300 kata lho ... 😎
__ADS_1
Kiss online buat yang gak pelit like. ❤😘